
Suara gemericik air terdengar syahdu melingkupi ruangan bernuansa warna putih. Disana Zian tengah menguyur tubuh menggunakan shower. Ritual mandi pagi ia lakukan setelah sebelumnya Rista sang istri membangunkannya dengan lembut. Tak nampak kemarahan di wajah Rista. Wanita itu masih tersenyum manis. Menunjukkan kemungkinan bahwa Rista tak mendengar perkataan Zian semalam.
Seusai mandi, seperti biasa Zian segera berganti pakaian untuk bekerja. Dengan stelan jas juga kemeja. Seperti biasa pula Zian menuruni tangga. Menaruh kedua tangan di dalam satu. Matanya mencari sosok Rista, yang ternyata tengah berkutik dengan alat masak di dapur. Nampak sang istri tengah mencuci wajan bekas memasak. Berjalan perlahan Zian kemudian mendekati Rista. Langkahnya terhenti tepat di belakang sang istri. Kedua tangan kekar milik Zian, ia lingkaran di pinggang Rista, membuat Rista terperanjat.
"Mas!" seru Rista.
Wanita itu tahu, sosok yang memeluknya sudah pasti adalah Zian. Tangan Rista meraba keran di wastafel itu. Mencuci tangan kemudian. Rista membalikkan badan.
"Mas, kenapa kamu bikin aku kaget? Kebiasaan deh," ujar Rista kesal.
"Em, jadi kamu gak suka aku peluk?" Zian menarik tubuh Rista hingga kini perut mereka saling menyentuh. Kedua tangan Zian ia lingkarkan memeluk Rista. Menautkan jemarinya di panggul sang istri. Ditatapnya Rista yang tertunduk malu.
"Bukan gitu mas ...."
"Kenapa sayang?" Zian menjepit dagu Rista dengan telunjuk dan ibu jari. Mengangkat perlahan wajah yang sedikit memerah itu.
"Aku kangen loh sama kamu, kamu gak kangen sama aku?" lanjut Zian masih menjepit dagu Rista.
"Mas, kita ketemu tiap hari kamu masih kangen aja. Tapi aku juga mas, aku kangen sama kamu. Kamu kan jarang di rumah jadi kadang aku suka kangen sama kamu."
"Oh ya? Ya udah, hari ini aku gak kerja deh," Zian merengkuh tubuh Rista. Membawanya ke dalam dekapan. Rista tak menolak namun iapun tak membalas pelukan Zian.
"Loh, kok gitu? Mas harus tetep kerja ngapain mas di rumah?"
"Katanya kangen, tapi aku di rumah gak boleh. Pokonya ...." Zian mengurai pelukan. Menaruh kedua tangan di pipi Rista, "hari ini aku mau deket sama kamu. Aku mau peluk kamu, cium kamu, terus ...." Zian menarik satu sudut bibir. Wajahnya perlahan mendekat ke leher Rista, kemudian Zian berbisik, "tidur sama kamu."
Desah nafas Zian terasa hangat saat pria itu berbisik. Perlahan Rista tersenyum malu.
"Mas! Kamu kerja sana! Nanti malem juga kita tidur bareng."
"Gak! Aku mau deket sama kamu hari ini titik." tegas Zian kembali merengkuh Rista.
Sejenak mereka menikmati pelukan itu. Namun, tak lama Rista merasa sedikit risih dengan pelukan Zian yang semakin erat. Bukan tak suka, hanya saja Rista merasa aneh dengan Zian. Ia tiba-tiba tak ingin kerja dan malah ingin menemani di rumah. Perlahan Rista dorong tubuh Zian. Sekelabat ingatan mampir di benak Rista. Cerita Zian semalam, Rista ingat Zian mengatakan Zian tahu ibu Chandra dan ibu Chandra adalah bagian masa lalu Zian. Hanya sampai itu Rista mendengarkan selebihnya Rista tak tahu. Rasa kantuk malam tadi membuatnya tak bisa mendengarkan cerita Zian dengan lengkap.
"Kenapa sayang, kok dilepas?"
"Mas, semalem kamu cerita kamu tahu ibunya Chandra, kan? Terus kamu bilang dia bagian dari masa lalu kamu. Emang siapa wanita itu mas?"
Secara tiba-tiba jantung Zian berdekup tak karuan. Merasa kaget, Zian membasahi bibir yang tiba-tiba terasa kering. Tenggorokannya seolah kaku. Matanya mencari sekeliling, entah apa yang dicari mungkin sebuah alasan. Terbesit dalam benak Zian beberapa pertanyaan. Apa mungkin Rista mendengarkan? Lalu apa saja yang Rista dengar? Jika iya, apa tanggapan Rista tentang kejujuran Zian?
Merasa tak ada respon, Rista kembali bertanya.
"Mas, siapa wanita itu? Mas kenal? Kenapa mas bilang dia bagian dari masa lalu? Maaf semalem aku gak dengerin semua cerita kami mas, makanya aku nanya sekarang." tutur Rista merasa menyesal.
Zian terkejut, tapi kemudian ia menutup mata sejenak dan menghela nafas lega.
"Mas!"
"Eh, Eu ... ya, kenapa sayang?"
"Mas belum jawab pertanyaan aku. Siapa wanita itu, mas?"
Kembali menghela nafas kecil. Ditaruhnya perlahan kedua tangan di bahu Rista. Sedikit menekan bahu itu, seolah sebuah isyarat ia akan memberi penekanan untuk jawabannya. Ditatapnya wajah Rista dengan lekat.
"Dia ...."
"Maaf! Tuan, Non Rista ada tamu." ujar Bi Maya yang tiba-tiba datang.
"Siapa, Bi?" tanya Rista.
Terasa oleh Rista tangan Zian berhenti bertengger di kedua bahunya. Bi Maya menjawab, "Gak tahu non, tapi dia pengen ketemu Non Rista."
Zian dibuat menautkan kedua alis mendengar jawaban Bi Maya. Terdengar seperti memberi tanda tanya bagi Zian.
"Siapa pagi-pagi gini pengen ketemu Rista?" tanya Zian.
Zian melangkah berjalan keluar dapur. Ditengoknya seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di Ruang Tamu. Tak jelas siapa wanita itu karena ia duduk membelakangi Zian.
__ADS_1
"Mas!" seru Rista sembari meraba lengan Zian yang kemudian ia elus setelah mendapatkannya. "Gak apa-apa, mas. Kamu jangan khawatir aku bakal nemuin dia, mungkin orang penting."
Rista berjalan melewati Zian. Suara tongkat Rista terdengar cukup nyaring membuat sang tamu menoleh ke samping. Dilihat oleh Zian tamu itu tersenyum. Namun, tunggu! Zian seolah mengenal wanita itu. Mata Zian terbelalak, repleks tangannya hendak menutup mulut tapi tak jadi ia lakukan. Zian berusaha tenang. Wanita itu Bu Yuni, ibu Akira.
"Untuk apa wanita itu kesini?" gumam Zian. Kini pria itu tengah bersembunyi di balik tembok. Mencoba mendengar percakapan.
Yuni berdiri menyambut kedatangan Rista. Kemudian wanita itu menyapa, "selamat pagi Non."
"Pagi," jawab Rista. Meraba Sofa lalu duduk disana. "Ibu ada perlu sama saya?" lanjutnya bertanya.
Ikut duduk Yuni. "Saya sebenarnya ada masalah kecil, non."
"Masalah? Masalah apa, bu? Apa ada hubungannya dengan saya?" Rista menunjuk diri sendiri.
"Em, sebenarnya sama suami non."
"Suami saya?" potong Rista merasa sedikit kaget. "Lalu apa masalahnya bu?"
"Ini menyangkut anak perempuan saya. Semua ibu pasti sangat terluka kalau mengalami hal ini, non."
Zian sedikit menautkan alis. Ia dapat berjalan mendengar jelas percakapan dua orang di hadapannya itu.
"Anak perempuan itu seperti cermin, dia rapuh dan kalau sudah hancur ya ... pasti hancur dan sulit untuk membuatnya baik." lanjut Yuni.
Segera Zian melangkah cepat mendekati mereka.
"Ada apa ini?" tegas Zian. Menatap Yuni tajam.
Yuni segera menoleh ke arah suara dengan menaikkan satu sudut bibir seolah sedang mengejek Zian. Nafas Zian sudah mulai gusar. Ingin rasanya Zian menarik tangan wanita itu dan mengusirnya dari hadapan Rista, tapi itu tak mungkin. Hal itu justru akan membuat Rista curiga.
"Ini loh mas, ibu ini punya masalah tentang anak perempuannya dan masalah itu berhubungan sama kamu. Sebenarnya ada apa sih mas? Apa mas sembunyiin sesuatu?"
"Sebenarnya anak perempuan saya kecelakaan dan yang menyebabkan kecelakaan adalah suami non dan lagi dia belum tanggung jawab." potong Yuni.
"Apa?" teriak Zian kaget. "Apa maksud ibu? Saya udah tanggung jawab. Saya bawa anak ibu ke rumah sakit, apa itu gak cukup?"
Rista berdiri. "Loh, mas jadi bener yang diomongin ibu ini? Mas nabrak orang? Atau bagaimana? Jangan-jangan wanita yang mas bilang bawa ke rumah sakit itu, anak ibu ini? Jadi, mas bohong sama aku?"
"Terus apa mas? Ngomong kamu beda semalem."
"Dia belum bayar administrasi, non. Jadi, kalau berkenan saya minta non untuk membayar dan menemui anak saya untuk minta maaf." potong Yuni lagi sembari masih melirik Zian dengan senyum menyeringai.
"Ya udah, aku bakal bayar. Kita ke rumah sakit sekarang biar aku ketemu sama anak ibu." ujar Rista lalu mengangkat tongkat kemudian mulai melangkah menuju kamar.
Kini tinggallah Zian bersama Yuni. Mata Zian menatap tajam. Mencengkram kedua bahu Yuni kemudian.
"Maksud ibu apa, hah? Ibu mau apa pertemukan Rista sama Akira? Apa ibu mau bongkar semuanya?" desis Zian kesal. Matanya melirik kamar. Merasa takut Rista akan mendengarkan apa yang ia katakan.
Zian bernafas lega kala melihat Rista masuk kamar. Nampaknya wanita tak mendengar.
Yuni menarik satu sudut bibir. "Ya, ini namanya adil. Kalau anak saya sakit hati istri kamu juga harus sakit hati. Yang melahirkan anak kamu itu Akira, ingat? Bukannya Si buta."
"Jaga ucapan ibu! Sekali lagi ibu mengatakan itu saya jamin ibu gak dapet tempat tinggal di kota ini!" ancam Zian.
Gejolak hatinya benar-benar di puncak amarah. Bagaimana tidak? Istri yang ia cintai dihina seolah tak berharga. Mata Zian masih menatap tajam, kali ini ia berani menunjuk wanita paruh baya itu.
"Dengar! Kalau ibu sampai bongkar rahasia saya ibu bisa saya usir dari kota ini dan saya jamin ibu gak akan dapat pekerjaan apapun di luar sana!"
"Okey, kalau kamu mau rahasia ini aman nikahi anak saya!"
"Apa?"
"Iya, nikahi anak saya. Adil, bukan? Lagian anak saya udah kamu hamili masa gak kamu nikahi, emang anak saya apa? Dia juga punya harga diri." tutur Yuni dengan nada santai.
"Apa ibu sadar dengan apa yang ibu bicarakan? Ibu nyuruh saya nikah sama anak ibu. Saya gak bisa!" tolak Zian.
"Ya udah, saya bisa bicarakan semua sama istri kamu."
__ADS_1
Zian terpaku merasakan dilema dalam dada. Tak bisa memilih, ia tak mungkin menyakiti hati istrinya. Pilihan manapun akan tetap menyakiti hati Rista.
Ceklek, pintu kamar terbuka. Terlihat Rista sudah berganti pakaian dengan tas selempang tergantung di bahu.
"Ayo! Bu kita berangkat!" seru Rista hendak berjalan keluar. Namun, Zian menghampiri dan menarik tangan Rista.
"Tunggu, sayang!"
"Kenapa lagi, mas? Kalau mas gak mau tanggung jawab, ya udah gak apa-apa biar aku yang bayar."
"Aku antar kalian."
Rista tersenyum. Mengelus tangan Zian. "Akhirnya, kamu mau tanggung jawab juga. Ya udah ayo!"
Rista berjalan mendahului mereka berdua. Zian mengambil kunci mobil lalu berjalan mengikuti Rista. Di belakang mereka ada Yuni yang juga ikut naik mobil.
Perasaan gelisah dirasa Zian sepanjang perjalanan. Tak ada percakapan Zian sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sampai tiba-tiba suara Rista mencairkan suasana yang terasa tegang.
"Bu, anak ibu usianya berapa tahun?" tanya Rista.
"Seumuran sama non."
"Oh, kalau boleh tahu kecelakaan dimana bu? Apa lukanya parah?"
"Di club malam."
"Club malam?" Rista bingung. Jawaban Yuni entah kenapa baginya terkesan ambigu.
"Maksudnya, pinggir jalan club malam sayang. Kemaren aku lewat sana dan gak sengaja nabrak dia. Maaf aku bohongin kamu aku takut kamu khawatir."
Rista menautkan alis. "Jadi, mas beneran bohongin aku, mas? Kenapa kamu gak jujur?"
"Aku ... gak bermaksud gitu sayang. Aku cuma gak mau kamu khawatir karena aku udah nabrak orang." Zian melirik Rista bergantian dengan menatap jalanan. Pria itu gugup, tapi mencoba menutupi kegugupannya.
Rista diam, entah apa yang ada di benaknya. Yang Rista tahu ia kecewa saat ini.
"Sayang, kamu kok diem? Aku minta maaf. Aku gak bermaksud bikin kamu kecewa." lirih Zian.
"Jangan mikirin aku, mas. Mas fokus aja nyetir aku udah biasa kaya gini." Rista kembali membungkam mulut.
"Sayang! Kamu kok jadi cuek gini? Kamu marah, aku minta maaf!"
Berulang kali Zian meminta maaf sepanjang perjalanan, tapi Rista tak menghiraukan. Ada rasa tak nyaman di hatinya. Rasa yang seolah masa lalu buruk saat Zian berdusta kini terulang. Memang hanya kebohongan kecil, tapi bukannya sama saja? Itu tetap kebohongan. Dengan hati yang terasa letih dan mulut yang enggan berkomentar Rista turun dari mobil menurunkan juga tongkatnya.
Perasaan Zian semakin dibuat takut dengan sikap Rista. Sekali lagi pria itu telah mengecewakan Rista. Tergesa Zian buka pintu mobil. Memutari mobil lalu menarik tangan sang istri. Rista yang hendak berjalan terhenti. Diam tanpa kata, Rista hanya seolah mematung.
"Sayang, tunggu!" sergah Zian. "Kamu dengerin aku, semua gak seperti yang kamu pikirin! Aku cuma gak mau kamu khawatir, gitu aja. Aku maksud bikin kamu kecewa."
Perlahan Rista hempaskan cengkraman tangan Zian.
"Cukup mas! Kita harus segera membayar administrasi." ucap Rista dengan nada datar.
Terpaksa Zian tak kembali menarik tangan Rista, meski sebenarnya ia tak ingin sang istri seperti itu. Zian tahu, Rista marah tapi Zian tak bisa apa-apa. Kalaupun ia mencoba menjelaskan saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Dalam rumah sakit, Rista membayar administrasi. Ternyata administrasi itu memang belum dibayar. Sejenak hal itu membuat Zian heran. Namun, Zian tak ingin memperdepatkan itu sekarang.
Melangkah ke tujuan yang sama. Ketiga orang itu memasuki ruang perawatan Akira. Perlahan, Yuni yang berada paling depan membuka pintu.
Ceklek, pintu terbuka. Suara manis seorang wanita sedikit membuat Rista penasaran.
"Ibu!" teriak Akira. Wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit itu tersenyum manis.
Segera Yuni mendekati dan memeluk Akira. Zian mengikuti langkah Yuni, iapun mendekati Akira. Namun, berbeda dengan Yuni dan Zian Rista sendiri malah mematung di depan pintu yang sudah terbuka. Ia tak masuk hanya sedang memastikan siapa sosok wanita di balik suara dirasanya familiar. Siapa wanita itu?
"Mas, aku seneng banget kamu kesini!" seru Akira.
Terdengar akrab. Suara wanita itu kala menyapa Zian seakan mereka begitu dekat. Ada apa ini? Rasanya ada sesuatu yang menyesakkan saat wanita itu menyapa Zian. Rasa yang seolah tak rela sang suami di sapa wanita lain. Berlebihan kah? Rista rasa tidak, bukannya itu wajar. Dia hanya cemburu, mungkin.
__ADS_1
"Sayang!" seru Zian menarik tangan Rista. "Kamu kenapa? Ayo masuk!"
Lama larut dalam lamunan, Rista lupa dimana ia berada. Panggilanan Zian menyadarkannya. Menautkan alis, Rista kemudian bertanya, "siapa wanita itu, mas?"