
Mentari kini telah beralih tempat. Semula berada pada puncak hingga panasnya menyengat kulit dan kini dia telah beralih lebih teduh. Sore yang cerah, tapi tak tampak bagi Rista hanya udara sejuk yang mampu ia rasakan.
Di Sore itu ia tengah mendengarkan musik menggunakan earphone. Rista hanya termenung dengan lantunan lantunan lagu yang setia menemaninya dalam rasa sepi juga gelap yang tiada henti.
Halaman belakang rumahnya adalah tempat terbaik untuk dia termenung. Duduk dikursi kayu disana merasakan sejuknya sang udara sore.
Dibalik pintu kaca menuju halaman belakang, Tanika menatap Rista.
Tanika sang ibu tak mampu melakukan apa apa sekarang. Rasanya pilihan untuk menjodohkan sang anak adalah mimpi buruk bagi putri sulungnya itu. Rista sudah mengatakan tadi, dia hanya ingin waktu sendiri. Ibunya sendiri tak bisa menghiburnya. Sosok yang biasa mencairkan suasana hatinya tengah pergi ke Singapura. Yah, Farislah orangnya, tapi pria itu sudah meluncur ke Singapura untuk membatalkan perjodohan yang direncanakan Juan ayahnya. Tinggal lah Tanika juga Diana yang memang tak pandai membujuk hati Rista.
Tanika menghela nafas merasa bersalah juga sedih melihat keadaan Rista. Tak terasa air mata jatuh dari matanya. Sulit sekali rasanya melupakan atau tak berpikir apa yang terjadi pada Rista adalah bukan kesalahan nya. Selalu saja Tanika merasa putrinya itu cacat karena kesalahan nya dimasa lalu.
Seseorang mengelus lembut kedua bahu Tanika dari belakang. Siapa lagi? Kalau bukan Diana. Putri keduanya itu selalu menjadi pengobat atas penyesalan masa lalunya.
Diana tersenyum,
"Ma," gadis itu berjongkok, lalu menghapus air mata sang ibu.
"Mama jangan sedih! Kak Rista cuma butuh waktu. Dia pasti sedih tapi itu gak akan lama ma. Aku yakin karena Kak Rista adalah wanita yang kuat." Diana mencoba menenangkan hati Tanika. Hal itu membuat Tanika terharu. Sang pemilik alam telah memberinya dua putri cantik yang sangat hebat.
Tanika memeluk putri keduanya itu. Diana membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.
Tok tok tok ..
"Assalamualaikum." Ucap seseorang dibalik pintu rumah itu. Sepertinya ada seorang tamu datang ke kediaman Keluarga Faris.
Diana melepaskan pelukan itu, lalu kembali menghapus air mata Tanika. Ia meminta izin kepada ibunya untuk membuka kan pintu.
"Ma, aku buka pintunya ya!? kayanya ada tamu deh. Mama jangan sedih lagi! Kalau mama sedih Diana juga sedih ma." Ucap Diana mengerucutkan bibir diujung ucapan nya.
Tanika tersenyum melihat itu. Diana selalu saja menjadi gadis manja yang imut.
"Ya mama gak sedih kok. Udah jangan manyun jelek nanti." Tanika mencubit pipi mulus Diana.
Diana kembali tersenyum. Diapun beranjak untuk membuka pintu yang memang sedari tadi tak henti diketuk oleh orang diluar sana. Entah siapa orang itu,bDiana benar benar merasa kesal mendengar nya mengetuk ngetuk, seakan tak mau sabar menunggu.
Ceklek,
Diana merubah wajah cemberutnya menjadi senyum lebar bahagia.
"Kak Satya!! Kaka kesini ngapain? Mau ketemu aku ya?" Tanya Dia begitu antusias.
Ya, Satya orang yang datang ke rumah itu. Satya sendiri adalah teman Rista juga Diana sedari kecil. Karena kedua orang tua mereka berteman itu jugalah yang menjadi alasan mereka begitu akrab hingga kini. Satya adalah nama panggilan saja, nama lengkap Satya sendiri adalah Satria Armadian. Pria itu hanya memiliki selisih umur tiga tahu dengan Diana.
"PD!" ketus Satya yang memang biasa seperti itu.
Diana seketika cemberut,
"Terus mau ketemu siapa? Kak Rista?" Tanya Diana tak kalah ketus.
"Iya dong." Jawab Satya dengan senyum lebar.
"Idih .. awas aja kak Satya!! Jangan jadi PHO kak!! Kak Rista itu udah mau tunangan Kaka jangan macem macem." Jelas Diana, melipat kedua tangan dibawah dadanya bersikap seolah memperingati.
"Ye .. siapa yang mau jadi PHO aku mau jadi PTR." Jelas Satya tak mau kalah.
Diana mengerutkan kening,
"Apa PTR?"
"Pasangan Terbaik Rista ..ciaahh .. keren kan?" Satya dengan percaya diri sembari mengusap rambut nya kebelakang.
__ADS_1
"Ieyuhhh .. " Diana memutar bola mata merasa konyol dengan jawaban Satya.
"Terus dimana Kak Rista? Ada Dirumah? Gak dibawa kencankan sama tunangan?" Sederet pertanyaan Satya membuat Diana menghela nafas kesal.
"Gak. Kak Rista lagi dihalaman belakang, dia lagi pengen sendiri. Soalnya tunangannya tadi ..Eh ups!" Diana cepat menutup mulut dengan tangan kanan merasa dia sudah keceplosan. Dia yang tadi serius bercerita kini dia seribu bahasa.
Satya merasa heran kenapa gadis itu diam tak melanjutkan ceritanya.
"Kenapa tunangan nya? Cowoknya jelek? atau bibir nya sungging. Ada tompel ya?" Tanya Satya membuat Diana mengerutkan dahi. Entahlah pria dihadapannya itu selalu saja konyol. Bercanda dikala pembicaraan yang serius.
"Gak. Gantengan dia malah daripada kak Satya."
"What??! No no .. gak mungkin ada cowok yang ngalahin kegantengan seorang Satria Armadian." Kembali dengan narsis nya Satya mengusap rambut depannya ke belakang.
"Dasar narsis!"
Satya menaik turun kan alis tepat dimuka Diana.
"Tapi gantengkan?"
Diana mendorong wajah itu dengan satu tangannya,
"Dasar narsis!! Sana sana pulang!! Bukan nya seneng yang ada Kak Rista bakal sebel denger kenarsisan kamu itu."
Diana mendorong Satya hingga teras,
"Sana pulang!!" Diana masih mendorong Satya.
"Tapi Di.. aku mau ketemu Kak Rista." Satya sempat menoleh, tapi dia mendorong wajahnya itu.
"Udah sana pulang!! enek aku liat wajah Kaka!!"
Mendengar keributan di depan rumah. Tanika yang sedang mencuci tangan, segera menghampiri dua insan yang tengah ribut tak jelas itu.
"Eh Tante, Assalamualaikum Tante."
"Waalaikumsalam, kamu sama siapa kesini?" Tanika celingukan mencari sosok lain yang ikut dengan Satya. Barang kali ada Banu atau Sisil kedua orang tua Satya.
"Sendiri Tan."
"Oh,mama papa kamu gak ikut?" Tanya Tanika menatap anak tunggal dari sahabatnya itu.
"Gak Tan, mama sama papa lagi ada urusan." Jawab Satya dengan senyum ala ala malu gitu.
"Kamu mau ketemu Rista?" Tebak Tanika yang memang benar.
Dari dulu Satya dan Rista memang sudah dekat bahkan sedari kecil. Maka tidak salah jika Tanika sudah bisa menebak kedatangan Satya.
"Iya Tante," Jawab Satya masih dengan senyumnya.
"Oh ya udah ayo masuk!!" Pinta Tanika mendorong roda kursinya, lalu masuk duluan.
Satya yang mendapat lampu hijau dia dengan segera mengikuti Tanika, sebelumnya dia menunjulurkan lidah kearah Diana merasa dia menang karena dapat masuk ke dalam rumah.
"Wleee .. boleh masuk, dadah burung beo..." Satya mengacak rambut Diana, lalu berlalu masuk rumah.
Diana terlihat kesal. Gadis itu membetulkan rambutnya.
Alasan Satya memanggil gadis itu Burung Beo adalah karena Diana adalah gadis yang bawel. Satya senang sekali membuat gadis itu cemberut. Dia senang menggoda Diana yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Diana mengulas senyum setelah beberapa saat Satya pergi. Rupanya Diana memang tak menganggap Satya sebagai kakak, tapi sebagai pujaan hati. Sering kali Diana merasa begitu bahagia, ketika Satya menggoda seperti halnya tadi.Tapi sayang, Satya memang tak mencintai Diana. Pria itu lebih tertarik pada Rista kaka Diana. Kecantikan Diana rupanya tak memikat hati Satya, tapi kelembutan Rista lebih menarik hatinya.
__ADS_1
Diana tahu itu dia hanya ingin Satya bahagia. Meski sering dia terluka saat melihat kedekatan Satya dengan kakaknya. Sebenarnya saat mendengar Rista akan dijodohkan itu adalah kabar gembira bagi Diana. Dia bisa lebih dekat dengan Satya, tapi ternyata Diana harus bersabar lebih lama lagi. Toh, ada pepatah mengatakan 'kalau jodoh tak kan kemana'.
Diana kembali ke dalam rumah setelah puas senyum senyum sendiri.
Sementara itu, Satya ikut duduk di samping Rista di halaman belakang rumah.
Rista tak menyadari kedatangan Satya, tentu karena kedua telinga nya ditutup oleh earphone yang ia gunakan.
Satya mencabut earphone di telinga Rista, membuat gadis itu kaget dan meraba raba ke samping.
"Siapa?" Tanya Rista.
"Ayo Tebak!" Satya dengan sengaja sedikit membekam mulutnya, agar suaranya berubah dan berbeda didengar Rista.
"Satya!!" Kesal Rista, karena telah dicabut earphone secara tiba tiba oleh Satya.
"Yahh .. kok tahu sih!! Padahal kan udah ditutup mulut." Keluh Satya terdengar kecewa karena penyamarannya gagal.
"Mau kamu tutup mulut juga aku tahu itu suara kamu Sat! Kita kenal lama dan aku tahu sifat kamu kaya apa, kalau bukan kamu siapa lagi yang suka gitu," Jelas Rista.
"Emmm gitu ya?! Aku emang spesial kan? Paling beda gitu dari yang lain." Goda Satya, tak lupa dengan menaikkan alisnya.
"Beda apanya?" Rista mulai tersenyum malu. Tak bisa dipungkiri memang, Satya punya tempat tersendiri di hati nya.
"Ya beda, Bebek sama Kuda. Hihi."
Rista terlihat kesal.
"Apa sih masih aja bisa bercanda. Aku serius tahu! Lagian candaan kamu itu garing. Gak lucu!" Rista cemberut.
"Ah masa? Tapi Kak Rista suka kan aku godain hehe.. " Satya mulai cengengesan,
"Apaan sih!" Rista kembali tersenyum tersipu malu.
"Serius deh kak. Kak Rista cantik deh hari ini." Puji Satya kemudian.
Rista tersipu malu lagi.
"Tuh kan senyum senyum, idih... Tambah cantik!!" Satya terus saja menggoda Rista. Gadis itu semakin malu, hingga ia memukul mukul Kaki Satya dengan tongkat putih nya.
Tuk tuk ..
"Aduh aduh Kaka kena! Sakit tahu! Salting biasa aja kali! Gak usah mukul!!" Satya mengelus kakinya yang memang terkena pukulan tongkat Rista.
Rista berhenti memukul.
"Kena gitu? Duh maaf, abis kamu yang duluan, jadi aku keselkan?"
"Sorry kak, tapi aku serius kok. Kaka cantik hari ini, make up Kaka bagus. Jadi gimana udah tunangannya?" Kini wajah Satya jadi serius.
Rista kembali murung. Tapi,ia mencoba tersenyum meski senyum yang getir.
"Gak jadi Sat." Singkat Rista.
Satya yang melihat perubahan ekspresi Rista, ia mencoba mencairkan suasana.
"Kak Rista jangan sedih! Dia mungkin memang bukan jodoh Kaka. Kaka harus yakin ada orang yang sudah Allah takdir kan untuk kaka jadi pendamping sekaligus cahaya penuntun hidup Kaka." Jelas Satya. "Dan aku berharap itu aku kak." Lanjut Satya dalam hatinya. Entahlah Satya memang tak berani mengungkapkan perasaan nya itu. Ada rasa takut, rasa takut akan kehancuran persahabatannya hanya karena rasa cinta yang ia miliki, jika Satya memang mengungkapkan perasaannya.
Tanika tersenyum merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Satya.
"Makasih Sat, kamu selalu jadi sahabat terbaik. Sahabat yang selalu ada disaat aku terluka atau bahagia."
__ADS_1
Satya tersenyum mendengar itu.
"Oh iya aku punya sesuatu buat kak Rista .."