Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 13 : Raja Modus


__ADS_3

Berlututlah Zian di kaki Rista. Rista merasakan kakinya dipegang erat Zian, pria itu menunduk, memohon bak seorang hamba sahaya memohon pengampunan.


"Ris, aku mohon jangan akhiri hubungan kita! Aku mohon!" Zian dengan nada memelas. Tangannya masih dingin Zian telah kehujanan semalam. Nejad sekali pria ini.


Karena Rista tak kunjung bersuara. Zian kembali memohon, sejenak pria itu menengadah melihat Rista yang terdiam, tapi kemudian ia kembali menunduk, memegang erat kaki Rista.


"Ris! Sayang, aku mohon jangan tinggalin aku! Aku gak bisa tanpa kamu Ris. Jangan akhiri hubungan kita, ya?!" Nada suara Zian semakin memelas.


Dengan agak jongkok. Rista menurunkan kedua tangan perlahan, meraba-raba bahu Zian mengelusnya.


"Mas-mas bangun Mas! Jangan kaya gini! Nanti orang mengira yang enggak-enggak. Bangun Mas!"


Zian bersikeras, malah semakin memeluk kaki Rista.


"Gak sayang!" Zian menggeleng kepala pasti. "Aku gak akan bangun dan akan terus memohon seperti ini, sampai kamu narik kata-kata kamu."


Rista terpaksa berjongkok karena tak enak dengan sikap Zian. Membuat Zian terpaksa melepaskan kedua kaki Rista, kini ia beralih memengang kedua bahu Rista, menatap lekat wajah wanita itu.


"Ya ampun Mas, jangan kaya gini!" Pinta Rista sembari menaruh tongkatnya. Rista mulai merasakan tak enak di hatinya. Perih saja rasanya, saat Zian memohon begitu. Tak tega mendengar permintaan Zian yang begitu memelas.


Kedua tangan Zian terasa erat memegang kedua bahu Rista.


"Sayang, kamu gak akan akhiri hubungan ini kan?!" Tanya Zian.


Meski Rista mengenakan jaket, tapi tangan dingin Zian masih terasa menusuk kulitnya.


"Mas," Rista meraba tangan Zian di bahunya, mengelus lembut punggung tangan itu. "Mas dingin, Mas semalam gak pulang? Kenapa Mas? Aku udah bilang Mas pulang!" Tutur Rista begitu lembut.


Momen itu dimanfaatkan Zian, dengan sigap ia mengambil tangan Rista, meletakannya tepat di dada Zian, mengenggam erat dengan kedua tangannya.


"Demi kamu, aku gak masalah kehujanan atau kedinginan. Aku nungguin kamu. Aku mohon jangan tinggalin aku Ris!" Zian mengecup tangan itu cukup lama, membuat Rista kembali terdiam merasa kaget. Desir hatinya mulai terasa, juga detak jantungnya yang entah kenapa sulit dikendalikan.


"Sayang, kita tetap menikah kan? Jangan akhiri hubungan ini!"


Hanya Zian yang sedari tadi berkata. Rista tak sanggup berkata apapun, sejak tangannya digenggam Zian. Kenapa ini? Rista tak mengerti. Luluhkah hatinya dengan perlakuan Zian?


"Sayang!" Zian kembali berucap.


"Hentikan! Jangan katakan itu! Aku gak kuat Mas, kenapa kamu selalu mengatakan 'sayang' sama aku? Kata itu semakin membuatku terluka Mas, aku rasa kata kamu itu hanya kebohongan saja. Tapi, yang terbodoh adalah kata itu membuatku tersanjung. Aku mohon hentikan Mas!" Gumam Rista dalam hati. Tanpa ia sadari, air mata menetes menuruni pipinya.


Zian sigap menghapus air mata itu dengan lembut. Dingin elusan dari tangan Zian, membuat Rista tak bisa menahan lagi. Kelembutan Zian ternyata sangat membuatnya tersiksa, semakin sakit saja. Tak percaya rasanya, benarkah ini hanya kebohongan? Lalu kenapa ini harus kebohongan? Sulit mempercayai Zian. Pria itu sudah berbohong dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya. Ia tetap tak menjaga ucapannya, lalu apa? Sekarangpun tindakannya hanya kebohongan? Entah kenapa, Rista berharap bukan kebohongan. Jauh di lubuk hatinya, ia tak ingin kehilangan Zian. Pria yang mampu membuatnya melabuhkan hati saat pertama mendengar suara lembutnya.


Rista menggigit pelan bibir bawahnya, menahan getir hatinya. Tapi, matanya tak bisa menahan bulir bening itu.


"Sayang! Kamu jangan nangis! Aku cinta sama kamu. Aku bakal selalu ada buat kamu. Aku mohon kamu jangan sedih! Aku disini, okey?" Zian menarik tubuh Rista ke dalam dekapannya.


Rista semakin tak bisa menahan diri. Kenapa harus dengan pelukan? Zian menenangkannya? Pelukan itu semakin membuatnya sulit melepas pria itu. Sakit sekali, Rista kembali menitihkan air mata. Bahkan, tanpa permisi Rista memukul dada pria itu sekencang yang ia bisa.


"Kamu jahat Mas! Kamu jahat! Jangan pergi Mas! hiks ... hiks .. Kenapa kamu harus nyuri hati aku kaya gini Mas? Aku sakit Mas! hiks ... hiks ..." Tangis Rista dalam pelukan Zian.


Zian mengelus punggung gadis itu, semakin mengeratkan pelukan.


"Aku minta maaf sayang! Aku minta maaf." Zian menghujani Rista dengan kecupan di pucuk rambutnya. Semakin mendekap Rista yang semakin menjadi dengan tangisnya.


Cukup lama Rista menagis dalam dekapan Zian. Wanita memang jika sudah tersentuh hati oleh cinta pada seorang pria, maka ia akan begitu lemah. Begitupun Rista, ia sudah luluh oleh Zian. Dengan segala akting Zian yang begitu lihai, Rista dengan mudah melabuhkan hati pada pria itu.


Dengan perlahan, Zian melepas pelukan. Kemudian menatap Rista yang terlihat lebih tenang. Ia memegang kedua pipi Rista dengan lembut.


"Sayang, kamu jangan nangis! Aku gak bakal ninggalin kamu. Aku kesini karena aku gak mau kita pisah. Kamu gak bakal batalin pernikahan kita kan?" Zian bertanya memastikan.


Rista menggeleng, lalu sedikit menunduk.


"makasih sayang." Zian memeluk kembali Rista.


"Mas, kamu dingin. Kamu pulang ya! Kamu harus ganti baju! Nanti kamu sakit." Pinta Rista begitu lembut.


Zian mengerti melepas pelukan, kembali memegang kedua bahu Rista.


"Okey. Aku bakal pulang sayang, tapi malam ini. Kita pergi kencan lagi! Aku janji. Kali ini, kita bakal Dinner romantis." Ungkap Zian, tanpa izin pria itu menarik wajah Rista, mengecup lama kening gadis itu.


Sungguh perlakuan Zian semakin membuat Rista luluh, ia hanya bisa terkesiap. Menolakpun ia tak malu, untuk menikmati apalagi, terkesan memalukan rasanya. Ia hanya bisa terdiam terpaku dengan tindakan Zian.


"Aku pulang ya, sayang?" Bisik Zian lembut di telinga Rista.


Cup, Zian kembali mengecup, kali ini ia mengecup pipi gadis itu.


"Jangan bengong!" ucap Zian lembut.


Perlahan Zian melepas genggaman di bahu Rista, beralih menggenggam kedua tangan Rista.


"Aku pulang sayang, nanti aku jemput kamu. I love you." Pamit Zian sembari mencium kedua tangan Rista. Lalu melepaskannya perlahan.

__ADS_1


Setelah Zian berjalan menuju mobil, ia melirik sesaat Rista yang masih terduduk terpaku. Seringai Zian tunjukkan penuh kemenangan.


°°°


"Ma, aku pamit ya!" Pamit Diana mengambil tangan ibunya, mencium tangan itu.


"Loh, mau kemana udah malem gini?" Tanya Tanika kaget.


"Hehe, gak malem ma. Baru juga jam delapan." Diana melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku diajak makan malam sama temen. Boleh ya ma aku berangkat! Please!!" Diana memohon dengan mengatupkan kedua tangan.


Tanika sedikit menyipitkan mata, lalu menghela nafas panjang.


"Ya udah boleh,"


"Yee.. " Sorak Diana memeluk Tanika. "Makasih mama cantik."


"Iya, tapi awas jangan malem-malem! Jam sembilan harus udah ada di rumah." Pinta Tanika penuh penekanan.


"Siap mama sayang, gak lama. Malah jam setengah sembilan juga udah pulang. Aku berangkat ya!" Diana melepas pelukan, kembali menarik tangan Tanika mencium ulang tangan itu. "Assalamualaikum."


"Ya, waalaikumsalam. hati-hati di jalannya."


"Okey ma." Diana tersenyum sumringah, mulai melangkahkan kaki untuk keluar rumah.


"Berdua saja? Enak aja! Gak akan aku biarin kamu apa-apain kakak aku. Dasar cowok muka tembok!" Gumam Diana dalam hati, sembari berjalan keluar rumah itu.


Ya, Diana memang bukan mau bertemu atau makan malam dengan temannya. Melainkan mengikuti kakaknya yang baru berangkat sekitar setengah jam yang lalu. Untung saja, kakaknya itu bercerita akan makan malam di salah satu restoran malam ini dengan Zian. Jadi, Diana bisa mengikuti mereka. Dan tentu saja, Diana tak akan membiarkan Zian melakukan sesuatu apapun apalagi hal buruk pada kakakya.


Dengan bantuan mobilnya, Diana menembus jalanan malam. Melajukannya dengan kecepatan tak biasa. Ia tak sabar ingin melihat keadaan kakaknya. Diana takut, kakaknya itu di perlakuan tak baik oleh Zian. Semoga Diana tak terlambat dan tak akan kecolongan dengan pria itu.


°°°


"Gimana enak?" Tanya Zian setelah menyuapkan puding strawberry pada Rista.


"Enak Mas, makasih Mas. Padahal aku bisa makan sendiri." Jawab Rista malu-malu.


"Sayang, Sini deh!" Zian menarik perlahan tubuh Rista, memeluknya dari samping. Menarik kepala Rista agar bersender dibahunya.


"Kamu gak usah malu-malu gitu sama aku. Kitakan bakal segera nikah, kamu bersikap biasa aja!" Pinta Zian sambil mengelus lembut rambut Rista.


"Mas!"


"Hmm." Jawab Zian menempelkan dengan lembut dagunya di pelipis Rista.


"Kenapa kamu tanya?" Zian menarik tangan Rista agar memeluknya dari samping. Kini tangan Ristapun memeluk Zian dari samping. "Kamu tentu boleh peluk aku sepuas kamu."


Rista tertunduk malu, kali ini Rista mulai berani mengungkapkan perasaannya.


"Mas,"


"Iya sayang." Zian mengecup pelipis Rista, lalu kembali memeluk Rista dengan erat.


"Kamu ingetin aku sama seseorang."


"Siapa?"


"Papa, kamu kaya papa. Papa dulu pernah peluk aku setelah dia nyuapin aku puding strawberry." Ungkap Rista teringat masa kecilnya.


"Oh ya? Kalau gitu, aku bisa dong jadi sosok pelindung seperti ayah kamu?"


Masih dalam dekapan Zian, Rista memeluk erat pria itu.


"Mungkin." Jawab Rista.


Dari kejauhan seseorang sudah menatap muak adegan romantis yang dilakukan Zian dan Rista. Orang itu membuka kacamata hitamnya, lalu ngedumel sendiri.


"Dasar Raja modus. Muka tembok! Bisa-bisanya dia akting sampai segitunya sama Kak Rista. Jelas-jelas kemaren aja, dia godain aku. Selain muka tembok, ternyata muka buaya juga tu cowok." Kesal Diana.


Ia tak segan segera berdiri dan mendekati kedua insan yang berada tak jauh dari kursi duduknya. Tangan Diana dengan sigap menarik tangan Rista yang memeluk Zian.


"Ayo kita pulang kak!" Pinta Diana. Tarikan gadis itu membuat Rista terperanjat begitupun Zian yang tak kalah kaget. Rista seketika berdiri saat ditarik Diana. Pun Zian dia melepas pelukannya, karena ulah Diana.


"Di!? Kamu.. Ngapain disini?" Tanya Rista dengan agak malu, karena adiknya sudah tentu berhasil memergokinya sedang bermesraan dengan Zian.


"Pokonya kita pulang kak! Aku gak suka kakak jalan sama cowok muka tembok ini." Diana menarik tangan Rista, membuat gadis itu sampai lupa dengan tongkatnya.


"Eeh, tapi Di .." Rista mencoba memberontak, tapi tak bisa.


Diana menuntun kakaknya untuk naik mobil, memakaikan sabuk pengaman setelah Rista masuk dan duduk.


"Kaka, pokonya kita pulang!" Tegas Diana mulai menstarter mobil.

__ADS_1


"Tapi Di kenapa?"


Pertanyaan Rista tak dihiraukan Diana, ia malah terus fokus menyetir. Hingga membuat Rista kembali bertanya pada adiknya itu.


"Di! Kamu belum jawab pertanyaan kakak. Kenapa kita harus pulang?"


Diana menghela nafas panjang.


"Intinya, aku gak suka sama si muka tembok. Dia bukan cowok baik kak." Tegas Zian.


"Kok kamu ngomong gitu? Mas Zian baik Di!" Bantah Rista.


"Gak kak! Dia gak baik. Dia itu muka tembok, Raja modus." Ujar Diana pasti.


"Kamu jangan ngomong gitu Di, kamu cuma gak kenal aja sama Mas Zian. Jadi kamu nuduh kaya gitu." Bantah Rista lagi.


"Ya ampun kak, justru kakaklah yang belum tahu." Tegas Diana, gadis itu masih berusaha fokus menyetir meski sesekali melirik Rista. Merasa gereget juga dengan pembelaan kakaknya itu.


"Tapi Di ..."


Tid .... Tiba-tiba Diana menekan klaskon repleks, saat melihat sebuah mobil menghadang menahan mobilnya agar tak melaju. Injakan rem tiba-tiba, membuat kedua gadis itu sedikit tergoncang kedepan. Diana juga Rista terkesiap bersama-sama. Apalagi, Diana melihat beberapa orang berbaju hitam turun dari mobil dihadapannya itu. Tak segan langsung menggedor kaca mobil.


Tok ... Tok ....


"Siapa Di? Kok mendadak kamu berhenti?' Tanya Rista panik mendengar suara ketukan kaca di sampingnya.


"Aku ... juga gak tahu kak." Jawab Diana tak kalah takut dan panik.


"Buka!! Keluar lo!!" Teriak seorang pria masih mengetuk kasar kaca mobil.


"Di, kita harus apa? Siapa pria itu?" Tanya Rista mendengar suara khas pria yang serak juga begitu kasar.


"Aku .. juga gak tahu kak. Gimana ini kak? Aku juga bingung, mereka juga tahan mobil kita." Diana malah tambah panik. Rista mencoba tenang, meski sebenarnya ia juga sama seperti Diana merasa panik dan takut.


"Ya udah, kita turun Di! Mungkin cuma nanya alamat." Tukas Rista mencoba berpikir positif.


"Kakak gila ya! Mereka itu ada beberapa orang. Wajahnya serem-serem lagi, kaya preman."


Tok ... Tok ...


"Buka woy!! Atau gue pecahin ni kaca!!" Masih teriak si pria dengan mengetuk kasar kaca mobil.


Diana panik, ia bahkan meremas kepalan tangannya. Takut apa yang akan terjadi pada mereka berdua.


"Ya udah," Rista mencoba tenang hendak membuka pintu. Diana menahan tangan kakaknya.


"Kak mau kemana?" Tanya Diana kaget.


"Aku yang akan keluar. Kalau kita gak hadapin mereka, mereka gak akan pergi Di." Tegas Rista lalu membuka pintu.


"Kakak!" Diana tak berhasil menahan kembali tangan Rista.


Begitu mencoba tenang, Rista bertanya pada pria yang Diana kira preman itu.


"Ada apa ya Mas?"


Pria itu tersenyum sinis.


"Bagus! Akhirnya lo keluar juga." Pria itu sigap mengambil sebuah sapu tangan dan membekam mulut Rista dengan sapu tangan itu.


"Mmmm..Mmmm.." Rista mencoba memberontak, tapi gagal. Obat bius telah berhasil membuatnya pingsan.


Diana begitu kaget melihat Rista yang hampir digendong pria itu. Diana yang memang mau keluar mempecat aksinya.


"Kakak!!" Teriak Diana, ia hendak berlari mengejar sang kakak yang telah pingsan digendong pria itu. Namun, usahanya gagal, karena tangannya dicekal dua orang pria lain yang tadi ikut turun dari mobil.


"Kakak!! Kak Rista!!" Diana mencoba memberontak. "Lepas!! Lepasin!! Kak Rista! Kak Rista!!" Diana kembali berteriak memanggil kakaknya. Namun, tentu Rista tak mendengar, gadis itu dimasukkan ke dalam mobil yang menghadang Diana tadi. Diana semakin berteriak histeris.


"Kakak!!" Teriak Diana masih memberontak.


Brugkhh,


Diana dihempaskan dengan kasar oleh dua pria itu, hingga membuat Diana terjatuh ke aspal.


"Shhh, aw!" Ringis Diana merasakan lututnya yang membentur aspal. Tapi, Diana tak peduli dengan sakitnya, yang ia khawatirkan adalah Rista kakaknya. Dengan tiba-tiba kakaknya diculik, jelas membuat Diana panik setengah mati.


"Kakak!!" Teriak Diana masih histeris, bahkan bulir bening kini jatuh dari sudut matanya.


Diana melihat mobil yang membawa Rista melaju. Gadis itu terus berteriak dengan tetesan air mata, meneriaki nama sang kakak, Rista. Tentu dengan perasaan yang panik dan ketakutan.


"Kakak!! Kak Rista!!" Diana mencoba bangun.

__ADS_1


Mobil itupun sudah melaju cukup jauh membawa serta Rista. Meninggalkan Diana dengan perasaan panik,takut juga bingung yang tiada tara.


__ADS_2