Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 20 : Sandiwara Cinta


__ADS_3

Tak memperdulikan wanita SPBU yang ada di sampingnya, Zian segera berlari menuju mobil membukanya cepat dan segera melajukan mobil menuju rumah. Ternyata yang menelpon Zian adalah Bi Maya. Bi Maya mengatakan jika Rista mogok makan dari tadi pagi. Sudah Bi Maya bujuk, tapi Rista tetap tak mau.


Kepergian Zian meninggalkan hela nafas lega dari wanita SPBU. Wanita dengan rambut ikat kuda itu, menghela nafas lega. Mengelus dadanya merasa aman, karena akhirnya ia tak diperlakukan apapun oleh Zian.


Untuk Zian sendiri, pria itu melajukan mobil secepat yang ia bisa. Menyalip setiap kendaraan di hadapannya. Biarlah mereka marah, urusan Zian saat ini lebih genting.


Dengan tergesa-gesa Zian membuka pintu rumah, setelah selesai memarkirkan mobil. Pandangannya mengelilingi setiap inci rumah, mencari keberadaan Bi Maya. Wanita paruh baya itu ternyata baru saja dari luar, ia masuk dari pintu belakang. Langkah kaki Zian dengan cepat menghampiri Bi Maya. Raut wajahnya cemas dan sedikit memerah karena menahan amarah.


"Kenapa dia gak mau makan? Gimana kamu bujuk dia? Kalau dia sakit lagi gimana?!" Bentak Zian kemudian masuk dapur seolah mencari sesuatu.


Bi Maya nampak bingung. Takut sebenarnya, wajahnya saja sudah ia tundukkan. Namun, melihat tingkah Zian membuat Bi Maya memberanikan diri bertanya.


"Mmaaf tuan. Tuan cari apa ya?"


Zian melirik dengan sorot mata tajam. Hatinya benar-benar sudah merasa geram. Diabriknya lagi lemari di atas kompor itu.


"Makanan buat dia, Kamu bikin gak?!" Tanya Zian kesal.


"Maaf tuan, tapi makanannya sudah saya taruh di kamar."


"Kenapa kamu gak bilang?!" Geram Zian kemudian meninggalkan Bi Maya sendiri disana.


Yang ditinggalkan hanya bisa menunduk takut. Majikannya itu sedang ada pada suasana hati yang buruk, tak heran dia bersikap seperti itu.


Dengan geram Zian membuka pintu kamar. Dilihatnya Rista yang tengah duduk di samping ranjang. Perlahan Zian kembali melangkah, mendekati, lalu duduk di samping Rista.


Rista merasakan gerakan pada ranjang yang ia duduki. Digerakkannya kepala ke samping, berpikir yang datang adalah Bi Maya lagi.


"Bi.. Akukan udah bilang aku gak mau makan." Jelas Rista dengan lembut.


Zian menghela nafas, menutup mata sejenak.


"Ris ini aku."


"Mas."


"Kenapa kamu gak mau makan?"


Rista menunduk,


"Gak. Aku gak mau makan, aku mau pulang. Anter aku pulang mas!" Pinta Rista yang langsung mendapat penolakan dari Zian.


Pria itu berdiri memicingkan mata menatap Rista yang nampak lemah dan pucat. Rahangnya mulai mengeras, amarahnya sudah mulai memuncak. Dengan menghela nafas gusar Zian mulai bertanya.


"Kamu kenapa bersikeras hah? Emang kamu pikir dengan kamu mogok makan aku bakal anter kamu pulang? Gak!" Tegas Zian memalingkan wajah hendak melangkah menjauh.


"Kenapa mas?" Nada bicara Rista mulai serak. Sedari tadi gadis itu sudah menahan tangis, tapi kali ini ia tak bisa menahannya lagi.


"Kenapa mas begitu egois? Mas mau ngurung aku disini dan menyiksa perasaan aku? Apa itu yang mas mau? Apa yang sebenarnya kamu inginkan mas?" Tanya Rista disela tangisnya.

__ADS_1


Zian kembali menghela nafas panjang, merasa begitu kesal. Mungkin dia memang egois, tapi Zian jelas merasa apa yang dia lakukan benar. Hukuman untuk Rista yang telah berani merebut kebahagiaannya dengan harus menikahi gadis buta. Menyiksa bagi Zian harus menikah dengan gadis buta. Cacat, siapa orang yang mau menikahi orang cacat? Semua orang menginginkan fisik sempurna bahkan akhlak yang sempurna. Seperti itulah yang terpikir oleh Zian, dia masih bersikeras dengan pemikiran juga sudut pandangnya tentang Rista.


"Apa yang aku mau?" Zian berjalan tanpa sepengetahuan Rista. Melangkah mengambil mangkuk berisi bubur di atas nakas.


"Aku mau kamu bersedia melakukan sandiwara ini." Jelas Zian.


Kemudian Zian menarik kursi putih di samping jendela. Menariknya ke hadapan Rista, duduk disana menghadap sang istri. Zian berusaha tenang menghadapi air mata Rista, meski dia memang paling tak tega melihat wanita menangis.


"Sekarang, kamu makan! Jangan menyakiti diri kamu sendiri!" Pinta Zian menyendokkan bubur.


Tangannya diangkat mendekatkan sendok berisi bubur itu ke mulut Rista. Menyentuhkan ujung sendok ke bibir Rista.


"Buka mulut kamu!"


"Kalau aku gak mau melakukan sandiwara ini. Bagaimana mas?"


Prakk ..


Dengan nafas terengah-engah. Dilemparnya mangkok oleh Zian. Pria itu sudah berdiri sekarang.


Rista menutup mata merasa sangat kaget. Takut juga ia rasakan. Air mata sudah semakin berderai. Dikepalnya kedua tangan, meremasnya sekuat tenaga. Tubuhnya berguncang menahan tangis, tapi Zian tak peduli.


"Terserah!" Geram Zian hendak melangkah meninggalkan Rista.


Drrrtttt .. Drrrtttt .. Ponsel Rista tiba-tiba bergetar. Zian beralih pandang, dilihatnya Rista mengambil ponsel dari saku roknya.


Dengan tangan gemetar Rista mengangkat telpon itu.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Tanika dari balik telpon.


Pertanyaan Tanika dapat Zian dengar. Merasa terancam Zian dengan sigap menarik ponsel itu. Rista kaget, tapi tak sanggup melakukan apa-apa. Zian menatap tajam dengan telunjuk yang ditaruh di depan bibir, pria itu mengisyaratkan agar Rista diam.


Rista menuruti kemauan Zian, iapun kembali menunduk meremas ujung kaosnya menahan tangisnya agar tak didengar sang ibu.


"Hallo tante, Rista gak apa-apa tan." Jawab Zian sembari melenggang berjalan menjauhi Rista. Ditatapnya suasana luar dari balik jendela. Mulutnya masih begitu lihai bersilat lidah pada sang mertua.


"Ya tan. Rista gak apa-apa kok, tadi dia cuma nonton film sedih jadi nangis. Kita disini baik-baik aja tante, jadi Tante jangan khawatir sama Rista, saya akan jaga dia dengan baik."


"Awas kamu sampai sakitin hati anak saya! Saya gak akan segan sama kamu! Ingat itu!"


"Tante tenang aja Rista bahagia disini, dia gak akan pernah nangis. Saya ada disamping dia."


"Ya udah, mana Rista? Saya mau bicara sama dia!"


Mendengar permintaan sang mertua, membuat Zian melirik Rista sekilas lalu menjawab dengan kebohongan lagi.


"Duh tan, Ristanya ke toilet dulu."


Sesaat tak ada jawaban, tapi kemudian Tanika kembali berucap.

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu saya titip salam sama Rista. Jaga dia baik-baik! Ingat untuk gak nyakitin hati dia barang sedikitpun." Pinta Tanika kemudian menutup panggilanan.


Zian menghela nafas lega. Tubuhnya ia balikan kembali menghadap Rista, melangkah mendekati gadis itu lalu melempar ponsel ke atas kasur.


"Jangan bicarakan apapun sama mama kamu!"


Zian kembali duduk di hadapan Rista, melihat gadis itu yang tengah sesegukan karena menagis.


"Udah!" Zian menghapus air mata Rista. "Jangan nangis lagi! Aku cuma minta kamu melakukan sandiwara. Sebegitu sulitkah? Sampai kamu mogok makan dan nangis kaya gini?"


Rista mengangkat wajah. Tangannya menggenggam jemari Zian yang bertengger di pipinya.


"Mas. Aku cinta sama kamu, apa aku salah?" Tanya Rista dengan wajah sendu.


Zian mengalihkan pandangan, menatap ke bawah sekilas kemudian kembali menatap Rista.


"Gak. Gak salah! Tapi, mungkin aku yang bodoh, karena mempermainkan kamu. Maaf, tapi aku gak bisa balas cinta kamu itu. Aku tanya, apa salah aku ingin wanita yang sempurna secara fisik?"


Rista menggeleng lemah. Menggigut bibir, kembali menunduk.


"Jadi, untuk kebaikan kita. Aku mohon kamu mengerti! Kita jalani sandiwara ini! Aku gak akan marah kamu mau bersama pria manapun, aku gak masalah. Kamu tenang aja! Aku gak akan siksa kamu, kekang kamu. Kamu berhak melakukan apapun yang kamu mau. Sebagai ganti aku juga akan mencari wanita yang cocok untuk aku, kamu faham?" Jelas Zian kini dengan nada lembut. Namun, tetap membuat air mata Rista mengalir.


Ditahan gemetar suaranya. Rista mencoba berbicara dengan tenang agar Zian mendengar pertanyaan dengan baik.


"Termasuk hak untuk mencintai kamu mas?"


Zian menghela nafas.


"Tapi, aku gak jamin kamu tetap baik-baik aja dengan perasaan kamu itu. Jadi, aku sarankan kamu hapus cinta kamu sama aku."


Rista menelan saliva sesaat, kembali menggigit bibir bawahnya, menahan agar ia tetap bisa tenang dengan keputusan yang akan ia ambil. Tangannya meraba tangan Zian kemudian naik ke lengannya.


Saat Rista meraba wajah Zian, pria itu mencoba untuk tak memberontak dan menerima saja. Mungkin akan ada jawaban memuaskan bagi Zian.


"Mas.." Dengan tangan gemeteran Rista mengusap wajah itu. "Aku gak tahu kapan aku bisa hapus cinta aku. Tapi, aku akan berusaha mas. Jikapun tidak, maka aku akan berusaha membuat kamu cinta sama aku. Beri aku waktu mas agar aku bisa membuat kamu cinta sama aku."


Zian memalingkan wajah, menghela nafas panjang.


"Okey. Terserah kamu, tapi aku cuma ngasih waktu satu tahun untuk kamu. Melupakan atau menaklukkan hatiku. Berdoa saja! Mungkin Tuhan akan membukakan hatiku untuk kamu, tapi jangan terlalu berharap!" Tegas Zian kemudian berdiri, membuat Rista melepaskan tangan dari wajah Zian.


Terdengar hentakan kaki Zian keluar dari kamar. Rista kembali menunduk, menagis tersedu-sedu. Sebegitu bencikah Zian? Hingga ia tak mau belajar untuk mencintainya? Terlalu burukkah seorang gadis buta? Hingga tak ada yang menginginkannya. Beginikah kenyataan? Rista tak pernah merasakannya sebelumnya. Tak ada yang berani menghina ataupun membenci kekurangannya selama ini. Keluarganya menerima Rista dengan baik. Tapi, kenapa? Kini orang yang ia anggap sebagai cinta sejati bahkan suaminya sendiri berani menghina Rista sampai membencinya. Kemudian yang terparah adalah dia berani berbohong demi kepentingannya sendiri dan memanfaatkan kebutaan dan kepolosannya. Ternyata inilah kenyataannya, dunia yang sesungguhnya akan segera Rista jalani. Bukan penerimaan melainkan penolakan dari orang yang ia rela berikan hati dan jiwa untuknya. Berlebihan memang, tapi entahlah Rista sudah terlanjur melabuhkan hati pada Zian. Meskipun Rista tak tahu kemana bahtera cintanya akan melaju setelah hati yang mencinta itu dihujami berbagai sayatan luka.


°°°


"Pernikahan Rista dan Zian rupanya merupakan salah satu pernikahan mewah tahun ini. Tempat yang mereka pilihpun merupakan salah satu hotel berbintang lima di Bandung. Anak dari Direktur Utama PT. PRU IV Cilacap itu sungguh beruntung mendapatkan seorang suami yang tampan juga karier yang bagus. Rista Alfarisi dikenal publik sebagai anak Direktur utama anak perusahaan PT. PR-tm Indonesia yang memang memiliki kekurangan. Rista merupakan penyadapan tunanetra, namun Rista adalah gadis yang berbudi pekerti luhur dan anggun di mata masyarakat. Mereka digadang- gadang sebagai pasangan termanis tahun ini. Zian yang memang pria yang berkarisma juga Rista yang merupakan wanita yang anggun. Pernikahan meriah itupun tak luput dari sorotan media masa, bukan karena keromantisan dua insan, tapi juga banyaknya para menteri yang hadir seperti ...."


Klik,


Seorang wanita mengklik tombol off di remote control yang ia pegang. Mematikan televisi itu, ia kemudian berdiri. Rasanya sudah bosan ia mendengar berita pernikahan anak Direktur Utama PT PRU IV Cilacap itu. Lagipula, setelah mendengar berita itu sudah cukup membuatnya yakin kalau keputusan yang akan ia ambil ini adalah benar. Melangkahlah wanita berbaju putih dan celana jeans itu ke arah jendela. Ditutupnya jendela kaca berwarna coklat tua. Sudah malam, tapi mungkin sang ibu lupa menutup pintu itu. Suara seorang bayi laki-laki mengagetkannya. Dengan langkah cepat, dia mendekati bagi berusia dua tahun.

__ADS_1


"Shtt.. sayang tidur ya! Mama disini." Ucap wanita itu lembut, sembari mendekap sang bayi dengan dekapan hangat yang terbukti dari lelapnya sang bayi tertidur tak beberapa lama setelah ia dekap.


__ADS_2