Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 21 : Suara Tangisan


__ADS_3

Zian menemani Rista, bahkan tak tidur semalaman demi mengecek suhu tubuh Rista yang memang naik turun. Karena bergadang semalaman membuat Zian pagi ini belum bangun.


Didudukannya oleh Rista tubuhnya yang terasa begitu lemas. Pluk, sebuah handuk kecil terasa menimpa punggung tangannya. Dirabanya handuk yang sudah agak kering itu. Memegang dan meraba handuk, kemudian ia tersadar. Sesuatu telah terjadi semalam. Seingat Rista Zian terus memegang dahinya, tak teringat jelas memang. Namun, Rista yakin pria itu menjaganya semalaman.


Rista meraba-raba samping tubuhnya. Dapat Rista rasakan otot-otot tangan Zian. Pria itu tak bangun, mungkin karena begitu lelah. Perlahan Rista beringsut dari tempat tidur. Membuka perlahan selimut yang ia kenakan. Meraba mencari letak tongkatnya. Barangkali Zian menaruhnya di samping tempat tidur.


Crakk..


Kembali Rista merasa terkejut, karena tak sengaja menyenggol gelas di atas meja. Tangan Rista gemetar, ia sedikit terperanjat. Tapi kemudian, suara seseorang menyadarkannya.


"Kenapa? Kamu mau kemana?" Tanya Zian dengan suara serak khas bangun tidur. Mengucek mata sebentar, kemudian mendekati Rista. Duduk di samping gadis itu.


Gadis di sampingnya itu tak menjawab, ia masih kaget karena telah menghancurkan satu barang lagi di rumah Zian. Perlahan Rista membungkuk, hendak mengambil pecahan gelas merasa tak enak terus saja menghancurkan barang. Sigap Zian mengambil tangan itu.


"Mau apa kamu?!" Tanya Zian sedikit membentak. "Gila ya kamu! Mau luka lagi ni tangan!" Bentak Zian menggenggam erat tangan Rista.


Rista diam, tapi kemudian ia berkata.


"Maaf. Maafin aku mas, karena aku selalu hancurin barang. Bahkan hancurin masa depan kamu." Jelas Rista sedih menunduk menunjukkan penyesalan.


Zian menghela nafas,


"Ya udah. Jangan lakuin hal ini lagi! Kamu tunggu sebentar! Aku bakal suruh Bi Maya beresin pecahan belingnya."


Zian beringsut turun dari ranjang. Kakinya melangkah keluar kamar. Dipanggilnya Bi Maya dan menyuruhnya membereskan pecahan beling.


Setelah Bi Maya membereskan pecahan beling. Zian sudah beres dengan ritual mandinya. Ditatapnya Rista yang masih duduk di kasur dengan kaki terlunjur ke depan.


"Ayo kita sarapan!" Pinta Zian dengan nada dingin.


Pria itu bergegas pergi ke walk in closet, tak peduli dengan tanggapan Rista. Berganti pakaian disana, kemudian kembali keluar dengan stelan kantor yang lengkap. Zian melirik kasur seusai mengenakan arloji di pergelangan tangannya. Sedikit mengeryitkan dahi, tapi kemudian wajahnya kembali datar tak peduli. Zian tak melihat Rista disana, tapi sudahlah! Zian berpikir mungkin gadis itu pergi ke kamar mandi.


Tak peduli dengan Rista, Zian kemudian berjalan ke arah ruang makan. Didapatinya Rista tengah duduk tengah memotong roti yang lalu ia suapkan ke mulutnya. Bi Maya terlihat mendekati Rista menaruh segelas susu hangat di atas meja.


"Ini non! Susunya, di samping piring ya non?!" Jelas Bi Maya, kemudian pamit ke dapur setelah mendapat ucapan terima kasih dari Rista.


Zian ikut duduk di hadapan Rista. Mengambil sepotong roti lalu mengoleskan selai coklat diatasnya.


"Gimana keadaan kamu udah baikan?" Tanya Zian melirik Rista lalu menyuapkan roti yang telah dioles selai.


"Baik mas."


Rista menghentikan makannya. Meraba susu di samping piring kemudian meminumnya sampai habis. Zian tersenyum tanpa ia sadari. Senang rasanya istrinya itu sudah sembuh dan bisa sarapan bersama pagi ini.


Selesai sarapan. Bi Maya nampak sibuk membereskan piring juga gelas bekas makan. Zian kemudian berdiri mendekati Rista. Tanpa diduga pria itu menarik lalu mengecup pelipis Rista sekilas, membuat Rista terperangah menjatuhkan garfu di tangannya. Untung garfu yang jatuh segera Zian tanggap.


"Hati-hati sayang! Aku berangkat dulu ya!" Ucap Zian mengusap lembut pucuk rambut Rista. Diliriknya sekilas Bi Maya yang tersenyum-senyum melihat kemesraan Rista dan Zian.


"Bi! Titip Rista ya! Kalau dia mau kemana-mana bibi tolong anterin!" Perintah Zian lalu mengelus pundak Rista membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.


"Lakukan sandiwara dengan baik! Jangan katakan apapun kepada siapapun!"


Sudah Rista duga. Zian hanya berpura-pura baik padanya. Melakukan sandiwara cinta, karena ada Bi Maya di tempat itu. Tentu saja, Zian harus terlihat baik-baik saja dengan Rista.


Seketika rasa kaget yang awalnya merasa bahagia, kini berubah menjadi luka di hati Rista. Sekuat tenaga ia tahan bulir bening yang tertampung di pelupuk mata. Menahan getar bibirnya, agar bisa berkata tanpa serak ketika menjawab pertanyaan Zian.


"Iya mas. Kamu hati-hati di jalan." Jawab Rista tersenyum getir.


Zian kembali mengecup kini ia mengecup kening Rista.


"Kamu juga sayang, hati-hati di rumah." Ucap Zian kemudian merapikan jas sekilas dan beranjak keluar rumah.


Bi Maya menghampiri Rista dengan senyum manisnya.


"Duh non, seneng ya pengantin baru. Mesra banget." Ucapnya kemudian mengambil piring di depan Rista.

__ADS_1


Rista hanya tersenyum getir sembari mengamini apa yang diucapkan Bi Maya dalam hati.


"Andai saja itu benar. Andai saja ini bukan sandiwara." Lirih Rista dalam hati kemudian menghapus air mata dengan telapak tangan. Beranjak kemudian dengan bantuan tongkat. Melangkah menuju kamar. Diraba dengan tangan gemetar gagang pintu kamarnya. Perlahan langkahnya melewati ubin demi ubin putih. Terasa jauh perjalanan menuju ranjang itu, terasa berat langkahnya. Sampai di ranjang ia meraba kasur, duduk disana. Menahan tubuh dengan memegang tongkat. Tangannya gemetar, hatinyapun demikian. Terasa getaran luka yang dalam. Menusuk dan sesak membuatnya sulit bernafas. Dibarengi dengan air mata yang terus mengalir. Diremas, digenggam erat dadanya yang sesak.


"Kenapa? Hiks.. Hiks.. Sakit sekali hiks.. Hiks.. Mas.. Aku cinta sama kamu, tapi kenapa ini rasanya sakit hiks.. hiks.."


Rista meremas dadanya yang terasa sesak dan sakit. Terus menitihkan air mata. Menahan tubuhnya dengan salah satu tangan menggenggam erat tongkat. Tertunduk menagis menahan perih atas dusta yang diucapkan, atas sandiwara cinta yang telah dilakukan. Dilakukan Zian sebagai permainan yang menporak-porandakan relung hati terdalam. Menghancurkan rasa yang telah terbangun. Namun, meski demikian sulit untuk dihapus rasa yang telah terlanjur tertanam dalam di lubuk hati yang tak pernah diduga sebelumnya. Rasa yang datang tiba-tiba dan hancur seketika, kala dusta yang terlaksana.


Hari demi hari berlalu. Kini dusta yang Zian lakukan, seolah jadi makanan sehari-hari bagi Rista. Pria itu bersikap manis di depan orang dan bersikap seakan orang asing kala mereka berdua. Sudah pasrah Rista dengan apa yang dilakukannya. Biarlah! Rista mencoba menikmati meski yang terjadi hanya kebohongan.


Rupanya, Zian sendiri lelah dengan kepura-puraan yang ia lakukan. Tapi, dia harus tetap melakukan itu. Jika tidak, maka apa jadinya dia? Jika seseorang sampai tahu Zian menyakiti Rista dan memberi tahu Faris. Tentu itu adalah masalah besar bagi Zian.


Pagi itu Zian keluar dari kamar mandi kemudian masuk ke walk in closet. Ia melihat sang istri tengah berdiri di depan lemari kayu membuka lemari itu. Masih Zian perhatian tindakan yang dilakukan Rista. Ristapun tak menyadari kedatangan Zian. Dirabanya beberapa kemaja yang tergantung kemudian mengambil salah satu dari mereka. Ia tersenyum dan mengelus satu kemeja berwarna biru muda. Zian merasa tak senang.


"Ngapain kamu?!" Tanya Zian sedikit membentak. Mendekati Rista kemudian. Mengambil kemeja itu dengan paksa.


"Maksudnya apa? Sejak kapan kamu berani obrak-abrik barang aku?!" Ketus Zian.


Rista menggejap-ngerjapkan mata lalu menunduk. Bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Terkejut juga merasa sakit hati dengan bentakan Zian. Diremasnya jemari tangan, menahan agar ia tak terlihat menagis.


"Kenapa? Ditanya gitu aja nangis! Cengeng banget." Zian melangkah menuju lemari sedikit menyenggol bahu Rista. Gadis itu terisak masih terdiam di tempat. Kala Zian akan menggantung kembali kemeja, aksinya terhenti karena tiba-tiba Rista berucap setelah sedari tadi hanya membungkam mulutnya.


"Aku.. cuma mau bantuin kamu milih kemeja mas. Maaf, kalau kamu gak suka." Jelas Rista dengan lirih dan suara yang serak menahan tangis.


Zian menghela nafas kesal.


"Kamu mau milih apa? Gak ada yang bisa kamu lihat!" Ketus Zian dengan nada dingin. Menggantung kembali kemeja di dalam lemari.


Tak bisa ditahan lagi, air mata Rista meluncur dengan cepat di pipinya. Menerobos pertahanan sang pelupuk mata yang menahannya sedari tadi. Agar deras bulir bening tak bercucuran. Melangkah perlahan dengan tongkat kemudian. Gadis itu berjalan dengan langkah gontai keluar meninggalkan Zian.


Sudah kesekian kali Zian menghinanya, tapi bodohnya hati Rista selalu menerima dan tetap mempertahankan cinta untuk dia. Semakin Rista menepis rasa itu, semakin tumbuh rasa cintanya. Bukan keinginan Rista mencintai atau membenci. Sulit baginya memisahkan dua rasa yang bertentangan itu. Hatinya selalu yakin, Zian akan mencintainya suatu saat nanti. Entah kapan dan sampai dimana Rista akan bertahan? Menahan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Tertegun sesaat Zian mendengar penjelasan Rista. Dipandangnya kembali kemeja yang sudah ia gantung. Mengambilnya dan mengamati kemeja yang Rista ambil tadi. Tidak salahkan yang dilakukan Rista? Gadis itu hanya mencoba membantu. Menjadi istri yang baik dan membantu suaminya memilih pakaian. Namun, entahlah Zian selalu meremehkan tindakan Rista. Selalu berpikir dia buta dan tak bisa melakukan apa-apa.


Pagi berganti siang kemudian menenggelamkan cahaya sang mentari. Sore ini pukul lima, Zian masih berkutat dengan laptop mengamati denah untuk cafenya. Tiba-tiba telpon di sampingnya berbunyi. Cepat Zian mengangkat telpon genggam itu.


"Pak, ada yang ingin bertemu. Dia bilang dia adik ipar bapak." Jelas orang di balik telpon.


"Suruh aja naik!"


Trupp... Zian menaruh kembali telpon, menutup percakapan.


Tak lama, seseorang mengucap salam dan membuka pintu. Dilihatnya Zian oleh orang itu. Zian yang tengah memijit pangkal hidungnya. Terlihat begitu pusing orang di hadapannya itu. Sigap Diana berjalan ke depan meja Zian. Pria itu tak mendengar ucapan salam dari Diana, terbukti dari ekspresi terkejutnya kala Diana melempar amplop berwarna coklat ke atas meja.


"Apa ini?!" Tanya Zian membentak, tentu karena ia kaget.


"Itu bukti kalau bukan aku yang tidur sama kamu! Jadi, kamu jangan nuduh-nuduh aku lagi." Tegas Diana dengan geram.


Zian melirik Diana sekilas, kemudian membuka amplop, mengamati dengan seksama isi dalam amplop. Matanya terbelalak melihat foto terakhir di dalam amplop. Dengan tatapan menyelidik, Zian menatap Diana.


"Siapa wanita ini? Apa dia orang yang aku tiduri?" Tanya Zian.


Diana menghela nafas, menyedekapkan tangan di bawah dada.


"Iya. Dia wanita yang udah tidur sama kamu. Dan biar aku tekankan. Bukan aku wanita yang udah tidur sama kamu. Itu bukti kalau dia yang tidur sama kamu. Kamu lihatkan? Wanita itu keluar dari kamar yang kamu tiduri tiga tahun lalu." Jelas Diana dengan penekanan di setiap katanya.


Mata Zian menyipit.


"Bagaimana kamu tahu? Dari siapa kamu tahu semua ini?" Tanya Zian kesal.


"Dari orang yang mempertemukan kita tiga tahun yang lalu."


"Kevin?"


"Ya. Jadi, mulai sekarang jangan ganggu aku lagi! Camkan itu! Saya permisi Tuan Zian Alansyah." Ucap Diana melenggang pergi meninggalkan Zian yang terperangah tak percaya.

__ADS_1


Terpaku Zian sesaat, hingga kemudian ia lempar amplop itu ke lantai. Membuyarkan foto dari dalam amplop, membuat foto-foto itu berserakan.


"B r e n g s e k!! Sial! Kenapa dia gak mau ngomong sama gue. Malah ngomong sama adiknya dan beberin hal ini sama Si Diana!" Umpat Zian menarik turunkan nafasnya dengan geram. "Awas aja kalau lo pulang Hen! Gue bakal introgasi lo abis-abisan." Tekad Zian kemudian berdiri dan mengambil jas di kursi yang ia duduki. Memakainya lalu berjalan keluar ruangan menuju parkiran. Dilajukannya mobil keluar parkiran kantor.


Dalam tekad Zian, ia akan menemui wanita bernama Akira itu. Wanita yang sudah lancang mengambil keperjakaannya lalu pergi begitu saja. Merasa kesal sekali Zian. Kenapa ia tak menyadari dari awal? Wanita dengan mata indah yang ia tatap beberapa hari lalu adalah wanita yang sama yang ia tatap matanya tiga tahun yang lalu.


Di lain tempat Rista tengah asik mencuci piring bersama Bi Maya. Mereka juga asik berbincang. Rista tak menganggap Bi Maya seperti pembantu, tapi lebih seperti orang tua sendiri. Membuat Bi Maya merasa nyaman dengan majikannya itu.


"Non, bibikan udah bilang. Non, gak usah bantuin bibi. Bibi jadi gak enak." Jelas Bi Maya sembari membilas piring. Diliriknya Rista sekilas.


"Gak apa-apa bi. Aku biasa kok bantuin mama. Lagian cuma lapin doang bi." Jawab Rista lembut sambil tangannya mengelapi piring yang selesai Bi Maya cuci. Tangannya kemudian meraba rak piring dan menyimpannya dengan rapi disana.


Bi Maya tersenyum menatap Rista yang begitu lihai. Meski buta Rista tak manja dan mau menolongnya.


"Saya salut sama non. Beruntung banget tuan nikah sama non. Udah non Rista itu cantik, baik, terus mau lagi bantuin bibi."


Rista tersenyum sendu dalam hati ia lirih berkata.


"Tapi aku buta. Andai aja mas Zian yang bilang gitu. Tapi,.." Rista menghela nafas masih dengan senyum yang ia pertahankan. "Makasih bi. Sudah seharusnya kita saling bantu bi. Bibi juga udah kerjain banyak hal pasti cape."


Sekitar tiga puluh menit mereka berkutat dengan piring juga alat dapur. Kini Rista sedang mencuci tangan dan Bi Maya membuka kulkas untuk mengambil sesuatu.


Huuuuu....


Suara aneh tiba-tiba terdengar oleh Rista. Gadis itu mendekati Bi Maya dengan bantuan tongkatnya. Dirabanya punggung Bi Maya.


"Bi-bi.. Bibi dengar suara gak?" Tanya Rista panik. Merasa sedikit takut mendengar suara seperti orang yang tengah menangis.


Bi Maya mengerut kening lalu berdiri sembari memegang susu UHT di tangannya.


"Suara apa non? Gak tuh."


"Suara bi. Suara kaya orang nangis." Jawab Rista dengan nada tegang.


Bi Maya memegang lengan Rista. Bulu kuduknya seakan berdiri. Merasa takut dengan apa yang dikatakan Rista. Dengan terbata-bata Bi Maya bertanya sembari menajamkan pendengaran. Barangkali Bi Mayapun bisa mendengar suara itu.


"Suara nangis? Non jangan nakut-nakutin saya non. Suara nangis gimana? Cewek apa cowok?"


Tangan Bi Maya mulai gemetar. Rista ikut panik. Digenggamnya erat tongkat putih yang ia pegang.


"Kaya nangis cewek bi. Maksud bibi apa nanya gitu?"


Bi Maya memejamkan mata. Takut dengan apa yang ia pikirkan. Semakin mempererat pegangannya pada Rista.


"Duh non. Jangan-jangan kunti non." Jawab Bi Maya meringis takut masih memejamkan mata.


"Hus bibi!" Rista memukul pelan tangan Bi Maya. "Jangan ngomong sembarangan!"


Huuuuu...


"Bi suaranya ada lagi." Seru Rista membuat Bi Maya semakin menutup mata.


"Duh non bibi juga denger. Apa sih itu?"


Bi Maya gemetaran karena ikut juga mendengar suara tangis yang Rista katakan.


Huuuuu.. Suara tangisan semakin kencang. Membuat Rista ikut merasakan bulu kuduknya seolah berdiri. Merasa takut dengan suara yang diduga Bi Maya adalah Kunti.


"Bi suaranya makin kenceng!" Seru Rista lagi mencoba tenang meski ia takut. "Suaranya kok kaya di belakang ya Bu?" Tanya Rista merasa suara itu berada di belakang mereka.


Ketakutan Bi Maya semakin menjadi, ia repleks memukul pelan tangan Rista.


"Ah! Non jangan bercanda! Gak lucu non."


"Serius bi. Denger deh!" Rista kembali menajamkan pendengarannya begitupun dengan Bi Maya.

__ADS_1


Bi Maya berusaha menoleh ke belakang, karena iapun mendengar jelas suara itu dari belakang tubuhnya.


Tiba-tiba...


__ADS_2