Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 32 : Sosok Tak Asing


__ADS_3

Semenjak kejadian Yuni yang meminta uang pada Zian, Akira tak kembali menghubungi Zian. Begitupun Zian ia nampak mengabaikan telpon Akira waktu itu. Berpikir untuk tak peduli. Merasa sudah cukup atas apa yang ia beri. Lagipula Akira tak menghubunginya lagi, membuat Zian berpikir uang dua puluh juta itu cukup untuk ganti rugi.


Hari Zian dibuat tenang tanpa ada teror atau telpon entah itu dari Yuni ataupun Akira. Kebersamaan ia lalui bersama anak juga istrinya. Mulai merasa keluarga mereka lengkap. Kehadiran Chandra menambah kebahagiaan dalam rumah tangga Zian dan Rista. Sejak Zian setuju mengadopsi Chandra, Zian selalu menyempatkan waktu untuk bersama dengan Chandra juga Rista. Setiap Minggu Zian selalu mengajak mereka jalan-jalan. Hari-hari Zian yang semula begitu kaku dengan rutinitas kerja yang menumpuk, kini bisa lebih terasa hangat karena kehadiran anak dan istrinya. Meski sampai detik ini Rista belum tahu kejujuran perihal Chandra. Namun, Zian berharap Rista tak pernah tahu akan rahasia yang ia tutupi selama ini. Biarlah Rista berada pada kebohongan yang Zian bangun tentang Chandra, setidaknya cintanya pada wanita itu adalah kejujuran. Mulai dari detik Zian menyadari rasanya pada Rista, sejak saat itu pula pria itu selalu memperlakukan Rista dengan rasa penuh kasih dan sayang. Suasana harmonis dan romantis selalu menyelimuti rumah tangga mereka.


Seperti pagi ini, pukul 7.30 saat cahaya mentari menerpa kulit memberikan rasa hangat disana. Zian juga Rista tengah menggelar karpet di bawah pohon. Mereka sengaja melakukan piknik kecil di Alun-alun kota. Mereka duduk di atas karpet itu sembari melakukan sarapan pagi. Zian menaruh Chandra di pangkuannya, sementara Rista menyuapi anak itu. Berulang kali Zian menjaili Chandra dengan mengambil suapan yang Rista beri.


"Papa jahat!" keluh Chandra memanyunkan bibir.


"Sayang kenapa? Kok bilang papa jahat, emang papanya kenapa, sayang?" tanya Rista.


Zian hanya menahan tawanya. Suara kecil Zian yang menahan tawa dapat didengar Rista, membuat wanita itu menautkan alis. Menghentikan tangannya yang sedang mengaduk bubur.


"Mas, aku curiga deh, kamu ambil suapan aku buat Chandra ya?" tuduh Rista kemudian menaruh mangkuk.


Tak bisa Zian tahan lagi tawanya, saat melihat anaknya manyun dan beringsut memeluk ibunya.


"Ya bunda, papa nakal ambil bubul Chanla." Chandra memeluk Rista mengadu pada ibu angkatnya itu. Menatap ayahnya yang tertawa kecil.


"Mas, kamu ya! Kasihan Chandra, kamu kan udah makan, masa masih ambil punya Chandra?" ujar Rista mengelus lembut rambut Chandra.


Sedikit mendehem sebentar, Zian kemudian mencubit hidung Rista.


"Pelit! Gak boleh ya aku disuapin kamu?" Zian melipat tangan di bawah dada. Memanyunkan bibir seolah benar-benar marah.


"Bukan gitu mas ...." Belum selesai Rista berucap suara jeritan Zian membuatnya kaget.


"Aw!" jerit Zian.


Rista sigap meraba suaminya. Dengan perasaan cemas ia raba paha Zian.


"Mas kenapa?" tanya Rista khawatir.


Wajah Rista yang semula kesal kini berubah cemas. Merasakan Chandra yang tak ada di pangkuan membuat Rista semakin khawatir.


"Anak kamu nakal! Dia cubit pipi aku." tutur Zian.


Pria itu mengelus pipinya yang tanpa sepengetahuan Rista di cubit Chandra. Rista kembali merasakan Chandra yang duduk di pangkuannya.


"Hah? Eh, Chan kamu cubit papa ya?" tanya Rista.


Tak mendapat jawaban dari Chandra. Tubuh Rista malah merasakan pelukan dari Chandra. Dipererat pelukan itu, membuat Rista merasa heran. Merasakan pelukan Chandra membuat Rista meraba lalu mengelus lembut rambut Chandra.


"Sayang!" ucap Rista pada Chandra.


Anak itu hanya menatap takut melihat ayahnya yang mengelus pipi yang terasa perih.


"Sayang, pipi aku perih nih dicubit Chandra!" Zian menarik tangan Rista menempelkan di pipinya. Mengelus-eluskan jemari Rista disana. Dengan manja Zian mengadu seolah ingin diperhatikan.

__ADS_1


"Sayang perih Chandranya nakal!" ucap Zian dengan manja.


Rista terkekeh mendengar suara manja Zian. Namun, Rista menanggapi kemanjaan Zian dan mengelus pipi Zian membuat Zian tersenyum senang.


"Mas, tumben dicubit gitu aja ngeluh! Biasanya aku cubit aja gak berasa." ungkap Rista masih mengelus pipi Zian.


"Papa nakal! Cubit bunda!"


Tiba-tiba suara lugu Chandra menghentikan elusan Rista di pipi Zian. Menarik tangan itu kemudian memeluk Chandra.


"Jadi, sayangnya bunda bela bunda gitu? Uuh, manisnya mana pipi Chandra biar bunda cium!"


Chandra berdiri dan mendekatkan pipi dekat bibir Rista. Diciumnya pipi itu oleh Rista.


"Cemburu aku! cuma Chandra doang yang dicium aku nggak." keluh Zian yang mendapat kekehan dari Rista.


"Mas kamu kok cemburu? Sini mana pipi kamu biar aku cium juga!" Rista sedikit memajukan bibir ke depan hendak mencium pipi Zian.


Namun, dengan jail Zian malah menempelkan bibirnya dan mengecup sekilas bibir Rista. Tindakan Zian membuat Rista kaget dan segera menunduk karena malu. Berbeda dengan Rista yang menunduk malu, Zian justru malah tersenyum penuh kemenangan. Debaran dirasakan di dada Rista. Merasa malu sekaligus salah tingkah. Sedikit mengigit bibir bawahnya Rista semakin menunduk malu.


"Mas ada Chandra, ini tempat umum kamu kok malah cium aku." gumam Rista terlihat kesal namun dengan pipi yang merona.


Tangan Zian menyentuh rambut atas Rista dan mengusapnya.


"Sayang, gak apa-apa dong kita kan suami istri. Lagian Chandra juga gak masalah dia malah asik mainin rambut kamu." jelas Zian.


"Aku sayang sama kalian berdua. Jangan kalian tunjukan rasa sakit sama aku, okey? Karena kalian adalah sumber kebahagiaan dihidup aku. Aku harap kamu selalu dampingi aku buat jaga anak-anak kita." tutur Zian disela pelukannya.


Rista mendudukkan Chandra di pangkuannya. Kemudian ia taruh kedua tangan melingkar di perut Chandra agar anak itu tak pergi dari pangkuannya. Sementara kepalanya ia sandarkan di bahu Zian.


"Iya mas, aku akan selalu dampingi kamu apapun yang terjadi." sahut Rista.


Ditariknya perlahan dahi Setelah itu Zian mengecup kening Rista cukup lama. Mengelus pipi Rista dengan tangan kanan dan tangan kirinya merangkul bahu Rista meletakan Rista dalam dekapannya.


"Aku sayang kamu Ris," ucap Zian.


Tangan Rista ditarik-tarik perlahan oleh Chandra.


"Bunda, mama!" teriak Chandra.


Apa yang diucapkan Chandra membuat Zian tersentak kaget spontan pria itu melepaskan tangan yang mengelus sang istri. Matanya mencari sosok yang Chandra teriakan. Tak kalah kaget Rista bangkit dari sandarannya.


"Mama siapa Chan?" tanya Rista.


Perlahan Zian melepas rangkulan tangan pada bahu Rista. Pandangannya menyelidik mencari sosok Akira. Penglihatan Chandra tak mungkin salah. Orang yang dipanggil 'mama' oleh Chandra pastilah Akira.


"Itu!" Chandra menunjuk sosok wanita bertopi jingga.

__ADS_1


Wanita itu terlihat menunduk seketika. Mengambil minuman botol yang berikan seorang pedagang asongan. Zian menyipitkan mata menyelidiki sosok yang ditunjuk Chandra, tapi ia tak bisa melihat jelas wanita di balik topi yang malah berjalan cepat.


Zian hendak berdiri untuk mengejar wanita bertopi jingga, tapi suara lembut Rista menghentikan niatnya.


"Mas siapa? Kok Chandra bilang 'mama'? Apa jangan-jangan dia liat Ibunya mas?"


Pikiran Rista seketika mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri saat mendengar Chandra mengatakan 'mama'. Terpikir dalam benak Rista kemungkinan Chandra memang melihat ibunya. Tak mendengar jawaban Zian membuat Rista kembali bertanya, "mas siapa? Mas lihat seseorang?"


Mulut Zian sedikit menganga hendak menjawab, tapi ia ragu untuk menjawab. Matanya masih menatap wanita yang berjalan cepat meninggalkan Taman Alun-alun itu. Langkah wanita itu terasa cepat. Dalam hitungan detik wanita itu sudah menghilang, padahal Zian hanya sebentar mengalihkan pandang melirik Rista yang memanggilnya. Zian mengerjapkan mata. Menarik nafas sebentar.


"Nggak ada, gak ada siapa-siapa." jawab Zian sedikit terbata-bata.


Gugup Zian saat menjawab pertanyaan Rista. Wanita yang ia lihat itu memang begitu mirip dengan Akira. Perawakan wanita itu terlihat tidak asing. Namun, untuk memastikan itu adalah Akira Zian belum bisa memastikan. Saat melihat Akira ia seketika merasakan dosa lama juga kesalahan yang tengah ia lakukan detik ini. Zian menghela nafas, kemudian memijit sebentar dahinya.


Jawaban Zian yang terdengar gugup membuat Rista merasa curiga. Ada apa dengan suaminya? Apa yang dia lihat? Sedikit ada rasa tak enak di hati Rista. Entah itu firasat buruk atau apa? Ristapun tak mengerti. Karena Zian hanya diam setelah menjawab dengan terbata-bata, Rista memilih kembali bertanya, "Mas kamu lihat apa?"


"Hah?" Zian tersadar dari lamunannya. Kembali ia menghela nafas dan memijit sekilas keningnya. "Gak sayang, gak ada cuma ... tukang minuman." jawab Zian kemudian berdiri. "Sayang aku ambil air di mobil ya? Kamu sama Chandra tunggu disini sebentar!"


Rista hanya menjawab dengan senyum dan anggukan. Langkah Zian berjalan menuju mobilnya di parkiran. Tangannya masih sesekali memegang kepalanya yang terasa pening. Mengingat wanita yang ditunjuk Chandra, membuat Zian berpikir wanita itu benar-benar Akira. Akira adalah orang membuatnya terasa terancam. Akira memang tak mungkin membongkar kebejadannya di masa lalu, tapi tetap ia merasa khawatir akan hal itu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bukankah sepandai-pandainya orang menyimpan rahasia maka akan terbongkar jua?


Zian angkat wajahnya setelah berusaha menetralisir rasa khawatir yang tak jelas ia rasa. Matanya melebar tiba-tiba saat melihat wanita yang berjalan hendak membuka pintu taxi. Zian berlari mengejar wanita itu. Sebelum terlambat, Zian tarik salah satu pergelangan tangannya.


"Tunggu!" pinta Zian kemudian menunduk untuk menengok supir taxi lalu berucap, "jalan aja pak, gak jadi naik." tegas Zian.


Tanpa protes supir Taxipun melajukan mobilnya meninggalkan Zian dan wanita yang mematung menatap Zian dengan mata terbelalak.


"Mas Zian?" ujar wanita itu kaget.


"Jadi benar, orang yang dilihat Chandra itu kamu. Ngapain kamu tunjukkin wajah kamu depan Chandra? Apa maksud kamu?" geram Zian semakin mempererat cengkraman pada tangan Akira.


"Lepas mas!" Dihempaskannya tangan Zian. Amarah terpancar jelas di kedua mata Akira. Nafasnya sedikit memburu karena kesal. "Apa salahnya mas? Aku ibunya kan? Lalu apa salah aku ingin melihat Chandra? Kamu bisa bahagia disana sama Chandra juga istri kamu itu. Sementara aku mas, aku harus merasakan sakit menahan rindu sama Chandra. Kamu gak bisa rasain perasan aku mas, jadi kamu gak berhak nanya itu sama aku." tegas Akira tak mau kalah.


Seketika Zian melepas cengkraman pada pergelangan Akira. Menautkan alis, tak percaya dengan apa yang Akira katakan.


"Apa? Maksud kamu apa? Kamu yang ngirim Chandra ke rumah aku dan sekarang kamu mengeluh merindukan dia. Apa kamu sudah gila? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"


Zian semakin tak mengerti dengan apa yang diinginkan Akira. Wanita itu seolah tak rela Chandra bersamanya. Namun, dia malah memberikan Chandra di tengah kehidupan rumah tangganya bersama Rista.


"Malam ini temui aku di Cafe Daun jam delapan tepat. Aku akan kasih tahu kamu apa yang aku inginkan." ucap Akira kemudian berjalan meninggalkan Zian.


Zian semakin heran sedikit mendengus kesal. Maksud Akira tak dapat Zian mengerti. Ditatapnya kepergian Akira. Wanita itu berhasil kembali menyetop Taxi lalu menaikinya. Dengan langkah gusar Zian melangkah menuju mobil lalu membuka pintu mobilnya mengambil air mineral disana. Saat Zian menutup kembali pintu mobil ia tutup pintu itu dengan kasar. Rahangnya mengeras. Nafasnya terdengar begitu kesal. Hampir saja ia melempar botol mineral di tangan. Pelapisan amarahnya berakhir dengan memukul atap mobil.


"Arghhkk, sial! Apa sih maunya tu cewek! Gue pikir dia gak akan nunjukin batang hidungnya lagi, tapi ... dasar cewek brengsek!" gerutu Zian.


"Siapa?"


Suara seseorang yang familiar membuat Zian berbalik badan dengan mulut sedikit ternganga karena kaget. Zian hendak menyebut nama orang itu, tapi rasa kagetnya menghentikan suara Zian hanya sampai pangkal tenggorokan.

__ADS_1


__ADS_2