
"Kita bicara lagi nanti!" Pinta Zian yang dijawab anggukan juga senyum oleh Rista.
Dimasukannya kedua tangan ke dalam saku celana. Melangkahlah Zian keluar kamar. Matanya tertuju pada sosok pria yang memang tak asing, kala Zian sampai di ruang tamu. Pria itu dengan sopan berdiri menyambut Zian. Zian melangkah mendekati.
"Ada apa Fan? Kenapa kamu kesini? Ada masalah di SPBU?" Tanya Zian sembari duduk menyilangkan kaki di hadapan Effan.
Effan sendiri adalah Kepala Staff di SPBU ke-2 milik Zian. Pria itu ikut duduk sembari tersenyum. Disodorkannya sebuah bingkisan kado berukuran cukup besar. Zian sedikit menautkan alis, menatap bingkisan berbalut kertas kado bergambar mawar itu.
"Apa ini?" Tanya Zian.
Dengan malu-malu Effan menjelaskan. Tangannya sedikit ia remas, ada rasa gugup berhadapan dengan atasannya.
"Maaf loh Pak. Ini kado dari saya juga para staff yang lain. Sebelumnya saya minta maaf, karena tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan bapak."
"Oh, padahal gak usah repot-repot. Saya gak masalah gak dikasih kado juga. Yang penting kalian tetap kerja dengan baik. Tapi.." Zian mengambil kado itu, sedikit mengangkatnya menunjukkan kalau dia menerimanya. "Makasih ya. Sampaikan terima kasih saya buat yang lain juga." Zian menaruh kado di Sofa samping. Ditatapnya lagi Effan. "Oh ya, besok saya mau ke SPBU. Saya mau cek pembuatan caffe kita." Jelas Zian kemudian.
Effan mengangguk mengerti.
"Baik pak, saya mengerti. Kalau begitu saya mau langsung pulang Pak." Pamit Effan sembari berdiri.
Zianpun ikut berdiri.
"Langsung pulang? Gak mau makan malam dulu disini?" Tanya Zian, memasukkan kembali kedua tangan ke dalam sakunya.
"Gak pak. Gak usah, terima kasih banyak. Saya sengaja mampir setelah pulang kerja. Jadi, saya mau langsung pulang saja." Effan sedikit menundukkan kepala sesaat memberi hormat pada Zian.
Zian tersenyum.
"Ya udah, kalau kamu gak mau. Saya antar sampai depan."
Zian dan Effan berjalan beriringan menuju pintu keluar. Zian mengantar Effan sampai ambang pintu. Effanpun berpamitan lagi juga mengucapkan salam sebelum beranjak pergi.
Ditutupnya oleh Zian pintu rumah itu. Kembali Zian melangkahkan kaki untuk segera ke kamar. Dibuka perlahan pintu kamarnya itu, dilihatnya Rista yang tengah berbincang dengan Bi Maya pembantunya. Rasa bimbang kembali menyelimuti hati Zian. Haruskah ia jujur sekarang? Gadis yang tengah tertawa renyah dihadapannya itu, terlihat begitu polos. Bagaimana reaksinya mengetahui kenyataan ini?
Zian menghela nafas. Genggaman pada gagang pintu itu ia eratkan. Dibukanya lebih lebar pintu kamar. Berjalan perlahan, mendekati kedua insan yang tengah asik berbincang.
Bi Maya yang menyadari kehadiran sang majikan segera berdiri. Menunduk tanda hormat.
"Eh, tuan. Maaf tadi saya ngobrol sama Non Rista." Ujar Bi Maya.
Zian yang semula menatap Rista, beralih menatap Bi Maya.
"Ya gak apa-apa kok bi."
Bi Maya yang mengerti keberadaannya hanya akan jadi obat nyamuk bakar, melirik Rista sesaat. Kemudian pamit untuk keluar.
"Non, saya keluar dulu ya! Kalau non butuh apa-apa non langsung panggil saya." Ucap Bi Maya. Wanita paruh baya itupun menundukkan tubuh berjalan melewati Zian.
"Saya permisi dulu tuan." Ucap Bi Maya dengan anggukan sopan.
Zian tak menjawab, ia hanya mengangguk kecil mengerti. Setelah Bi Maya keluar dan menutup pintu. Zian kembali melangkah, kakinya melangkah tenang menuju Sofa berwarna peach depan tempat tidur. Duduk dengan tenang di Sofa itu, disilangkannya kedua kakinya. Zian masih diam belum berkata. Tatapannya lurus menatap pintu dihadapannya.
__ADS_1
Rista yang tak merasakan pergerakan tempat tidur. Berpikir Zian memang tak duduk di sampingnya. Gadis itu merasa penasaran keberadaan sang suami dimana.
"Mas.."
Dipanggilnya Zian, tapi tak ada jawaban dari Zian. Pria itu menghela nafas panjang. Matanya menunjukkan keseriusan akan apa yang akan terlontar dari mulutnya.
"Tentang pernikahan kita, semua adalah sandiwara." Zian diam kembali.
Rista mengeryitkan dahi. Tak mengerti maksud pembicaraan Zian. Merasa penasaran Ristapun bertanya.
"Sandiwara? Maksudnya apa mas?"
"Ya. Pernikahan kita cuma sandiwara. Pernikahan ini hadir karena keterpaksaan. Aku terpaksa menikah sama kamu, karena desakan kakek juga ancaman kakek kamu. Sebenarnya sedikitpun aku tak pernah cinta sama kamu. Dari awal aku ketemu kamu, bencilah yang pertama hadir dihatiku. Sungguh pernikahan ini bagai kesialan terbesar di hidupku, kalau bukan karena perusahaan aku tak akan mau menikahi wanita buta seperti kamu. Pikirkan saja! Pria mana yang rela menghabiskan sisa hidup dengan wanita buta yang merepotkan juga lemah dan tak berdaya? Tidak akan ada, kecuali karena sebuah alasan." Jelas Zian dengan nada dingin. Terasa lega hati Zian, akhirnya dia mampu mengungkapkan segalanya. Biarlah Rista terluka. Bukankah ini lebih baik? Jika orang lain yang membongkar semua ini. Bukankah akan lebih menyakitkan?
Gadis yang duduk di ujung ranjang itu tak sanggup berkata apapun. Terlalu sakit rasanya, kenyataan memang terkadang sangat sulit diterima. Dan kenyataan Zian yang hanya berdusta akan cintanya, sungguh membuat hati Rista terluka. Bagaimana bisa Zian berkata demikian? Setelah semua yang ia hadirkan di hari Rista. Bagaimana mungkin ternyata semua adalah dusta? Nyatanya Rista merasa semua yang Zian lakukan adalah sebuah ketulusan. Mungkin Rista salah. Bukan ketulusan, tapi kepandaian. Kepandaian Zian merangkai kata. Merayu juga menaklukkan hati Rista, lalu kemudian menghancurkannya secepat kilat, bahkan hanya dengan sebuah kejujuran. Kejujuran yang begitu menyakitkan.
Lalu salahkah jika Rista terluka karena sudah terlanjur jatuh cinta padanya? Jatuh cinta yang harusnya tak ia lakukan. Tapi, cinta tak bisa disalahkan bukan?
Meremas jemarinya. Rista menahan sakit di hati dengan meremas jemarinya. Tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Hanya air mata yang mengekspresikan rasa sakit dihatinya. Air mata yang tak mau berhenti mengalir dari ujung mata yang kian lama kian terasa panas. Batinnya terasa teriris, sakit sekali.
Zian melirik sekilas Rista, sebelum kembali menuturkan maksud pembicaraannya. Rasanya Zian sudah tak peduli lagi. Sudah terlanjur, Ristapun sudah menagis. Biarlah dia menghadapi kenyataan ini.
"Tapi, bukan itu intinya. Semua sudah tidak jadi masalah. Aku sudah menepis ego dengan setuju menikah sama kamu. Dan aku harap kamu bisa melakukan hal yang sama. Tak akan ada kontrak atau kesepakatan dalam pernikahan ini. Hanya aku butuh pengertian. Aku sudah berniat untuk menikahi wanita yang sempurna secara fisik juga memang aku cintai setelah pernikahan ini. Untuk pernikahan kita aku berharap kamu bisa berperan baik dalam sandiwara ini. Sebagai ganti, aku ijinkan kamu mencari cinta sejati yang kamu inginkan itu. Silahkan! Kamu boleh bawa pria manapun ke rumah ini. Bahkan, kalau perlu pergilah ke Club malam! Cari pria yang cocok denganmu! Kalau kamu sudah mendapatkannya katakan padaku. Aku melepas kamu setelah itu. Bagaimana? Ini terdengar adil bukan? Aku mendapat apa yang aku mau, kamupun begitu. Tak ada kesepakatan, jadi selama kamu belum mendapat cinta sejati itu kamu tetap istri aku."
Tusukan apa yang menghujam hati Rista? Rasanya seperti beribu belati menghujam hati yang telah tertanam rasa juga harapan disana. Rasa yang bahkan telah berbuah asmara juga cinta. Tapi, kini layu bagai disengat teriknya sang mentari. Hancur berkeping sudah tak berarti. Semua rasa yang ia jaga untuk seorang cahaya penuntun masa depan. Kini nyatanya ia labuhan pada orang yang salah. Cintanya adalah kesalahan. Rista tak sanggup mendengar penjelasan Zian. Apa kata dia tadi? Mencari pria di Club malam? Sehina itukan dia menilai Rista? Rista benar-benar tak bisa berkata, mulutnya seakan terkunci. Sibuk bergetar menahan getir hati. Ia coba gigit bibir itu, berharap getarannya berhenti. Namun, konyol tindakan Rista itu. Tindakannya justru menambah kegetiran hatinya. Matanya terus berurai air mata. Tak bisa ia tahan derai bulir bening itu, terus berderai begitu saja.
Semakin Rista mencoba menahannya, semakin liar air mata itu berderai.
Tak sanggup bagi Rista jika terus berada di tempat itu. Ingin lari saja, tapi tak mungkin. Gadis itu dengan lantang berdiri, tak peduli apa tanggapan Zian. Ia memberanikan melangkah tanpa bantuan tongkat. Tangannya setia meraba, tapi tak seperti biasa. Rabaannya kali ini begitu cepat, seakan ingin cepat ingin mencari pintu keluar.
Tangan Rista seketika gemetar. Ia tak sengaja menyenggol Vas Kaca yang berada di sudut ruangan. Tentu saja, tanpa bantuan tongkat Rista akan linglung. Padangannya gelap tak tahu benda apa yang ada dihadapannya. Rasa takut menyelimuti hatinya. Nyaringnya pecahan kaca seolah mememak telinga. Tunggu! Itu hanya pecahan kaca, tapi mengapa begitu menyakitkan bagi Rista? Mungkin bukan karena kacanya yang pecah. Namun, hatinya yang hancur menjadikan insiden kecil seperti itu terasa begitu memilukan.
Zian berjalan cepat menghampiri Rista. Dengan umpatannya Zian menarik tangan Rista yang gemetar.
"Apa kamu bodoh?! Apa yang ingin kamu buktikan? Apa hah? Ingin membuktikan kamu bisa berjalan tanpa tongkat? Atau tanpa melihat kamu bisa tahu keberadaan Vas dan menghancurkannya?!" Bentak Zian seketika membuat Rista kembali menitihkan air mata.
Susah payah gadis itu menahan tenggorokannya yang terasa tersekat. Dengan linangan air mata Rista mencoba memberontak. Dihempaskannya tangan Zian begitu kasar.
"Lepas! Lepasin aku mas! Aku mau pulang. Untuk apa aku disini? Kamu benci sama aku mas." Tegas Rista.
Zian terbelalak melihat tingkah Rista. Terpaksa Zian melepas cengraman pada pergelangan tangan Rista. Tangannya melayang di udara, seolah tak tahu harus apa. Zian tak sangka Rista rupanya begitu terluka, terlihat jelas dari air mata yang berlinang di pipinya.
Melangkah kembali Rista. Ia tak peduli, sudah merasa beruntung Zian mau melepas tangannya. Tiba-tiba gadis itu meringis kesakitan, diangkat perlahan kaki kanannya. Seperti ada sesuatu yang menusuk di telapak kakinya, perih sekali.
Zian yang melihat itu, segera memandang kaki yang Rista yang ia angkat. Zian terkejut bukan main. Pria itu berlutut segera, mengangkat perlahan kaki Rista. Rista kembali meringis. Merasakan kaki semakin perih saat diangkat. Tetesan darah menodai lantai putih itu. Zian mengumpat seketika melihat luka di telapak kaki Rista.
"Apa kamu gila?! Kamu pikir apa? Karena kebodohan kamu sendiri, kaki kamu sampai terluka."
Rista merasakan tubuhnya melayang tiba-tiba. Rupanya Zian segera menggendong gadis itu. Rista ingin menolak, tapi tubuhnya yang serasa lemas tak mampu untuk melawan Zian. Dengan digendong ala bridal style, Zian membawa Rista ke atas tempat tidur medudukkannya disana. Lalu dengan cekatan Zian memeriksa luka di telapak kaki Rista. Rista meringis kesakitan, kala Zian menarik pecahan kaca disana.
"Diam! Ini akan sedikit sakit." Tegas Zian. Ia kemudian mengambil alat P3K di laci nakas.
__ADS_1
Membersihkan luka itu, kemudian membalutnya. Disela Zian mengobati luka Rista. Tak henti gadis itu meringis diiringi tangisan. Bukan perih kakinya yang membuat Rista menagis, melainkan perih batinnya merasakan perlakuan Zian. Bukankah pria itu baru mengatakan dia tak mencintai Rista? Tapi kenapa sikapnya masih begitu perhatian?
"Tolong mas! Kenapa kamu seperti ini? Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Apa kamu ingin melambungkan hati ku ke awang-awang, lalu menghempaskannya begitu saja? Sebenarnya apa mas? Jangan perlakukan aku seperti ini! Ini benar-benar sakit. Salahkah aku begitu mencintaimu mas? Hingga aku begitu serakah berharap kamulah cinta sejati itu." Lirih Rista dalam hati, mulutnya masih setia meringis.
Beberapa menit kemudian Zian selesai membalut luka Rista. Zian melirik Rista yang ternyata sudah tertidur. Air mata masih setia menetes. Entah kenapa dengan gadis itu. Mungkin Rista menangis dalam mimpi. Matanya tertutup rapat, sepertinya dia sudah tidur pulas.
Kembali Zian menaruh kotak P3K ke dalam laci. Lalu berdiri dan menyelimuti tubuh Rista hingga dada. Zian menghela nafas sebelum selanjutnya ia menegakkan tubuh, lalu berjalan melangkah keluar kamar.
Zian membuka kulkas, mengambil sebotol air lalu meminumnya. Matanya melirik Bi Maya yang masuk dari pintu belakang. Bi Maya nampaknya baru selesai membuang sampah, terlihat dari tangannya yang masih mengenakan sarung tangan kuning.
"Bi!"
"Ya tuan." Sahut Bi Maya.
Zian kemudian memakai jas yang sedari tadi ia gantung di lengannya.
"Saya mau ke rumah Hendri. Tolong jaga Rista!" Pinta Zian sembari merapikan jasnya. Kemudian berlalu meninggalkan Bi Maya, tanpa menunggu jawaban pembantunya itu.
"Baik tuan." Jawab Bi Maya setelah Zian berlalu.
Zian melangkah keluar. Diambilnya kunci dari saku celananya, kemudian menekan tombol untuk membuka kunci mobil dari jarak jauh.
Tit,
Zian membuka pintu mobil, lalu masuk. Dilajukannya mobil Honda Civic berwarna hitam itu. Dengan kecepatan standar, mobil Zian melaju ke salah satu komplek.
Mobil berhenti tepat di rumah abu bergaya minimalis. Zian membunyikan klakson. Tak lama seorang satpam paruh baya membukakan gerbang. Diparkirannya mobil tepat di halaman rumah itu.
Zian tak ragu, setelah mengunci kembali mobilnya, ia segera mengetuk pintu.
Dari balik pintu seperti biasa Hendri menatap heran kedatangan Zian.
"Mau apa lo kesini?" Tanya Hendri.
Zian menyingkirkan tubuh Hendri yang dirasa Zian menghalangi jalan.
"Gue mau nginep." Singkat Zian, masuk nyelonong seperti biasa.
Hendri menutup pintu. Menatap Zian dengan tatapan menyelidik.
"Lo kenapa? Berantem lagi sama Rista?"
"Gak. Gue cuma bosen di rumah." Jawab Zian, kemudian duduk di sofa. Merentangkan tangan, kemudian memijit pangkal hidungnya. Menghela nafas panjang.
"Bohong lo ya? Lo pasti lagi ada masalahkan?" Tanya Hendri yang kini ikut duduk di Sofa samping Zian.
"Bukan urusan lo." Jawab Zian masih memijit pangkal hidung. Matanya tertutup, kemudian terbuka perlahan. Pandangannya melirik sebuah foto di meja kaca. Seketika Zian menyipitkan mata, seolah menyelidik siapa orang di balik foto itu. Zian mengangkat tangan dari pangkal hidung, tangannya beralih menyentuh foto di hadapannya.
Diangkatnya foto itu, menunjukkannya pada Hendri. Zian tertarik, rasanya ia tak asing dengan orang dibalik foto itu.
"Siapa cewek ini?" Tanya Zian menatap Hendri.
__ADS_1
Hendri dengan segera merebut foto itu.
"Ini ....