
"Dia ...." Zian mulai merasa bingung juga bimbang. Bersalah dan merasa tak tahu harus berkata apa, "kamu ikut aku dulu!" lanjutnya menarik tangan Rista.
Wanita itu diseret untuk duduk. Membantu mendudukkan Rista. Perlahan Zian pegang kedua bahunya. Mendudukkan Rista kemudian.
Meski merasa sedikit bingung, tapi Rista menuruti keinginan Zian. Ia duduk seperti apa yang Zian suruh. Perasaan Rista semakin tegang. Takut ada sesuatu yang memang sudah Zian sembunyikan. Bahkan, mungkin selama ini Zian telah menyembunyikan sesuatu. Dari yang Rista dengar, ketika Zian menjawab itu terdengar mencurigakan. Rista menaruh tongkat di samping.
Sementara Zian, ia mengerjapkan mata. Menghela nafas menghilangkan rasa gugup lalu menelan saliva sesaat. Zian yakin ini saatnya. Untuk tanggapan dari Rista biar itu menjadi urusan nanti. Sebelum berkata Zian menghela nafas panjang membuat Rista semakin cemas dan berpikir Zian memang tengah punya masalah yang Rista sendiri tak tahu.
"Mas, kenapa kamu nyuruh aku duduk? Jadi,apa kamu mau cerita sekarang, mas?" tanya Rista.
Tegang yang terasa seolah terbuyarkan oleh pertanyaan Rista. Dipegangnya kedua tangan Rista, Zian kini memiringkan badan dan menatap lekat wajah sang istri.
"Ris, apa kamu sungguh cinta sama aku?" tanya Zian.
"Kenapa mas nanya gitu?" Rista ikut membalik badan. Menghadap Zian di sampingnya.
"Apa kamu akan tetap bersama aku kalaupun aku pernah melakukan kesalahan besar?"
Rista dibuat menautkan alis. "Maksud mas. Kesalahan besar apa, mas?" tanyanya bingung.
Zian menghela nafas. Menelan saliva sekilas, rasanya detik ini Zian harus siap. Jika Rista akan meninggalkannya karena kejujuran ini. Tak rela, Zian memang tak rela jika harus kehilangan Rista tapi terus berbohongpun tak akan jadi solusi atas apa yang terjadi. Kebimbangan juga rasa takut yang menyelimuti hati Zian selamanya akan tetap ada jika masalah ini tak juga ia selesaikan. Menunduk, Zian seolah merasa Rista tengah melihat pria bodoh yang mengkhianatinya.
"Rista, aku adalah pria bodoh, pendusta dan orang yang sudah tega melukai hati wanita sebaik dan setulus kamu. Jujur aku gak pernah rela, jika kamu pergi meninggalkan aku karena hal ini."
Rista diam. Sebenarnya dia bingung maksud dari perkataan Zian. Perkataan Zian begitu serius, Rista mendengarkan seksama penuturan Zian tanpa berniat untuk menyela.
"Aku akan jujur tentang siapa wanita itu. Kamu akan marah aku tahu, tapi aku harap kamu gak ninggalin aku karena ini. Karena aku cinta sama kamu Ris, hanya kamu wanita satu-satunya di hidup aku yang sungguh-sungguh aku cintai. Untuk wanita itu dia adalah wanita masa lalu aku."
"Wanita masa lalu?" potong Rista.
Kali ini Rista berani menyela karena merasa sudah tak nyaman dekat penjelasan Zian. Wanita masa lalu. Mendengar kata itu membuat Rista ingat pembicaraan Zian semalam. Berbagai pertanyaan muncul di benak Rista. Replek Rista melepas genggaman tangan Zian membuat Zian terbelalak tapi tak mencoba menahan. Tangannya kaku. Mematung di tempat. Menengadah memandang Rista yang bingung dan terlihat kaget.
"Apa ini ada hubungan dengan apa yang mas bicarakan semalam?" tanya Rista lagi.
"Iya." Zian menunduk, tapi kembali mengangkat wajah sesaat setelah ia menghela nafas ulang. "Tapi, semua itu masa lalu Ris. Aku akan jujur sekarang. Keputusan apapun yang kamu pilih akan aku hargai. Dia, Akira adalah ibu dari Chandra dan ... Chandra adalah anak aku, Ris." lirih Zian.
Seketika seolah di hujam pedang berujung panas. Hati Rista terasa melepuh. Hancur lebur. Kebohongan Zian kali ini sungguh sangat keterlaluan. Bukan masalah kebohongan saja, tapi Zian yang memang berani menutupi segalanya. Berdiri, kaki Rista terasa kaku. Engsel di kakinya terasa tak berfungsi untuk berdiri. Lemas mendominasi disana, tapi Rista harus kuat. Zian memandangi Rista yang meraba tongkat setelah berdiri. Hendak melangkah, tapi Zian sigap menahan tangan Rista.
__ADS_1
"Sayang!" Dengan cemas ikut berdiri.
"Lepas mas! Kenapa mas gak jujur dari awal mas, Berapa lama mas nyembunyiin ini?" Nafas Rista mulai naik turun menahan amarah juga rasa sakit. "Berapa lama, mas? Atau kalau aku gak nanya mas mungkin gak akan bilang, gitu mas? Mas pikir aku ini siapa? Aku istri kamu mas. Apa aku gak berhak tahu masa lalu kamu? Kamu seolah bersikukuh menutupi semua ini. Kenapa mas?" Mata Rista mulai memanas, rasanya jika tak ia tahan mungkin bulir bening sudah jatuh dari sana.
"Rista, aku gak maksud nutupin semua ini. Aku mau jujur dan aku nunggu waktu yang tepat. Sekarang aku berani jujur dan berani ambil resiko apapun." tegas Zian menyakinkan Rista.
"Termasuk cerai?"
Kaget sekali Zian mendengar pertanyaan Rista. Mungkin Zian sudah tahu akan resiko satu ini. Namun, mendapati kenyataan yang sesungguhnya tentang hal ini sungguh Zian tak sanggup. Masih menggenggam tangan Rista, kini Zian semakin mempererat genggaman itu.
"Kamu yakin? Kita bisa bicarain ini baik-baik. Perceraian bukan jalan terbaik. Aku cinta sama kamu. Mustahil buat aku cerain kamu."
"Kamu tahu mas? Chandra berhak bersama ibunya. Dan ibunya bukan aku tapi Akira, mas. Mas udah ngelakuin kesalahan dan mas harus tanggung jawab. Aku gak apa-apa, aku bakal coba lupain kamu meski itu sulit, karena aku gak berhak atas kamu, mas." Meski dengan hati yang pilu Rista mencoba kuat mengatakan semua itu. Bibirnya gemetar menahan tangis. Sesak sekali batin Rista setelah mengatakan kalimat yang sesungguhnya tak ingin Rista ungkapan.
"Sayang, aku gak akan cerein kamu. Akira hanya masa lalu dan kamu adalah masa depan aku. Kamu adalah istri aku. Aku gak akan ninggalin kamu demi kesalahan masa lalu," tutur Zian dengan nada sendu.
Rista terdiam. Tak sanggup untuk berkata lagi. Tak ada pula yang bisa ia katakan. Jika harus jujur tentu Rista tak ingin perpisahan. Namun, bagaimana lagi? Rista juga tak tahu. Menelan saliva Rista mencoba tenang.
"Kita gak bisa egois. Akira lebih berhak atas kamu. Aku memang cinta sama kamu, tapi Akira dia lebih dulu bersama kamu. Aku hanya pengganggu diantara hubungan kalian. Biar aku yang pergi, mas." Rista menghela nafas, "Akira wanita baik, mas" lanjutnya lirih.
Zian bisa merasakan perlahan Rista meraba punggung tangannya, setelah itu melepaskan perlahan cengraman yang ia pertahankan. Mematung sesaat. Setelah sadar Rista mulai melangkah, Zian kembali menarik tangan wanita itu. Menarik tubuh Rista hingga tenggelam dalam dekapan.
"Sayang, maafin aku. Jangan pergi, Ris! Aku gak mau kita cerai. Aku gak rela kehilangan kamu. Aku akan bertanggung jawab tapi tidak dengan menikahi wanita itu." Zian mengelus lembut surai Rista yang tergerai.
Sementara, Rista hanya mampu menangis tersedu-sedu. Tangannya mencengkram erat kemeja putih yang Zian kenakan. Tubuh Ristapun bergetar. Sesak, sakit sekali batinnya. Rasa percaya yang telah tumbuh seolah layu karena kejujuran yang terlambat. Merasa dibodohi juga tak dianggap.
"Kenapa kamu jahat?" lirih Rista masih dalam dekapan.
"Aku tahu aku jahat. Aku minta maaf sayang. Kamu jangan nangis! Aku gak mau kamu terluka apalagi itu karena aku. Aku gak akan ninggalin kamu, aku janji. Gak akan ada wanita lain, cuma kamu istri aku satu-satunya."
"Aku harus apa? Bahagia? Atau terluka? Kenapa kamu berkata seolah kamu bakal menepatinya? Kenapa kamu seperti pendusta ulung yang pandai berkata mas?" Suara Rista tersentak karena tangis. "Kenapa juga aku begitu cinta sama kamu? Bagaimana cara agar aku lepasin kamu, mas?" lanjut Rista sembari menagis.
Zian mengurai pelukan perlahan. Menangkupkan kedua tangan di pipi Rista. Dengan lembut menghapus air mata menggunakan dua ujung jemari.
Dapat Rista rasakan lembut perlakuan Zian membuat wanita itu semakin merasa sakit. Semanis inikah kebohongan?
"Sayang, aku mohon jangan sedih lagi! Aku gak bohong. Aku serius dengan apa yang aku bilang. Aku tulus cinta sama kamu. Aku juga gak akan pernah ninggalin kamu. Ini bukan sekedar janji aku serius," tegas Zian.
__ADS_1
Bergeming dan sulit untuk berucap, Rista diam seribu bahasa. Lidahnya kelu untuk membalas. Cintakah yang membuatnya lemah? Hingga seolah percaya dengan perkataan Zian.
"Iya, Zian serius Ris." Suara seorang wanita mengalihkan fokus dua insan yang tengah bertikai. Zian dengan segera menoleh melihat sosok Akira yang keluar dari ruang perawatan dengan bantuan kursi roda. Akira mendekati mereka.
Sama halnya dengan Zian, Ristapun menoleh ke arah suara. Perlahan Zian melepas tangan dari pipi Rista. Menatap heran wanita yang kini berada di samping mereka berdua.
"Rista, terima kasih kamu percaya aku orang baik tapi sesungguhnya aku bukan orang baik. Jika saja aku tak mendengar pembicaraan kalian mungkin saja aku akan tetap nekad untuk meminta Zian menikahi aku." Akira tersenyum dan menggenggam lembut jemari Rista. "Tapi, aku sekarang sadar. Tak ada yang bisa dipaksakan jika memang Tuhan tak berkehendak. Bisa saja Tuhan pertemukan aku dengan Zian lebih awal, tapi tidak. Karena rupanya Tuhan memang menghendakiku untuk tak bersama Zian. Hampir saja, aku merusak sebuah jalinan rumah tangga yang sudah terbalut cinta. Aku minta maaf Ris, tapi apa yang Zian katakan semua itu benar. Zian akan tetap jadi milik kamu seutuhnya. Aku hanya wanita masa lalu Zian. Untuk Chandra, kalian berhak memilikinya tapi izinkan aku menemuinya meski hanya sesekali," tutur Akira dengan sungguh-sungguh.
Air mata sudah menggenang. Namun, Akira mencoba tenang. Masih ia genggam tangan Rista, wanita itu tak menolak dia hanya diam saat tangannya Akira genggam.
"Kamu ibunya. Kamulah yang berhak atas Chandra. Lebih tepatnya kalian berdualah yang lebih berhak," ucap Rista dengan air mata berderai. "Lebih baik kalian menikah besarkan Chandra bersama-sama dia butuh sosok ibu dan ayah. Untuk aku, biar aku pergi. Dari awal aku emang gak pernah ada dalam kisah kalian."
"Gak Ris, akulah yang orang lain diantara kalian. Akulah yang harus pergi. Aku akan pergi sejauh-jauhnya dan gak akan ganggu hubungan kalian. Aku titip Chandra itu saja yang aku minta," jelas Akira yang kemudian melepas tangan Rista. Setelahnya Akira menatap Zian. "Jangan pernah tinggalkan wanita setulus Rista! Jangan lihat kekurangannya! Jauh dalam dirinya kamu gak akan pernah menemukan hati setulus dia. Maafkan aku mas karena aku lancang sama kamu."
Hanya diam Zian tak menjawab hingga Akira meninggalkan mereka berdua. Mata Zian yang semula menatap kosong, kini beralih menatap sang istri. Rista yang tengah diam sama seperti dirinya. Mungkin Ristapun terkejut sama halnya seperti Zian.
"Sayang, kamu maafin aku kan?" Zian kembali menggenggam tangan Rista. Menatap lekat tepat di kedua matanya. "Aku gak akan nikahin dia. Aku cuma mau kamu wanita satu-satunya di hidup aku."
Perlahan Rista meraba jemari Zian melaju hingga lengannya, kemudian perlahan mendekap pria itu.
"Izinkan aku nangis di pelukan kamu mas!" pinta Rista menempelkan pipi di dada bidang Zian. Mendekap erat tubuh Zian dan menangis disana.
Tanpa ragu, Zian balas mendekap wanita yang paling ia cintai itu. Mengecup pucuk rambutnya dan memperat pelukan.
"Iya sayang, kamu boleh nangis sepuasnya dalam pelukan aku. Dan jangan pernah ninggalin aku karena ini." Terasa Rista menggeleng, "Aku akan berusaha jadi suami terbaik dan gak nyakitin hati kamu lagi. Aku cinta kamu, Ris. Selamanya," lanjut Zian lalu kembali mengecup Rista.
"Aku cinta kamu, mas."
Rista menagis dalam dekapan Zian. Namun, Zian terus menenangkan Rista. Membelai lembut rambutnya agar Rista lebih tenang.
Dengan kejadian ini Zian belajar untuk tidak sedikitpun kembali berbohong. Lebih baik jujur meskipun itu pahit. Lalu Ristapun sadar egois jika dia tak memberi kesempatan karena hatinya yakin Zian tulus mencintainya. Cinta memang benar berliku tapi setidaknya Zian tak pernah sedikitpun berniat untuk mendua itu sudah menjadi bukti keseriusan Zian menjalin asmara meski memang dulu ia pernah berdusta akan cinta. Namun, kesempatan bukan tidak mungkin untuk tidak diberikan. Keyakinan akan ketulusan pastilah akan terbayarkan.
-Selesai-
Duh, untuk para readers adakah yang kecewa dengan endingnya?
Maaf ya🙏🙏 bukan author bikin kisah yang nanggung. Awalnya memang author mau bikin cerita ini panjang. Namun, dikarenakan author nya sibuk sekarang jadi ditamatin aja. Author sekarang nulis di platform lain, belum lagi author juga kerja sama daring di rumah, jadi gak bisa bagi waktu tapi seenggaknya author ngerasa lega karena bisa namatin cerita kedua di MT ini. Jujur author seneng karena punya pembaca setia disini. Mungkin Author bakal berhenti dulu nulis di MT mau lanjutin di platform sebelah. Minta doanya buat para readers, semoga author bisa sukses disana. 😇😇
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih buat yang udah setia baca apalagi buat yang sering nunggu up. Seneng banget author merasa terharu 🤧🤧😇 Author selalu bilang apalah artinya penulis tanpa pembaca setia didalamnya. Maka dari itu author mengucapkan banyak terima kasih karena kesetiaan para readers. Buat yang penasaran author nulis di platform mana dan judul Novelnya apa. Silahkan cek Instagram : @sumi_ryani9 atau kepoin Facebook aku : Kim Sumi Ryn.
Terima kasih para readers setiaku. I love you so much 😇😘😘