
"Itu bukannya Kak Rista?" Tanya Satya melihat gadis yang tengah duduk di kursi.
Diana mencoba mengikuti pandangan Satya. Tanpa menunggu lama, Diana mampu melihat apa yang dilihat oleh Satya. Gadis yang memang mirip Kakaknya. Dan itu memang Kakaknya, Diana yakin itu.
"Iya Kak. Kok Kak Rista duduk sendiri? Kak Ziannya mana?" Diana celingak-celinguk melihat sekitar, berharap dapat menemukan sosok Zian.
Nampaknya Satya sudah tak peduli itu. Pria itu langsung melajukan motor mendekati Rista.
Diana segera turun saat motor telah berhenti tepat dihadapan Rista. Diana langsung mencekal tangan Rista yang nampak ingin melangkah meninggalkan tempat itu.
"Siapa?" Tanya Rista. Kakaknya itu terlihat ketakutan.
"Ini aku Kak, Diana. Kakak kenapa bisa ada disini? Kak Zian mana?" Tanya Diana heran.
"Di, kamu kenapa bisa ada disini?" Rista malah balik bertanya.
"Aku sama Kak Satya sengaja ngikutin Kakak sama Kak Zian. Kita khawatir sama Kalian. Kakak belum jawab pertanyaan aku Kak. Dimana Kak Zian? Kenapa Kakak sendirian?"
"Mas Zian ...Dia ada urusan Di. Jadi, aku minta turun disini aja." Jawab Rista mencoba bersikap biasa.
"Loh, kenapa kakak gak diantar pulang aja? Kalau dia bener-bener ada urusan. Tega banget dia!" Diana nampak kesal.
"Itu karena dia buru-buru Di." Bohong Diana lagi. Entahlah, kenapa gadis itu lebih memilih menutupi kesalahan Zian ketimbang berkata jujur pada Diana.
"Tuh kan, udah aku bilang. Tuh mas mas muka tembok, emang gak bisa dipercaya." Gerutu Satya, dia kembali melanjutkan setelah menghela nafas kesal. "Udah, sekarang Kak Rista pulang sama aku!" Kini Satya memengang pergelangan tangan Rista satunya lagi.
"Eh, terus aku gimana Kak?" Tanya Diana memandang Satya.
"Kamu pulang sendiri. Okey Beo? lagikan kamu bawel! Masa gak bisa pulang? Kalau gak tahu jalan tinggal tanya-tanya. Bisakan?" Satya tersenyum, seolah tak merasa bersalah sedikitpun meninggal Diana.
"Loh kok gitu? Kak Satya gak adil. Masa aku ditinggal sendiri? Aku kan cewek, kalau ada yang gondol aku gimana?" Gerutu Diana tak terima. Gadis itu melipat tangan di bawah dadanya.
"Siapa yang mau gondol Beo? Limbad? Kamu lupa ya? Limbad itu bawa burung hantu bukan Beo." Ujar Satya, membuat Diana mencubit pinggang pria itu.
"Kak Satya!! Please deh!! Masih aja bercanda. Aku serius, masa aku ditinggal sendiri. Gak bertanggung jawab banget sih sebagai cowok."
"Aww Di, meskipun gak sakit. Cubitan kamu itu perih tahu!" Satya mengelus pinggangnya.
"Abis Kak Satya tega!! Aku mau ditinggal sendiri nih?"
"Udah-udah, kalian kok malah bertengkar sih? Kalian mau jalan ya? Ya udah, kalian jalan aja. Aku nunggu Pak Jaka kok."
"Gak Kak, kalau Kak Rista emang nunggu Pak Jaka. Terus kenapa dia belum datang juga? Pokonya, aku bakal anterin kakak." Tegas Satya. Lalu membuka jaketnya dan mengenakannya pada Rista. "Udah Kak, ayo naik! Kaka gak boleh nolak!" Satya menuntun Rista untuk naik motor.
"Eh, tapi Diana?"
Satya melirik Diana.
"Kamu pulang sendiri gak apa-apa kan? Atau nanti aku jemput lagi? Aku mau anterin Kak Rista dulu gimana? Kak Rista gak mungkin pulang sendiri Di." Satya dengan tenang memberi Diana pengertian.
Gadis itu tersenyum pasrah. Terkesan senyum yang dipaksakan.
"Ya udah, gak apa-apa Kak. Aku juga mau ke Supermarket dulu." Diana mencoba mengerti, meski dengan cemberut gadis itu berkata.
__ADS_1
"Kamu yakin Di?" Tanya Rista khawatir.
Diana menghela nafas, mencoba tersenyum.
"Ya Kak. Gak apa-apa. Kakak pulang aja! Nanti Kak Satya jemput aku lagi kan? Kakak tenang aja!"
Satya yang sudah naik motor, ia mengenakan helmnya. Rista juga dibantu Diana untuk naik motor.
"Makasih Di, kalau kamu udah beres belanja, kamu harus langsung hubungi Satya, okey?!" Tegas Rista, ia benar benar khawatir dengan adiknya itu.
"Iya kak tenang aja." Diana melirik Satya yang sudah mulai memutar kunci. "Kak benar ya jemput aku lagi?!"
"Iya. Kalau gak lupa ya!! Hihi.." Jawab Satya langsung melajukan motor.
Diana menghentak kaki.
"Iih, dasar nyebelin!! Awas aja kalau gak jemput lagi!!" Teriak Diana.
Satya hanya terkekeh mendengar teriakan Diana. Satya selalu suka melihat gadis itu marah. Rasanya dia begitu lucu saat marah. Rista memukul bahu Satya.
"Sat, kamu ya! Kasihan Diana kok dijailin mulu!"
"Hehe, abis lucu adik kamu itu Kak, bawel terus suka ngambek lagi kalau dijailin." Jawab Satya dengan disertai kekehan.
"Kamu ya!! Awas loh kalau gak jemput Diana!"
"Tenang aja Kak, cewek kalau belanja lama. Jadi Kaka tenang aja nanti aku jemput dia kok." Jawab Satya meyakinkan.
Didalam mobil Zian merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Bukankah apa yang dia lakukan itu bisa berakibat fatal? Kalau sampai Rista sakit hati lagi. Yang ada dia akan batal menikahi Rista, itu juga berarti akan menjadi ancaman bagi perusahaannya.
"Sial!! **** banget gue, gimana kalau si buta batalin pernikahannya?" Gerutu Zian, lalu menghentikan laju mobilnya.
Ia mulai berpikir apa yang harus dia lakukan. Zian merasa bingung harus kembali atau tidak. Tapi tunggu apa gadis itu masih ada di sana? Zian menghela nafas, ia merasa bingung harus apa sekarang.
"Apa si buta masih di sana ya? Atau dia udah pulang? Tapi, gimana cara dia pulang? Yang ada dia nyasar lagi. Atau gimana kalau ..." Zian mulai berpikir negatif. "Arghhkk .. Sial!!" Zian merogoh ponsel di saku celananya. "Gue harus telpon dulu dia. Gue harus pastiin dia masih di sana atau gak." Zian bermonolog.
Tutttt ... Tutttt ..
Tutttt ... Tutttt .. Maaf nomor yang anda tuju ..
Plug, Zian melempar ponsel ke jok disamping.
"Arghhkk .. Kenapa gak diangkat sih?! Jangan-jangan wanita itu ... Sudahlah!!" Zian kembali melajukan mobil. Ia lebih memilih untuk kembali ke tempat itu. Sudah seharusnya Zian kembali. Tiba-tiba pria itu merasa khawatir pada Rista. Apalagi, mengingat dia yang membawa Rista keluar. Itu berarti ia bertanggung jawab atas keselamatan Rista bukan?
Setelah sampai ke tempat tadi. Hanya dalam hitungan menit, Zian sudah sampai di sana. Pria itu langsung turun di tempat tadi ia menurunkan Rista.
Tapi, Zian hanya celingak-celinguk, tak menemukan Rista tentunya. Karena Rista sudah pulang.
Zian mencoba berjalan ke arah Supermarket yang memang berada di depan tempat Zian menurunkan Rista tadi. Ia melihat seorang pegawai Supermarket tengah membakar sampah. Barangkali pegawai itu tahu tentang Rista. Zianpun bertanya pada pegawai berbaju orange itu.
"Maaf Mas, Mas liat wanita? Dia buta, rambutnya warna hitam sepunggung, terus dia pakai baju dress coklat selutut juga paket jeans navy. Liat gak mas?"
"Duh, maaf Mas. Saya gak liat orang buta dari tadi." Jawab petugas itu.
__ADS_1
"Oh, ya udah. Makasih mas." Zian tersenyum lalu pergi meninggalkan petugas itu.
Sekarang Zian mulai frustasi dan kebingungan. Ia mengusap kasar rambutnya ke belakang.
"Sial!! Kemana perginya tu cewe buta?"
Zian kembali merogoh ponsel dan mulai mencoba lagi menelpon Rista.
Tutttttt ... Tutttttt ,Namun nomor Rista masih tetap tak bisa dihubungi. Zian kembali celingak-celinguk melihat sekitar, mungkin saja Rista masih ada disana. Tapi, dimana? Zian menghela nafas kasar. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang baru keluar Supermarket membawa sekresek belanjaan . Nampaknya, wanita itu tak asing bagi Zian.
"Diana?" Zian ingat ia punya urusan dengan wanita itu. Zian berjalan cepat mendekati Diana, ia tak segan untuk segera menarik tangan Diana.
"Eeh, kamu siapa?" Tanya Diana pada orang yang menarik tangannya. Diana terpaksa ikut berjalan dibelakang pria itu. Dia belum tahu siapa pria yang menarik tangannya. Terlalu tiba-tiba pria itu menarik Diana. Hingga tak Diana sangka pria itu mendorongnya tepat ke kaca samping mobil. Pria itu mengungkung tubuh Diana dengan kedua tangannya. Diana kaget,
"Kak Zian! Kaka mau apa?" Diana merasa takut, karena jarak wajah Zian dengannya begitu dekat. Diana bahkan sampai memalingkan wajah.
"Diem kamu!" Zian menarik tangan kiri Diana, menahannya di depan tubuh Diana, agar Diana tak bisa kabur.
"Aw, lepas kak! Kaka mau apa?" Berontak Diana.
Zian perlahan mendekatkan mulut ke telinga Diana lalu berbisik.
"Apa kamu benar-benar gak inget,Ana? Tiga tahun lalu, Club Malam X2 lantai VVIP, kencan buta."
Diana terbelalak, ia seketika memutar memori tiga tahun lalu saat ia pergi ke Jakarta untuk menghadiri Pernikahan bibi Satya, sebenarnya memang pergi bersama Rista juga Satya. Bahkan, sebenarnya Diana dipinta menjaga Rista tiga tahun lalu itu. Aneh memang, padahal Diana saat itu baru berusia enam belas tahun dan Rista jelas enam tahun lebih tua darinya. Harusnya Ristalah yang menjaga Diana, tapi orang tua mereka malah meminta sebaliknya. Sebenarnya, permasalahannya bukan disitu, tapi saat kecemburuan Diana melanda.
Saat itu Diana merasa cemburu melihat Satya yang begitu dekat dengan Rista. Detik itu pulalah Diana merasa sadar kalau dia mencintai Satya. Diana yang melihat Satya dan Rista begitu akrab seperti layaknya kekasih, bahkan mereka sampai saling suap makanan segala. Diana merasa diacuhkan di pesta itu. Dengan perasaan sedih bercampur marah juga cemburu, Diana keluar hotel tempat resepsi pernikahan. Resepsi itu memang diadakan malam hari. Juga khusus untuk Diana, Rista dan Satya mereka diberi tempat menginap di hotel itu.
Tanpa arah tujuan Diana berjalan keluar. Hingga dia bertemu seorang pria yang katanya teman Satya. Diana yang masih polos percaya. Pria itu menawarkan hal konyol berupa kencan buta. Diana setuju. Gadis itu ikut si pria yang Diana ingat namanya adalah Kevin. Kevin membawa Diana ke sebuah Club Malam X2, Diana ingat dia berkenalan dengan seorang pria bernama Alan yang sedang mabuk. Diana juga ingat pria itu menariknya saat mabuk. Diana merasa takut saat itu. Namun, insiden lepas sepatu menjadi penyelamat dia. Saat Diana meronta untuk mengambil sepatunya yang terlepas, pria itu tak menyadari keberadaan Diana yang jongkok dan akhirnya dia menarik tangan wanita lain. Diana menghela nafas lega saat mengingat itu. Kejadian gila yang untung saja dia bisa selamat dari kejadian itu. Kalau tidak, Diana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat itu.
Namun, kelegaan Diana terhenti seketika. Saat menatap Zian di hadapannya. Tunggu! Pria itu menatap begitu lekat juga senyum, seakan menggoda Diana.
"Bagaimana sudah ingat?" Zian kembali berbisik, cengraman tangan Zian semakin kencang di pergelangan tangan Diana. Zian kembali manlanjutkan pertanyaan yang belum Diana jawab. "Atau .. kamu mau aku ingatkan lagi dengan sentuhan-sentuhan itu." Nafas Zian mulai terasa di leher Diana. Diana sadar pria itu mau melakukan hal tak buruk padanya.
Zian melupakan satu tangan Diana yang memengang kreksek. Diana menjatuhkan kresek belanjaannya.
Srek, Plakkk ... Diana dengan mata berapi menatap Zian, setelah menampar pria kurang ajar dihadapannya itu.
Zian memengang pipinya yang terasa sedikit perih. Menatap Diana tak percaya.
"Apa maksud anda Tuan Zian Alansyah? Atau harus saya panggil Mas Alan?" Diana menunjuk tepat di wajah Zian. "Ingat ini baik-baik Tuan Zian! Anda salah mengira, saya bukan wanita murahan yang sudah tidur dengan anda!! Camkan itu! Dan satu lagi, Wanita yang anda tarik itu bukan saya!" Tegas Diana, lalu mendorong Zian dan pergi meninggalkan pria itu.
Zian tak mungkin salah, ia tak ingin menyerah begitu saja. Zian mengejar Diana dan menarik tangannya lagi.
"Lepas!! Apa lagi sekarang?! Sudah aku bilang, bukan aku orang yang tidur sama kamu!" Tegas Diana.
"Lo pasti bohong! Lo cewek yang udah tidur sama gue, gue gak mungkin salah." Zian masih bersikukuh. Dia menarik Diana, mencoba menahan Diana dalam dekapannya. Diana terus meronta.
"Lepas!!" Diana menarik tangannya, tapi tentu sulit untuk terlepas.
"Lepasin dia!!" Teriak seorang pria membuat Zian dan Diana menatap orang itu. Zian melepaskan pelukan pada Diana, ia memicingkan mata menatap pria itu.
"Siapa Lo?" Tanya Zian tepat dihadapan si pria.
__ADS_1