
Setelah melihat nama yang membuatnya mengeryitkan dahi, Zian dengan inisiatifnya beringsut turun dari tempat tidur. Menjauh dari Rista adalah jalan terbaik yang ia pilih. Tentu bukan tanpa alasan, penggilan yang diterima Zian adalah panggilan dari orang yang memang tak boleh Rista ketahui.
Diletakannya ponsel disamping telinga, sementara satu tangannya yang lain ia masukkan ke dalam saku celana. Mata Zian menatap suasana kota di balik kaca jendela. Dengan hati-hati Zian terima panggilan itu.
"Ya hallo, ada apa ya bu? Kenapa ibu telpon saya?" tanya Zian pada orang di balik telpon.
"Pake nanya lagi, ya saya mau minta ganti rugi! Emang kamu pikir kamu bisa lolos gitu aja dari apa yang udah kamu lakuin! Gak! Gak bisa semudah itu!" tegas Yuni orang di balik telpon.
Zian semakin tak mengerti. Ia pindahkan ponsel yang semula menempel di telinga kiri. Agar ia bisa mendengar dengan lebih jelas, Zian pindahkan ponsel itu di samping telinga kanan. Kini wajah Zian terlihat kesal bercampur tak percaya.
"Maksud ibu apa? Ganti rugi? Saya udah Ganti rugi bu, saya udah ngasih kartu nama saya sama Akira. Saya akan menanggung segalanya. Biaya yang udah Akira keluarkan, saya akan menggantinya." tutur Zian dengan percaya diri.
"Oh ya?" tantang Yuni seolah tak percaya. "Kalau gitu kamu kirim uang 20 juta sekarang juga! Atau kalau gak kamu akan dapat berita terhangat sore ini tentang hubungan gelap kamu sama anak saya." lanjutnya.
Permintaan Yuni membuat Zian ternganga tak percaya. Dua puluh juta? Untuk apa uang itu? Meski memang Zian tak akan keberatan untuk memberi, tapi Zian merasa itu tak wajar. Namun, Zian tak punya pilihan. Jika itu bisa membebaskannya dari gosip yang akan tersebar, Zian akan relakan uangnya.
"Okey saya akan kirim." tegas Zian langsung mematikan ponsel.
Setelahnya Zian memijit dahinya yang terasa pusing. Nafasnya terasa terengah. Berpikir keputusan yang dia ambil sungguh suatu dilema. Benar dan salah disana tak bisa ia tentukan. Jika salahpun ia tak bisa menghindar dari kesalahannya. Kini Zian hanya bisa menarik nafas panjang, kesal, kecewa, juga marah pada diri sendiri. Semua sudah terjadi dan tentu tak bisa ia pungkiri. Terasa begitu lelah Zian. Didudukkannya tubuh yang terasa letih itu di kursi samping jendela. Matanya masih tertuju pada pemandangan atap-atap rumah yang berjajar di luar sana. Tangannya masih bertengger di kepalanya yang terasa pusing.
Suara manis seseorang menyadarkan Zian dari kebimbangan. Matanya menoleh ke arah wanita cantik bergaun putih itu.
"Mas," panggil Rista.
Wanita itu berjalan mendekati Zian dengan bantuan tongkat. Tangannya meraba keberadaan Zian yang ia pikir berada di kursi samping jendela. Sigap Zian berdiri mengambil tangan itu dan mengecupnya cukup lama.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Zian usai mengecup punggung tangan Rista.
Tangan Rista masih setia ia genggam. Matanya menatap sang istri yang nampak cemas.
"Mas kenapa? Kok aku kaya denger mas hela nafas panjang, mas lagi ada masalah ya?" tanya Rista dengan sendu.
Direngkuhnya Rista ke dalam dekapan Zian. Jemari Zian mengelus lembut pucuk rambut Rista lalu dikecupnya pucuk rambut itu penuh rasa kasih dan sayang.
"Gak sayang, aku gak apa-apa."
"Mas, kamu serius gak apa-apa? Aku ngerasa khawatir mas sama kamu. Sejak dari tadi mas pulang, aku ngerasa kamu lagi punya masalah besar. Kamu gak mau cerita sama aku mas?" tanya Rista lagi.
Perlahan Zian melepas pelukannya. Ditariknya pergelangan tangan Rista dengan lembut. Duduk perlahan dikursi tadi, tangan Rista masih tetap ia genggam. Saat Rista sudah berdiri di sampingnya, Zian memeluk wanita itu dari samping. Merasakan hangatnya pinggang Rista yang ia dekap. Tangan yang melingkar di perut Rista ia pererat untuk memeluk sang istri. Kenyamanan yang Rista beri membuat Zian merasa tenang. Jika boleh berandai, Zian berandai-andai kalaulah dia bisa bertemu lebih awal dengan Rista, maka ia sangat menginginkan hal itu. Mencintainya lebih awal. Lalu sekarang, Zian memang terlambat menyadari tapi Zian berharap ia akan selalu bisa memeluk sang istri seperti ini.
"Sayang ...." panggil Zian sembari menekur ke lantai putih kamar itu. "Kamu percayakan? Kalau aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Aku minta maaf, karena terlambat menyadari hal itu. Tapi aku janji aku gak akan pernah ninggalin kamu apapun yang terjadi. Meski tanpa melihat, tapi hati kamu lebih mampu memandang diri aku yang banyak salah ini bahkan memberi aku kesempatan untuk melihat ketulusan kamu. Aku minta maaf sayang, kamu mau kan? kita ulang semua dari awal dan kita jalin pernikahan ini dengan cinta bukan atasan dasar paksaan." pinta Zian.
Tangan Rista meraba bahu lalu naik ke kepala Zian dan mengelusnya.
"Mas aku udah maafin kamu, aku juga percaya sama kamu. Aku mau mas, aku mau kita ulang semua dari awal. Aku juga cinta sama kamu mas." sahut Rista dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Zian menengadah menatap Rista yang tersenyum bahagia. Mata Zian lekat menatap ketulusan yang terpancar di wajah istrinya. Hal itu membuat Zian menarik dua sudut bibir dengan sempurna, kembali ia peluk erat sang istri. Setelahnya Zian berdiri dan langsung menggendong Rista, hal yang tentu membuat Rista kaget.
"Mas," desah Rista karena kaget.
Tak Zian hiraukan Rista yang merasa kaget dengan tindakannya. Langkah Zian terus melangkah hingga sampai tempat tidur. Perlahan ia turunkan sang istri hingga Rista duduk disana. Kemudian Zian ikut duduk di tepi ranjang menghadap Rista. Tangan yang sempat ia lepas itu kembali ia genggam, menciumnya lagi dengan tatapan yang menatap lekat sang istri.
"Makasih sayang. Aku gak tahu harus berapa kali aku berterima kasih sama kamu." Jemari Zian beralih meraba wajah mulus Rista. Mengelusnya penuh kasih bagian pipi Rista dengan ibu jarinya.
"Sayang kamu tahu, saat ini aku baru sadar betapa aku beruntung nikah sama kamu. Dulu aku mengatakan kebohongan, tapi hari ini apa yang aku katakan adalah kesungguhan aku Ris," Zian kembali mendekap Rista sebelum kembali berucap, "Aku cinta kamu Ris dan akan selalu cinta kamu."
Dilingkarkannya kedua tangan Rista untuk membalas peluk Zian. Pipinya ia sandarkan di bahu kekar Zian. Telapak tangan Rista mengelus lembut punggung Zian.
"Aku juga mas, aku merasa beruntung menikah sama kamu. Aku banyak belajar tentang sabar juga ketulusan." tutur Rista menanggapi.
Hati Zian semakin terenyuh mendengar penuturan Rista. Tanpa Zian duga ia semakin erat memeluk sang istri. Tak ingin melepas tubuh yang penuh kenyamanan dan ketenangan itu. Hanya bersama Rista ia rasa bisa melepas beban yang sedang melanda pikirnya. Sejenak melupakan perihal Akira.
"Non, maaf saya ganggu ada tamu non." ujar Bi Maya di balik pintu.
Suara ketukan juga panggilanan dari Bi Maya menghentikan momen pelukan Zian dan Rista. Pelan Rista mendorong Zian. Memegang kedua tangannya.
"Mas aku keluar dulu ya mas, sepertinya ada tamu penting." pinta Rista sembari tersenyum manis.
Zian mengelus kedua tangan Rista dengan ibu jarinya.
"Iya sayang. Aku bakal mandi dulu baru aku turun." jawab Zian, lalu berdiri mengambil tongkat Rista dan mengenggamkan tongkat itu pada telapak tangan Rista.
Zian memperhatikan langkah sang istri yang keluar dari kamar. Ada rasa takut saat Rista hampir keluar dan membuka pintu. Zian berjalan cepat memeluk wanita itu dari belakang. Rasa cemas akan kehilangan Rista terus menyeruak entah karena apa.
"Ris, jangan tinggalin aku!" pinta Zian tiba-tiba.
Rista yang sedikit terperanjat kemudian sadar dari keterkejutannya. Melepaskan perlahan tangan Zian yang melingkar di atas dadanya. Dielusnya lengan Zian dengan lembut.
"Mas, aku gak akan ninggalin kamu mas. Aku cuma mau ke Ruang Tamu, kamu bisa nyusul aku mas." ujar Rista, membuat Zian sadar dan melepaskan pelukannya.
Betapa kesalahan Zian membuatnya dibayang-bayangi kemungkinan Rista mengetahui sesuatu akan rahasia yang ia sembunyikan. Zian tak menyadari itu hanya rasa takutnya saja. Bahkan melihat Rista akan menemui tamu membuatnya berpikir Rista akan pergi. Betapa Zian telah dibuat salah tingkah oleh kesalahannya sendiri.
"Mas," panggil Rista.
Tak ada respon dari Zian, membuat Rista membalikkan badan. Kembali Rista memanggil suaminya itu.
"Mas, kamu masih disinikan?" Tangan Rista meraba ke depan, ia dapati wajah Zian tersentuh jemarinya. Setelahnya Rista elus lembut pipi sang suami.
"Mas kamu kenapa?" tanya Rista khawatir.
Zian menggeleng lalu ia tarik tangan itu mendekatkan telapak tangan Rista ke bibirnya dan mengecup lembut telapak tangan Rista.
__ADS_1
"Gak sayang, aku cuma ... gak tahu kenapa, tapi aku takut kehilangan kamu." lirih Zian setelah mengecup telapak tangan Rista.
Rista melepas perlahan tangan yang digenggam Zian. Mendekati Zian kemudian. Jemari lentik itu kembali meraba wajah Zian. Dengan lembut menelusuri setiap inci wajah sang suami.
"Mas, aku gak mungkin ninggalin kamu. Meskipun tanpa melihat kamu, aku tahu kamu tulus sayang sama aku. Semoga keputusan aku untuk kembali menjalin hubungan kita adalah keputusan terbaik. Aku percaya sama kamu mas, aku harap kamu gak akan khianati aku lagi mas." jelas Rista dengan senyum.
Ditariknya Rista ke dalam dekapan Zian. Memeluk wanita itu dengan erat, Zian kembali berucap, "terima kasih sayang. Kamu adalah wanita terbaik yang Tuhan kirim buat aku. Aku janji gak bakal khianati kamu karena kamu akan menjadi satu-satunya bidadari dalam kehidupan aku." tegas Zian disela peluknya.
Rista begitu bahagia, ia peluk kembali sang suami penuh rasa suka cita. Impian juga harapannya selama hampir tiga bulan terakhir ini akhirnya terwujud. Rista bisa mendapatkan rasa cinta dari Zian sebagai balasan rasa cinta yang telah ia bangun untuk suaminya selama ini.
°°°
Jakarta pukul enam sore.
Kemacetan sore itu baru berakhir sekitar satu jam. Akira baru kembali ke rumah pukul enam sore. Mata wanita itu terbelalak kala melihat sang ibu yang menenteng barang belanjaan begitu banyak sedang berdiri hendak membuka pintu kontrakan. Akira yang baru turun dari Taxi segera berjalan cepat mendekati Yuni ibunya. Dengan mata menyipit serta dahi yang sedikit mengkerut dan rasa penasarannya Akira bertanya, pertanyaan yang membuat sang ibu terperanjat.
"Bu, ibu belanja segini banyak, uang dari mana bu?" sentaknya sedikit marah.
Yuni memegang dadanya karena kaget setelahnya menghela nafas.
"Ya Tuhan! Kamu ya Ra, bikin kaget aja!" sinis Yuni merasa kesal.
"Ibu aku tanya bu," Akira menunjuk paper bag yang ditenteng Yuni, "ibu dapat uang dari mana belanja sebanyak ini?" lanjutnya.
Yuni menghela nafas jengah kemudian menjawab,
"ya dari calon suami kamu lah siapa lagi?" sinis Yuni.
"Maksud ibu ... siapa?" tanya Akira tak mengerti.
Yuni melepaskan tentengannya menatap tepat di kedua mata Akira.
"Kamu ya! Pura-pura bodoh atau emang bodoh beneran? Calon suami kamu si Zian lah siapa lagi ..."
"Ibu! Maksud ibu apa bicara seperti itu? Zian bukan calon suami aku bu!" potong Akira merasa tak terima.
"Ya Tuhan! Akira! Kamu itu udah dihamili sama dia, terus kamu gak mau nikah sama dia. Emang ya kamu ini b e g o nya! Ibu gak rela ya anak ibu dihamili tanpa dinikahi!" sentak Yuni lebih tak terima.
Akira merasa sakit hati dengan perkataan ibunya. Ia mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Mata Akira mulai memerah, seketika ia membungkam mulut mendengar sentakan sang ibu. Tak ingin melanjutkan perdebatan yang Akira pikir tak berguna, ia memilih untuk membuka pintu dan masuk. Amarah Akira tak bisa terbendung jauh di lubuk hati ia sangat marah pada sang ibu. Seolah Ibunya menghina kejadian buruk yang menimpanya tiga tahun yang lalu. Padahal Akirapun tak menginginkan hal itu terjadi. Namun, baru saja Akira selesai membuka pintu dengan bantuan kunci yang sudah tergantung, langkahnya terhenti.
"Akira! Jangan kamu bohongi diri kamu sendiri. Kamu cintakan sama Zian? Jangan mau jadi wanita lemah! Kamu lebih berhak atas Zian ketimbang wanita buta itu. Saran ibu kamu harus kejar Zian! Jangan mau terus ditindas pria tak bertanggung jawab itu!" tegas Yuni.
Apa yang dikatakan ibunya membuat Akira diam terpaku. Sang ibu yang berjalan melewatinyapun tak ia sadari. Pikirnya masih mencerna kata demi kata yang telah Ibunya lontarkan. Ada benarnya, ia memang mencintai Zian tapi untuk menjadi pelakor dan perusak rumah tangga Zian Akira berpikir ulang. Pikiran Akira yang saling beradu dan berasumsi tentang pendapat dan saran dari ibunya membuat Akira tak sadar meneteskan air mata.
Ada pesan dari Author ya!
__ADS_1
Author sangat berterima kasih sekali untuk para readers setia yang selalu menunggu up cerita Author ini. Author sangat senang dengan antusiasnya readers yang selalu komen dan nunggu up cerita ini. Mohon maaf 🙏🙏 Author kadang telat up atau gak up misalnya, biasalah Author kadang stuck ide atau emang lagi sibuk. 😁😁 Tapi sekali lagi terima kasih banyak. Kehadiran para readers adalah hal paling bikin Author bersemangat buat nulis. Semoga gak bosen dan masih setia sama kisah Akira dan Zian. 😊😊
#Salam sayang dari Author, love you ❤️❤️😊😊