
Zian memegangi sudut bibirnya yang berdarah.Ringisan masih terdengar dari mulutnya.
Suara ringisan yang dapat didengar baik oleh Rista.Gadis itu hendak mendekat. Tapi,Tanika masih menahannya.
Faris kembali menarik kerah baju pemuda itu menatap dengan senyum sinis.
"Masih berani deketin anak saya?" Tanya Faris untuk kedua kali.
Zian tak ingin menyerah.Ini menyangkut harga diri juga perusahaannya,dia berusaha bicara.Meski sudut bibirnya hampir robek karena ulah Faris.
"Shhhh .." Zian masih menahan perih diujung bibir.Tangannya sesekali menahan darah yang keluar dari sana.
"Saya tidak akan menyerah om."
Faris tersenyum sinis.Ia cukup puas dengan jawaban Zian.Dihempaskan nya kerah baju Zian dari cengkraman tangan Faris.
Zian menahan diri agar tak jatuh karena dorongan Faris.Satu tangannya masih setia memegang sudut bibir.Sesekali ia melihat darah yang menetes mengenai ujung jarinya.
"Ris,sayang kamu kesini!" Pinta Faris menatap anak dan istrinya.
Tanika menuntun gadis sulungnya mendekati Faris.
Rista nampak begitu khawatir.Apalagi setelah mendengar Zian meringis dan juga pukulan-pukulan dari ayahnya.Rista yakin sang ayah telah memukul pria itu.Kalau tidak mana mungkin Zian meringis kesakitan.
Faris menarik tangan Rista dengan lembut.Gadis itu kini berdiri disamping sang ayah.
"Berdiri yang tegak kamu!!" Pinta Faris menatap Zian yang mencoba berdiri,menahan perih disudut bibirnya.
"Lihat anak saya! Dia wanita yang kamu hina tempo hari.Tapi,kamu lihat! Karena kelembutan yang ia miliki dia rela menagis mendengar kamu yang saya pukuli."
Zian menatap Rista yang memang sudah berkaca-kaca.Lalu Zian beralih pandang menatap Faris.
"Saya akan izinkan kamu membawa anak saya pergi dengan syarat kamu harus benar benar jadi penuntunnya.Rista bukan sekedar butuh pendamping.Tapi,juga penuntun digelepannya." Jelas Faris.
Zian mendekati Faris.Ia menggenggam tangan Faris dengan erat.
"Saya minta maaf om atas perlakuan saya.Tapi,saya serius untuk jadi pendamping juga penuntun dikehidupan Rista om.Saya akan menikahinya om,saya akan membuktikan."
Faris menghempaskan tangan Zian,ia mendorong Rista perlahan ke hadapan Zian.
"Jaga anak saya dengan baik! Buktikan apa yang kamu katakan itu.Kalau bukan karena permintaan Rista,saya tidak akan pernah mengizinkan kamu membawanya keluar." Tegas Faris.Lalu menarik kepala Rista perlahan dan mengecup keningnya.
"Kamu hati hati dijalan ya sayang!"Ucap Faris,
Rista tersenyum manis.Ia begitu senang ayahnya mengizinkan nya pergi.Meski harus mendengar Zian dipukuli terlebih dahulu oleh Faris.Rista mengulurkan tangan,hendak mencium tangan sang ayah.Faris yang mengerti segera menarik tangan anaknya itu.Rista pun mencium tangan Faris.Lalu Tanika mendekat mengelus lembut bahu Rista.Sama halnya dengan Faris,Tanika mengecup kening anaknya itu.Rista juga mencium tangan sang ibu setelah merasa kan genggaman lembut darinya.
"Terima kasih pa,ma.Kalian udah izinin aku pergi." Ucap Rista.
Kini giliran Zian mencium tangan kedua calon mertuanya itu.
"Terima kasih om, sekali lagi saya minta maaf." Ucap Zian setelah mencium tangan Faris.
"Ingat pesan saya! Kalau kamu sampai ingkar janji.Bukan cuma wajah kamu yang saya pukul!" Pesan Faris,lebih terkesan seperti ancaman.
"Baik om,saya mengerti." Zian menatap ibunya Rista.
"Sudah pergi saja! Keputusan ayah Rista adalah keputusan saya juga." Tegas Tanika melipat kedua tangan dibawah dadanya.
"Terima kasih om, Tante.Kalau gitu,saya izin bawa Rista pergi." Pamit Zian.Lalu menggenggam tangan Rista.
"Kita berangkat ya ma pa.Assalamualaikum." pamit Rista.
Lalu gadis itu dituntun keluar oleh Zian, setelah mendengar jawaban salam dari kedua orang tuanya.
°°°
Didalam mobil Zian nampak meringis.Hatinya tak henti menggerutu.Kesal? Tentu saja ia kesal.Karena harus menerima pukulan dari ayah Rista.
__ADS_1
"Shhhh.. " Zian meringis menyusut darah disudut bibirnya.Pria itu melihat darah yang menempel diujung jemarinya.
"Sial!! Kasar banget tuh orang tua!! Buat si buta gue sampai kaya gini.Tunggu!! Enak saja buat si buta,ini untuk perusahaan gue,bukan sibuta ini." Zian melirik sesaat Rista yang jelas tidak melihat nya.
"Shhhh.."
Ringisan dari mulut Zian dapat Rista dengar.Gadis itu khawatir,ia meraba raba samping dimana Zian tengah duduk sekarang.
"Mas!" Panggil Rista meraba raba,hingga gadis itu dapat menyentuh bahu Zian.Tangan mungilnya mulai meraba wajah Zian.Tak ada penolakan dari Zian,dia malah menatap gadis buta yang tengah mencoba menggapai wajahnya.
Zian diam terpaku.Kala sepasang mata dihadapannya itu berkaca.Sentuhan lembut jemari Rista menelusuri pipi Zian.
"Mas,aku minta maaf.Apa Mas Zian terluka?" Tanya Rista mengelus pipi Zian.
Zian mencoba memalingkan wajah.Tapi,tetap menahan sakit disudut bibirnya.
"Gak,aku gak apa-apa.Ini gak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan." Ungkap Zian terdengar sungguh sungguh.Bahkan,hatinya sendiri Zian menggerutu atas apa yang dia ucapkan barusan.
"Apa apaan gue ini! Kenapa tiba tiba melow.Sudahlah! Ini harus segera berakhir.Gue harus segera menaklukkan hati wanita ini,supaya dia mau menikah sama gue dan semua aset gue bisa aman." Zian dalam hati mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Elusan lembut dari Rista masih Zian rasakan.Pria itu menyentuh punggung tangan Rista, menghentikan elusan dari jemari tangan Rista.
Tangan itu ia bawa ke hadapan nya,lalu mengecup lembut bagian telapak tangan Rista.Perlakuan Zian membuat Rista tersipu malu.Gadis itu mulai terlihat salah tingkah.Bahkan,mulutnya seakan terkunci untuk bicara.
"Kamu jangan khawatir sama luka aku.Udah seharusnya aku mengorbankan diri buat kamu." Ungkap Zian menggenggam erat tangan yang telah ia kecup itu.
Rista hanya bisa tersenyum tersipu malu.Ia menundukan wajahnya.Zian yang melihat itu dengan segera menarik dagu Rista.
"Kamu kenapa? Jangan malu seperti itu! Aku akan menjadi pendamping kamu kan.Ini sudah seharusnya aku lakukan." Jelas Zian.Rona malu terlihat dikedua pipi Rista.
Seakan mencari kesempatan.Zian mendekatkan bibirnya mendekati bibir Rista.Pria itu begitu berani hendak mencium Rista.Berharap dengan itu,hati Rista akan segera luluh.
Hembusan nafas Zian dapat Rista rasakan semakin mendekat.Rista merasa yakin pria itu hendak mencuri ciuman pertama nya.Apalagi perlahan tangan Zian menarik dagunya.Membuat Rista semakin yakin akan prasangkanya.
"Mas!" Rista tersadar memalingkan wajah kesamping.
"Kita mau kemana mas?" Tanya Rista mencoba menenangkan jantung yang meronta seakan ingin copot rasanya.
Jantung Rista berdebar kencang tadi.Saat Zian mencoba menciumnya.Rasanya seluruh aliran darahnya mengalir cepat.Berani sekali! Begitu kiranya pikir Rista.Untuk pertama kali ada pria yang berani mendekat.Bahkan, sangat dekat menurut Rista.Hingga deru nafasnya bisa ia rasakan.
Zian melepas dagu Rista.Ia sendiri pun mencoba tenang,karena rencananya yang gagal.
"Bagaimana kalau kita makan malam?" Saran Zian mulai menstarter mobil.
Rista tersenyum,
"Boleh mas."
Brummmmm ... Mobilpun melaju menjauhi kediaman Rista.Selama perjalanan,Rista hanya diam.Malu rasanya dia jika harus memulai pembicaraan.Lagipula,ia bingung harus bicara apa.Insiden ciuman yang gagal itu,masih terngiang ngiang diingatkan Rista.
Zian menghela nafas.Ia tak mencoba mengajak bicara Rista.Terlalu canggung setelah ia gagal mencium wanita itu.
Sesampainya di Restoran.Cukup mewah Restoran yang dipilih Zian.Bahkan,salah satu Restoran terbaik di Cilacap.Suasana juga merupakan outdoor menambah kesan romantis makan malam yang akan mereka lakukan.
Zian membuka pintu mobil.
"Kamu tunggu! Biar aku bukakan pintunya." Pinta Zian.Lalu berjalan memutari mobil,membuka pintu sebelah nya.
"Ayo!" Zian menarik lembut tangan Rista.Gadis itu kembali tersenyum tersipu malu.Merasa diperlakukan bak seorang putri raja oleh pangeran impiannya.
Zian tak henti mengenggam erat tangan Rista.Hingga sampai lah mereka dimeja makan yang sudah tersedia berbagai varian makanan.Zian menarik satu kursi.Menuntun gadis itu untuk duduk.Berikutnya,Zian ikut duduk disamping Rista.Tak ingin berhadapan dengan Rista.Pria itu lebih memilih duduk berdampingan dengan Rista.
"Mas,aroma nya enak.Kita mau makan apa mas?" Tanya Rista mulai meraba perlahan meja dihadapan nya.
Zian menahan tangan itu agar tak kembali meraba raba.
"Jangan sentuh apapun! Malam ini kamu harus makan dengan aku yang nyuapin kamu." Ucap Zian mengenggam tangan Rista.
__ADS_1
"Tapi mas.."
"Sshhtt .." Zian menaruh telunjuk dibibir Rista.Gadis itu seketika membungkam mulut. "Gak boleh nolak!" Zian menyendokkan nasi juga lauk pauk.Menyodorkan sendok itu hingga menyentuh mulut Rista. "Sekarang Aaa..." Zian mengisyaratkan agar Rista membuka mulut.
Am, Rista memakan satu suap dari Zian, mengunyahnya perlahan.
"Gimana enak kan? Kata orang makan dari tangan orang lain itu lebih enak." Ungkap Zian.
Terdengar tulus bagi Rista perlakuan Zian itu.Rista tersenyum.
"Enak mas.Makasih mas.Mas kok gak makan?" Tanya Rista berpikir.Jika Zian menyuapinya lalu bagaimana Zian?Apa dia tidak akan makan?
Zian diam sesaat,
"Aku makan juga, sekarang aku lagi makan." Bohong Zian.Padahal dia tidak mengunyah sama sekali.
Rista mencoba meraba piring dihadapan nya.Bukan satu tahun atau dua tahun gadis itu buta.Rasanya,tak sulit baginya untuk menemukan sendok dan mengambil sesendok nasi juga lauk pauk.
Zian hanya diam memperhatikan kepiawaian Rista menyendokkan makanan.Lalu menyodorkan kehadapan Zian,meski memang menyeleweng ke samping alias tak tepat ke arah mulut Zian.
"Kalau gitu,aku juga suapin kamu mas!" Pinta Rista tersenyum manis.
Zian menatap Rista sebentar.Ia memiringkan kepala, untuk meraih suapan dari Rista.Merasa Zian telah memakan suapan dari nya.Rista semakin tersenyum bahagia.
"Kamu pinter mas.Enak?"
Zian hanya mengangguk,
"Hmm." Jawab nya sambil mengunyah.
Selang beberapa menit.Zian dan Rista selesai makan malam.Zian berdiri,lalu menuntun Rista untuk ikut berdiri.Gadis itu merasa heran dengan perlakuan Zian.Padahal ia sedang menikmati alunan musik Jazz.Ia masih betah,apa Zian mau mengajaknya pulang?
"Kita mau pulang mas?" Tanya Rista.
Zian merangkul tubuh Rista membawanya menuju kedekat pagar penghalang antara Taman dan Resto.
"Gak,aku gak mau ajak kamu pulang.Sekarang kamu berhenti!" Pinta Zian.Pria itu lalu berdiri disamping Rista.
Kini mereka berdua tengah berdiri menghadap pemandangan taman yang indah di Restoran itu.Lampu taman yang menghiasi taman menghilangkan kesan gelap dimalam hari.Suasana yang tenang,karena ternyata Zian sengaja membooking Restoran itu.Hanya ada mereka berdua disana.Dengan diiringi lagu jazz romantis.
"Disini sejuk banget mas.Banyak pohon ya?" Tanya Rista.
"Hmm,bisa dibilang begitu.Oh ya,gimana boneka dari aku? Kamu suka?" Zian menatap gadis yang tengah menikmati udara sejuk malam hari.
"Suka mas.Makasih ya mas.Mas tahu darimana aku suka Boneka?" Tanya Rista mulai penasaran.Dari mana pria disamping nya itu tahu dia menyukai boneka.
"Tante Tanika yang bilang.Katanya kamu suka boneka.Bahkan,kamu suka tidur meluk Tedy boneka kamu.Ya kan?"
Rista tertunduk malu.Ternyata,ibunya sampai menceritakan itu.
"Kamu kasih nama apa boneka dari aku?" Tanya Zian lagi.
"Zian." Jawab Rista pelan.
"Oh ya!" Zian sedikit terkekeh. "Apa Zian bakal gantiin posisi Tedy?" Tanya Zian.Membuat Rista kembali memperlihatkan rona dipipinya.
"Mungkin." Jawab Rista malu malu.Suaranya pelan.Tapi,masih bisa didengar Zian.
Pria itu tersenyum menyeringai.Dia sudah menang rupanya.Hanya tinggal beberapa langkah lagi.Akan mudah baginya menaklukkan hati Rista.Lalu,menikahi wanita itu.Perlahan Zian mendekati Rista.Ia berdiri dibelakang Rista.
Gadis dihadapannya itu mulai merasa kan nafas Zian yang kini tepat berada disamping lehernya.Dua buah tangan berhasil melingkar sempurna diperut Rista.Zian mendekap wanita itu dari belakang.Menaruh dagunya dibahu kanan Rista.
Debat jantung didada Rista,mulai kembali tak karuan.Hembusan lembut nafas Zian, semakin membuat nya merasakan aliran darah yang cepat disekujur tubuhnya.Pengalaman pertama seorang pria menyentuhnya begitu dekat dan erat.Bahkan,hingga hangat tubuh pria itu dapat Rista rasakan.
"Untuk sekarang biarkan Zian yang meluk kamu." Bisik Zian lalu mengecup lembut leher Rista.
Rista kaget merasa kan kecupan Zian.Nafasnya mulai memburu.Ia menoleh perlahan kesamping kanan.Zian menyadari itu.Ia menatap Rista,lalu menarik dagu nya perlahan ....
__ADS_1