Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 7 : Mulai Cinta


__ADS_3

Zian masih menarik perlahan dagu Rista.Nafas halus Zian dapat Rista rasakan begitu dekat.Bahkan,sangat dekat,begitu sempit jarak kedua bibir itu.Mendekat semakin dekat hingga ....


"Shhh ..." Zian meringis tiba tiba.Rasa sakit disudut bibirnya terasa lagi.Ia memalingkan wajah dan gagal lagi ciuman mereka itu.


Tangan Zian perlahan melepaskan dagu Rista.Rista segera menunduk karena malu.Apa-apaan itu? Ciuman mereka gagal lagi.Lucunya,disaat Rista sudah siap menerima ciuman Zian.


Zian melepaskan perlahan pelukan nya.Perlahan dia membalikkan tubuh Rista yang masih tertunduk malu.Zian tersenyum melihat tingkah lucu Rista.


Wajah Zian disetarakan tinggi dengan Rista yang tertunduk.Dengan lembut Zian berucap.


"Maaf sayang."


Rista yang mendengar suara Zian begitu dekat.Gadis itu mencoba meraba pria dihadapannya.Rista merasakan wajah Zian, perlahan ia mengelus wajah itu.


"Mas,mana yang sakit?" Tanya Rista.


Zian kembali mengambil tangan yang mengelus wajahnya,kembali mencium telapak tangan itu.


"Aku gak apa-apa.Tapi,aku gak bisa lakuin itu sekarang." Jelas Zian.


Cup,


Zian mencium lagi telapak tangan Rista.Lalu menarik tubuh Rista perlahan.Pria itu mendekap tubuh Rista.Memeluk nya erat, hingga Ristapun tak bisa menahan diri untuk tak membalas pelukan itu.


"Sayang,Apa yang harus aku lakukan lagi untuk membuktikan cintaku?" Bisik Zian ditelinga Rista.


Gelengan dirasakan Zian dari kepala Rista yang membenam didada bidang nya.Gadis itu menggeleng pasti,ia semakin mengeratkan pelukannya.Rasanya begitu nyaman memeluk pria itu.Rista tak mengerti! Apa dia mulai cinta pada sosok Zian?


Dalam beberapa hari.Dalam beberapa perlakuan Zian.Sudah mampu meluluhkan hati Rista.Gadis yang memang sulit mencintai.Tapi,dengan Zian ia begitu mudah menaruh hati.Entah karena apa? Mungkin,karena Zian begitu pintar merayu wanita itu.Tapi,apa Rista menyadari itu hanya sekedar rayuan?


Zian tersenyum sinis,ia semakin memeluk erat Rista.Bahkan,tak segan pria itu sedikit menunduk dan menciumi leher Rista.Rista menyadari satu hal,jika ini diteruskan tentu tidak baik.Akan ada hal buruk lain yang akan terjadi.Apalagi,gejolak didadanya semakin memuncak saat Zian terus menelusupi lehernya.


Rista mendorong perlahan tubuh Zian.Hal itu membuat Zian tersentak menautkan alis menatap Rista yang terlihat gelisah.Gadis itu menurunkan tongkat nya perlahan,lalu mulai mengerakkan nya kedepan.Tak lupa, langkah kaki yang ikut bergerak seiring tongkat yang ia gunakan.


"Kita pulang mas! Ini sudah malam.Papa pasti khawatir." Pinta Rista berjalan meraba raba kirinya,agar dia tak menabrak Zian tentunya.


Zian sigap menangkap tangan yang tengah meraba raba itu.Kembali jantung Rista berdegup kencang.Ia semakin khawatir Zian berani melakukan hal lain.Bukan tanpa alasan.Tapi,Zian mencengkram erat pergelangan tangan nya itu.


"Mas! Kita harus pulang! Mas harus obatin sakit mas." Rista mencoba melepaskan cengkraman itu.


Tak Rista sangka,Zian menarik tubuhnya.Sulit untuk Rista mengelak.Hingga,Zian kembali memeluk erat Rista.


"Jangan pergi! Aku masih kangen." Bisik Zian membuat Rista tersentak.


Rista mendorong Zian sedikit kasar sekarang.Zian tersenyum menyeringai.


"Rupanya Lo bisa kasar juga!" Gumam Zian dalam hati.


"Maaf mas! Kita harus pulang! Ini gak baik!' pinta Rista menunduk.


Zian menarik tangan Rista.


"Ya udah kita pulang!" Jawab Zian.Lalu merangkul tubuh Rista.


Setelah duduk di mobil.Zian membantu Rista mengenakan sabuk pengaman.Saat itu Rista merasakan hangat nafas Zian dihadapannya.Dadanya kembali berdebar debar.Rista berharap Zian tak mendengar itu.Karena apa? Rista sungguh malu.Jika Zian tahu kegugupan nya itu.Dengan sengaja Zian melamakan proses memakai sabuk pengaman itu.Senyumnya tak henti menunjukkan kemenangan.Menyeringai menatap Rista yang terlihat gugup.


Cup,


Zian mencium sekilas bibir Rista.


"Gak usah gugup sayang!" Ucap Zian membuat Rista memegang dadanya.


Zian kembali tersenyum,ia lalu memberikan sebotol air mineral.Meletakannya ditelapak tangan Rista.

__ADS_1


"Udah minum dulu!"


Rista menerima sebotol air mineral itu dan meminumnya.Setelah minum,Rista menutup kembali botol itu.Tapi,masih memegang botolnya.Ia menghilangkan rasa gugup dengan mengenggam botol itu.


Zian yang menyadari kegugupan Rista.Lebih memilih menyetel musik agar gadis itu segera tidur.


Teng teng teng teng teng ..🎹


Rista mendengar musik yang dinyalakan Zian.


"Enjoy aja! Kalau kamu ngantuk tidur aja okey!" Pinta Zian yang dijawab anggukan oleh Rista.


Zian mulai menstarter mobil melajukan nya menjauhi Restoran.


Rista mulai menikmati lagu dengan nada yang mendayu dayu itu.Lagu Afgan berjudul Bukan Cinta Biasa itu sanggup membuat Rista menguap karena nada yang tenang dari lagu itu.Perlahan Rista mulai mengantuk.Selang beberapa menit,Rista pun perlahan menutup mata dan akhirnya tertidur pulas.


Zian melirik gadis itu.Senyum menyeringai kembali menghias wajah tampan nya.


"Berhasil! Kali ini,Lo gak akan nolak gue Ris!" Ucap Zian.


Zian menggedong Rista keluar mobil.Saat setelah sampai ke tujuannya.Rumah besar berwarna gold putih.Tunggu! Itu bukan rumah Rista.Lantas kemana Zian membawa Rista?


Ternyata pria itu membawa Rista ke rumah pribadinya.


"Hubungi Pak Faris! Katakan anaknya ingin menginap dirumah saya!" Perintah Zian pada asistennya yang kebetulan berdiri didepan pintu.


"Baik pak."


"Kalau gitu kamu boleh pulang!" Zian melangkah melewati asistennya itu.


"Maaf pak.Tapi,saya dapat informasi wanita itu ada di Cilacap saat ini Pak." Jelas Hendri asisten Zian.


Zian menghentikan langkah berbalik menatap Hendri.


"Ya pak."


"Kalau begitu selidiki kehidupan nya sekarang! Kalau kamu sudah menemukan alamat rumahnya beritahu saya!" Zian segera berjalan melangkah melewati Hendri masuk kedalam rumah.


"Tutup pintu nya!" Teriak Zian.


"Baik Tuan." Jawab Bi Maya pembantu rumah itu.


Zian menaiki tangga menuju kamar nya.Ditidurkan nya Rista di atas kasur miliknya.Zian berjalan ke arah pintu lalu menguncinya.


Cetrek,


Setelahnya,Zian melepas jas yang membalut tubuhnya,ia menaruh nya diatas sofa berwarna cream didepan ranjang.Langkahnya berjalan menuju kamar mandi.


Terdengar suara gemericik air didalam.Zian rupanya tengah mandi dan meninggalkan Rista tertidur pulas dikasurnya.Pria yang telah selesai mandi itu.Kini hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian perut hingga bawah lututnya.


Perlahan Zian mendekati Rista.Ia mengusap rambut nya yang masih basah.Zian duduk disamping Rista yang terbaring.Jemarinya menelusuri wajah mulus Rista.Mengelus ngelus pelipis hingga pipi Rista.Wanita itu tak bangun,Zian tersenyum puas efek obat itu ternyata sangat ampuh.Membuat Rista terlelap tak sadarkan diri.


"Sebentar lagi dan kamu gak akan nolak aku Ris." Ungkap Zian lalu berjalan menuju walk in closet dan mengganti pakaian nya.


Ada rasa takut saat Zian akan melakukan aksinya.Aksi yang cukup gila menurutnya.Gila! Ya memang gila aksi Zian ini.Demi bisa menaklukkan hati Rista.Bahkan,dengan cara yang bisa dibilang kotor dan merendahkan diri nya sendiri.


Zian menghela nafas.Pertama ia membuka plat shoes navy milik Rista.Lalu ia mulai naik ke atas kasur,ia memberanikan diri berada diatas tubuh Rista.Perlahan ia mengangkat tubuh Rista membuka resleting dress Rista.


Zian menghentikan aksi nya sejenak.


"Okey! Tenang Zi.Hanya harus membuka bajunya saja dan selesai.gue gak akan tergoda dengan tubuhnya.Tubuhnya pasti jelek." Gumam Zian menenangkan diri sendiri.


Butuh waktu sekitar lima menit.Zian akhirnya berhasil membuka dress juga short Rista.Kini Zian menatap tubuh Rista yang hanya mengenakan dalaman itu.Jiwa kelelakianya mulai muncul,ia menelan salivanya menahan diri untuk tak menerkam gadis tak berdaya itu.Karena, rencananya Zian hanya akan berpura pura telah tidur dengan Rista.

__ADS_1


"Kurang ajar! Kenapa tubuhnya sebagus ini." Umpat Zian melihat setiap jengkal tubuh Rista yang memang putih dan mulus.


Sungguh Rista dibuat KO oleh obat tidur itu.Gadis itu bahkan tak bergerak.Saat Zian membuka bajunya.


Zian menarik selimut untuk menutupi tubuh Rista.Setelah menyelimuti Rista.Zian membuka baju kaos nya dan ikut berbaring disamping Rista.Tiba tiba Rista bergerak memiringkan tubuhnya.Tepat dihadapan Rista ada Zian yang meliriknya kaget.Zian kira gadis itu akan bangun.Ternyata,untungnya tidak.Zian menghela nafas lega.Tubuh Zian menyamping,dia menatap gadis polos yang baru ia bodohi.Ia bangun menahan kepala dengan satu tangannya.Matanya tak henti menatap Rista yang tertidur pulas.


"Setelah ini,gak ada alasan Lo nolak Ris! gue gak akan lakuin apapun.Karena,gue gak cinta sama Lo,gue gak akan lakuin itu." Jelas Zian,seakan berbicara dengan Rista.


Tiba tiba Zian teringat sesuatu,ia menyentuh bibirnya sendiri.


"Tapi ..ciuman itu.." Zian mengingat saat sekilas mencium bibir Rista tadi.Ada rasa berbeda saat mencium bibir mungil itu.Kehangatan atau rasa nyaman? Zian berpikir sesaat.Ia menghela nafas segera menepis pikiran tak karuan itu.


"Ahh .. sudahlah.Cuma ciuman,kenapa sampai harus gue pikirin?" Gerutu Zian.Ia segera menarik selimut mencoba memejamkan matanya.


Pagi menjelang.Suara alarm dari ponsel Rista membangunkan gadis itu.Perlahan Rista membuka matanya.Ada sesuatu yang aneh? Begitulah pikir Rista, seperti ada tangan yang menindih perutnya.Apa dia tidur dengan Diana? Rista masih mencoba mengingat ngingat kejadian sebelum ia tidur.


"Di .. Diana!" Panggil Rista sembari meraba lalu mengangkat tangan yang menindih perutnya.Tunggu! Rista meraba raba tangan itu.Ini bukan tangan Diana.Rista mulai kaget.Ia ingat,semalam ia tidur dimobil Zian.Lalu .. apalagi? Rista tak mengingatnya.


Rista meraba tangan itu lagi.


"Ini tangan mas Zian!!" Rista kaget melempar tangan itu kesamping.


"Mmhhh." Terdengar suara Zian disamping Rista.Rista semakin kaget.Berarti semalam ia tidur bersama Zian.Lalu apa saja yang telah mereka lakukan dalam satu ranjang?


Rista merasakan selimut yang ia kenakan ditarik.Rupanya Zianlah yang menariknya.Zian menutupi kembali tubuhnya,karena hawa dingin terasa menusuk tubuh Zian yang tengah telanjang dada itu.


Rista menarik selimut menggenggam erat agar Zian tak kembali menariknya.Gadis itu mencoba duduk.Perasaannya mulai gelisah, khawatir juga takut.Apa dia dan Zian?...


Rista menggeleng kepala dengan cepat.


"Gak.Gak mungkin!!" Rista menepis pikiran negatif.


"Aduh dingin!" Zian kembali menarik selimut itu.Tapi, kali ini terasa sulit.Zian membuka mata mendapati Rista yang tengah menangis sedang duduk disampingnya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya.


Zian membulatkan mata.Lalu perlahan duduk mengucek matanya.


"Ris!" Panggil Zian menyentuh bahu Rista.


Tapi,gadis itu tak menjawab mengerakkan tubuh sedikit.Seakan ingin menjauh dari Zian.Hal itu membuat Zian melepaskan sentuhannya.


Ketakutan nampak diwajah Rista.Ingin ia lari dari tempat itu.Tapi,Rista tak tahu dimana tongkatnya.Tempat ini pasti sangat asing baginya.


Zian mendekati Rista.Gadis itu terus mundur menyadari pergerakan Zian.Namun,dengan sigap Zian memeluk Rista.Rista meronta sembari menangis.


"Lepas!! Lepasin aku mas!!" Teriak Rista.Tapi,Zian mengiraukan itu.Malah,Zian semakin mempererat pelukannya.


"Hiks hiks .. lepas .. lepasin aku!!" Rista mencoba memukul dada telanjang Zian.Tapi, kekuatan nya habis juga,ia lelah.Akhirnya memilih menagis dalam dekapan Zian.


"Aku bakal tanggung jawab.Kamu jangan khawatir!" Ucap Zian mengecup pelipis Rista.


"Hiks ..hiks.. " Tak ada jawaban dari Rista.Gadis itu hanya menangis sesegukan dalam pelukan Zian.


Setelah insiden pagi itu.


Zian mengantar Rista pulang.Ada rasa takut dihati Rista.Apalagi, setelah mendapat kenyataan kalau dia dan Zian telah tidur bersama layaknya suami istri.Dan yang lebih parah,Zian mengatakan jika Ristalah yang memaksa nya melakukan itu.


Berhentilah mobil Zian didepan Gerbang rumah Rista.


Zian melirik Rista yang hanya melamun sedari tadi.Tiba tiba gadis itu membuka mulut setelah berdiam sedari pagi.


"Mas!" Panggil Rista.


"Hmm."

__ADS_1


"Kapan kita menikah?" Tanya Rista.Pertanyaan yang memang ditunggu Zian sedari tadi.


__ADS_2