Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 30 : Ketulusan Cinta


__ADS_3

"Saya udah duga ini," gumam Zian lalu menatap Hendri. "Cancel semua pertemuan saya hari ini!' titah Zian yang langsung mendapat anggukan dari Hendri.


"Baik tuan. Tapi kenapa?" tanya Hendri.


Hendri yang tidak mengerti dan belum tahu semua masalah Zian tentu merasa heran. Zian tak menjawab, Hendri mengerti untuk tidak mempertanyakan lagi alasan Zian. Pria itu lebih memilih berbalik badan untuk segera keluar. Namun, Zian menghentikan langkah Hendri.


"Kita ke Jakarta hari ini! Kamu ikut saya sekarang!" pinta Zian.


Menutup laptop lalu mengambil jas dan mengenakannya. Zian kemudian berjalan terlebih dahulu sembari merapikan jasnya.


"Ayo!" ajak Zian.


Hendri segera mengekor dari belakang. Sampai di parkiran Zian segera masuk ke jok belakang, Hendri ikut masuk dan mengemudi di depan.


Sepanjang perjalanan hanya hening yang terasa. Zian nampak terus mengigit ujung ibu jarinya, ia terlihat gugup juga cemas. Hendri terus mengawasi atasannya itu dari kaca spion depan. Dilirik sesekali oleh Hendri Zian yang tengah cemas. Sebenarnya Hendri penasaran, hal apa yang membuat Zian begitu cemas. Namun, lagi-lagi Hendri tak berani bertanya. Atasannya itu akan marah jika ia terus bertanya. Hendri sadar jika ia tak harus ikut campur urusan Zian. Setelah sekitar satu jam lagi sampai Jakarta, Hendri memberanikan bertanya karena memang ia tak tahu tujuan mereka ke Jakarta.


"Maaf tuan kita mau kemana?" tanya Hendri sembari melirik kaca spion.


Nampak oleh Hendri Zian merogoh saku mengambil ponsel lalu mencari sesuatu disana. Dengan setia Hendri menunggu hingga Zian menyodorkan ponsel yang menunjukkan arah jalan menuju rumah Akira dalam aplikasi Maps. Hendri mengambil ponsel itu dan mengikuti arah yang ditunjukkan ponsel. Tak ada percakapan, Hendri hanya terus fokus menyetir sembari sesekali merilik Zian di Jok Belakang. Merasa aneh dan sedikit penasaran juga Hendri kala melihat sang majikan begitu gelisah. Entah apa yang dipikirkan Zian, meski berusaha tak peduli tapi Hendri tetap merasa penasaran. Namun, Hendri tak mencoba bertanya ia tahu ekspresi yang ditunjukkan Zian seolah kesal pada sesuatu. Tatapan Hendri yang fokus menatap jalanan, pikirnya sedikit berpikir tentang hasil tes DNA. Sebenarnya siapa yang dites dalam tes itu? Hendri tak tahu dan hubungannya dengan alamat ini.. Hendri masih sibuk berpikir, hingga tiba-tiba Zian membuyarkan lamunan Hendri.


"Kamu jangan ngomong sama Rista kita pergi ke Jakarta! Kamu ngerti?" titah Zian memaksa.


"Em, emang kita mau kemana tuan?" tanya Hendri yang akhirnya memberanikan diri.


"Ke rumah Akira."


Hendri dibuat menautkan alis oleh jawaban Zian, pasalnya ia masih belum mengerti hubungan antara melihat hasil tes DNA dan kepergian mereka ke rumah Akira di Jakarta.


"Untuk apa tuan? Maaf saya banyak bertanya, tapi ini sepertinya begitu rahasia. Saya rasa saya harus tahu alasannya." jelas Hendri.


Tak ada jawaban dari Zian, pria itu diam sesaat. Jemarinya memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Saya bingung Hen, ini masalah tiga tahu lalu. Karena kesalahan itu, Akira hamil dan dia melahirkan anak saya." jawab Zian terdengar lesu.


Diam Hendri mendengar jawaban Zian. Berusaha mencerna apa yang Zian katakan. Menghubungkan segala yang tadi ia pikirkan tentang Zian juga tes DNA. Setelah beberapa detik berpikir, Hendri dapat menarik kesimpulan.


"Jadi, maksudnya sampel rambut waktu itu adalah.."


"Sampel rambut anak saya." potong Zian.


Hendri mengerti sekarang, ia kembali bertanya,


"jadi anak itu anak tuan, lalu apa yang akan kita lakukan ke rumah Akira?"


"Ibunya Akira minta ganti rugi atas apa yang telah Akira lakukan. Dia sudah melahirkan Chandra juga merawatnya selama dua tahun, padahal saya tidak pernah meminta. Okey, untuk masalah itu saya tidak masalah tapi masalahnya bukan disitu Hen," terdiam Zian sesaat, "masalahnya adalah saya bingung harus bersikap seperti apa pada Rista, saya gak bisa jujur tapi saya juga gak mau bohong lagi sama dia." lanjutnya.


Hendri menghela nafas panjang. Matanya masih fokus mengemudi, membelok kala mereka sampai persimpangan.


"Menurut saya tuan, sebaiknya anda jujur saja. Meski memang pahit awalnya, tapi rasanya lebih baik jujur. Toh, sebaik apapun tuan menutupi semua ini, Rista pasti bakal tahu." usul Hendri.


Zian mengeryitkan dahi. Tak terima Zian dengan apa yang diusulkan Hendri, egonya masih mendominasi hati dan tak mau mengalah. Meski hanya sekedar untuk jujur, tapi bagi Zian itu sangat sulit.


"Gak! Saya Gak bisa." tegas Zian sembari melipat kedua tangan dibawah dada.


"Maaf tuan, tapi ada pepatah mengatakan sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai maka baunya akan tercium juga. Usul saya tuan, lebih baik jujur. Jika suatu saat orang lain yang membongkar maka akan semakin rumit." jelas Hendri tetap pada usulnya.


Zian menegakkan tubuh, menatap tajam Hendri.

__ADS_1


"Cukup! Jangan lo omongin lagi omong kosong gak berguna itu. Gue tahu, tapi lo gak ngerti perasaan gue. Jadi lebih baik lo tutup mulut lo, jangan sampai lo bongkar sedikitpun tentang rahasia ini!" bentak Zian.


Hendri membungkam mulut seketika, ia melirik Zian dari kaca spion. Nampak pria itu begitu kesal, itu terlihat dari jemarinya yang kembali memijit pangkal hidung dan menghela nafas berat.


Sebenarnya Hendri merasa kasihan, tapi usulnyapun tak Zian dengar.


Satu jam berlalu, sekitar enam jam perjalanan dari Cilacap menuju ibu kota. Kini mereka sudah berada diantara kemacetan jalanan Kota Jakarta. Dari kemacetan itu mereka menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di jalanan ibu kota.


Pukul satu siang mereka baru sampai rumah kontrakan Akira. Zian turun, sementara Hendri diminta menunggu di mobil.


Langkah kaki Zian terasa berat, ia merasa seakan akan menemui masalah besar bertemu dengan Akira. Dalam benaknya hanya ada Rista, ia memikirkan perasaan sang istri. Wanita lemah lembut itu tak pernah sedikitpun kesal atau memarahinya selama ia menikah dengannya. Dia baik juga sangat penyayang. Tak bisa Zian bayangkan, jika Rista tahu semua ini. Hati lembut itu akankah sanggup merasakan sakit karena kesalahan di masa lalu Zian? Mata Zian terbelalak melihat sosok wanita yang keluar dari rumah itu. Mata mereka bertemu. Tak lama Akira segera menghindari tatapan Zian. Ia hendak berjalan keluar rumah, tanpa peduli Zian di hadapannya Akira melewati Zian begitu saja. Namun, Zian sigap mencekal tangan wanita itu.


"Tunggu!" seru Zian.


Akira menatap pergelangan tangan yang dipegang Zian, lalu menatap pria itu. Zian spontan melepas tangan Akira.


"Maaf." ucap Zian, "tapi aku mau bicara sama kamu, jadi aku mohon jangan pergi! Ada sesuatu yang harus kita bicarakan ini tentang Chandra." Zian nampak serius, membuat Akira menghadap pria itu dan menatap serius kedua mata Zian.


Karena tak mendapat respon dari Akira Zian kembali bertutur,


"aku akan tanggung jawab, aku akan ganti rugi atas semua yang kamu korbankan untuk merawat anak saya selama ini." Zian menghela nafas sebentar, "saya minta maaf atas apa yang saya katakan tempo hari. Sebagai ganti saya akan memberikan apapun yang kamu minta. Anggap saja itu bentuk ganti rugi saya sama kamu atas kesalahan saya tiga tahun yang lalu." lanjutnya, tapi tak mendapat respon dari Akira.


Wanita itu terlihat berpikir mencerna setiap kata yang Zian lontarkan. Akhirnya setelah beberapa detik berpikir, Rista mendapatkan kesimpulan. Zian telah mendapatkan bukti Chandra sebagai anaknya. Akira menutup mata sekilas, menghela nafas merasa lega Zian sudah tahu dan dia sadar. Namun, Akira sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Zian ataupun anaknya Chandra. Sadar diri Zian sudah tak mungkin ia miliki, ia sudah memutuskan untuk menjauh. Yang terpenting bagi Akira sekarang adalah kebahagiaan Chandra. Menghela nafas lagi sebentar, kemudian Akira berucap,


"maaf pak, saya tidak bisa terima. Saya ikhlas merawat Chandra lagi pula Chandra juga anak saya." tolak Akira dengan halus.


Tapi, saat wanita itu hendak pergi dan melangkah kembali Zian menarik lagi pergelangan tangan Akira.


"Jangan menolak! Ini kartu nama saya." Zian mengepalkan kartu nama di telapak tangan Akira. "Saya sudah berkata untuk ganti rugi, saya mohon kamu jangan menolak! Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan segera hubungi saya!" titah Zian tak mau mendengar penolakan Akira. Pria itu berlalu kemudian. Melangkahkan kaki menjauhi Akira menuju mobilnya. Masuk kesana tanpa menoleh sedikitpun pada Akira yang berdiri ditempat merasa kaget dengan tindakan Zian. Matanya menatap Zian yang berlalu dengan mobil menjauhi pekarangan rumahnya. Pandangnya beralih menatap kartu nama berwarna biru. Menggenggamnya dengan erat.


°°°


Mobil yang melaju jauh itu melaju melewati jalanan Jakarta. Perjalanan pulangpun mereka lakukan. Zian masih terlihat bingung di Jok Belakang, sementara Hendri berusaha tak peduli dan melajukan mobil menuju kota tempat mereka tinggal.


Perjalanan kali ini lebih lancar. Hanya butuh waktu sekitar enam jam untuk sampai depan rumah Zian, tak ada kemacetan. Sesampainya disana Zian segera turun dari mobil sebelumnya Zian berpesan,


"Tolong kamu urus urusan kantor. Saya gak bisa kembali ke kantor untuk beberapa hari, saya butuh waktu untuk berpikir."


Zian yang mendapat anggukan dari Hendri segera melenggang masuk rumah. Mobil Hendri melaju meninggalkan rumah Zian.


Saat membuka pintu lalu melangkah menuju kamar, langkah Zian terhenti mendapati sang istri yang tengah memasak di Dapur. Langkahnya berbelok mendekati Rista yang sedang mencuci sayuran. Kedua tangan Zian segera memeluk wanita itu dari belakang. Menaruh dahunya di salah satu bahu Rista, membuat Rista sedikit terperanjat.


"Mas!" Rista segera tahu siapa yang memeluknya saat mencium aroma parfum Zian.


"Apa sayang?" Zian mengecup pipi Rista, semakin mengeratkan pelukannya.


"Kok kamu udah pulang mas? Perasaan belum adzan Maghrib biasanya kamu pulang pas udah isya." tanya Rista merasa heran.


"Emang kenapa aku pulang sekarang, hm? Aku kangen kamu sayang." seru Zian kembali mengecup pipi Rista.


"Mas! Ada Bi Maya, aku malu." tutur Rista mengingat Bi Maya yang memang berada di dalam kamar tadi.


"Gak ada," jawab Zian melirik Bi Maya yang baru keluar dari kamar. Memberi isyarat pada wanita paruh baya itu untuk kembali masuk. Bi Maya yang mengerti segera kembali masuk kamar.


Rista hanya tertunduk malu sembari tersenyum manis.


"Kalau gitu kita lanjutin di kamar gimana?" bisik Zian menggoda.

__ADS_1


"Mas!" sahut Rista terdengar malu-malu.


Zian tersenyum langsung menggendong wanita itu ala bridal style menuju kamar mereka. Rista kaget spontan memeluk leher Zian. Perasaannya terasa dibuat melayang dengan perlakuan Zian. Pria itu selalu memanjakannya akhir-akhir ini.


Ditidurkan perlahan Rista di atas ranjang. Terdengar oleh Rista Zian membuka jasnya. Gadis itu mengeryitkan dahi.


"Mas!" panggil Rista, kemudian ia merasakan pergerakan tempat tidur. Rista tahu suaminya mendekat. Deru nafas Zian kini terasa tepat berada di wajahnya. Jemari tangan Zian meraba lembut wajah Rista.


"Sayang," kata Zian sembari mengelus lembut rambut Rista. "Kamu bener-bener sayang akukan?" lanjutnya bertanya.


"Mas, kok mas nanya gitu? Aku benar-benar sayang kamu mas. Kenapa kamu nanya gitu?"


Pertanyaan Rista yang terdengar polos menurut Zian menarik dua sudut bibir Zian untuk menyunggingkan senyum. Dikecupnya kening Rista cukup lama.


"Makasih sayang." ucap Zian lalu memeluk sang istri.


Rista balas memeluk suaminya itu. Perasaan Zian sungguh dibuat dilema dengan kenyataan juga cinta yang ia rasa. Jujur sudah menjadi hal yang tak mungkin Zian lakukan. Kejujuran sungguh akan menyakiti hati. Entah itu hati Rista ataupun hati Zian sendiri. Perlahan Zian melepas pelukannya pada Rista. Kembali ia tatap wajah cantik sang istri. Tangannya tak henti mengelus lembut rambut yang terurai indah.


"Sayang, kalau aku.." Zian diam, bingung harus berkata apa.


"Kalau kamu apa mas?" tanya Rista lembut.


Helaan nafas Zian kembali berhembus sekilas.


"Gak sayang, gak apa-apa. Kalau aku peluk kamu terus, cium kamu terus. Apa kamu gak keberatankan?"


Rista kembali dibuat tersipu oleh Zian. Jemari tangannya meraba wajah Zian. Zian menutup mata sekilas menikmati sentuhan lembut jemari Rista.


"Mas, aku adalah milik kamu. Kamu berhak menyentuh aku sesuka kamu mas. Aku gak keberatan mas." jawab Rista dengan jemari tangan yang setia menelusuri setiap jengkal wajah Zian.


Zian duduk di samping Rista mengambil tangan itu. Menciumnya cukup lama. Kemudian Zian ikut berbaring di samping Rista memeluk sang istri dari samping.


"Terima kasih sayang, karena kamu udah sabar mencintai aku. Kamu tahu? Gak butuh waktu satu tahun untuk kamu naklukin hati aku. Sekarang kenyataanya aku udah terlanjur cinta sama kamu."


Mendengar penuturan Zian yang terdengar begitu tulus membuat Rista membalik badan menghadap Zian. Dipeluknya Zian penuh kasih dan sayang.


"Terima kasih juga mas udah mau kasih aku kesempatan. Aku bakal selalu jaga cinta kita mas." ucap Rista disela peluknya.


Apa yang Rista ucapkan sedikit menggores hati Zian. Ketulusan yang Rista beri tak sanggup Zian balas dengan kejujuran atau ketulusan yang sama. Kenyataan Zian yang telah berbohong atas Chandra, tentu tak bisa Zian tutupi pada dirinya sendiri. Semakin sulit bagi Zian untuk jujur dan menghancurkan harapan Rista. Tak sanggup jika harus melihat tetes air mata lagi dari sosok yang mulai ia sayangi dengan penuh kesungguhan.


Zian menghela nafas berulang kali ia hujani pucuk rambut Rista dengan kecupan. Tak ingin momen itu menghilang, momen indah kebersamaan mereka.


Suara dering ponsel Zian membuyarkan lamunan Zian akan kebimbangan. Rista yang melepaskan pelukan membuat Zian terdiam menatap wanita itu.


"Mas, itu ponsel kamu bunyi ya?" tanya Rista memastikan.


Zian diam sejenak, tersenyum kemudian mengecup kembali kening Rista.


"Iya sayang."


"Kalau gitu kamu angkat dulu mas! Sepertinya penting." Perkiraan Rista bukan tanpa alasan. Mendengar suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti membuat Rista yakin panggilanan itu penting.


Istrinya begitu mengerti situasi. Zian beringsut bangun dan mengusap lembut rambut Rista. Wanita itu tengah duduk sekarang.


"Kalau gitu aku angkat dulu. Kamu tunggu ya!" pinta Zian dengan halus.


Setelah turun dari tempat tidur, Zian melihat panggilanan masuk dari layar ponsel. Nama yang tertera di layar ponsel membuat Zian menautkan alis.

__ADS_1


__ADS_2