Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 12 : Menaklukkan Hati


__ADS_3

Pria itu menunduk. Bukan karena takut, hanya saja ia berpikir untuk menghormati orang yang ia rasa harus dihormati.


"Tuan tidak perlu tahu siapa saya." Pria itu mengangkat wajah, memberanikan diri menatap sepasang mata yang menyelidik. "Tapi, sebagai atasan saya. Non Diana harus saya tolong saat dia kesulitan." Tegas Jaka, Satpam rumah Diana.


Awalnya Jaka memang akan menjemput Rista, tapi ia tak bisa menghubungi Rista. Bahkan lokasi yang dijanjikan Ristapun tak ia nyalakan. Jakapun memutuskan untuk mencari hampir di sekeliling kota. Bukan Rista yang ia temukan melainkan Diana yang tengah Zian dekap paksa. Sebagai bawahan Diana, rasa tanggung jawabnya akan Diana membawanya untuk menolong gadis itu.


Zian belum menanggapi penjelasan Pak Jaka. Mulutnya sudah hampir terbuka untuk sekedar membentak atau mengatakan bahwa dia tak peduli akan hal itu. Namun, Diana sudah terlebih dahulu membuka mulut, rupanya gadis itu juga sudah menenteng belanjaannya yang tadi jatuh sebagian. Tanpa sepengetahuan orang di hadapannya, Diana memungut barang yang terjatuh dan memasukkan kembali ke dalam kresek. Dengan tenang Diana berjalan melewati Zian.


"Ayo pak! Kita pulang." Diana langsung berjalan ke arah mobil miliknya yang tepat terparkir di belakang mobil Zian.


Namun, tak semudah itu. Zian lebih sigap, ia kembali mencekal tangan Diana.


"Urusan kita belum selesai. Lo boleh pergi sekarang, karena akan ada hari dimana semuanya terbongkar." Ujar Zian dengan menajamkan pandangan ke arah Diana. Pria itu melepas tangan Diana, berjalan cepat ke arah mobil. Tak selang lama, mobil Zian sudah melewati dua orang yang berdiri di pinggir jalan itu.


Diana merasa sedikit kaget, ada rasa takut tapi ia berpikir ulang. Dia tidak salah kenapa dia harus takut?Terbongkar apa yang dimaksud Zian? Diana berusaha tak peduli berjalan ke arah mobil.


"Non, saya bantu ya!" Pak Jaka mengangkat tangan menawarkan bantuan, melihat Diana yang membawa satu kresek besar belanjaan.


"Terima kasih Pak." Diana menyerahkan kresek. Lalu membuka pintu mobil.


°°°


Sesampai di rumah. Diana berjalan masuk rumah dengan tentengan kresek di tangannya. Langkahnya terhenti tiba-tiba, saat melihat kamar kakaknya yang sedikit terbuka.


"Apa Kak Rista udah pulang?" Gumam Diana, seakan bertanya pada diri sendiri.


Kamar itu nampak gelap. Hanya cahaya jendela kamar yang mungkin belum ditutup gorden menyinari kamar itu. Cahaya yang berasal dari luar rumah. Tangan Diana mulai memegang gagang pintu, ingin membuka pintu itu lebih lebar. Namun, aksinya ia urungkan, kala melihat sang kakak tidur miring dengan selimut menutup rapi tubuhnya hingga dada. Diana yakin kakaknya sudah tidur pulas. Ia tak ingin mengganggu istirahat Rista. Gadis itu lebih memilih menutup rapat pintu.


"Kakak kayanya udah tidur, bagus deh. Kayanya aku gak boleh cerita soal Kak Zian. Itu bakal bikin tambah rumit. Aku harus cari tahu dulu apa maksud pria itu." Tekad Diana, ia lalu berjalan naik tangga untuk masuk kamar.


°°°


Sementara Zian, dia masih memikirkan Diana. Ketimbang pulang ke rumahnya. Zian memutuskan untuk pergi ke rumah Hendri dan mungkin Hendri sudah menemukan wanita itu. Wanita yang Zian pikir adalah Diana. Wanita yang pernah tidur dengannya tiga tahun lalu.


Tok tok tok ...


Tak butuh waktu lama. Hendri muncul membuka pintu, menunjukan wajah heran melihat Zian di hadapannya.


"Loh, mau apa lo kesini?" Tanya Hendri.


Begitulah Hendri dan Zian jika tak sedang dalam jam kerja. Bisa dibilang mereka akan menjadi lebih akrab dan tak bersikap formal, malah terkesan apa adanya.


"Gue mau nginep." Tanpa minta izin, Zian masuk nyelonong begitu saja.


Hendri yang memang sudah terbiasa dengan sikap Zian. Dia berjalan santai mengikuti Zian dari belakang.Zian memang begitu, jika ada masalah dia akan menemuinya. Untuk mencari solusi atau hanya sekedar memenangkan diri.

__ADS_1


Karena sudah merasa begitu lelah. Zian menghempaskan tubuh, merebahkannya di atas Sofa ruangan itu. Tangannya ia rentangkan. Merasa gusar akan apa yang terjadi padanya beberapa menit yang lalu, iapun menghela nafas panjang.


"Kenapa lo?" Hendri kembali bertanya melihat ekspresi Zian.


Hendri duduk di Sofa sebelah Zian. Menyesap kopi yang memang baru dia buat.


"Gue berantem lagi sama Rista." Jawab lemah Zian, wajahnya menampakan kekesalan. Ia tiba-tiba ingat sesuatu, Zian menegakkan tubuh. Menatap Hendri dengan tatapan menyelidik.


"Oh ya, gimana cewek itu? Lo udah dapat alamatnya?" Tanya Zian penasaran.


Hendri menaruh cangkir kopinya. Menatap lebih selidik ke arah Zian.


"Kenapa lo nanyain itu? Gue udah tahu alamat cewek itu. Tapi, sekarang yang terpenting. Lo harus nyelesain masalah lo yang berantem sama Rista. Karena apa? Ini menyangkut perusahaan kita. Lo tahu Zi? Perusahaan PT. PRU IV Cilacap milik Pak Faris, itu adalah pemasok bensin untuk dua SPBU yang kita punya. Gue tanya sama lo! Kalau lo sampai gagal nikah sama Rista. Lo bisa bayangin gimana keadaan perusahaan kita?" Tegas Hendri memberi solusi. Bahkan, dengan penjelasan atas keteledoran Zian, jika sampai pernikahan Zian dan Rista gagal.


"Gue tahu itu! Lo gak usah ingetin gue." Jawab Zian dingin. Zian berdiri tak peduli ocehan Hendri. Dia memang manusia keras kepala yang tak mau mendengar nasehat. Kalau bukan karena kesadarannya, Zian tak pernah mau melakukan apapun yang tidak ia suka. Termasuk saat seperti ini. Dia seolah sudah tahu harus apa. Tapi, tetap harus selalu diingatkan.


Hendri menghela nafas panjang. Kembali mengambil cangkir kopi. Sebelum kembali menyesap kopi, Pria itu bergumam kesal.


"Ya lo tahu, tapi kalau gak diingetin mana mau Lo bertindak. Dasar kepala batu!"


Mundar-mandir dengan ponsel ditempelkan di telinga. Zian begitu gelisah, karena telponnya tak kunjung Rista angkat. Ia kembali melihat layar ponsel, untuk kembali menghubungi Rista.


"Kenapa sih gak diangkat! Apa Marah ya tu si buta?!" Geram Zian.


Klik, Zian kembali menaruh ponsel di samping telinga.


"Ya, hallo mas." Jawaban dari Rista. Setelah hampir tujuh kali Zian menghubunginya tadi.


"Akhirnya!" Girang Zian dalam hati. Ia kemudian mulai berakting lagi pada Rista. Menyusun kata demi kata untuk menaklukan hati wanita itu.


"Kamu marah?" Tanya Zian terdengar menyesal. Rista tak menjawab hingga membuat Zian kembali bertanya. "Kamu marah Ris? Aku minta maaf. Aku tahu aku salah, aku emang b r e n g s e k, gak bisa jaga ucapan aku. Tapi, aku mohon maafin aku Ris!" Rista masih tak menjawab. Jauh di ujung telpon itu, Rista tengah menghapus air mata di pipinya. Mudah sekalikah bagi Zian untuk berulah lalu meminta maaf? Padahal, dia tidak tahu betapa sakit hati Rista mendengar ucapan Zian.


Merasa tak ada jawaban dari Rista. Zian kembali memutar otak untuk mendapatkan maaf.


"Sayang, aku mohon kamu jangan marah! Aku minta maaf! Aku bakal lakuin apapun asal kamu mau maafin aku. Tolong kamu jangan diemin aku kaya gini!" Bujuk Zian dengan nada memelas.


"Jaga ucapan kamu mas." Singkat Rista.


"Akhirnya! Kamu mau bicara juga. Kamu mau maafin aku kan?" Zian tak sabar mendengar jawaban Rista. Zian yakin wanita itu sudah memaafkannya.


"Ya, tapi maaf mas. Sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan ini."


Tutttttt .. Rista menutup panggilanan, setelah mengatakan kalimat perpisahan. Zian terbelalak tak percaya. Bahkan, mulutnya hampir terbuka.


"Hallo! Hallo Ris! Kamu masih disana kan?" Panik Zian, lalu melihat layar ponsel.

__ADS_1


"Sial!! B r e n g s e k!! Kenapa malah ditutup??" Kesal Zian. Ia kemudian kembali menekan panggilan keluar ke nomor Rista. Tapi, sekali lagi Rista tak menjawab panggilan Zian.


"Arghhkk .. kurang ajar!!" Zian mengacak rambut. "Gue harus apa sekarang?" Zian berpikir, ia menekan Voice Message dan mengirim beberapa pesan untuk membujuk Rista.


Tak sampai disitu, Zian masih mondar-mandir berpikir. Ia mengecek keadaan di luar, mengintipnya lewat gorden yang ia buka. Hujan terlihat mengguyur halaman rumah itu, hujan memang sudah mulai sejak ia datang ke rumah Hendri tadi. Mungkin tadi hujan baru berupa rintik-rintik. Tapi, entah sejak kapan hujan sudah sederas ini sekarang.


"Ah, bodo amat! Gue harus selesaiin masalah ini!" Tekad Zian akhirnya. Pria itu memasukkan cepat ponsel ke dalam saku celana. Berjalan setengah berlari ke arah pintu keluar. Pertanyaan dari Hendri bahkan ia abaikan. Satu yang ia pikirkan.Ya, itu adalah membujuk Rista.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, Zian melajukan mobil, menembus jutaan butiran air hujan yang dengan deras menyentuh permukaan bumi. Jalanan yang memang lenggang akibat deras hujan, memudahkan Zian melaju sekencang mungkin.


Berbeda dengan Zian yang tengah berusaha secepat mungkin menuju rumah Rista. Sang gadis yang diharapkan pemaafannya oleh Zian, dia tengah duduk termenung. Tak bisa tidur, itu yang Rista rasakan. Setelah Zian meneleponnya tadi. Rasa kecewa sedikit berkurang dihatinya, tapi ada rasa sesak setelah dia mengucapkan kalimat perpisahan. Entah benar atau tidak keputusan yang ia ambil. Satu hal yang Rista tahu detik itu, pria bernama Zian itu telah berhasil menaklukkan hatinya. Jika bukan cinta, maka tidak mungkin sakitnya ini begitu menyesakkan.


Berulang kali Rista memukul dadanya yang terasa sesak. Bahkan, tanpa izin air mata terus berderai melewati pipinya. Bulir bening itu nyatanya adalah bukti kejujuran hatinya. Hati yang memang tak ingin berpisah dengan sosok Zian.


"Hiks .. hiks .. Kenapa sakit sekali? Mudah sekali aku memutuskan jatuh cinta padanya. Sadar Rista! Sadar! Dia menyakiti kamu. Tak pantas dia mendapat cinta kamu." Monolog Rista menasehati diri sendiri. Berharap dengan itu Rista sadar cintanya adalah kesalahan.


'Ting tong Ting Tong, Call from Zian'


Notifikasi ponsel Rista membuat Rista sedikit terperanjat. Ia tahu sedari tadi ponselnya itu terus berbunyi. Dan memang notif itu adalah pesan juga panggilanan dari Zian. Rista tak ingin mengangkatnya, ia sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya bersama Zian. Perlahan ia meraba-raba,mencari ponsel yang terus berdering. Setelah menyentuh benda pipih itu, Rista tak langsung mengangkat panggilan Zian, malah meremas ponsel dengan perasaan tak karuan. Bimbang rasanya, haruskah dia angkat telpon itu?


Tlik, dengan dorongan di hatinya. Rista mengangkat panggilan. Perlahan menempelkan ponsel di samping daun telinga.


"Ris! Aku mohon kamu jangan akhiri hubungan ini! Tolong Ris! Aku gak bisa, aku cinta kamu Ris.Aku gak mau kita pisah. Aku sekarang ada di luar, aku gak akan pulang. Lebih baik aku mati kedinginan daripada harus berpisah sama kamu." Jelas Zian. Guyuran hujan terdengar jelas di tengah penjelasan Zian itu.


Pasti pria itu tengah menelpon di antara derasnya hujan. Terasa nekad bagi Rista, apa yang dilakukan Zian sungguhlah nekad dan di luar pemikiran Rista. Rista kira pria itu tak akan sampai datang ke rumahnya. Bahkan, apa kata dia tadi? Rela mati kedinginan?


Rista bangun dari duduknya, ia belum menjawab permintaan Zian. Ia berusaha fokus mendengarkan deras hujan di luar sana. Tiba-tiba rasa khawatir menyergap hatinya, dengan payah Rista menjawab sembari masih menahan tangis.


"Pulang mas!" Suara Rista gemetar ia menahan sejenak ucapannya. "Aku udah bilang hubungan kita berakhir." Pungkas Rista dengan cepat menutup telpon.


Dengan tangan gemeteran, Rista terkulai, menahan tubuh dengan kedua lututnya. Air hujan yang terdengar deras, seakan mengiringi tangisan Rista yang sedari tadi ia tahan.


"Maaf mas, Hiks .. hiks .." Rista tertunduk menagis. Salahkan yang dia lakukan? Entah, mungkin ini yang terbaik.


°°°


Pukul 6.30, pagi itu Rista keluar gerbang untuk menuju warung yang berada tak jauh dari rumahnya. Malam tadi adalah malam penuh luka juga kebimbangan bagi Rista. Sebelum melangkah menjauhi gerbang, Rista sedikit terpaku, mengingat apa yang sudah ia putuskan semalam. Kalau bukan karena ia berusaha tenang dengan pergi wudhu dan sholat malam tadi. Entah apa yang akan terjadi padanya sekarang? Yang jelas dia tak akan berdiri dengan tongkat putihnya sekarang. Mungkin terbaring di kasur, karena rasa nyeri di kepala akibat tangisan yang sulit ia hentikan.


Rista sedikit menghela nafas,


"Apa Mas Zian udah pulang ya?" Pikir Rista, ia mulai menggerakkan tongkat. Berpikir positif saja. Mana mungkin Zian masih disini? Pasti pria itu sudah pulang.


Tiba-tiba, Rista merasakan tangan yang begitu dingin mencekal pergelangan tangannya. Gadis itu sedikit terperanjat, tapi ia mencoba tenang dan bertanya,


"Siapa ya?" Tanya Rista mencoba melepas tangan dari cengkraman orang itu.

__ADS_1


"Aku mohon! Jangan akhiri hubungan kita!"


"Mas Zian?" Kaget Rista mendengar suara Zian. Yang Rista duga salah, Zian ternyata belum pulang. Apa yang dia inginkan? Sudah jelas Rista ingin mengakhiri, tapi kenapa dia begitu bersikeras?


__ADS_2