Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 23 : Rasa Tak Nyaman


__ADS_3

Mulai menebak-nebak dengan kebenaran dari surat yang ia genggam. Zian seterusnya melangkahkan kaki menuju dapur. Tempat dimana Bi Maya tengah duduk melamun. Rupanya Bi Maya sendiri sedang memikirkan kebenaran surat itu. Merasa tak percaya Zian yang sudah seperti anak baginya, pernah melakukan tindakan hina sampai memiliki seorang anak dari tindakan itu. Kembali diminumnya segelas air putih digenggaman tangan. Menghela nafas kemudian. Nafas yang terasa berat.


"Bi.." Panggil Zian.


Terperanjat Bi Maya mendengar suara Zian memanggilnya. Lalu ia putar tubuh dan berdiri dari duduk menghadap Zian.


"Ya tuan." Sahut Bi Maya menunduk.


"Apa aja yang bibi katakan sama Rista?" Tanya Zian menatap penuh selidik.


"Saya.. cuma mengatakan Chandra anak yang dibuang ibunya dan ibunya meminta tuan dan Non Rista mengadopsinya. Maaf tuan, saya lancang berbohong. Tapi, saya kira itu lebih bijak ketimbang saya jujur." Tutur Bi Maya sedikit terbata-bata, masih menunduk takut Zian akan memarahinya.


Zian menghela nafas lega. Dipegangnya kedua bahu Bi Maya dengan lembut. Wajahnya menunjukkan ketenangan. Wajah yang awalnya tegang kini berangsur tenang. Zian menyetarakan tinggi dengan Bi Maya setelahnya ia kembali menghela nafas.


"Syukur deh bibi gak jujur. Terima kasih banyak bi. Kebohongan bibi menyelamatkan saya." Ungkap Zian setelah itu melepaskan pegangan pada bahu Bi Maya.


Senyum kemudian Bi Maya, ia berani menatap Zian sekarang.


"Ya tuan. Sama-sama, kalau begitu saya permisi."


Bi Maya berbalik hendak melangkah pergi ke kamar.


"Tunggu bi!"


Seketika Bi Maya menghentikan langkah. Perlahan berbalik, ada rasa takut di hatinya. Berpikir Zian mungkin akan marah sekarang. Kembali Bi Maya menatap Zian dengan hati-hati.


"Iya tuan." Sahut Bi Maya.


Zian terlihat serius dengan apa yang akan ia katakan.

__ADS_1


"Tolong! Bibi rahasiakan isi surat ini! Saya akan membereskan semuanya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang hal ini!" Bisik Zian, tapi masih bisa didengar jelas oleh Bi Maya.


"Baik tuan." Sahut Bi Maya.


Selanjutnya Zian kembali berbisik sembari mengepalkan surat di telapak tangan Bi Maya.


"Terus, tolong bibi buang surat ini!"


Dengan tangan gemetar digenggamnya surat dari Zian. Lalu Bi Maya mengangguk mengerti. Meski dalam hatinya, ia merasa tak enak harus menyembunyikan sesuatu dari Rista. Majikannya itu tak salah apa-apa, tapi harus menerima kebohongan sebesar ini. Tapi lagi, Bi Maya tak mungkin jujur, selain melakukan apa yang perintahkan Zian. Kembali Bi Maya berbalik badan setelahnya mulai kembali melangkah ke arah kamar.


Zian menghela nafas, memasukkan kedua tangan ke saku celana. Wajahnya berpaling kemudian menatap Rista yang tengah duduk mengelus-elus rambut Chandra. Merasa kesal sendiri Zian. Tak tahu benar atau tidak, jika anak itu adalah darah dagingnya. Merasa masih tak percaya. Terpikir di benak Zian, Akira hanya ingin memanfaatkan dirinya saja dengan dalih Chandra sebagai perantara.


Derap langkah Zian berjalan menyusuri lantai berkeramik putih. Berjalan tenang menuiu Rista yang duduk di Sofa. Ia kemudian duduk menyilangkan kedua kaki tepat di samping Rista.


"Anak itu mau tidur dimana?" Ketus Zian.


"Di kamar kita aja mas. Kalau ditinggal sendiri kasihan." Tutur Rista lembut.


"Biar aku gendong! Kamu sendiri ke kamar, bisakan!" Tegas Zian beranjak begitu saja. Meninggalkan Rista sendiri di Ruang Tamu. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa heran mendengar Zian mau menggedong Chandra dan tanpa persetujuan Zian menggedong Chandra begitu saja. Kedua sudut bibir Rista ditarik secara repleks. Merasa lega sekaligus senang, mungkin Zian mau menerima anak itu dan mereka akan mengadopsinya.


Setelah puas tersenyum bahagia. Rista memutuskan untuk berdiri. Mengangkat tongkat. Mengarahkannya ke depan mulai melangkah dengan bantuan tongkat itu. Tentu saja, Rista menyusul Zian ke kamar.


Sampai di kamar Rista meraba-raba kasur. Sementara Zian, ia sudah menidurkan Chandra di atas ranjang. Dibukanya jas yang melekat ditubuhnya. Zian menggantungkan jas di antara siku dan pergelangan tangannya. Hendak melangkah, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba saat suara yang tak asing memangilnya.


"Mas, kamu masih disini kan?" Tanya Rista yang telah duduk di atas kasur.


Zian tak menjawab. Malas sekali menjawab pertanyaan Rista yang terkesan receh dan tak penting. Diam sesaat lalu memutuskan untuk menjawab dengan deheman.


"Mas. Kalau mas mau mandi, aku udah siapin air hangat di Bathtub juga baju tidurnya ada di sofa, jadi mas bisa langsung mandi. Aku gak taruh aromaterapi, soalnya udah aku cari tapi gak ada." Ujar Rista menjelaskan.

__ADS_1


Zian menghela nafas panjang. Terdengar membosankan apa yang dikatakan Rista. Selalu saja setiap pulang, Rista mengatakan hal itu. Terasa menjengkelkan bagi Zian. Tak memperdulikan penjelasan juga perhatian Rista. Zian memilih berjalan keluar kamar menuju Ruang Kerja.


Rista terkejut mendengar pintu kamar yang ditutup kasar oleh Zian. Heran Rista, apa salah yang dia lakukan selama ini? Rista hanya berusaha menjadi istri terbaik untuk Zian. Sadar Rista memiliki kekurangan dalam hal penglihatan. Namun, ia berharap ia tak pernah kehilangan penglihatan hati untuk bisa mengerti suaminya. Mengerjap-ngerjapkan mata sejenak. Ditahannya air mata yang mungkin akan lolos lagi untuk kesekian kali. Mencoba tenang, menghela nafas mengaturnya perlahan, agar hatinya bisa tenang. Berharap hatinya bisa kebal dengan setiap ucapan dan tindakan Zian. Beringsut naik ke kasur. Rista meraba keberadaan Chandra. Mengelus rambut anak itu setelah Rista berhasil menyentuh rambutnya.


"Sayang, siapapun kamu. Bunda sangat senang sekali Chandra datang ke rumah ini. Bunda jadi punya temen. Semoga Mas Zian mau Nerima kamu. Jadi, kita bisa main terus setiap hari." Lirih Rista kemudian kembali meraba dan mengecup kening Chandra.


Anak itu sedikit bergerak, tapi matanya masih tertutup rapat. Tidur dengan nyenyak. Merasakan pergerakan Chandra, Rista kembali mengusap rambut depan Chandra ke belakang. Meraba dahi anak itu lalu mengelus dahinya dengan lembut. Ikut berbaring di samping Chandra, memeluk anak itu. Merasa tenang setelah memeluk Chandra, Rista ikut memejamkan mata. Tidur di samping anak itu.


Pagi menjelang, setelah hampir semalaman Zian merasakan kesal mengingat apa yang terjadi. Harus tidur di Kamar Atas sendiri, karena ada Chandra di kamarnya. Ditambah ia terus memikirkan kebenaran surat dari Akira. Pagi ini Zian sudah bertekad akan menemui Hendri dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Kakinya sudah dibalut sempurna dengan sepatu hitam. Juga tak lupa pakaiannya yang sudah rapi siap meluncur ke kantor tempatnya bekerja. Namun, ada rasa janggal saat Zian ke meja makan. Ia tak melihat Rista disana. Hanya ada bocah kecil yang mengaku sebagai anaknya tengah duduk melirik Zian sekilas lalu kembali menunduk. Chandra nampaknya takut dengan tatapan Zian yang seolah ingin menyantapnya hidup-hidup. Melihat reaksi Chandra Zian tak peduli. Ia mencoba fokus pada sarapan paginya


Entah mengapa Zian merasa ada yang hilang. Sosok Rista yang biasa duduk di hadapannya kini tak ada disana. Kesal sendiri Zian, mungkin merasa tak ada teman bicara. Meski sebenarnya, Ristalah yang selalu bicara selama ini. Banyak memberi perhatian kala ia sarapan. Dengan kesal Zian melempar gardu ke atas meja setelah itu ia berdiri.


"Kemana lagi tu si buta?!" Gerutu Zian mendorong kursi. Lalu melangkah meninggalkan Meja Makan.


Tidak tahu datang darimana. Rasa khawatir kini membalut hati Zian. Merasa khawatir Rista pergi keluar. Sedang Rista belum tahu jalan komplek itu. Zian hendak melangkah keluar rumah. Namun, tiba-tiba ia mendengar tawa Rista dari halaman belakang. Cepat Zian keluar ke halaman belakang. Perlahan tangannya mengeser pintu kaca. Matanya menatap heran. Langkahnya masih ia teruskan, tapi terhenti kembali. Telinganya mendengar suatu yang cukup membuat hatinya kesal. Namun, harusnya tak seperti itu. Diam di tempat Zian, tak ingin mendekati Rista yang tengah mengobrol dengan pria yang ia tahu adalah Satya.


"Iya Sat. Aku juga sayang kok sama kamu." Rista menutup mulut sejenak, terlihat mendengarkan orang di balik telpon itu berkata. "Iya-iya adikku yang bawel!" Ujar Rista lagi.


Percakapan mereka masih Zian dengarkan. Sesuatu terjadi pada hatinya, seperti rasa kesal mendengar Rista begitu mesra berkata pada Satya. Tahu Zianpun jika seharusnya itu tak masalah. Bukankah dengan Rista dekat dengan Satya, Rista dapat segera menemukan cinta sejatinya? Mungkin saja, Satya memang cinta sejati Rista. Dengan begitu, akan cepat Rista dan Zian berpisah. Dan tentu akan membuat Zian bahagia, karena akhirnya ia berhasil lepas dari si gadis buta. Namun, tidak demikian dengan apa yang Zian rasa saat ini. Hatinya sedikit tersentuh mendengar percakapan Rista. Menghudang rasa marah atau kesal. Bahkan mungkin rasa lain yang Zian sendiri tak ingin menyebutkannya cemburu. Sangat memalukan jika Zian memang cemburu pada Rista. Karena cemburu merupakan tanda cinta, begitu kebanyakan orang berkata.


Dengan dua tangan dilipat di bawah dada. Ditatapnya dengan seksama Rista yang baru usai dengan percakapan via telepon. Perlahan Rista menurunkan ponsel dari samping telinga lalu memasukkan ponsel ke dalam saku rok. Tentu saja Rista tak menyadari kedatangan Zian. Dengan tenang Rista melangkah hendak membawa diri masuk lagi ke rumah. Suara Zian tiba-tiba membuat Rista menghentikan langkah.


"Ngapain disini?" Sinis Zian mendekati.


"Mas!" Seru Rista kemudian kembali melanjutkan. "Aku tadi telponan sama Satya mas. Katanya Satya mau datang kesini. Bolehkan mas?" Kata Rista terlihat berharap.


Berharap Zian membolehkan Satya datang berkunjung ke rumah mereka. Berpikir dengan adanya Satya ia bisa sedikit lupa dengan sikap dingin Zian padanya. Setidaknya, ada orang yang bisa mendengar keluh kesahnya.


Terhenti langkah Zian, ia memutar pandang Kesal. Entah pada apa? Apa pada Rista yang tidak menemaninya sarapan atau pada Rista yang mau membawa pria lain ke rumah itu? Zian menepis segala rasa yang tak ia mengerti. Berbalik badan berusaha tak peduli.

__ADS_1


"Terserah! Kan udah aku bilang 'kamu boleh bawa pria manapun'. Tapi ingat untuk tetap menjaga sandiwara kita!" Pesan Zian. Seterusnya pria itu melangkah pergi. Nafsu makannya hilang tiba-tiba. Ditinggalnya Rista bahkan tanpa pamit duluan. Melewati meja makan begitu saja. Kakinya terus berjalan keluar rumah untuk segera mengambil mobil dan pergi melajukannya meninggalkan rumah.


Perasaannya seolah dirundung kecewa. Namun, kecewa untuk apa? Bukankah sudah ia tekankan Rista akan bebas jika mendapat cinta sejatinya? Tapi, seperti ada rasa tak nyaman di hati Zian. Mendengar permintaan Rista tadi. Dengan cepat ia masuk mobil. Melajukannya meninggalkan rumah berwarna putih gold itu.


__ADS_2