Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 24 : Ayah Bunda


__ADS_3

Sampai di Kantor, langkah Zian bergegas berjalan menuju ruangannya. Dibukanya jas kemudian menggantungnya di kursi kebesaran miliknya. Setelahnya Zian mengangkat gagang telepon. Menekan salah satu nomor disana.


"Hen, ke ruangan saya sekarang juga!" Titah Zian langsung menaruh kembali telpon tanpa menunggu jawaban Hendri.


Zian lalu duduk dengan menakupkan kedua tangan. Menahan wajahnya dengan kedua sikut ditaruh di atas meja. Mimik wajahnya seolah sedang berpikir. Terlihat gelisah dan terkesan tak sabar. Beberapa saat kemudian, seorang yang dinanti Zian masuk ruangan. Melangkah dengan tenang. Menunduk sesaat, seusai itu sedikit membungkuk memberi hormat seperti biasa. Zian turunkan kedua tangan yang menahan dagu. Berdiri cepat berjalan mendekati Hendri. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Tatapan penuh selidik ditunjukkan Zian saat sudah berhadapan dengan Hendri. Sementara Hendri masih mencoba tenang menatap Zian.


"Maaf tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hendri dengan tenang.


Kaki Zian melangkah ke kiri sedikit kemudian kembali ke tempat semula. Menatap Hendri sembari sedikit mendengus, tersenyum miring.


"Rupanya kamu belajar jadi pembohong juga. Saya minta alamat Akira Meysaras!" Pinta Zian tanpa mau basa-basi.


Hendri seolah menebak. Mengerutkan kening sebentar.


"Apa .." Seolah tersendat kalimat Hendri terhenti dan langsung dipotong Zian.


"Ya. Saya udah tahu. Saya heran sama kamu Hen! Kenapa kamu lebih milih bicara jujur sama adik kamu ketimbang saya atasan kamu? Apa salah kalau saya tanya siapa wanita itu? Atau saya emang gak berhak tahu?" Sejumlah pertanyaan dilontarkan Zian sembari berjalan mondar-mandir di depan Hendri.


"Maaf tuan. Bukan seperti itu, tapi ..."


Hendri ragu melanjutkan jawaban. Menunduk tak berani menatap atasannya yang bisa saja marah dan melempar barang apapun didekatnya.


"Tapi apa? Hah?" Sinis Zian sembari mendengus kesal. "Udahlah! Gak penting! Sekarang kamu cari tahu alamat wanita itu!" Titah Zian lagi setelah itu duduk kembali di kursi. Membuka laptop hendak melanjutkan perkejaan.


Kini Hendri berani mengangkat wajah. Merasa beruntung Hendri, karena Zian tak memarahi dia atau melempar benda tepat di hadapannya seperti yang biasa Zian lakukan. Hendri mengambil ponsel, mencari sesuatu di ponselnya.


"Maaf tuan, tapi saya sudah punya alamatnya." Kata Hendri sembari menyodorkan ponsel ke atas meja.


Zian menatap ponsel Hendri. Membawanya ke dalam genggaman. Dilihatnya foto rumah juga alamat lengkap Akira. Zian mengangguk-ngangkuk faham maksud Hendri menaruh ponsel di atas meja. Menyodorkan kembali ponsel ke hadapan Hendri. Pria itu kemudian kembali fokus pada laptop. Mengutak-atik keyboard di laptop itu.


"Kirimkan foto itu ke ponsel saya!" Pinta Zian tanpa menatap Hendri.


Hendri mengerti mengangguk lalu berpamitan untuk kembali bekerja. Zian terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Ia merasa lebih tenang, karena akhirnya mendapatkan alamat rumah Akira. Dengan begitu, Zian bisa segera menemui Akira dan mendapatkan kepastian atas isi surat yang telah ia baca.


°°°


Saat Matahari berada di puncak cakrawala. Rumah bergaya klasik dengan dominasi warna putih tengah di selimuti suara canda tawa dari dua insan yang tengah digoda Satya. Siang itu Satya datang berkunjung ke rumah Rista. Banyak yang Satya ceritakan hingga membuat Rista lupa akan kesulitannya menghadapi sikap Zian. Gadis itu seolah terhibur dengan kehadiran Satya. Bahkan Satya, iapun menggoda Chandra dengan terus mencubit pipi tembem bocah itu.


"Uhhh... Chandra chubby! Seneng tinggal sama bunda?" Tanya Satya sembari mencubit pipi Chandra.


"Ih om! Sakit!" Rengek Chandra lalu memeluk Rista di sampingnya.


"Satya!" Seru Rista balas memeluk Chandra.


Satya malah cengengesan sembari menggaruk tekuknya yang tak gatal.


"Hehe sorry, abis lucu Chandranya. Ya kan Chan?" Satya akan kembali mencubit pipi Chandra, tapi anak menyusup masuk ke pelukan Rista. Membuat wajahnya terbenam dalam perut Rista.


"Eh, takut ya?! Jangan takut sayang. Aku baik kok!" Jelas Satya mengelus bahu Chandra.


Ditatapnya Satya oleh Chandra dengan tatapan tak percaya.


"Iya sayang, Om Satya ini baik kok. Dia cuma agak jail, jadi Chandra jangan takut!" Seru Rista sembari meraba kepala Chandra lalu mengusapnya dengan lembut.


Satya beralih tatap menatap Rista.


"Jadi, kakak mau adopsi anak ini?" Tanya Satya lagi memastikan.


"Iya Sat. Lagian dia sepertinya nyaman sama aku. Tertulis di surat itu, Ibunya minta aku ngelakuin itu. Semoga aja dia betah disini." Sahut Rista menjelaskan niat baiknya.


Satya menghela nafas seusai itu tersenyum manis. Merasa ia tak salah mencinta seorang wanita, yang memang lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan, anak yang tak jelas darimana asalnya saja Rista mau mengadopsi. Sungguh menurut Satya Rista gambaran wanita sempurna.


Digenggamnya tangan mungil Chandra oleh Satya.


"Kalau gitu, mulai sekarang panggil om ayah!" Pinta Satya pada Chandra yang menatapnya bingung.


"Ayah?" Heran Rista lalu melanjutkan pertanyaan. "Maksudnya apa Sat?"


Rista mengerutkan kening. Mencoba mendengar dengan baik alasan Satya menginginkan panggilanan 'ayah'.


"Jadi gini kak maksudnya. Kan si muka tembok belum setuju malah dia kesannya gak setuju adopsi Chandra. Tapi aku, aku setuju kakak adopsi Chandra. Jadi biar aku aja yang jadi ayah Chandra. Gak apa-apa kan sayang?" Jelas Satya mengalihkan pandang mengelus pipi chubby Chandra.

__ADS_1


Rista tersenyum manis. Merasa tersanjung dengan permintaan Satya. Pria di hadapannya itu memang baik. Selalu mendukung niat baik Rista bahkan sedari dulu.


"Aku sih terserah Chandra aja!" Seru Rista masih dengan senyum.


"Oh gitu ya! Jadi gimana Chandra sayang, maukan panggil om 'ayah'? Om Satya kan baik, imut, ganteng lagi sama kaya Chandra. Chandra mau ya? Nanti ayah Satya kasih es krim, cokelat, lollipop, terus apa lagi? Chandra mau apa?" Bujuk Satya sambil memainkan tangan mungil Chandra.


Anak itu melepas pelukannya pada Rista. Ia beralih menatap Satya dengan tatapan polos yang serius.


"Robot Poly." Kata Chandra yang langsung mendapat persetujuan Satya.


Dengan sigap Satya membawa Chandra ke pangkuannya. Mengelus lembut rambut anak itu.


"Boleh. Mau berapa?"


"Tiga."


"Boleh-boleh, nanti ayah Satya beliin. Mau yang buatan mana Korea atau Amerika? Nanti ayah beliin." Ungkap Satya dengan percaya diri.


"Benelan om?" Tanya Chandra menengadah menatap Satya.


"Eh, kok om?" Kaget Satya. Tak terima Chandra masih memanggilnya 'om'.


Chandra mengedip-ngedipkan mata, kemudian menunduk lagi.


"Ayah." Gumam Chandra sembari memainkan jemari tangan Satya.


"Apa sayang? Ayah gak denger?"


Satya berpura-pura tak mendengar, ia mendekatkan telinga ke pipi Chandra.


"Ayah." Gumam Chandra lagi sedikit lebih kencang.


"Uhh.. Iya sayang ayah."


Satya memeluk erat Chandra. Setelah itu menempelkan pipi ke samping wajah Chandra, mengisyaratkan dia ingin mendapat ciuman kecil dari bibir mungil Chandra.


"Mana ciumnya? Cium ayah dong!"


Rista yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan dua orang itu, senyum-senyum sendiri. Merasa begitu bahagia, Chandra akhirnya bisa merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tua.


Meskipun Rista tak tahu siapa orang tua asli Chandra, tapi Rista rela memberi kasih sayang yang hilang dari orang tua Chandra. Sebagai gantinya Ristalah yang akan menjadi ibu untuk Chandra. Untuk masalah ayah Chandra, Rista tak tahu apa Zian akan menerima? Tapi, dengan kehadiran Satya membuatnya merasa sedikit lega. Chandra bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari Satya. Tak Rista sangka air mata lolos jatuh menuruni pipinya. Sigap Rista menyapu air mata itu dengan telapak tangan.


"Bunda kenapa kok nangis?' Tanya Satya yang sedari tadi memperhatikan.


"Eh gak kok sayang. Bunda gak apa-apa." Jawab Rista.


Tanpa ia sadari, Rista rupanya memanggil sayang pada Satya. Dikira Rista orang yang bertanya itu adalah Chandra, makanya ia repleks menjawab seperti itu. Jawaban Rista jelas membuat Satya terkekeh.


"Em, gitu ya sayang. Kirain ayah bunda juga mau dicium kaya Chandra." Kata Satya dengan kekehan.


Pikiran Rista tersadar. Suara yang ia dengar bukan suara Chandra, melainkan suara Satya. Pipinya seketika merona merah. Malu sendiri Rista, ternyata ia salah menjawab tadi. Ditundukkannya wajah oleh Rista. Tak ingin rasanya Satya melihat tingkah malunya. Gara-gara memikirkan Zian, Rista sampai salah menjawab. Gadis itu tak menjawab malu diam seribu bahasa. Seolah mulutnya terkunci untuk menanggapi perkataan Satya.


"Loh kok bunda malah nunduk. Jangan malu Bun, ada ayah kok!" Goda Satya lagi menambah rona merah di pipi Rista.


"Satya apa-apan sih kamu!" Gumam Rista.


"Gak apa-apa Bun. Gak usah malu!" Seru Satya masih dengan kekehan.


Rista yang menyadari Satya terus menggodanya. Mencoba mencari keberadaan kaki Satya dengan tongkatnya. Dipukulnya kaki Satya setelah menemukan letak kaki itu.


Tindakan Rista membuat Satya meringis. Mengangkat kaki mengelus tukang kering yang tertutup jeans.


"Aw! Kak sakit! Kakak kenapa sih, hobi banget pukul aku?" Gerutu Satya mengelus kaki.


"Abis kamu nyebelin!" Ungkap Rista cemberut. Menggenggam kembali tongkatnya.


"Nyebelin apa ngangenin?' Goda Satya sedikit mendekat hendak berbisik.


Kini Rista kembali memukul lutut Satya dengan tongkat. Tidak sakit pukulan dari Rista, ia hanya mengungkapkan perasaan kesal juga malu dengan perkataan Satya.


"Nyebelin, tapi ngangenin yakan kak?"

__ADS_1


Satya masih berani menggoda sahabat lamanya itu. Rista tak berkata apapun, ia kembali menunduk karena malu. Ada benarnya apa yang Satya ucapkan. Satya memang sering bertingkah konyol, tapi justru tingkah konyolnyalah yang membekas di hati.


Satya tersenyum senang. Melihat Rista yang malu-malu juga tersenyum bahagia seperti saat ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi Satya. Harapan Satya adalah bisa selalu membuat Rista bahagia juga menghapus setiap air mata kesedihan di hidupnya.


"Udah bunda! Ayah gak akan cium kok!" Tutur Satya masih sedikit menggoda.


Rista cemberut, tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia merasa bahagia mendengar penuturan Satya. Hal itu membuatnya menyunggingkan senyum di bibir. Melihat senyuman Rista membuat Satya ikut tersenyum.


"Satya kamu ya! Aku salah ngomong tadi." Tegas Rista mengingat hal tadi.


"Em, beneran juga gak apa-apa kok." Desah Satya dengan nada pelan.


Desahan kecil itu tak dapat Rista dengar. Penasaran membuat Ristapun bertanya.


"Apa Sat? Aku gak denger. Tumben ngomong kamu pelan!" Seru Rista. Berusaha mendengarkan dengan seksama apa yang akan Satya jawab.


"Gak apa-apa bunda." Jawab Satya dengan penekanan yang lembut.


Jawaban Satya kembali membuat Rista cemberut diikuti senyuman setelahnya.


Senja menyapa, Setelah cukup lama ngobrol dan bercanda selama hampir setengah hari penuh. Satya pulang pukul empat sore dari kediaman Rista juga Zian. Pria itu bahkan menyempatkan makan siang bersama.


Di lain tempat, Zian tengah mengamati sebuah bangunan rumah sederhana berwarna biru muda. Rumah yang memiliki kembaran di sampingnya. Rumah yang diyakini Zian sebagai kontrakan. Terlihat sepi suasana di sana, mungkin pemilik rumah sedang tidak ada. Dari informasi yang didapat Zian. Satu kontrakan di sana di huni seorang anak kuliahan yang mungkin belum pulang. Dan yang sebelah kanannya adalah kontrakan yang dihuni Akira juga ibunya.


Benar informasi yang didapat Zian. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya datang hendak membuka pintu rumah dengan kunci di genggaman. Zian yang tak mau menunda lagi, segera turun dari mobil. Menghampiri wanita itu. Kemudian memberanikan diri bertanya.


"Maaf, permisi Bu!" Sapa Zian.


Si ibu berbaju kuning tua itu berbalik badan masih dengan kunci yang ia pegang.


"Ya ada apa nak?" Tanya ibu itu dengan ramah.


"Apa benar ini kediaman Akira Meisaras?"


Ibu itu menautkan alis menatap penuh tanya.


"Iya benar, ada perlu apa ya?"


"Perkenalkan saya Zian temannya Akira. Saya mau bertemu Akira, boleh Bu?"


Dalam hati, si ibu bertanya-tanya siapa pria di hadapannya itu sebenarnya? Darimana Akira anaknya yang biasa saja bisa mendapat pria bersetelan rapi khas orang berada? Dilihat dari penampilannya saja. Pria ini pasti bukan pria sembarang, melainkan orang yang punya jabatan. Perlahan ibu itu menjabat tangan Zian yang sedari tadi sudah terulur.


"Saya Yuni, ibunya Akira." Melepaskan jabatan tangan itu, lalu mulai menjawab dengan wajah sesal. "Tapi, mohon maaf nak. Akira sudah pindah."


"Apa?" Kaget Zian menautkan alis.


"Iya nak. Beberapa hari lalu Akira pindah ke Jakarta ngikut sama bibinya. Katanya sih dia mau kerja disana." Tutur Yuni.


"Bu, apa ibu punya alamat tempat tinggalnya?" Tanya Zian tak sabar ingin segera mendapat jawaban.


Yuni terdiam. Ragu dia ingin menjawab.


Melihat Yuni yang diam. Zian seketika menyimpulkan Yuni tak ingin menjawab pertanyaan Zian. Mungkin saja, mereka sudah sekongkol dengan rencana pembuangan Chandra ke rumah Zian.


Terlihat Zian begitu kecewa, ternyata Akira sudah mempersiapkan semuanya untuk memberikan Chandra lalu menghindar dengan pergi jauh. Dengan lesu Zian hendak meninggalkan tempat itu, mungkin Zian harus meminta Hendri menyelidiki tentang keberadaan Akira di Jakarta.


Namun, saat Zian hendak berbalik. Langkahnya tertahan oleh seruan Yuni.


"Tunggu! ...


🙏🙏🙏


Untuk para readers setia, mohon maaf banget kalau feel dari ceritanya gak dapet, soalnya Authornya masih pemula. Jujur ini aja perjuangan banget nulisnya. Pengen bisa show tapi susah juga, jadi harapannya semoga para readers masih setia dukung cerita ini. 😊😊


Semoga kedepannya Author bisa bikin feel di ceritanya, biar makin greget. Kalau dipikir-pikir Author udah bikin planning jauh-jauh sebelumnya buat bisa bikin feel yang bagus, tapi ternyata gak semudah itu. 😥😥


Dan semoga para readers gak bosen sama ceritanya. 😊


Boleh komentar, bagian mana yang bikin para readers suka atau bagian mana yang malah bikin kalian gak suka dan bikin pengen berhenti baca. Silahkan ditulis di kolom komentar.


Oh ya, ada lagi.

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu like, komentar, rate, juga post. Kehadiran kalian sangat berharga. Love you 😘😘


__ADS_2