
Assalamualaikum,
Pertama tama,terima kasih untuk para readers yang udah setia baca.Berhubung reader setiaku minta visual.Author nyempetin buat nyelipin visual para cast di novel ini.Belum keluar semua mungkin,nanti dinext episode pasti bakal muncul para cast nya 😊😊.Doain author nya semangat buat terus nulis lanjutan episode nya.Like,vote,rate juga komen dari para readers adalah hal berharga bagi para penulis.Maka dari itu,mohon author minta keikhlasan untuk like, vote,rate juga komen nya.Silahkan komentar sesuka hati.Tapi,masih dalam tata kesopanan ya 😊😊
Okey untuk yang pertama Author punya Cover versi orang nya :
Juanda Alfarisi (Ayah Rista & Diana) + Tanika Kusuma Pratama (Ibu Rista & Diana) :
Rista Alfarisi :
Zian Alansyah :
Diana Alfarisi :
Satya Armadian :
Akira Meisaras :
Hendri Tirtawangsa :
Kevin Fernando :
Chandra Jeywara :
Kakek Pram :
Juan & Sarah (Ayah & Ibu Faris) :
Bi Maya :
Ibu Akira (Yuni) :
Bonus 😊🎀🎀 :
Mungkin seperti itu kurang lebih visualnya.Semoga suka 😁❤️❤️ ...
Sekali lagi.Terima kasih untuk yang masih setia nunggu kelanjutan kisah Zian sama Rista. 😊😊
Seperti biasa Author selalu mengatakan : Apalah arti penulis tanpa pembaca setia didalamnya .
Happy Reading ..😊📖📖
-------------------------------------------------------------
Episode 5 : Cinta Pertama
Apa yang harus dikatakan Diana? Apa ini saatnya dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Rista? Memang sudah sering adik dari Rista itu bercerita perihal pria yang menjadi cinta pertama nya.Tapi, sekalipun Diana tak pernah menyebut siapa nama pria itu.
"Di,kamu masih disini kan?" Rista meraba raba keberadaan adiknya,Rista berhasil menyentuh bahu Diana.
"Di,Kaka kira kamu ilang?"
Diana terkekeh,
"Kaka kebiasaan deh bilang gitu! Aku gak bisa ilang kak.Emang aku hantu apa?"
Rista memanyunkan bibirnya.
"Abis kamu diem aja.Kamu kenapa hmm? Dia nya kamu kenapa?" Tanya Rista mengelus bahu Diana.
Diana menyentuh punggung tangan kakaknya.Ia menariknya lalu menggenggam tangan itu dengan erat.
"Kak,apa Kaka masih penasaran siapa cinta pertama aku?" Tanya Diana menatap lekat sang kakak.
"Iya masih.Tapi kamunya gak pernah mau cerita.Kenapa? Apa sekarang kamu mau cerita?" Tanya Rista memastikan.
Gadis muda itu mengangguk mengiyakan apa yang sang kakak tanyakan.
"Iya kak,aku akan kasih tahu kakak siapa cowok itu.Dia .." Diana menghela nafas.
"Kak Satya kak."
Deg,
Ada rasa tak enak dihati Rista.Apa itu cemburu atau rasa tak enak lainnya? Entahlah,Rista tak mengerti.Tapi,wanita itu mencoba bersikap tenang dihadapan sang adik.Ia harus memastikan Satya yang dimaksud Diana.
__ADS_1
"Maksud kamu Satya mana? Satria atau Satya lain?"
"Iya kak ,Kak Satria."
Rista nampak kaget.Diana menyadari itu segera melanjutkan ceritanya.Supaya sang kakak pun tak salah paham akan maksud Diana.
"Kak,aku tahu Kaka cinta kak Satya kan? Aku berani bilang gini.Karena aku pikir Kaka udah gak cinta sama kak Satya.Karena sekarang kan Kaka akan bertunangan dengan Kak Zian." Jelas Diana,seakan mengerti perasaan Rista.
Rista tersenyum,ia menyadari satu hal.Mungkin,sekaranglah saatnya dia menghapus rasa cinta pada sahabat masa kecilnya itu.Toh,ada Zian yang mau menerima bahkan mau menikahinya.Dan untuk Satya sendiri.Rista berpikir Satya berhak mendapat wanita yang sempurna dan tak cacat seperti nya.Selama inipun Satya seperti menganggap dirinya sebagai sahabat saja atau mungkin sebatas Kaka dan adik.
"Di,kamu tenang aja! kamu lebih cocok bersama Satya.Kaka gak cinta kok sama Satya,kamu harus kejar dia." Ungkap Rista yang bertekad untuk melupakan Satya.
"Kaka serius? Bukannya Kaka bilang,Kak Satya lebih dari sekedar sahabat? Bahkan,Kaka bilang Kaka berharap kalau Kak Satya bisa jadi pendamping kak.Karena,dia seperti cahaya penuntun dihidup kaka." Jelas Diana,seakan mengulang apa yang pernah Rista cerita kan tentang Satya padanya.
"Itu dulu Di.Lagi pula Satya gak cinta sama kaka.Pasti bakal sakit kalau Kaka cuma cinta sepihak." Jelas Rista yakin dengan apa yang dipikirkan nya.
Diana terdiam.Haruskah dia menceritakan kalau Satya pernah berkata dia mencintai kakaknya itu?
"Tidak! Aku tidak boleh bilang sama Kaka.Kalau aku bilang, Kaka gak akan lupain kak Satya dan aku bakal merasakan cinta bertepuk sebelah tangan lagi.Sepertinya,harus ada lagi yang harus aku sembunyikan dari kak Rista." Pikir Diana dalam hati.
"Di,kok diem lagi?" Tanya Rista,membuat Diana sadar atas lamunan nya.
"Eh .. iya kak.Maaf kak,aku gak diem kok,cuma lagi mikir aja.Apa aku gak jahat rebut cinta pertama Kaka?"
Rista tersenyum,mengelus lembut punggung tangan Diana.
"Bukannya dia cinta pertama kamu juga?"
Diana diam, menunggu perkataan selanjutnya yang akan Rista ucapkan.
"Kamu jangan berpikir seperti itu.Kaka bahagia kalau kamu bahagia." Jelas Rista kemudian.
Diana merasa terharu sekaligus merasa bersalah.Dia telah menyembunyikan sesuatu lagi dari kakaknya itu.Diana memeluk sang kakak penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih kak.Kaka harus berkorban demi aku.Semoga Kak Zian emang cowok yang tepat buat Kaka."
"Iya aamiin Di, semoga saja.Kamu harus semangat! Seiring berjalannya waktu, Satya pasti sadar dan terima cinta kamu." Rista mengelus lembut punggung adiknya itu.
"Maafin aku kak." Lirih Diana dalam hati.
Ceklek,
Tanika membuka pintu kamar, menyadarkan dua gadis yang tengah berpelukan itu.Terlihat kedua nya saling menghapus air mata masing masing.
"Loh loh ..kenapa anak anak mama?" Tanika menghampiri dua anak gadis nya.
Kini Tanika berada diantara keduanya menatap heran dua gadis yang saling menghapus air mata masing masing.
"Kenapa nangis?"
"Gak kok ma." Jawab kompak kedua gadis itu.
Rista menunduk.Sementara Diana menatap Kaka nya itu.
Tanika mengerutkan kening tak mengerti.Dia pun merangkul dua gadis itu.
"Ya udah.Kalau gitu, kita makan siang dulu.Yuk!" Ajak Tanika.
"Ma aku mau mandi dulu.Kalian makan duluan aja? Gak apa-apa kan ma?" Diana menatap sang ibu.
Tanika tersenyum,lalu menepuk pelan bahu Diana.
"Ya udah.Kamu mandi dulu! Kita tunggu diruang makan ya?"
"Iya ma," Diana berlalu pergi.Dia sedikit melirik sang Kaka yang masih duduk dengan menundukkan wajah.Ada rasa bersalah,itulah yang ada dibenak Diana.
Di meja makan,Tanika telah mempersiapkan menu masakan yang disukai oleh Diana juga Rista.
Diana yang sudah selesai mandi. Beberapa menit kemudian dia datang.Lalu mendudukkan tubuhnya dikursi samping Rista.Dia melirik kakanya yang tengah asik memeluk boneka pemberian Zian.
"Kak,boneka nya sampai dibawa makan.Kaka suka banget boneka nya?" Tanya Diana merasa aneh kakaknya itu sampai membawa boneka pemberian Zian ke meja makan.
Rista merasa malu,
"Gak tahu ya.Kakak suka aja sama boneka nya.Lembut nya beda dari boneka yang Kaka punya."
Rista memang suka boneka beruang.Meski sudah dewasa gadis itu acapkali membeli boneka beruang yang memiliki lembut yang ia sukai.Entahlah, bagi Rista boneka itu memberi kehangatan tersendiri.Saat tidur misalnya,dia selalu memeluk boneka beruang agar ia bisa tidur nyenyak.
Diana terkekeh,
"Kayanya bakal ada yang gantiin posisi Tedy deh." Goda Diana.
Tedy adalah boneka beruang coklat kecil milik Diana yang selalu ia peluk tiap malam.
Rista tersenyum.
"Mungkin,karena sekarang ada Zian yang bakal nemenin Kaka tidur." Jelas Rista senyum malu malu.
"Kamu kasih nama Zian buat boneka itu?" Kini Tanika ikut bicara.
"Iya ma,karena mas Zian yang ngasih Jadi aku ngasih nama Zian buat boneka ini." Rista mengelus boneka dipelukannya.
Diana mengambil boneka itu.Rista kaget.Tapi,ia langsung tahu siapa yang melakukan itu saat Diana mengeluarkan suaranya.
"Udah kak! Zian nya disuruh duduk dulu. Sekarang Kaka makan dulu." Diana menaruh boneka itu dikursi samping nya.Menyendokkan nasi juga lauk pauk dan menaruhnya dihadapan Rista.
Tanika hanya terkekeh melihat tingkah Kaka beradik itu.
"Ini.." Diana mengangkat tangan Rista.Menuntunnya untuk menyentuh sendok. "sendoknya.Dikiri tangan Kaka ada nasi sama sayur asem kesukaan kaka.Makan dulu ya kak!" Pinta Diana dengan lembut.
Rista tersenyum.Dia meraba raba keberadaan bahu Diana.
"Makasih ya adikku sayang." Rista mengelus lembut bahu yang ia sentuh itu.
°°°
Pukul 7.30.
Rista meraba raba jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan nya.Dia duduk di Sofa ruang tamu menunggu sang ayah yang belum pulang.Hatinya gelisah,akankah sang ayah mengizinkan nya untuk pergi keluar bersama Zian malam ini?
Ceklek, pintu rumah terbuka.
__ADS_1
Rista mengambil tongkat nya,lalu berdiri.
"Papa.." panggil Rista,
Faris menyadari panggilan buah hatinya itu.Ia mendekati Rista yang berjalan mendekati nya.
"Kenapa sayang?" Tanya Faris,
"Pa aku mau bicara pa." Ucap Rista, sedikit menunduk.
"Bicara apa? Bicara aja! Papa dengerin kamu."
"Pa,aku minta izin untuk pergi malam ini sama mas Zian." Pinta Rista perlahan takut sang ayah marah atas permintaannya.
Faris menarik nafas.Ada sedikit rasa kesal.Tapi,ini permintaan anaknya,tak kuasa jika ia harus menolak.
"Kapan pria itu datang kesini?" Tanya Faris.
"Jam delapan malam pa."
Faris melirik jam dipergelangan tangan nya,
"Masih dua puluh lima menit lagi.Biar papa yang bicara dulu sama anak itu." Faris mengelus bahu Rista. "Jangan terlalu berharap sama orang yang berani nyakitin perasaan kamu.Papa lakuin ini karena sayang sama kamu.Papa ke kamar dulu.Ingat ucapan papa ya?" Faris lalu berlalu berjalan naik menuju kamarnya.
Rista terlihat mematung.Ia menghela nafas wajahnya terlihat muram.
"Sudahlah! mungkin benar apa yang dikatakan papa." Pikir Rista.Lalu melangkah kan kaki diiringi tongkat nya menuju kamar.
Dikamar,gadis itu meraba raba mencari boneka nya.Kembali memeluk boneka bernama Zian itu.
"Mas,aku harap kamu serius." Lirih Rista memeluk boneka.
°°°
"Gimana Ris,Rista udah bilang sama kamu?" Tanya Tanika membantu Faris membuka jasnya.
"Udah sayang.Tapi aku gak langsung kasih izin,aku harus ngasih pelajaran dulu sama si Zian itu." Jawab Faris.
Tanika terlihat menggantungkan jas dilengannya.Ia lalu membantu Faris membuka dasi yang dikenakan suaminya itu.
"Aku setuju itu.Kamu emang mau ngasih pelajaran kaya gimana sama dia?" Tanya Tanika penasaran.
Cup, Faris mencium sekilas kening Tanika.
"Nanti juga kamu tahu.Udah ya! aku mau mandi dulu." Faris lalu berjalan ke kamar mandi setelah dasinya berhasil dilepas Tanika.
Tanika menautkan alis,penasaran pelajaran apa yang akan diberikan Faris pada Zian.
Pukul 21.00 tepat,Faris sudah duduk bersama Tanika diruang tamu.Kedua orang itu ingin memastikan kebenaran akan kedatangan calon menantu mereka.
Tok tok tok ..
"Assalamualaikum." Ucap Zian sembari mengetuk pintu,
Hatinya sedikit tak karuan,ia merasa sangat nekad.Tapi, untuk perusahaan ia harus melakukan sandiwara itu.Juga harus siap apa yang akan dikatakan kedua orang tua Rista.Bahkan jika itu penolakan.Tapi, harusnya bukan penolakan,karena penolakan akan menganjurkan karir juga perusahaannya.
Faris didalam rumah,ia melirik jam dipergelangan tangannya.
"Tepat waktu." Gumam Faris.Lalu melirik Tanika disamping nya. "Kamu panggil Rista sekarang!" Pinta Faris.
"Okey Ris." Tanika berdiri untuk menemui Rista.
Sementara Faris,dia berjalan ke depan pintu dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam.Masih punya muka kamu datang kesini?" Ketus Faris.
Jleb .. Zian semakin kehilangan rasa percaya diri.Ia menelan salivanya,saat mendengar pertanyaan Faris yang seakan membuatnya ciut.Tapi,dia tak boleh menyerah.
"Saya mohon maaf om.Apa yang om dengar tempo hari itu salah faham om.Saya gak maksud hina anak om,bukan itu maksud saya." Ungkap Zian dengan ekspresi menunduk seakan merasa begitu bersalah.
Faris menatap pria bersetelan rapi itu.Dari bawah ke atas.
"Ya udah ayo masuk!" Pinta Faris masih dengan nada dingin.Berjalan lebih dulu, diikuti Zian.
Didalam ruang tamu.Zian menemukan Rista tengah duduk dirangkul ibunya.Zian tak dipersilahkan duduk.Faris langsung berbalik dan menanyakan maksud kedatangannya.
Faris memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya,ia mulai mengintrosgasi Zian dihadapannya.
"Jadi,apa maksud kedatangan kamu kesini?" Tanya Faris dengan nada dingin.
"Saya mau minta maaf om atas perlakuan saya tempo hari.Saya juga minta izin untuk mengajak Rista keluar.Saya ingin memulai dari awal om.Saya mau menikahi anak om,saya akan menerima apapun kekurangan nya,saya akan buktikan itu om." Jelas Zian menatap ayah Rista yang ada dihadapan serius.
"Bukti?apa yang bisa kamu buktiin?" Tanya Faris lagi tak mengubah nada bicaranya.
"Rista memberi saya kesempatan om,saya akan buktikan kesungguhan saya om." Tegas Zian begitu yakin.
Faris mengeluarkan kedua tangan dari saku celananya.
Bugh ..
Faris dengan cepat memukul wajah Zian.Bahkan,Zian tak sempat menyadari nya hingga pria itu tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.
Zian meringis kesakitan memegang sudut bibirnya yang terasa perih.
"Papa!" Rista kaget,mendengar orang yang terjatuh dia segera berdiri.Merasa ada yang tak beres.
"Kamu tetap duduk Ris! Ini urusan pria dewasa." Tegas Faris.Lalu berjongkok dan menarik kerah baju Zian.
"Masih berani deketin anak saya?" Tanya Faris dengan tatapan tajam.
Zian masih meringis.
"Sial!! Tapi gue gak boleh menyerah." Pikir Zian dalam hati masih memegang bibir nya yang perih.
"Saya .."
Bugh ..
Faris kembali memukul wajah Zian.Ia kembali tersungkur.
"Papa!! Stop pa! Papa pukul mas Zian?" Rista agak berteriak.Ia hendak berjalan mendekati ayahnya.Tapi,Tanika menarik tangan Rista agar ia tak mendekat....
__ADS_1