Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 31 : Tidak Seburuk Itu


__ADS_3

Langkah Rista berjalan keluar kamar. Setelah memberikan Zian pengertian, Rista segera keluar kamar untuk menemui tamu yang Bi Maya maksud.


"Kakak!" teriak Diana yang langsung memeluk Rista.


Sampai Ruang Tamu Rista dikejutkan peluk juga teriakan sang adik. Rupanya yang datang bertamu adalah Diana.


Senyum manis mengukir di bibir seseorang yang memang tak asing bagi Rista. Suara orang itu menyadarkan Rista perihal tamu yang berkunjung. Suara wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya, Tanika. Tanika segera berjalan mendekati Rista yang sudah dipeluk Diana. Tangan Tanika terangkat untuk mengelus lembut kepala anak sulungnya itu.


"Sayang, kamu apa kabar?" sapa Tanika setelah mengelus kepala Rista.


"Mama!" seru Rista begitu senang. "Mama datang sama Diana? Kenapa mama gak bilang dulu? Kalau mama bilang kan, aku bisa siapin sesuatu." lanjutnya.


Diana melepaskan pelukannya pada Rista. Menatap kakaknya yang sedikit lebih tinggi darinya. Matanya menyipit seolah menyelidik.


"Kakak, kakak gak diapa-apain kan sama Si Muka Tembok?" tanya Diana tiba-tiba.


Rista menaikan alisnya kemudian sedikit terkekeh.


"Di, maksud kamu siapa? Mas Zian?"


Diana melipat kedua tangan dibawah dada. Wajahnya kesal mendengar pertanyaan Rista yang ia rasa tak perlu ditanyakan lagi. Dengan mencebikkan bibir Diana menjawab, "ya siapa lagi," Diana kemudian memegang kedua lengan Rista dengan ekspresi cemas.


"Kak, aku serius. Kakak gak disakitin sama dia kan? Diakan nyebelin, makhluk gak punya malu." sindir Diana dengan nada kesal. Bahkan gadis itu membuang muka saat membicarakan suami kakaknya itu.


Tanika yang melihat ekspresi tak wajar Diana hanya menautkan alis tak mengerti. Dipegangnya bahu Diana perlahan.


"Di, kok kamu ngomong gitu sama kakak ipar kamu sendiri?" tanya Tanika dengan lembut.


Kembali Diana melipat dua tangannya di bawah dada. Kemudian ia mendengus kesal.


"Pokonya aku gak suka sama dia. Dasar Uler!" cibir Diana dengan mencebikkan bibir.


"Di!" sentak Rista tapi masih dengan nada lembut, "kamu jangan ngomong gitu! Mas Zian gak seburuk yang kamu kira. Mas Zian sekarang udah berubah, dia mau memulai semua dari awal." lanjut Rista memberi pengertian.


Diana menaikan satu alis, "oh ya? Bagus deh," jawab Diana lalu menghela nafas. Dalam hati Diana bergumam, "andai aja kakak tahu kalau dia ...." Diana menghela nafas. "Tapi sudahlah, aku gak bisa jujur sekarang. Semoga saja dia benar-benar berubah." lanjutnya masih dalam hati. Diana menghela nafas. Diambilnya tangan kanan sang kakak. Mengelusnya dengan lembut. Senyum manis ia tunjukkan di hadapan Rista.


"Ya udah, kalau kakak bahagia aku ikut bahagia kak. Semoga saja benar." Diana sejenak memalingkan pandang ke samping. "Si Muka Tembok eh maksud aku Kak Zian dia benar-benar berubah." ujar Diana kemudian.


Meskipun Diana merasa tak yakin dengan perubahan yang Rista katakan tentang Zian. Namun, Diana mencoba untuk berpikir positif. Sekalipun suatu saat Rista terluka, Diana bertekad ia akan menjadi orang yang selalu setia mendampingi sang kakak. Dipeluknya sang kakak dengan lembut.


"Kakak, kakak harus selalu bahagia. Kalau suatu saat ada sesuatu yang mengganjal atau apapun itu, kakak cerita sama aku, ya? Aku gak mau kakak terluka apalagi sama cowok itu." bisik Diana disela peluknya.


Rista menarik dua sudut bibirnya balas memeluk adik semata wayangnya itu. Dielusnya punggung Diana dengan lembut.


"Ya Di, terima kasih banyak. Kamu adalah adik yang baik. Kakak bangga punya kamu di sisi kakak."


Seseorang yang berada di antara mereka tersenyum bahagia. Tanika mengelus bahu kedua putri kesayangannya itu.


"Hey! Kalian ya kaya ada yang mau pergi jauh aja." Tanika melirik Diana yang melepaskan pelukan. "Kamu ya Di, kamu tenang aja! Sekarang Kak Rista udah ada Zian yang pasti bakal jagain dia." lanjutnya menatap Diana.


Diana kembali mencebikkan bibir. Merasa tak percaya pada Zian itu yang Diana rasakan.


"Tapi aku gak percaya sama dia." gumam Diana pelan.


Senyum Rista seolah mencairkan suasana. Ia meraba bahu Diana dan mengelusnya.


"Kakak ngerti Di, kamu pasti butuh waktu buat percaya sama Mas Zian. Sekarang mendingan kita duduk dulu, aku bakal bawa kue sama minuman. Kalian tunggu sebentar!" ujar Rista sembari melepaskan tangan dari bahu Diana.


Kedua tamu itupun duduk, setelah Rista berlalu menuju dapur untuk mengambil minum dan cemilan. Diana melirik kanan kiri juga sekeliling. Berusaha mencari sosok Zian, tapi ia tak menemukannya. Diliriknya sang ibu yang tengah sibuk dengan ponsel.


"Ma," panggil Diana.


"Hm." sahut Tanika yang masih fokus pada benda pipih di tangannya. Mata Tanika kemudian beralih pandang menatap Diana. "Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Ma, tu cowok gak ada di rumah ya? Untung deh aku jelek-jekekin dia tadi, kalau dia ada aku pasti dimarahin."


"Kamu sih," Tanika menyentuh bahu Diana. "Makanya ngomong jangan sembarang. Mungkin ... Sekarang kakak ipar kamu itu benar-benar berubah. Kamu jangan negatif thinking!" lanjut Tanika kemudian kembali fokus pada ponselnya.


Diana manggut-manggut berusaha berpikir. Tiba-tiba Diana dikagetkan oleh bola sepak yang menyentuh kakinya. Bola yang Diana kira tak mungkin bergerak sendiri. Setelah melihat bola di samping kakinya, Diana menunduk lalu mengambil bola itu. Seorang anak kecil berjalan lalu berdiri di samping kaki Diana. Diana dibuat terbelalak melihat anak itu.


"Eh, kamu siapa?" tanya Diana menatap heran anak itu.


Anak itu diam menatap bingung ke arah Diana. Wajah polosnya ia tundukkan tiba-tiba, karena merasa takut dengan tatapan Diana. Suara Diana didengar Tanika. Pandangan Tanikapun beralih dari ponsel yang ia pengang. Menaruh ponsel itu, kemudian tersenyum manis.


"Chandra!" sapa Tanika setelah itu turun dari sofa dan merentangkan kedua tangan. "Sini sama Oma sayang!" seru Tanika yang disambut hangat oleh Chandra. Anak itu dengan segera menghambur ke pelukan Tanika.


"Oma!" teriaknya sembari memeluk Tanika.


Wajah Diana seketika menunjukkan rasa heran. Matanya melebar menatap pemandangan yang tak ia mengerti. Demi mengatasi rasa heran dan penasarannya Dianapun bertanya, "Ma, siapa anak ini? Kok dia manggil mama 'Oma', masa anak Kak Rista sama Kak Zian kok udah gede sih?"


"Dia anak adopsi kakak kamu Di. Jadi, kakak kamu sama suaminya itu mau adopsi anak. Kebetulan mama sih udah sempet kenal dia, soalnya kita pernah VCan. Dia anak baik loh, lucu lagi." jelas Tanika sembari mengelus lembut kepala Chandra.


Mata Diana terus menatap sang ibu yang menggedong Chandra dan menaikkan anak usia dua tahun itu dalam pangkuannya. Dilihatnya sang ibu yang memainkan jemari mungil Chandra. Menaik turunkan tangan mungil itu.


"Lucukan Di? Mama jadi Inget waktu kamu sama Rista kecil. Chandra ini juga pinter loh, dia udah lancar bicara, bawel loh kalau kamu kenal." Tanika mengecup pipi gembul Chandra. "Ya kan sayang?" tanya Tanika pada Chandra.


Chandra hanya diam. Menatap Diana yang menurutnya menakutkan dengan tatapan heran dan seolah tak suka.


"Chandra, ini Tante Diana. Kenalan dulu ya!" pinta Tanika mengangkat tangan Chandra.


Diana mengeryitkan dahinya.


"Gimana ceritanya mereka mau adopsi anak?" tanya Diana tak percaya.


"Itu karena kita kasihan sama Chandra Di. Jadi, aku sama Mas Zian berencana adopsi Chandra." jawab Rista.


Ternyata tanpa diduga Diana maupun Tanika, Rista sudah berada di belakang sofa bersama Bi Maya. Rista meraba sofa berwarna maroon itu lalu duduk di samping Diana. Bi Maya menyimpan cemilan juga dua jus di hadapan mereka.


"Silahkan minum dulu Nyonya, Non Diana!" seru Bi Maya yang dibalas senyum oleh dua orang itu.


Setelah berpamitan, Bi Mayapun kembali ke Dapur. Rista kembali melanjutkan ceritanya seusai Bi Maya pergi.


"Waktu itu kakak sama Bi Maya nemu Chandra di depan rumah Di. Ibunya nulis surat katanya dia mau aku sama Mas Zian adopsi anak ini."


"Suratnya masih ada kak?" tanya Diana.


"Iya loh, katanya kamu mau ngasih tahu suratnya sama mama." sambung Tanika yang juga penasaran.


"Oh ya soal suratnya ... Aku tanya Bi Maya sebentar." Rista kemudian meraba tongkatnya. Namun, baru saja ia hendak berdiri suara seseorang menghentikan aksinya.


"Gak usah, kamu gak usah repot-repot cari surat itu. Suratnya udah aku buang." sahut Zian.


Tiba-tiba pria itu duduk di samping Rista dan merangkul wanita itu. Tindakannya sedikit membuat Rista kaget mendapati tubuhnya yang dirangkul sang suami. Jantung Rista seketika berdebar. Merasa kaget sekaligus tak percaya, Zian melakukan tindakan manis di hadapan ibu dan adiknya. Sementara dua orang di hadapan mereka saling tatap sesaat karena tidak mengerti. Sebelum kedua orang itu berkomentar, Zian menjelaskan maksud dari apa yang ia katakan tadi.


"Karena menurut aku surat itu gak penting. Dan yang terpenting sekarang adalah kita bakal adopsi anak itu." tegas Zian.


Penuturan Zian seketika membuat Rista kaget. Mendengar suaminya berkata seperti itu, seolah bertolak belakang dengan apa yang pernah Zian katakan sebelumnya. Bukannya Zian sempat menolak? Dan memang sampai hari kemarin Zian belum menyetujui perihal adopsi Chandra, tapi hari ini berbeda. Bukan hanya sikap Zian yang berubah tapi rupanya pemikirannya tentang Chandrapun berubah.


"Mas, kamu serius?" tanya Rista memastikan.


Zian mengecup pelipis Rista sekilas lalu menjawab,


"ya sayang aku serius."


Tanika tersenyum melihat adegan romantis dua insan itu. Sementara Diana sedikit merasa risih juga jijik. Berpikir Zian hanya melakukan omong kosong dan berakting di hadapan mereka.


"Eheumm, iya deh. Bagus kalau kalian mau adopsi Chandra mama setuju. Lagi pula Rista sering cerita tentang kamu Zi. Kamu sekarang berubah dan mama percaya sama kamu. Tapi, kamu harus ingat! Untuk selalu jaga Rista dan jangan pernah bikin dia sakit hati lagi!" titah Tanika dengan penekanan.

__ADS_1


"Iya ma. Aku janji Rista bakal selalu aku jaga dan pasti aku gak bakal sakitin dia lagi. Mama bisa pegang omongan aku ini." sahut Zian.


Meski Diana masih tak percaya, gadis itu mencoba percaya dengan apa yang dikatakan Zian. Merekapun berbincang bersama malam itu. Bahkan, Diana dan Tanika menyempatkan makan malam bersama di rumah Zian.


Kehangatan kembali Rista rasakan dalam keluarga barunya bersama Zian. Kehadiran Diana dan ibunya menambah rasa bahagia di hati Rista. Malam itu penuh dengan canda juga tawa kebahagiaan. Diana selalu saja menggoda Chandra kecil yang lucu. Diana mulai bisa menerima kehadiran Chandra sebagai sepupunya. Senyum Rista tak henti merekah kala mendengar tawa renyah adik dan anak angkatnya. Sama halnya dengan Rista Zian begitu bahagia mendapatkan keluarga baru dihidupnya. Keluarga yang dirasa Zian memberi ketenangan dan kenyamanan.


Malam itu seusai ibu juga adiknya pulang. Rista dan Zian menidurkan Chandra di kamar yang memang sudah Zian siapkan. Kamar yang terletak di samping kamar mereka berdua.


Chandra nampak sudah tidur nyenyak. Rista bangun dari duduknya mengambil tongkat. Sementara Zian yang duduk bersebelahan dengan Rista menatap wanita itu. Melihat Rista yang tengah meraba buku dongeng yang tadi ia bacakan. Buku dongeng dengan tulisan brile yang dulu sering ia baca sewaktu kecil. Rista mengambil buku itu.


"Mas, ayo kita juga tidur! Kamu pasti capek kerja seharian." ajak Rista yang berjalan terlebih dahulu.


Dua buah tangan dirasa Rista tiba-tiba memeluknya. Melingkar di bagian perutnya. Dagu seseorang yang ia tahu adalah Zian menempel di bahunya yang tertutup baju tidur.


"Sayang, aku kangen. Malam ini jangan tidur dulu ya!" pinta Zian.


Permintaan yang memang Rista menggerti, membuat wanita itu tersipu malu dan menunduk.


"Iya mas, tapi kita ke kamar dulu yuk!" sahut Rista dengan nada pelan.


Tak mau berlama-lama, Zian segera menggendong istrinya itu menuju kamar mereka. Dibaringkan perlahan Rista, saat mereka telah sampai kamar. Zian menatap lekat wajah Rista yang tersipu malu-malu. Mengelus pipi sang istri dengan lembut. Tindakan yang membuat Rista semakin merasakan desiran dalam dada. Rista tahu tindakan apa yang akan Zian lakukan selanjutnya.


"Sayang, kamu ... kok kelihatan malu-malu gitu? Kita udah pernah ngelakuin ini, ya kan? Jadi, relax aja okey?"


Perlahan Zian mendekatkan bibirnya pada bibir Rista. Melihat sang istri yang menutup mata seolah ingin menikmati momen itu, membuat Zian perlahan menyatukan bibir mereka.


Sesi ciuman itu mereka nikmati dengan penuh gairah. Tangan Zian semakin liar menarik tekuk leher Rista untuk lebih menikmati momen mengecap bibir sang istri yang entah sejak kapan membuatnya selalu candu.


Drrrtttt ... Drrrtttt ... Drrrtttt ...


Rista melerai ciuman itu, sedikit mendorong perlahan tubuh Zian. Berhasil, Rista berhasil melepas ciuman Zian. Ditatapnya Rista dengan tatapan heran, Zian kemudian mengelus lembut pipi Rista.


"Kenapa sayang?" tanya Zian dengan lembut.


"Mas ... ada telpon mas, kamu angkat dulu gih!" pinta Rista dengan lirih.


Tanpa menanggapi permintaan Rista, Zian sigap menelusup ke sela leher Rista. Mengecup leher itu berulang kali, membuat sang pemilik leher sedikit mendesah. Suara desahan yang membuat Zian tak bisa menahan hasrat dalam dada yang semakin bergejolak. Zian cepat membuka pakaiannya. Menindih sang istri, menahan beban tubuhnya dengan kedua tangan. Kemudian Zian menunduk mendekatkan bibirnya di telinga Rista.


"Aku gak mau ada gangguan sayang, jadi biarin aja pasti bukan hal penting. Kita lanjutin, okey?" bisik Zian.


Meski bisikan Zian membuat Rista sedikit kaget, tapi wanita itu tersenyum malu-malu sembari mengangguk perlahan.


Drrrtttt ... Drrrtttt ... Drrrtttt ...


Diabaikannya suara getar ponsel oleh dua insan yang sedang bercinta memadu kasih itu. Tak mereka hiraukan suara getaran yang terus-menerus. Zian benar-benar melarang Rista untuk mengangkat ponsel Zian. Mereka asik dengan kegiatan mereka. Karena kesal, Zian sejenak beringsut dari posisinya kemudian mematikan ponsel yang terus bergetar. Setelahnya ia kembali mendekap sang istri serta menghujani wanita itu dengan puluhan cium di setiap jengkal tubuhnya.


Sementara itu, orang di balik telpon sungguh dibuat kesal atas tindakan Zian yang memutuskan panggilanan dan sekarang ponsel Zian malah tak aktif.


Wanita itu melempar ponsel ke atas kasur. Wajahnya terlihat geram kemudian mengusap rambut ke belakang dengan kasar.


"Sial! Kenapa dia matiin ponsel, coba? Dia benar-benar mau hina aku! Kenapa juga ibu terima uang itu." Wajah Akira terlihat frustasi.


Mencoba tenang Akira duduk di tepi kasur. Melirik sekilas ponsel yang tak berdering. Harapnya Zian akan balas menelpon, tapi ternyata tidak. Akira menunduk lesu.


"Kenapa?" tanya seseorang yang membuat Akira mengangkat wajahnya.


Akira melengos tak menghiraukan pertanyaan sang ibu. Berdiri untuk menghindar dari ibunya. Namun, tangan Akira ditahan saat akan berjalan melewati Yuni Ibunya.


"Kenapa? Ibu tanya sama kamu. Jangan pergi gitu aja, gak sopan kamu ditanya sama ibu main pergi aja!" tegas Yuni.


Akira melepas tangan ibunya perlahan. Menatap lekat sang ibu kemudian.


"Maaf bu, ibu bicara kesopanan. Terus apa yang ibu pinta dari Zian itu apa itu bentuk kesopanan, bu? Ibu udah minta uang sebanyak itu. Apa ibu pikir itu sopan?" Mata Akira tiba-tiba beralih pandang melihat tas yang ditenteng sang ibu. "Ibu mau kemana?" tanya Akira heran.

__ADS_1


"Pulang." singkatnya kemudian Yuni mengambil ponsel di atas meja. "Kamu juga gak mau dengerin omongan ibu. Lagi kamu pikir Zian itu salah ngasih uang ke ibu? Dia benar kok, dia tahu harus berbuat apa. Seharusnya kamu bisa lebih tarik perhatian dia, supaya bukan cuma uang ini yang dia kasih. Supaya kamu dapat hak kamu sebagai wanita yang pernah dia hamili." sinis Yuni lalu berbalik. Membuka pintu dan pergi keluar.


Akira yang ditinggalkan Yuni kembali diam terpaku. Merasa marah sekaligus kesal. Ibunya yang memang selalu keras kepala dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang membuatnya merasa khawatir akan kelanjutan hidupnya. Ibunya nekad meminta uang pada Zian saat ini, lalu nanti? Akira sangat khawatir ibunya akan lebih nekad. Ditariknya nafas sekuat tenaga. Berusaha berpikir positif untuk detik ini adalah jalan terbaik yang bisa Akira lakukan.


__ADS_2