Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 9 : Kencan


__ADS_3

"Hari ini gak beruntung." Gerutu Diana sembari mengayuh sepeda.


"Padahal,aku sampai keliling keliling Alun-alun.Kak Satya gak ada juga.Apa Kak Satya gak main sepeda ya hari ini?" Pikir Diana.Gadis itu menghela nafas panjang masih mengayuh sepeda menuju arah rumahnya.


"Sudahlah! Hari ini gak ketemu Kak Satya dulu." Gumam Diana.


Di sepanjang perjalanan pulang Diana menikmati lagu dari headset yang ia pasang ditelinga.Gadis itu mencoba baik baik saja.Meski sebenarnya ia kecewa,karena tak bisa diam diam memandangi Satya seperti hari hari Minggu biasanya.Itulah Diana,sosok pengagum rahasia Satya.Bahkan,tak jarang gadis itu mencari tahu banyak hal tentang Satya.Termasuk kegiatannya dihari Minggu.Diana selalu pergi bersepeda pagi di Hari Minggu,karena dia tahu Satya juga suka olahraga satu itu.Hal itu menjadi kesempatan Diana untuk diam diam mengamatinya dari jauh.Seperti halnya hari ini,tapi ternyata hari ini Satya tidak pergi berolahraga.Mungkin itu juga.Karena, Diana memang tak menemukannya tadi.


Diana menghentikan sepeda lalu turun.Saat melihat sebuah sedan hitam terparkir didepan rumahnya.


"Eh,Mobil siapa ini? Ada Opah ya? Atau temen papa?" Pikir Diana.


Sepeda yang Diana kayuh tadi.Kini ia mendorong nya masuk Garasi.Karena pernapasan siapa yang datang,Diana menaruh cepat sepedanya.Apalagi,ada dua mobil lain didepan Garasinya, semakin membuat Diana penasaran.Gadis itu berjalan cepat menuju pintu depan.


Langkahnya terhenti saat seseorang yang mau keluar menghadang jalannya.Pria itu malah menatap Diana begitu dalam,hingga membuat Diana mengunci pandangan memandang dua pasang mata dihadapannya.Pria itu terlihat kaget saat melihat Diana.


"Ana?" Tanya pria itu terlihat kaget.


Diana menautkan alis,tak mengerti maksud Si pria yang tak lain adalah Zian.


"Ana? Siapa Ana? Aku Diana kak." Tegas Diana.


Nampak Zian sedikit berpikir.Pria itu lalu menghela nafas sesaat, kemudian berbisik ditelinga Diana.


"Kita masih punya urusan!"


Zian lalu meninggalkan Diana di ambang pintu itu.Diana semakin heran juga merasa aneh dengan tingkah Zian.Diana yang tak mau ambil pusing,ia mengangkat bahu tanda tak peduli.Memilih untuk masuk.


"Tunggu! Tadi itukan Kak Zian? Apa ada sesuatu dirumah? Kenapa dia kesini? Dan mobil mobil yang terparkir itu ..." Pikir Diana sebelum kembali melangkah.


Demi memastikan apa yang terjadi.Diana berjalan menuju ruang tamu.Terlihat disana orang orang tengah berkumpul.Ada banyak seserahan juga di atas meja.


"Assalamualaikum," ucap Diana yang langsung dijawab kompak oleh orang orang disana.


Tanika tersenyum lalu mengisyaratkan untuk Diana duduk disampingnya.


"Sini sayang!" Pinta Tanika.Diana segera mendekati Ibunya dan duduk disamping Tanika.


Diana tersenyum canggung.Pasalnya ia masih tak mengerti apa yang sedang terjadi.Pikirannya menduga duga jika itu adalah seserahan untuk kakaknya.


"Em,ini ada apa ya ma?" Tanya Diana melirik Tanika.


"Hari ini,hari pertunangan kakak kamu.Jadi,Kak Rista udah setuju sekarang buat nikah sama Zian.Kemarin mereka udah siapin semua ini." Jelas Tanika.


Mata Diana seketika berbinar,ia merasa senang kakaknya akan segera menikah.Ia bersyukur akhirnya ada pria yang bersungguh-sungguh untuk menjadi pendamping kakaknya.Bukan itu saja,Diana juga senang karena akhirnya ia memiliki peluang lebih besar mendapatkan hati Satya.


Sementara Rista sang calon membelai,ia hanya tertunduk.Masih ada rasa khawatir juga bersalah dihatinya.Sampai kapan ia harus menutupi kenyataan?


Rista merasakan genggaman erat.Ia mengetahui tangan yang menggenggamnya adalah tangan Diana, setelah gadis itu mengucapkan selamat pada Rista.


"Selamat ya kak! Kaka serius nerima Kak Zian?" Diana terdengar memastikan keseriusan Rista.


"Iya Di.kaka serius." Jawab Rista meraba keberadaan tangan Diana lalu mengelus punggung tangan itu.


Rista mencoba tersenyum.


Hentakan kaki Zian terdengar oleh Rista.Pria itu lalu meminta maaf,karena keteledorannya meninggalkan cincin dimobil.


Setelahnya, Pertunangan dilakukan hanya dengan menukar cincin saja tanpa ada acara khusus.Karena pernikahan merekapun sudah ditetapkan di Minggu yang akan datang.


Zian dan Pram pulang pukul 10.00 pagi.Mereka menyempatkan untuk mengobrol dengan keluarga Faris terlebih dahulu sebelum pulang.Setelah mereka pulang,Rista masih merasa tak enak,meski pada akhirnya dia dan Zian menikah.Namun,tetap saja tindakan mereka malam tadi tetap sebuah kesalahan yang seharusnya tidak mereka lakukan sebelum mereka menikah.


Faris yang melihat ekspresi wajah Rista mendekati gadis itu.Menyentuh kedua bahunya dengan lembut.


"Sayang,apa kamu yakin dengan perjodohan ini?" Tanya Faris.


Rista mencoba tersenyum,


"Aku yakin pa.Mas Zian orang yang baik,dia pasti bisa jadi pendamping yang baik buat aku pa." Jelas Rista.


Faris merasa lega.Dia pikir Rista dipaksa menikah oleh Zian.Rista mengambil tongkat lalu berdiri.Faris menengadah menatap Rista.


"Pa,aku ke kamar dulu ya pa!" Pamit Rista mulai berjalan diiringi tongkat putihnya.


Diana dan Tanika yang tengah sibuk merapikan semua seserahan merasa sedikit heran dengan sikap Rista.Tanikapun membuka mulut, bertanya pada Faris.


"Kenapa dengan Rista? Apa dia gak suka dengan pernikahan ini?"


"Gak,dia bilang dia mau istirahat." Faris lalu berdiri.Mendekati Tanika dan Diana.


"Ya udah,sayang sayang nya papa beresin semua nya ya! Papa mau ada meeting setengah jam lagi." Jelas Faris.


"Loh kamu gak makan siang dirumah Ris?" Tanya Tanika.


"Gak sayang,nanti ada acara makan siang bareng sama rekan kerja aku." Jelas Faris lalu mengecup kening Tanika.


"Eheumm," Diana mendehem merasa diacuhkan. "Mentang mentang dirumah,mesra mesraan aja terus! Anaknya ada disamping nya aja ga dilirik.Serasa dunia milik berdua kali ya!" Gerutu Diana memanyunkan bibir.


"Duh.. ada yang cemburu!" Faris mengacak rambut Diana.

__ADS_1


"Papa!" Diana merapikan rambut nya yang jadi berantakan.Tanika terkekeh melihat tingkah Diana.


"Kenapa? Cemburu? Sini peluk papa! Kangen ya? Iri gitu liat mama dicium?" Pinta Faris merentangkan kedua tangan.


Diana segera memeluk ayahnya itu.


"Iya aku kangen Pa.Papa jarang dirumah! Kapan ajarin aku sama Kak Rista ngejait lagi?" Ungkap Diana dalam pelukan Faris.


"Kak Rista udah bisa kok,kamu minta ajarin sama Kaka kamu!" Ujar Faris.


Diana melepaskan pelukannya.


"Loh kok Kak Rista udah bisa sih!? Ya udah aku mau minta diajarin sama kak Rista." Diana lalu bergegas melangkah menuju kamar kakaknya.


"Dasar ya anak itu!" Gumam Tanika.Faris memeluk Tanika dari samping.


"Persis kamu banget manja sama ngambek nya." Ucap Faris sembari tersenyum.


"Apaan sih kamu Ris!" Tanika mencubit pinggang Faris.


"Aw,sakit sayang.Emang iya kan?" Faris mengelus pinggang yang dicubit Tanika.


"Udah ah,aku mau beres beres." Tanika berjalan ke arah dapur.


"Aku bantuin ya?!" Faris mengikuti dari belakang.


"Hmm." Jawab Tanika.


°°°


Ceklek,


Suara pintu dibuka.Tanika terlihat masuk ke kamar.Mendekati dua putrinya yang tengah sibuk dengan jarum juga kain.Tanika sedikit terkekeh saat mendengar Diana menggerutu,karena tak kunjung bisa menjahit layaknya Rista.


"Ih,kakak! Kok susah sih bikin hurufnya! masih aja gede sebelah!" Gerutu Diana.


"Mana Kaka pegang!" Rista dengan lembut meraba tangan Diana.Diana memberikan kain miliknya pada Rista.


Rista terlihat meraba raba tulisan yang Diana buat dengan benang yang dijahit itu.


Tanika tersenyum lalu duduk disamping Diana.


"Kenapa sih? Kamu ya Di! Gitu gak bisa nya malah marah marah." Ujar Tanika mengelus bahu Diana.


Dia nyengir,


"Hehe mama,abis susah ma!" Jawab Diana kesal.


"Di,kok huruf D nya kaya B sih?" Tanya Rista meraba kembali huruf di kain.


"Hehe,ketahuan ya kak? Abis susah.Ya udah,aku lanjutin jahit ke atas." Jawab Diana cengengesan.


Rista menggeleng kepala mendengar jawaban Diana.Ia meraba raba keberadaan tangan adiknya itu.Setelahnya,Rista mengepalkan kain ke tangan Diana.


"Ini,kamu perbaiki lagi! Masa nama kamu jadi Biana?" Pinta Rista.


Tanika tersenyum,ia lalu berdiri memengang bahu Rista.


"Udah dulu ya Bu guru ajarin murid manjanya! Kamu sekarang ganti baju,ada Zian di Ruang Tamu.Dia katanya mau ajak kamu makan malam diluar." Jelas Tanika.


"Mas Zian ma?" Rista memastikan.


"Iya,udah kamu ganti baju dulu!"


"Em,ya udah ma.Aku ganti baju dulu."


Rista mengambil tongkat menggeraknya sebagai penunjuk jalan.Berjalan ke arah lemari memilih baju yang ia pikir pantas untuk pergi makan malam.Rista mengganti pakaian dikamar mandi dikamar itu.Setelah selesai berganti pakaian.Rista yang keluar dari kamar mandi dikagetkan pelukan Diana.


"Kakak!"


"Di! Kamu kebiasaan bikin kaget." Kesal Rista.


"Cie.... kakak mau kencan.Sini sini aku dandanin!" Diana menarik tangan Rista.Mendudukannya dikursi depan meja rias.


Dengan piawai Diana mulai mengoleskan berbagai perias wajah diwajah cantik Rista.Adik Rista itu memang suka berdadan,maka tak heran Diana begitu semangat merias wajah kakaknya.Riasan yang dihasilkanpun tak terlihat mencolok lebih terkesan natural dan anggun.


"Cantik." Puji Diana seusai merias Rista.Gadis itu mengangkat lipstik yang sudah dipakaikan dibibir kakaknya.


"Di,kenapa harus dandan gini sih? Pakai pelembab aja cukup." Ungkap Rista merasa adiknya berlebihan.


Sembari menaruh lipstik Diana berkata.


"Kakak,ini itu beda.Kakakkan mau kencan,jadi harus spesial."


"Di!" Protes Rista.


"Udah,Kaka jangan protes.Sekarang,Kaka temui pangeran kakak!"


Diana menuntun Rista untuk bangun dari duduk dan menuntunnya keluar kamar.

__ADS_1


"Sekarang Kaka jalan kedepan.Tunjukan pesona kakak! Semangat!" Bisik Diana.Lalu meninggalkan Rista sendiri didepan pintu kamar itu.


"Tapi Di,Kaka malu dandan kaya gini." Tolak Rista.Gadis itu meraba raba ke arah belakang.Mencari keberadaan Diana.


"Di,kamu masih disini kan?" Rista masih meraba raba keberadaan adiknya.Namun,Rista tak merasakan nafas atau meraba tubuh Diana.Rista mulai cemas tak menemukan keberadaan Diana.


"Di.."


Ditengah kecemasan Rista mencari Diana yang ternyata kabur meninggalkannya.Zian yang sedari tadi menunggu sambil celingak-celinguk,tak sengaja melihat Rista tengah meraba raba sekitar.


"Ris.." Panggil Zian setelah mendekati Rista.


Mendengar suara Zian,Rista segera berbalik kearah sumber suara.


"Mas Zian." Rista tampak canggung menunduk,karena malu.


Zian menyelidik penampilan Rista,tak lupa melihat riasan diwajahnya.Zian tersenyum tipis.Ternyata gadis dihadapannya nya itu sampai bela belain dandan untuk berkencan dengannya.Apa dia sekarang mulai mencoba menarik perhatian Zian? Begitulah pemikiran Zian.Terasa membuatnya kembali menang satu langkah untuk menaklukan hati Rista.


"Kamu cantik." Puji Zian.


Rona merah menghiasi wajah Rista,karena merasa malu dipuji pria dihadapannya itu.


"Terima kasih." Ucap Rista masih menunduk.


Tanpa basa basi Zian menggenggam tangan Rista.


"Udah siapkan? Ayo kita berangkat!"


"Tapi.."


"Kamu tenang aja! Aku udah minta izin sama tante Tanika."


Zian menarik tangan Rista, tak ingin mendapat penolakan dari gadis itu.Rista yang ditarikpun pasrah saja mengikuti keinginan Zian.Lagipula,Zian sudah meminta izin pada ibu Rista.Rasanya, tak ada lagi yang bisa Rista jadikan alasan untuk tidak pergi.


Namun,tiba tiba saat Zian hendak membukakan pintu mobil untuk Rista.Sebuah motor CBR 250R berwarna hitam berhenti tepat dihadapan mobil Zian.Seseorang dari motor itu turun, mendekati Zian dan Rista.Menarik tangan Rista dengan cepat.


"Eeeh, Mas ini siapa ya? Kok main tarik tarik Kak Rista?" Ujar Satya pria yang turun dari motor itu.


Zian tak menjawab,ia malah sedikit menautkan alis.Sementara Rista yang tahu suara Satya,ia langsung menjelaskan siapa Zian.


"Satya.Ini Mas Zian tunangan aku,kamu gak usah khawatir dia orang baik kok."


"Baik?" Satya melirik Zian yang menatap tak peduli padanya. "Baik dari mana kak? Matanya kaya silet.Tajam banget tatapannya." Celetuk Satya.


"Hus,kamu ya Sat,jangan ngomong gitu! Mas Zian ini baik kok.Oh ya mas,ini teman aku dari kecil Satya,dia emang kaya gitu orangnya.Jadi,maaf ya mas!Satya orang yang baik kok."


Zian mengulurkan tangan kanannya ke arah Satya dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun.


"Zian."


Satya menjabat tangan itu tak sedikitpun mencoba tersenyum.


"Satya,"


Mereka melepaskan jabatan tangan itu.Satya kemudian kembali bertanya dan menarik tangan Rista.


"Kaka yakin ini calon suami Kaka?"


"Iya,gue calon suami Rista.Kenapa Lo keberatan?" Ketus Zian menjawab pertanyaan Satya.


"Em,bukan gitu.Cuma .."


"Cuma apa? Dengerin ya! Lo itu ganggu perjalanan kita.Sekarang Lo pinggiran motor Lo,terus lepas tangan tunangan gue!" Tegas Zian membuka pintu mobil.Lalu menarik tangan Rista dan menyuruhnya masuk.


"Eh,tapi mas.."


Rista tak sempat menolak,dorongan Zian begitu kuat untuk menyuruhnya masuk mobil.


"Cepettt! Mobil gue mau lewat!" Geram Zian menatap tajam Satya.


Satya yang terlihat kesal terpaksa meminggirkan motornya disisi jalan.


Brumm .... Mobil Zianpun melaju setelah motor dipinggirkan.


Satya merasakan gejolak cemburu dihatinya.Ada sedikit perasaan sakit melihat Rista dengan pria lain.Satyapun tak segan menggerutu meneriaki Zian yang sudah melaju cukup jauh.


"Uhhh!! Dasar mata silet! Belagu banget Lo !! Jadi tunangan kak Rista.Gue ni teman hidupnya!!" Teriak Satya lalu melanjutkan dengan suara lemah. "Tapi,gak dianggap."


"Akkggghhh .. nyebelin!! Kenapa sih gue gak berani ngungkapin perasaan gue??" Kesal Satya mengacak rambutnya sendiri.


"Kak Satya?" Diana dengan mimik wajah heran menatap Satya disamping gerbang rumahnya.


Satya balik menatap Diana,ia lalu menarik Diana untuk segera naik motor.


"Ayo naik!!"


"Eeh Kak," Diana tak bisa menolak iapun menaiki motor Satya.


"Pegangan!" Pinta Satya.

__ADS_1


Diana tak menolak,meski ia tak mengerti Satya mau membawanya kemana.Ia memeluk tubuh Satya.


Dan brummmmm .. motorpun melaju menjauhi depan rumah itu.


__ADS_2