
Singapore, pukul 21.30.
Karena kejadian pagi itu.Faris ayah Rista segera meluncur ke Singapura untuk menemui sang ayah dan membatalkan pertunangan.Kini dia tengah duduk diruang tamu menunggu sang ayah.Juan sendiri memang pergi cek up kesehatan setiap minggu,karena penyakit jantung yang dimiliki nya.
"Ya hallo sayang,kenapa?" Tanya Faris kepada orang dibalik telpon itu.
"Aku kesel deh ris,anak kamu itu punya hati kaya apa sih?" Gerutu Tanika.
"Loh loh kamu kenapa sih? Diana bikin ulah lagi,apa dia pulang malam lagi?" Tanya Faris tak mengerti.
"Bukan Ris.Tapi, Rista.." Belum selesai Tanika menjawab.Faris dengan segera memotong jawabannya.Karena, rasa khawatir seketika menyergap hati Faris.Saat mendengar nama Rista.
"Rista kenapa? Sakit?" Nada bicara Faris mulai panik.
"Gak Ris,kamu jangan khawatir gitu,cuma aku gak habis pikir aja.Zian, cucu dari temen papa kamu itu datang lagi kesini.Ngemis ngemis minta maaf sama Rista dan Rista biarin dia masuk gitu aja." Jelas Tanika disertai dengusan kesal.
"Apa? Terus apa kata Rista?" Faris menautkan alis.
"Gak tahu,mereka lagi ngobrol sekarang."
"Ya udah,kamu awasi mereka
Aku bakal ngobrol sama papa setelah dia pulang cek up." Jelas Faris,
"Ya aku pasti awasi mereka kok.Kamu hati hati ya disana! jangan lupa makan vitamin kamu,aku udah taruh ditas kerja kamu.Jangan telat makan juga supaya mag kamu gak kambuh."
Faris tersenyum mendengar ocehan Tanika yang memang selalu bawel seperti itu.Bahkan, sifatnya itu tak pernah berubah sedari dulu.
"Iya sayang ku yang bawel,bawel nya gak pernah ilang deh."
"Apaan sih Ris?? Masih sempat aja godain aku."
Faris terkekeh,
"Kamu juga ya sayang.Jaga kesehatan ,nanti pas pulang kita langsung cek kesehatan kamu ke Dokter.Katanya kamu udah bisa lepas kursi roda Minggu ini." Jelas Faris,
"Alhamdulillah kalau gitu.Aku juga udah bosen sama kursi roda ini.Kamu itu lebay! aku cuma sakit kaki aja sampai harus pake kursi kaya gini." Keluh Tanika,karena Faris lah yang memaksa Tanika memakai kursi roda, Alasannya agar Tanika tak kelelahan katanya.
"Itu buat kesehatan kamu sayang.Aku gak mau kamu cape juga sakit,kamu harus sehat terus.Kalau kamu sakit.Siapa yang nemenin aku coba?"
"Ya ya sayang.Aku gak akan sakit lagi.Makanya, kamu cepet pulang ya!! Aku kangen nih.."
"Uchhhh .. kangen ya? Padahal baru ditinggal satu hari."
"Iya ris.Aku juga kesel liat anak nyebelin itu seenaknya datang ke rumah.Kalau bukan karena Rista aku gak mau dia masuk." Kesal Tanika mengingat kembali anak muda yang memang sedang berada diruang tamu bersama anaknya.
"Kamu tenang aja! Kamu harus percaya sama Rista,dia wanita cerdas dia tahu apa yang harus dia lakuin.Ya udah aku harus ngobrol sama papa.Kaya nya papa udah pulang.Assalamualaikum sayang,kamu jaga diri." Faris sedikit melirik ke arah luar.Nampak ayahnya turun dari mobil dibantu Sarah juga supir nya.
"Ya sayang.Waalaikumsalam." Jawab Tanika.Lalu menutup telpon itu.
Faris bergegas berdiri,saat sang ayah dan ibu tirinya itu masuk rumah.
"Faris??" Juan menghampiri anaknya,dibantu Sarah yang menggandengnya.
"Assalamualaikum mi,pa." Faris menyalami Juan dan Sarah secara bergantian.
"Waalaikumsalam nak.Kamu ada apa kesini? Tumben?" Tanya Sarah sembari membetulkan kacamata yang bertengger dimatanya.
__ADS_1
"Mi aku mau bicara sama papa."
Sarah menuntun suaminya untuk duduk.Faris pun ikut duduk dihadapan sang ayah.
"Kalau gitu mami buatkan minum ya!" Sarah lalu berjalan menuju ruang dapur.
Tinggallah Faris dan kakek berusia sekitar Enam puluh tahunan itu diruang tamu.
"Pa langsung saja.Aku minta maaf pa.Tapi,aku gak setuju Rista nikah dengan cucu temen papa itu.Dia bukan cowok yang baik.Dengan berani dia hina Rista terang terangan pa!" Tegas Faris tak ingin basa basi.
Pria tua itu memicingkan mata,
"Kamu salah Ris.Diia pria yang bertanggung jawab.Dia pasti mau menikahi Rista dan dia pasti bakal bahagiain Rista.Dia harus mau.Karena, kalau tidak.Siapa lagi yang akan menikahi anak mu itu? Kamu sadarkan butanya itu permanen? Ini semua karena keteledoran istri kamu cucuku jadi seperti itu." Tegas Juan begitu marah mendengar penolakan Faris.
Faris tersentak.Amarahnya mulai memuncak.
"Maaf pa! Apa yang terjadi pada Rista bukan salah Tanika! ini sudah takdir pa.Papa tolong jangan selalu salahkan Tanika pa!" Faris tak menerima.Ia mulai menaikan nada bicaranya.
Tapi Juan masih mencoba tenang.
"Penanganan Rista harusnya sudah dilakukan sejak gejala ROP itu terjadi.Tapi,Tanika dia tak tahu itu.Bahkan, hanya melakukan operasi laserpun gagal.Dan akhirnya menjadi kebutaan permanen untuk Rista.Harusnya,dulu dia tidak keras kepala minta cerai sama kamu.Tapi, sudahlah! kamu bilang papa jangan menyalahkan dia lag.Maka dari itu,hanya Zian yang bisa menikah dengan Rista.Kalaupun dia menghina Rista, cepat atau lambat dia akan mengemis cinta pada anakmu itu." Jelas Juan panjang lebar.Penuturan Juan itu membuat Faris sedikit menautkan alis.Ada rasa heran.Kenapa ayahnya itu tahu kalau Zian akan mengemis ngemis pada Rista.
"Maksud papa apa? Apa ada yang papa sembunyikan dari aku?" Mata Faris menatap penuh selidik.
Juan berusaha menjawab dengan tenang pertanyaan Faris.
"Papa hanya ingin Rista punya pendamping.Pendamping yang bisa menjadi penerus perusahaan kita.Papa sangat yakin dengan Zian.Dia bahkan pernah menjadi sekertaris papa selama tiga tahun.Terbukti, dia bertanggung jawab.Papa kira dia pria yang cocok untuk Rista." Jelas Juan begitu yakin dengan pemikiran nya.Tak nampak pula kebohongan dikedua manik mata Juan.
Faris berdiri.
"Terserah!! Papa mau bilang apa tentang Zian.Aku tetap tidak setuju! Bagaimana mungkin dia bisa membahagiakan Rista? Jika mulutnya saja tidak bisa menjaga pendengaran Rista." Tegas Faris,lalu berjalan keluar dari rumah besar itu.
"Aku akan buktiin sama kamu Ris,aku bakal jadi pendamping terbaik untuk kamu.Kamu boleh menolak.Kalau aku emang gak bisa naklukin hati kamu." Ungkap Zian masih duduk dihadapan Rista.Menunggu gadis itu mengatakan iya atas ajakannya untuk memulai semua dari awal.
"Aku hanya memberi kesempatan sekali mas." Jawab Rista lalu mulai berjalan dengan bantuan tongkat putih ditangan kanannya.Gadis itu hendak berjalan kepintu.Dan ...
Ceklek,
Rista membuka pintu setelah meraba raba gagang pintu dengan tangan kirinya.
"Silahkan mas pulang!! Ini sudah malam." Pinta Rista.
Tuk tuk tuk tuk .. Sentuhan antara ubin dan tongkat milik Rista.Menghantar gadis itu berjalan menuju kamar.
"Tunggu!!" Zian menarik tangan kiri Rista.Gadis itu menghentikan langkah juga tongkat yang ia gunakan untuk menemukan jalan agar tak tersandung atau jatuh.
"Malam Minggu ini.Ayo kita kencan! Aku jemput kamu.Jam delapan malam." Ucap Zian,
Rista merasakan tangan kirinya dilepas perlahan oleh Zian.Terasa hembusan nafas lembut ditelinga Rista.
"Aku mencintaimu Rista." Bisik Zian tepat ditelinga Rista.
Deg,
Rista tercengang.Jantungnya terasa berdebar mendengar ucapan lembut Zian,begitu halus dan mengetarkan hatinya.Entahlah,suaranya seakan penuh misteri.Adaa rasa berbeda saat ia bersama pria bernama Zian itu. Seakan ada sebuah jalan yang akan menuntun Rista untuk berdampingan dengan pria itu.
Cinta? Rista merasa itu bukan cinta,karena selama inipun Rista hanya mencintai satu pria selain ayahnya.Pria itu adalah Satya.Pria yang Rista kira tak pernah mencintai nya,hanya menganggap Rista sebagai kakaknya.Cinta yang Rista anggap hanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Tapi,Zian.Dengannya seakan ada ikatan yang Rista tak mengerti apa itu.
"Ris.." Panggil Tanika yang menghentikan lamunan Rista.
"Ya ma.." Rista terlihat mencari sumber suara.
"Apa yang dikatakan pria b r e n g s e k itu?" Tanya Tanika terdengar kesal.
"Ma,jangan bicara seperti itu.Mas Zian berniat baik ma.Dia mau minta maaf dan dia mau memulai dari awal." Dengan lembut Rista menjelaskan.
Tanika menghela nafas panjang,
"Ris,mama gak mau kamu sakit hati sayang! Kamu Nerima tawaran dia?" Tanya Tanika mengelus lembut tangan anaknya.
"Ma .." Rista memegang tali tongkat nya. Menurunkan perlahan.Lalu berjongkok meraba raba tangan sang ibu. "Jika Allah Maha Pemaaf.Maka sebagai hambanya,rasanya aku gak pantas menyimpan dendam sama Mas Zian.Dia berhak dapat kesempatan." Rista tertunduk. "Lagipula,wajar dia marah.Karena wanita yang akan ia nikahi adalah wanita yang cacat." Ujar Rista mata gadis itu mulai berkaca kaca.
"Sayang.." Tanika mengelus lembut pipi Rista.Ia mendekap kepala gadis itu.Kini Rista menagis dipaha sang ibu.Tanika terus mengelus lembut rambut hitam Rista. "Rista," Tanika mengangkat wajah Rista.Menatap dua bola mata tak bersalah yang harus hilang kemampuan, karena retina yang memang rusak, akibat kesalahan operasi juga perawatan yang tak efektif. "Sayang mama,kamu jangan nangis ya!" Tanika mengusap bulir bening dipipi mulus Rista. "Kamu harus janji sama mama! Kamu,jangan pernah menangis karena kekurangan kamu.Kamu masih punya banyak kelebihan,kamu harus yakin itu.Satu hal lagi,Allah memberi kamu hati yang spesial.Hati yang memang lembut bahkan mama sendiri tak bisa selembut dan sebaik kamu."
Cup, Tanika mengecup lama kening Rista.Tangis yang ia tahan kini jatuh berderai.Tanika cepat menghapus air mata nya agar Rista tak menyadari dia menangis.
"Ma,mama nangis?" Ternyata Rista mampu merasakan juga mendengar Isak tangis Tanika yang meski pelan itu.Tanika diam.Ngilu sekali hati Tanika,saat sang anak malah bertanya seperti itu.Bodoh memang.Ia meminta Rista untuk tak menangis.Tapi,dia sendiri tak mampu menahan agar bulir bening tak jatuh dari tempat nya.
"Ma.." Rista meraba raba wajah Tanika.Wanita itu semakin merasa sedih merasakan lembut sentuhan tangan sang anak. "Mama jangan nangis! Rista janji gak akan nangis lagi ma." Rista mengelus pipi Tanika.Gadis itu lalu memeluk paha Tanika.Tanika kembali mengelus rambut Rista,ia menahan rasa ngilu dihatinya atas kondisi Rista yang harus buta seumur hidup.
"Gak sayang,mama gak nangis.Mama akan jadi kuat dan akan selalu jadi cahaya penuntun Rista." Tanika menunduk dan mengecup pucuk rambut Rista.
"Ma .." Rista mengangkat wajahnya,
Tanika mengelus rambut Rista,menyelipkan rambut lurus itu dibalik daun telinga Rista.
"Iya sayang." jawab Tanika menatap lembut.
"Ma,mas Zian ajak aku kencan malam Minggu ini." Ungkap Rista, berharap Tanika mengizinkan nya pergi.
"Apa?!" Tanika kaget,dia menghentikan elusan dirambut Rista.
Rista yang tak lagi merasa kan sentuhan sang ibu.Ia menaruh kedua tangannya dipaha Tanika,seakan ia ingin memohon.
"Ma,apa aku boleh pergi?"
"Gak!" Tanika memundurkan perlahan kursi rodanya,
Rista menarik tali tongkat putih yang ia lilitkan ditangan.Tongkat pun berdiri tegak.Dengan bantuan tongkat Rista berdiri.Sementara Tanika masih mematung,masih tak mengerti kenapa anaknya mau menerima tawaran si penghina itu.
"Ma," Rista meraba raba keberadaan sang ibu dihadapan nya.
"Maaf Ris,mama gak izinin kamu pergi.Mama gak mau kamu terluka Ris.Sekarang kamu istirahat! Ini sudah malam."
Terdengar oleh Rista sang ibu memutar kursi roda dan Rista tahu sang ibu menjauh.
"Tapi ma .." Rista mengangkat tangan kirinya,seakan berusaha meraih sang ibu yang menjauh.Rista perlahan menurunkan tangan it.Merasa tak ada respon dari ibunya.
"Ini yang terbaik Ris.Maafin mama! Mama bukan kamu yang mudah memaafkan." Lirih Tanika.
Tuk tuk tuk tuk .. Rista mengerakkan tongkat beriringan dengan kaki yang juga ia langkahkan menuju kamar nya.
Tak ada harapan.Mungkin,hubungan ini hanya akan menjadi sebatas maaf dan memaafkan.Tak akan berlanjut kemana pun.Diakui memang sikap Zian sudah sangat keterlaluan dan seenaknya.
__ADS_1
Rista menghela nafas pasrah.