
Berusaha berdiri Diana, perih di lututnya ia abaikan. Meski dengan meringis, Diana tetap berusaha bangkit. Sedikit menyeret kaki setelah berdiri. Diana lalu membuka pintu mobil, mengambil cepat tas coklatnya, mencari ponsel disana. Ada rasa bimbang di hati Diana. Siapa yang harus dia hubungi? Papa? Atau mama? Atau siapa dulu yang harus ia hubungi? Rasa cemas membuatnya bingung harus melakukan apa.
Dibukanya layar kunci ponsel itu, tapi tiba-tiba layar ponsel itu menampakkan panggilanan dari sang kakak. Membuat Diana sedikit terperanjat, ia mengangkat telpon itu, setelah tersadar dari keterkejutannya. Cepat Diana menaruh ponsel di samping telinganya.
"Hallo! Kakak! Kakak baik-baik aja kan? Kakak dimana? Aku akan jemput kakak! Kakak gak di apa-apainkan sama mereka!?" Tanya Diana beruntun dengan nada cemas.
Orang di balik telpon itu tersenyum menyeringai.
"Rista baik-baik aja, karena dia bersama calon suaminya." Jawab orang itu dengan penekanan di akhir kalimat.
Diana ternganga mendengar suara yang memang tak asing, amarahnya memuncak, wajahnya seketika berubah dari cemas menjadi begitu kesal mendapat jawaban dari Zian.
"Dasar Raja Modus! Balikin kakak gue! Apa lo gila?! Buat apa lo culik Kak Rista?" Kesal Diana menaikan nada bicaranya.
Zian tertawa kecil, meremehkan pertanyaan Diana.
"Apa lo bilang? Culik? Lo lupa? Rista itu pacar gue, gue gak culik dia, dia emang udah seharusnya sama gue. Dan buat lo Di, lo harus jaga rahasia kita! Okey cantik?!"
Diana semakin marah, wajahnya memerah. Nafasnya mulai memburu. Ingin rasanya ia merobek mulut pria di balik telpon itu. Diana menggertakan gigi, menahan amarah.
"Apa lo bilang!? Pacar?! Kurang ajar banget lo muka tembok! Gak tahu diri lo! Balikin kakak gue sekarang! Atau .." Diana menghentikan ancamannya, bingung harus mengancamnya seperti apa. Lapor polisi? Bagaimana ia lapor polisi? Tak ada bukti kakaknya benar-benar diculik.
"Atau apa cantik?" Zian masih dengan nada tenang. "Lo tenang aja, Rista bakal baik-baik saja. Asal lo bisa jaga rahasia kita, biar yang terjadi di masa lalu kita, tetap jadi rahasia kita. Okey cantik?" Pinta Zian seakan menggoda Diana.
Diana semakin geram, ia semakin menaikan nada bicaranya.
"Denger ya! Lo, manusia muka tembok! Gue gak akan biarin Kak Rista hidup sama lo. Gua bakal bongkar semua kelakuan bejad lo di masa lalu. Biar Kak Rista tahu semuanya dan ninggalin cowok buaya kaya lo!!" Teriak Diana tepat di speaker ponsel itu.
"Silahkan cantik! Tapi, kamu lupa yah? Siapa cewek yang udah bercinta sama aku? Kamu juga akan terlibat, aku punya bukti saat kita tidur bersama. Kamu mau liat sayang?!" Tantang Zian, nada bicaranya menjadi lembut tapi mengancam.
Diana ternganga. Seketika terperangah mendengar penuturan Zian. Diana yang tak percaya, bahkan repleks menjatuhkan ponselnya.
"Apa?" Lirih Diana tak percaya. "Gak mungkin!" Diana menggeleng kepala pasti, sedikit membasahi bibir karena kaget, tiba-tiba sulit bagi Diana menalan salivanya sendiri. Nafas Diana kembali tak beraturan. Perasaan tak karuan berkecamuk di hati Diana, pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat, dia tidak tidur dengan pria itu. Lalu bagaimana Zian bisa punya foto kebersamaan mereka? Apa dia berbohong? Tidak mungkin! Itu tidak mungkin dia.
Diana semakin tengang, cemas juga bimbang. Ia memegang pintu mobil, menahan ketegangan otot kaki juga tangannya. Terasa sulit rasanya untuk berdiri, terlalu mengejutkan bagi dia. Kini Diana hanya bisa terkulai tak berdaya.
"Gak!" Diana masih menepis ucapan Zian. "Gak mungkin! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Diana mengepalkan tangan, lalu mengigit jemarinya. "Kak Rista, gimana aku nyelamatin Kak Rista sekarang? Bahkan, aku sekarang gak bisa nyelamatin diri aku sendiri." Diana menutup mata sejenak, ingin menghilangkan rasa pusing karena memikirkan solusi atas kebingungannya. Menghela nafas panjang. "Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Diana, tak sadar gadis itu telah menitihkan air mata.
°°°
__ADS_1
"Lo emangnya punya foto lo tidur sama Diana?" Tanya Hendri yang sedari tadi menyetir. Jelas Hendri heran dengan ancaman Zian pada Diana, karena bagaimana mungkin Zian punya foto kebersamaannya dengan wanita itu. Sedangkan, siapa wanita yang tidurinya? Zian saja belum tahu siapa wanita itu. Hanya Hendrilah orang yang sudah tahu alamat wanita itu dan Hendripun belum memberitahu pada Zian.
"Haha, gue bohongin dia aja kali. Lo percaya? Gue cuma ancam dia, supaya dia gak buka mulut. Dengan begitu, rahasia gue aman dan gue tetep bisa nikah sama si buta. Lo ngerti kan?" Jelas Zian dengan sedikit tertawa melihat Hendri percaya begitu saja. Padahal dia hanya berbohong.
Hendri menghela nafas panjang jengah.
"Lo ya! Emang Raja Modus, terus aja modal dusta." Ungkap Zian sedikit kesal.
"Apa lo bilang?" Zian mengerutkan kening tak terima. "Raja Modus? Asal Lo tahu! Raja Modus ini, udah selamatin hidup lo. Kalau gue gak bilang gitu sama Diana, gue bakal batal nikah dan lo bakal kelaparan, karena perusahaan kita pasti bangkrut. Lo mau itu terjadi?" Geram Zian tak terima dengan julukan yang diberi Hendri.
"Ya,ya sorry. Bisa gak sih lo, jangan teriak-teriak! Kebiasaan deh. Kalau Rista bangun gimana? Dia denger tuh semua omongan Lo!" Hendri sekilas melirik Zian di jok belakang.
Zian menatap Rista yang tertidur di pangkuannya. Gadis itu tidur dengan paha Zian sebagai bantalnya, sementara kakinya diselonjorkan begitu saja. Bahkan, Zian menyelimuti gadis itu dengan jasnya. Zian lalu menyapu rambut yang menghalangi mata Rista.
"Lo tenang aja! Dia gak bakal bangun kok, efek obatnya cukup lama sekitar lima belas menitan." Jelas Zian lembut. Entahlah, pria itu seketika melemahkan nada bicara, saat menatap Rista yang begitu tenang terlelap dalam pangkuannya.
"Hati-hati loh Zi, Lo bilang benci sama Rista. Lama-lama lo bisa jadi bucin sama dia!" Hendri mencoba memperingatkan.
Zian kembali mengerutkan kening.
"Apa? Cinta sama si buta. Gak mungkin banget! Gue cuma kasihan sama dia. Entar juga, kalau kita udah nikah, gue bakal beberin semuanya, kalau semua yang gue lakuin ini bohong. Jadi lo jangan khawatir! Gua gak bakal cinta sama dia." Tegas Zian percaya diri.
Hendri kembali menghela nafas.
Jalanan yang memang sudah sepi, membuat Hendri bisa leluasa di jalanan. Perjalanan dari tempat tadipun bisa ia tempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sesampainya di rumah Rista, Zian segera menggendong gadis itu. Rupanya, Rista memang tak bangun, benar apa yang dikatakan Zian, efek obat bius itu cukup lama. Setelah Pak Jaka membukakan gerbang, Zian dengan segera masuk ke halaman rumah itu, berjalan ke arah pintu lalu mengetuk sembari mengucap salam seperti biasa. Tak beberapa lama, ibu Rista membukakan pintu.
Betapa kagetnya Tanika, saat melihat putri sulungnya itu di gendong Zian dengan mata tertutup. Rasa cemas seketika menyergap hatinya. Seruntunan pertanyaan dilontarkan Tanika pada Zian.
"Astaghfirullah! Rista kenapa Zian? Kenapa dia sampai digendong segala? Dia jatuh atau sakit? Apa dia terluka?" Cemas Tanika, lalu memberi jalan untuk Zian masuk.
Zian segera masuk, dengan tenang Zian menjelaskan.
"Gak tante, Rista gak apa-apa. Dia cuma ketiduran di mobil saya. Saya gak tega bangunin, jadi saya gendong dia."
Tanika menghela nafas lega. Ia kemudian menutup pintu kembali.
"Alhamdulilah. Tante kira, Rista kenapa-napa. Ya udah, kamu bawa ke kamar itu!" Tanika menunjuk pintu kamar yang berdekatan dengan ruang tamu.
"Ya tante."
__ADS_1
Zian melakukan apa yang Tanika suruh. Dia menggedong Rista ke kamar itu diikuti Tanika dari belakang. Dengan lembut, Zian menidurkan Rista di tempat tidurnya.
"Makasih ya Zi, kamu sampai harus repot-repot gendong Rista." Ucap Tanika sungguh-sungguh.
"Sama-sama tante, lagipula itu udah jadi kewajiban saya sebagai calon suami Rista. Saya gak merasa di repotkan." Jelas Zian.
Tanika tersenyum,
"Kalau gitu, sebagai tanda terima kasih. Gimana kalau tante bikinin kopi? Kamu suka kopi?" Tanya Tanika.
Zian mengibaskan tangan kanannya, tanda menolak halus.
"Oh, gak usah tante. Terima kasih banyak. Saya harus langsung pulang, temen saya udah nunggu di luar."
"Oh gitu ya. Ya udah, kamu hati-hati di jalan. Sekali lagi, terima kasih sudah mengantar Rista pulang." Ucap Tanika dengan senyum.
"Ya tante, sama-sama. Kalau gitu saya pamit tante." Zian mencium tangan calon mertuanya itu. "Assalamualaikum."
Zian lalu bergegas keluar, setelah mendapat jawaban salam dari Tanika. Pria itu menghela nafas lega setelah sampai halaman rumah Rista, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita keluar dari Mobil Honda Jazz berwarna merah. Menatapnya begitu tajam. Wanita itu seolah tak melihat Zian, ia berjalan melewati Zian begitu saja. Tapi, Zian menghalangi langkahnya dengan mencekal tangan wanita itu, membisikkan sesuatu di telinganya.
"Masih ingat kan? Jangan macem-macem ya?!" Zian melepaskan pergelangan tangan Diana, setelah membisik itu ditelinganya.
Diana hanya bisa menaik turunkan nafasnya yang sudah sangat kesal. Amarahnya sudah memuncak, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Dia benar-benar terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama merugikan. Diana menatap tajam kepergian Zian.
Langkahnya ia teruskan menuju dalam rumah.
"Di, baru pulang? Gimana makan malamnya?" Tanya Tanika yang sedang mengelap meja makan.
"Gagal." Singkat Diana, gadis itu berlaku begitu saja menaiki tangga.
Tanika heran, mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa anak itu? Pulang-pulang mukanya ditekuk?" Gumam Tanika tak mengerti.
Sementara itu, sesampainya di kamar. Diana menelengkupkan tubuhnya, menahan dagunya dengan bantal. Mulutnya tak henti mengocehkan kekesalan.
"Uh! Dasar muka tembok! Nyebelin banget tuh orang! Aku harus gimana sekarang? Apa yang harus aku lakuin?" Diana kesal menghela nafas. Diana masih berpikir, ini adalah pilihan yang rumit bagi Diana. Semua menyangkut harga dirinya. Tapi, kalau dibiarkan Zian menikahi kakaknya. Tentu itu juga tak baik untuk kakaknya. Jelas Zian adalah pria yang bermuka dua di mata Diana. Akan hancur hidup kakaknya, jika harus hidup dengan pria b r e n g s e k seperti Zian.
Diana semakin dibuat dilema. Mungkinkah dia harus menjadikan semua masa lalu Zian sebagai rahasia? Tapi, apa yang akan terjadi dengan kakaknya? Diana sangat takut, Zian akan mengkhianati kakaknya. Dahulu pria itu berani tidur dengan sembarang wanita, bukankah itu tidak menutup kemungkinan suatu saat dia bisa melakukannya hal yang sama?
__ADS_1
Diana menghela nafas panjang. Masih bingung.
"Gimana ini?" Tanya Diana entah pada siapa. Ia hanya seperti sedang menunjukkan rasa bimbang dihatinya.