Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 22 : Adopsi Anak


__ADS_3

Tiba-tiba Bi Maya menghela nafas lega. Dilepasnya lengan Rista.


"Hu.. Non ternyata itu suara televisi non. Saya lupa, tadi saya kencengin suaranya. Supaya saya tahu alur ceritanya. Hehe.. Maaf ya non!" Jelas Bi Maya cengengesan.


Rista mengerucutkan bibir merasa sedikit kesal. Dilepas pula genggaman pada tongkat.


"Ih bibi! Kirain aku suara hantu beneran. Udah ah! Bibi matiin gih! Nonton apa lagi sampai gitu nangisnya?!" Gerutu Rista.


Bi Mayapun melakukan apa yang di perintah Rista. Kakinya melangkah menuju kamar ART dan mematikan televisi. Ia kembali menghampiri Rista setelah mematikan televisi.


"Ayo non! Ini udah malem, saya anter ke kamar ya! Soal tadi, saya minta maaf." Jelas Bi Maya memegang kedua bahu Rista.


"Iya gak apa-apa bi. Cuma, saya takut aja. Bibi gak usah pegang saya kaya gini, saya bisa jalan kok." Pinta Rista merasa sedikit risih.


Dilepasnya lengan Rista oleh Bi Maya. Wanita paruh baya tu kembali cengengesan.


"Hehe, maaf non. Kebiasaan, padahalkan non udah bilang ya? Non bisa jalan sendiri."


Rista tersenyum dan merasa maklum dengan Bi Maya. Mungkin orang manapun akan mengira orang buta memang harus selalu dituntun kala berjalan, padahal hal itu tidaklah perlu. Toh, mereka juga punya alat bantu berupa tongkat.


"Iya gak apa-apa bi. Bibi anter saya, tapi jalan aja di samping saya." Jelas Rista.


"Iya non."


Melangkahlah kedua wanita itu menuju kamar. Melewati Ruang Tamu juga Ruang Tengah. Perjalanan mereka terhenti, saat dengan tiba-tiba Bi Maya memegang erat lengan Rista. Rista merasa kaget iapun bertanya.


"Kenapa Bi?"


"Iitu non. Ada suara nangis lagi." Jawab Bi Maya terbata-bata merasa ketakutan. Tangannya sudah kembali gemetar.


Huuuuu.. Suara itu jelas terdengar, bahkan kini Ristapun mendengarnya. Dipejamkannya mata Bi Maya, ia kembali takut. Suara yang ia dengar ini terasa lebih menakutkan seperti suara anak kecil. Jangan-jangan tuyul! Begitulah yang dipikiran Bi Maya.


"Itu kok kaya suara anak kecil. Bibi masih dengerkan? Suaranya kaya di depan." Ungkap Rista menajamkan pendengarannya lagi.


Rista dengan bantuan tongkat berjalan hendak menuju pintu depan. Namun, langkahnya dihentikan oleh tarikan tangan Bi Maya.


"Non! Mau kemana?" Tanya Bi Maya takut.


Tangan Bi Maya masih setia memegang lengan atas Rista, tapi Rista nampaknya tak takut. Malah ia merasa khawatir, kalau yang menagis itu benar-benar anak kecil. Rista meraba tangan Bi Maya dan mengelusnya.


"Bi, bibi jangan mikir negatif! Ini suaranya suara anak kecil. Jangan-jangan beneran ada anak kecil di luar." Jelas Rista menenangkan Bi Maya.


Tapi, Bi Maya tak percaya begitu saja dengan ucapan Rista. Ia masih takut dengan tangan yang masih gemetar. Menggenggam erat lengan Rista.


"Itu kalau iya. Kalau tuyul gimana non?" Tanya Bi Maya khawatir dengan mata yang ia tutup.


"Udah bi. Jangan mikir negatif! Kita cek yuk!" Pinta Rista.


Ristapun berjalan tanpa rasa takut. Meraba pijakan kaki depan tongkatnya. Bi Maya mengekor saja di belakang. Tangannya setia memegang lengan Rista. Sampai depan pintu, Rista meraba gagang pintu. Mendorongnya ke bawah perlahan.


"Eh non, tunggu!"


Bi Maya tiba-tiba menghentikan aksi Rista yang akan membuka pintu.


"Kenapa Bi?"


"Suaranya... Kok kaya ilang ya, non?" Tanya Bi Maya, karena tak mendengar lagi suara tangisan itu.


Huuuuu .. hiks.. hiks..


"Eh tapi, kok ada lagi ya?" Bimbang Bi Maya kembali mendengar suara tangisan.

__ADS_1


"Udah! Bibi tenang! Kita buka pintunya."


Rista mencoba tenang. Tak bisa dipungkiri memang, Rista juga takut. Jantungnya sebenarnya sudah berdebar-debar. Takut kalau yang dikatakan Bi Maya benar, itu bukan anak kecil melainkan hal lain. Digenggamnya kembali gagang pintu. Membukanya perlahan.


Ceklek,


Pintu terbuka. Seketika Bi Maya melepaskan pegangan pada lengan Rista. Mulutnya hampir menganga tak percaya. Matanya terbelalak kemudian mengerutkan kening. Merasa heran dan kaget. Ia melihat seorang anak laki-laki berbaju merah dan celana jeans. Anak itu tengah menangis sesegukan memegang lututnya. Pandangannya lurus ke depan.


"Mama... Hiks.. Hiks.. "


Tangis anak itu pecah seketika. Menagis lebih kencang, ia terus memanggil-manggil Ibunya.


Rista merasa terkejut juga mendengar suara anak kecil yang menagis. Takut yang Rista rasakan, bagaimana bisa ada anak kecil menangis memanggil ibunya di malam hari? Kemana ibunya?? sederet pertanyaan berkecamuk di benak Rista. Rista meraba berjalan perlahan mendekati sumber suara. Memberanikan diri untuk bertanya.


"Dek.. Kamu kenapa nak?" Tanya Rista lembut.


Langkah Rista memang belum sampai mendekati anak yang tengah duduk di ujung teras itu. Namun, cepat anak itu berlari dan memeluk Rista. Tentu tindakannya itu membuat Rista terperanjat. Apalagi, anak itu memanggilnya dengan sebutan yang membuat Rista tak percaya mendengarnya.


"Mama.. Hiks.. Hiks.." Teriak anak itu saat memeluk Rista.


Perlahan Rista meraba kepala anak itu kemudian mengelusnya. Tangannya agak sedikit gemetar, merasakan pipi anak itu yang dingin saat Rista turun meraba tangannya. Bi Maya diam melihat kejadian itu, kaget juga dia. Rista berjongkok, naik meraba-raba bahu lalu wajah anak itu.


"Sayang, dek nama kamu siapa?"


Anak itu diam menatap wajah Rista yang asing dan memang bukan ibunya.


"Candla." Jawab anak kecil berusia sekitar dua tahunan itu dengan nada yang terdengar masih cadel.


Rista tersenyum merasa lega ternyata dia memang anak kecil biasa dan bukan hal lain yang Rista pikirkan tadi.


Rista meraba mengelus lembut rambutnya.


"Candla?" Rista sedikit mengeryitkan dahi. "Mama kamu dimana sayang?"


"Mama..." Teriak anak itu.


Rista gelagapan dan semakin merasa bingung. Namun, ia balas memeluk anak itu dan mengelus lembut punggungnya.


Bi Maya yang sedari tadi diam. Ia mulai melihat sekeliling. Mencari tahu, barangkali ibu anak itu memang ada di sekitaran sana. Namun, Bi Maya tak menemukannya. Matanya malah menemukan sebuah tas gendong bayi dan sepucuk surat di atas sana.


"Non.." Seru Bi Maya.


"Iya Bi, kenapa? Bibi nemuin mamanya?"


Bi Maya berjalan kemudian membungkuk mengambil surat di atas tas gendong.


"Gak non. Cuma, ada tas sama surat di sini non." Jelas Bi Maya hendak membuka surat, tapi dihentikan oleh Rista.


"Ya udah bi. Kita masuk dulu! Kasihan adeknya kedinginan." Jelas Rista sembari bangkit menggedong anak itu.


Sigap Bi Maya mendekati Rista. Mengulurkan tangan meminta anak itu.


"Non! Biar bibi yang gendong!"


Dilihatnya anak itu yang nampak nyaman dalam gendongan Rista. Menggelengkan kepala saat Bi Maya mencoba mengambilnya dalam gendongan. Mengeratkan pelukan, memeluk leher Rista.


"Bi, dia kayanya gak mau. Gak apa-apa biar aku gendong dia. Bibi tuntun aku masuk aja!"


Dengan pasrah Bi Mayapun mengiyakan permintaan Rista. Meski sebenarnya, ia khawatir Rista jatuh saat mengendong anak itu. Ditariknya tangan kiri Rista oleh Bi Maya. Menuntunnya masuk rumah, sementara tangan kanan Rista menggendong anak itu. Kembali Bi Maya membantu Rista duduk.


"Non tunggu ya! Saya ambil tas sama suratnya."

__ADS_1


Menunduk sebentar Bi Maya lalu berjalan cepat keluar untuk mengambil tas juga surat.


Kini setelah Bi Maya mengambilnya. Bi Maya ikut duduk di samping Rista. Gadis itu nampak asik mengelus pipi gembul Chandra anak kecil yang ia gendong tadi.


"Lucunya kamu. Gemes! Jadi namanya Chandra bi?" Tanya Rista kepada Bi Maya. Memastikan penjelasan Bi Maya beberapa menit lalu.


Yang ditanya terlihat gugup, tapi Rista tentu tak melihatnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, menelan saliva sesaat mencoba menjawab dengan tenang. Diliriknya lagi surat yang sudah tamat ia baca. Menatap Rista setelahnya.


"Iya non." Jawab Bi Maya.


Tenggorokannya terasa tersekat, tapi untunglah ia berhasil mengatakan kata 'iya'. Meskipun sebenarnya, bukan itu saja yang ada di surat itu melainkan hal yang lebih mengejutkan dan akan menghancurkan hati majikannya. Maka dari itu, dengan bijak Bi Maya terpaksa berbohong atas apa yang telah dia baca.


Merasa puas dengan jawaban Bi Maya, Rista tak memperdulikan lanjutan dari surat itu. Fokus Rista hanya pada pipi tembem Chandra yang bagi Rista begitu imut. Dielusnya lagi pipi itu.


"Chandra.. Aku bukan mama kamu. Tapi, kamu boleh panggil aku 'bunda' kamu setujukan?" Tanya Rista.


Chandra mengangguk tersenyum manis.


"Ya, bunda." Jawabnya dengan manja.


Rista semakin gemas. Merentangkan kedua tangan memberi isyarat agar Chandra memeluknya.


"Lucunya sayang bunda. Mana sini peluk!"


Dengan senang hati Chandra menghambur kepelukan Rista memeluknya dengan erat.


"Bunda." Panggilnya manja.


"Iya sayang." Rista ikut mengeratkan pelukan. Menggoyangkan tubuh Chandra seolah dia adalah boneka beruang milik Rista.


Bi Maya yang terpaku segera berdiri. Mencoba tenang dengan situasi yang terjadi. Merasa tak tahu harus melakukan apa, Bi Maya memilih pamit sebentar mengambil air minum. Diletakkannya surat itu di atas meja. Rista mengangguk mengerti, saat Bi Maya pamit ke dapur.


Di luar rumah itu, tepatnya di balik tiang listrik yang berseberangan dengan rumah Zian. Seorang wanita mengusap air mata yang sudah bercucuran dipipinya. Rasanya ia tak rela menyerahkan anak satu-satunya, tapi itu adalah jalan terbaik menurutnya. Bergegas wanita itu memakai kerudung hitam untuk menutupi kepalanya. Berjalan cepat meninggalkan tempat itu, tentu tak boleh ada yang tahu keberadaannya.


Tak lama setelah wanita itu pergi. Mobil Zian melintas di jalan. Zian yang berada di dalam membunyikan klakson. Tak perlu menunggu lama, satpam rumah itu membuka gerbang. Mobil Zian masuk kemudian di parkirkan di Garasi. Si pemilik mobil keluar dengan wajah gusar. Sangat marah sekali Zian hari ini. Orang yang ia cari di SPBU ternyata sudah tak bekerja lagi di sana. Akira nyatanya sudah pindah dan Zian tak mendapatkan satu informasipun tentang kemana pindah atau dimana rumahnya.


Dengan langkah kesal Zian masuk ke dalam rumah. Kembali ia di kejutkan saat masuk rumah. Dilihatnya Rista tengah menina bobokan seorang anak laki-laki di pangkuannya. Langkah Zian ia lanjutkan mendekati Rista. Wajahnya masih kesal, dengan dingin Zian bertanya. Pertanyaan yang membuat Rista terperanjat.


"Siapa anak itu?"


"Ya ampun mas, kamu bikin aku kaget. Kenapa gak ucap salam dulu?" Tanya Rista dengan lembut.


"Lama! Siapa anak itu?" Bentak Zian mengerutkan kening. Kekesalan masih nampak di wajah Zian. Ia sudah kesal tak menemukan Akira dan sekarang ada anak asing di rumahnya.


"Mas, jangan marah-marah gitu! Kamu duduk dulu! Ini Chandra mas." Rista mengelus kepala Chandra, kemudian kembali melanjutkan penjelasan. "Chandra ini anak yang dibuang mamanya. Mamanya naruh dia di luar, tadi aku sama Bi Maya nemuin dia lagi nangis. Kata Bi Maya mamanya minta kita adopsi anak ini. Bolehkan mas?"


Zian semakin mengerutkan kesal juga tak mengerti maksud Rista.


"Jangan omong kosong! Kamu bercandakan? Siapa anak itu?!" Kesal Zian semakin membentak.


"Mas! Kecilin suara kamu! Nanti Chandra bangun." Rista kembali mengelus rambut Chandra. "Aku gak bercanda mas. Kalau mas gak percaya tanya Bi Maya atau mas baca suratnya." Jelas Rista masih dengan nada lembut.


Mata Zian memutar pandang melihat sekeliling. Celingak-celinguk mencari surat yang Rista maksud. Matanya tertuju pada amplop putih di atas meja. Diambilnya amplop itu, membukanya perlahan.


Mata Zian membulat sempurna membaca kata demi kata di surat itu. Mulutnya menganga kaget bukan main. Kesalnya semakin memuncak. Ia mengeryitkan dahi tak mengerti dengan situasi yang terjadi.


"Kemana Bi Maya sekarang?!" Bentak Zian.


"Di dapur mungkin mas." Jawab Rista mencoba tenang, meski sebenarnya ia takut dengan amarah Zian. Rista tak mengerti kenapa pria itu begitu marah? Didekapnya Chandra menaruhnya kembali dalam pelukan.


Isi Surat :

__ADS_1



__ADS_2