
Dengan memilih paket One Stop Wedding di salah satu hotel bintang lima di Bandung. Kini Zian dan Rista yang sudah melakukan akad satu hari yang lalu itu, melaksanakan resepsi pernikahan disana. Suasana Ballroom hotel dengan dominasi warna gold juga lampu-lampu indah yang menghiasi setiap sudut memberi kesan mewah juga romantis. Juga jangan lupakan tamu-tamu yang silih berganti berdatangan.
Malam itu resepsi dilakukan. Banyak para tamu berdatangan. Dikarenakan Faris adalah salah seorang Direktur Utama PT. PRU IV Cilacap, tentu banyak jajaran para direksi juga para menteri yang datang ke pesta itu. Perusahaan Faris yang merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. PR-tm Indonesia, membuatnya mengundang banyak rekan bisnis juga para direktur lainnya. Suasana semakin meriah dengan adanya perfomance dari beberapa penyanyi ibu kota. Bergantian mereka menyanyikan lagu romantis khas untuk hari pernikahan.
Suasana yang begitu bahagia itu justru membuat Diana merasa sedih, karena ketidak sanggupannya bercerita pada sang kakak, akhirnya membuat sang kakak harus menikah dengan pria bermuka dua yang pandai berdusta. Diana memilih melenggang pergi menuju restoran yang sudah khusus di-booking untuk acara resepsi itu. Diana duduk di salah kursi disana, mengambil segelas jus berwarna merah muda. Pikirannya masih terfokus pada Rista, ada perasaan takut kakaknya itu akan terluka. Tiba-tiba ponsel Diana berdering, gadis itu merogoh ponsel di tas selempang berwarna gold miliknya.
"Ya kak." Jawab Diana setelah menaruh ponsel di samping telinga.
"Katanya mau nengok. Sampai ampir tujuh hari aku sakit gak dateng juga." Keluh Satya di balik telpon.
Diana menepuk jidat, ia lupa akan janjinya menengok Satya. Saat malam Diana pergi ke Supermarket tempo hari. Diana melupakan satu hal. Yaitu Satya, Satya diminta menjemputnya, tapi Diana malah pulang bersama Jaka karena ulah Zian malam itu. Tentu saja, malam itu yang memang hujan deras setelah Diana pulang. Gadis itu langsung tidur saja dan tak ingat dengan Satya yang ternyata menunggunya. Bahkan, sampai Supermarket tutup. Satya menunggu disana sambil kedinginan, apalagi hujan memang begitu deras malam itu. Hal itulah yang membuat Satya sakit, dia demam juga tipes sudah hampir seminggu. Diana tahu setelah Satya menelponnya dua hari setelah kejadian itu. Diana juga berjanji akan menengoknya. Namun, kebimbangan yang Diana sedang alami membuatnya lupa janjinya dengan Satya.
Diana cengengesan,
"Hehe, maaf kak lupa. Ya deh, aku nengok Kaka. Kalau perlu malam ini juga aku kesana." Ucap Diana yakin. Dia memang ingin pergi dari tempat itu. Perasaan bersalah menyelimutinya melihat kakaknya menikah.
"Gak usah," Cegah Satya dengan nada sedih.
"Loh, kenapa kak? Mau ditengokin gak mau, tadi aja nagih-nagih pengen ditengokin. Gak konsisten banget sih!" Gerutu Diana memanyunkan bibir.
"Beo.. Kamu itu lagi ada di acara pernikahan kakak kamu. Terus kamu mau keluar gitu? Gak sopan." Jawab Satya menerangkan.
Diana cemberut, tak suka dengan penolakan Satya. Tidak tahu saja Satya betapa kesalnya Diana. Pria Raja Modus itu menang sekarang. Berhasil menikahi kakaknya.
"Ya udah kalau gak mau." kesal Diana.
"Eh, kok gitu? Harus tetep jenguk dong!" Desak Satya, membuat Diana memutar bola mata.
"Tadi gak mau, sekarang harus. Maunya apa sih?" Gerutu Diana lagi.
"Hehe.. Maksudnya Beo, kamu nengok aku besok. Aku butuh kamu ni." Tegas Satya nada terakhirnya memelas.
Diana sedikit terenyuh mendengar kalimat terakhir Satya. Dia bilang 'butuh kamu'. Diana menarik kedua sudut bibirnya.
"Em, butuh aku sekarang? Kemaren-kemaren kemana? Biasanya butuh Kak Rista." Ungkap Diana mengingat Satya memang hanya selalu menanyakan Rista.
"Dia udah milik orang. Gak usah bahas dia! Sakit hati tahu!" Ujar Satya jujur pada Diana.
Diana membulatkan bola matanya, sedikit kaget pria itu berani blak-blakan. Memang Satya selalu bercerita perihal Rista, bahkan tentang perasaannya pada Rista. Namun, untuk mengatakan sakit hati. Bukankah itu seperti memberi peluang agar Diana menyembuhkannya?
Diana tersenyum manis.
"Ya udah. Okey, aku besok nengok kakak. Kakak mau dibeliin apa? Apel, Anggur atau bubur ketan kesukaan kakak?" Tanya Diana terdengar semangat ingin menengok Satya.
"Gak usah, aku cuma butuh kamu. Itu aja udah cukup kok." Jawab Satya, kembali membuat Diana terperangah.
Senyumnya kembali menunjukkan rasa malu. Ada getaran di hatinya, getaran bahagia saat Satya mengatakan itu. Diana yang selalu menanti kata manis dari Satya dan malam ini ia mendapatkannya. Diana senyum-senyum sendiri, dia lupa sedang telponan dengan Satya.
"Di!" Panggil Satya.
Diana terkejut seketika, ia mengumpulkan kesadaran dari lamunan. Mencoba menjawab dengan nada tenang dan biasa.
"Iya kak."
"Kamu denger kan apa yang aku bilang?"
"Denger kok Kak, ya aku bakal dateng besok." Jawab Diana cepat.
"Ya udah, kamu lanjutin pestanya! Aku tutup ya! Assalamualaikum."
Tutttttt ... Satya langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban salam dari Diana. Diana menjawab meski sudah terputus.
"Waalaikumsalam." Perlahan ponsel itu ia turunkan dari samping telinganya. Ia kembali menaruh ponsel di tasnya. Beralih mengambil jus yang ia bawa tadi. Diana baru ingat, ia belum menyentuhnya sama sekali.
"Diana?" Sapa seorang pria bersetelan kaos putih dibalut jas hitam.
__ADS_1
"Ya," Diana mendongkang, seketika menghentikan meminum jus yang hampir ia sedot itu.
Pria itu tak segan segera duduk di hadapan Diana.
"Kevin. Lo lupa ya sama gue?" Tanya pria itu.
Diana terkejut, ia menaruh segera gelas jus yang tak jadi ia minum. Bagai sebuah keajaiban, Diana yang memang sedang ingin mencari sosok Kevin pria di masa lalunya itu. Kini pria itu muncul tiba-tiba di hadapannya. Sungguh suatu anugerah bagi Diana.
"Kak Kevin?" Mata Diana berbinar menatap Kevin. "Serius Kak Kevin?" Tanya Diana seolah tak percaya.
Pria itu tersenyum.
"Iya, gue Kevin. Kenapa lo kaget kaya gitu?"
"Akhirnya," Diana tersenyum bahagia. "Aku seneng banget ketemu kakak." Saking senangnya Diana repleks menggenggam tangan Kevin.
Kevin sedikit terperanjat, ia tak percaya dengan reaksi yang Diana tunjukkan. Ia sedikit melirik tangannya yang digenggam Diana, merasa sedikit risih.
"Eh, Sorry kak." Diana melepaskan tangan Kevin, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga. Malu sekali Diana, saking senang, ia lupa kalau Kevin orang yang memang cukup asing untuk Diana.
Kevin nampak tak masalah, ia tersenyum. Memilih mengalihkan pembicaraan agar Diana tak malu juga.
"Em, ngomong-ngomong. Kenapa lo seneng banget ketemu gue?" Tanya Kevin penasaran.
Diana terlihat berpikir sesaat.
"Em, soal itu .." Diana sedikit ragu, ia lalu mencondongkan badan ke arah Kevin, menaruh telapak tangan di samping pipinya lalu berbisik.
"Ini soal kencan buta tiga tahun lalu. Aku mau tanya sesuatu sama kakak."
Seketika Kevin salah tingkah, ia memutar mata mengeliling melihat sekitar. Cukup kaget juga Kevin mendengar permintaan Diana. Diana yang tak melihat tingkah Kevin, karena sibuk mengamati sekelilingnya takut ada orang yang mendengar itu. Ia hanya kembali menegakkan badan dan berusaha bersikap biasa.
"Gimana kak?" Tanya Diana berharap Kevin mengerti.
"Kakak kenalkan sama cowoknya? Kalau kakak gak kenal, gak mungkin kakak ke pesta ini. Iya kan Kak?" Tanya Diana seakan menyudutkan, membuat Kevin tak bisa mengelak. Ia langsung mengerti maksud Diana.
"Iya, aku kenal Kak Zian." Jawab Kevin.
Diana menatap dengan tatapan menyelidik.
"Terus kenapa dulu kakak kenalin dia ke aku namanya Mas Alan?" Tanya Diana heran.
"Itu dia yang minta. Dia lagi frustasi waktu itu dan minta kenalan cewek. Kebetulan lo mau ikut tawaran kencan buta. Jadi gue kenalin dia sama lo." Jelas Kevin apa adanya.
"Kakak tahu gak? Kalau dia itu suka tidur sama cewek-cewek?"
Seketika wajah Kevin yang semula panik, berubah seakan tak percaya.
"Jadi kamu udah tidur sama dia?" Tanya Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Diana menarik wajah, sedikit kaget dengan pertanyaan Kevin. Pasalnya wajahnya yang dulu tegang kini menunjukkan ekspresi yang tak Diana mengerti.
"Kenapa kakak nanya gitu? Gak! Aku ga tidur sama dia. Justru aku mau tanya sama kakak, apa kakak tahu cewek yang tidur sama dia? Soalnya dia terus nuduh aku yang tidur sama dia. Aku gak terima kak." Jelas Diana sangat kesal.
Entah kenapa, Kevin terlihat muram ekspresi wajahnya kembali berubah, seolah moodnya hilang mendengar jawaban Diana.
"Oh, pantesan." Gumam Kevin pelan.
Diana tak bisa mendengar gumaman Kevin, karena penasaran Dianapun bertanya.
"Apa kak? Kakak bilang apa? Aku gak denger."
Kevin memainkan mimik wajah seolah tak mengatakan apa-apa.
"Em, enggak! Gue gak ngomong apa-apa." Kevin mencoba tenang dengan membetulkan posisi duduknya, ia menaruh kedua tangan di atas meja, menatap serius Diana. "Soal cewek itu, lo tenang aja! Gue bakal bantu selidiki siapa ceweknya. Waktu itu gue gak tahu, lo sampai mau di ajak tidur sama dia. Ngomong-ngomong, waktu itu lo pulang sama siapa?" Seaakan mengalihkan pembicaraan, Kevin membahas masa lalu.
__ADS_1
Diana sedikit curiga menyipitkan mata, tak mengerti. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan Kevin. Tapi, untuk saat ini. Itu gak penting bagi Diana. Yang terpenting sekarang, Kevin mau menolongnya mencari tahu siapa wanita itu. Dengan begitu, Diana bisa terlepas dari tuduhan tak beralasan dari Zian. Diana mengambil jus dan meminumnya. Menenangkan diri mencoba berpikir positif.
"Oh soal itu, aku pulang sama Mas-mas. Siapa ya namanya ya??...." Diana menaruh gelas, berpikir sesaat. Lalu menjentikkan jari. "Oh ya. Hendri namanya." Jawab Diana pasti.
Kevin mengeryitkan dahi.
"Kakak?"
"Maksudnya?" Diana tak mengerti.
"Gak, maksud gue kakak gue namanya Hendri. Waktu itu juga dia emang ke Club nganter Kak Zian. Dia biasa nunggu Kak Zian kalau mabuk. Dia itu asisten pribadi Kak Zian." Jelas Kevin.
"Oh, aku kira apa? Oh ya, Kakak kesini sama siapa?"
"Gue sama kakak gue, tapi dia udah pulang duluan. Katanya ada urusan di Cilacap." Jawab Kevin. Tiba-tiba pria itu berdiri. Membuat Diana mendongkangkan wajah menatap Kevin.
"Kakak mau kemana? Udah mau pulang?" Tanya Diana melihat pria itu merapikan jas.
"Iya, gue harus pulang juga. Lo jangan khawatir soal cewek itu! Gue bakal bantu selidiki." Kevin menengadah tangan ke arah Diana. "Mana ponsel Lo!" Tanya Kevin meminta ponsel Diana.
"Buat apa?" Diana menatap tak mengerti.
"Buat save nomor gue. Kalau ada kabar, gue bakal kabarin lo." Jelas Kevin pasti.
Diana mengambil ponsel di tasnya.
"Ini!" Diana memberikan ponselnya yang dengan senang hati Kevin menerimanya.
Beberapa detik Kevin dengan lihai mengetik di ponsel Diana. Diana nampak memperhatikan dengan seksama. Disodorkannya ponsel itu setelah Kevin selesai mengetik.
"Ini!" Diana mengambil ponsel. Kevin kembali berucap. "Nomor gue udah gue save di ponsel lo. Jadi, lo tenang aja. Gue bakal bantu lo. Secepatnya gue kabarin lo kalau gue udah dapet informasi." Tegas Kevin memberikan kembali ponsel Diana.
Diana melirik ponsel sejenak lalu menatap Kevin juga tersenyum padanya.
"Okey, kalau gitu kak. Thanks ya! Kakak hati-hati di jalan." Ucap Diana ikut berdiri kemudian. Gadis itu bersalaman sekilas sebelum Kevin beranjak pergi.
°°°
Acara resepsi di langsungkan selama hampir tiga jam malam itu. Karena acara resepsi di siang haripun sudah dilaksanakan siang tadi dengan konsep outdoor. Resepsi malam ini hanyalah bagian dari rangkaian resepsi dari tadi siang. Setelah semua para tamu pulang dan ada sebagian pula yang menginap, dikarenakan mereka adalah rekan bisnis luar kota atau luar pulau. Rista juga Zian diantar ke sebuah kamar VVIP khusus yang memang disediakan untuk kedua mempelai.
Zian menuntun Rista duduk di kasur putih berhias taburan mawar itu. Sedari tadi Zian memang selalu menggandeng tangan Rista, meski Rista sudah melarang. Tapi, Zian berdalih itu adalah keharusannya sebagai bentuk menjaga Rista. Padahal, mungkin itu hanya carmuknya saja si Zian.
"Makasih mas. Aku udah bilang gak usah tuntun aku kaya gitu, aku bisa jalan sendiri kok. Tongkat aku mana mas?" Rista meraba-raba samping. Zian yang tengah berdiri di samping Rista, mengambil tangan itu.
Digenggamnya tangan Rista.
"Tongkat kamu udah aku simpan. Jadi, kamu istirahat aja!" Zian mengelus lembut rambut Rista. "Kamu pasti cape kan? Dari tadi kita terus berdiri."
Rista tersenyum malu diperlakukan seperti itu oleh Zian. Gadis itu menunduk menunjukkan rona merah di pipi.
"Iya mas. Aku mau mandi dulu mas." Rista berdiri.
Zian ikut berdiri masih dengan tangan Rista yang ia genggam.
"Aku anter kamu!"
"Boleh mas." Rista masih dengan senyum manisnya.
Zian menuntun gadis itu menuju kamar mandi. Kamar mandi di kamar hotel itu terletak di belakang tempat tidur yang terhalang satu tembok berwarna sedana dengan ranjang disana. Sampai depan pintu kamar mandi. Rista yang hendak membuka pintu mengurungkan niat, karena Zian meminta sesuatu pada gadis itu.
"Ris, aku mau bicara sesuatu." Pinta Zian terdengar serius.
"Apa mas?" Tanpa rasa curiga, Rista bertanya begitu saja. Bahkan masih dengan senyum dibibirnya.
"Sebenarnya ....
__ADS_1