
Satu episode drama film belum usai. Kripik kentang mereka telah habis tanpa sisa. Padahal Sekar membeli yang
ukuran besar lebih dari dua Bungkus. Kacang asin juga tak luput dihabiskan. Tersisa beberapa kotak biskuit yang tak sanggup mereka makan. Bukan karena kenyang. Rasa kantuk kini menyelimuti keduanya. Belum saja episode pertama selesai. Manda telah tertidur masih dalam posisi duduk dan tertunduk sambil memeluk boneka beruang milik Sekar.
Sekar yang tak tega melihat sahabatnya, ia mematikan dan menyimpan laptop kembali ditas Manda lalu
membangunkan Manda pelan – pelan supaya membenarkan posisi tidurnya. Dengan masih sangat mengantuk Manda berusaha membenarkan posisi tuBuhnya dan mulai tidur. Usai menutupi tuBuh Manda dengan selimut Sekar menyusul tidur disamping sahabatnya, Manda.
*****
Alarm dari ponsel Manda berdering. Ia terkejut lalu membuka layar ponselnya. Masih pukul empat lebih tiga puluh
menit. Menoleh kesebelah kanan menemukan Sekar yang masih tertidur dengan pulas. Meringkuk dibawah selimutnya. Dengan sigap Manda turun dari kasur lalu menyalakan lampu. Mengambil handuk dalam tasnya lalu keluar menuju kamar mandi.
“Loh pagi – pagi kok sudah mau mandi nduk?” tanya Bu Romlah melihat Manda terburu – buru menuju kamar mandi sepagi itu.
“Ah, mau siap – siap kerja Bu, biar gantian mandinya sama Sekar,” jawab Manda ingin menghentikan percakapan
karena ia benar – benar merasa terBuru waktu. Kantornya memang masuknya jam 07.30 namun dia membiasakan diri untuk datang lebih awal menyiapkan pekerjaannya. Jadi ia harus mempersiapkan dirinya pagi – pagi. Sejak bekerja Manda jadi rajin bangun pagi. Jika sempat dia membuat bekal untuk dibawanya ke kantor sebagai makan siang.
“Loh kerja?” Bu Romlah bingung.
__ADS_1
“Iya Bu, kan saya juga satu kantor dengan Sekar,” Manda berusaha menyembunyikan rasa kesalnya karena ia
belum saja mandi.
“Oh sekarang Minggu juga bekerja toh?” ucap Bu Romlah memastikan. Manda menepuk mukanya.
Oh Tuhan iya ini hari Minggu.
“Oh iya Bu, saya lupa.” Kini Manda tertawa karena kebodohannya sendiri.
“Haha, dari dulu gak berubah ya kamu nduk," goda Bu Romlah. “Yasudah ibu mau masak dulu."
“Manda bantu ya Bu!”
Mendengar suara pintu yang terbuka, bangunlah Sekar.
“Astaghfirullahalazim!” Sekar terperanjat. “Jam berapa ini?”
“Jam setengah lima Sekar, segera Shalat gih, udah kedengaran suara adzan subuh baru aja,” jawab Manda duduk didekat Sekar.
Sekar melipat selimutnya, meletakkan diatas bantalnya lalu berlari menuju mushala yang ada didalam rumah.
__ADS_1
Bu Romlah pun shalat berjamaah dengan Sekar.
Didalam kamar sekar, Manda duduk bersila dan ia tutupi bagian perut hingga kaki menggunakan selimut karena hawa dikamar masih dingin oleh sisa – sisa AC yang telah dimatikan. Kepalanya sedikit ditundukan, sedangkan matanya terpejam untuk memulai doa pagi dengan menyanyikan puji – pujuan penyembahan dalam hati. Mulutnya bergerak menyanyikan puji – pujian tanpa mengeluarkan suara. Sekar melihatnya ketika memasuki kamarnya seusai Shalat subuh. Sekar tersenyum melihatnya sahabatnya yang sudah rajin melakukan ibadahnya. Sekar teringat dulu ketika SMP. Manda susah sekali bangun pagi untuk doa pagi. Bu Tere yang menceritakan pada Sekar.
“Amin,” ucap Sekar seiringan Manda berhenti menggerakkan mulutnya dan membuka matanya. Raut muka Manda
langsung tersipu malu. Tidak biasanya dia doa pagi dilihat orang lain.
“Jangan lupa kalau berdoa, doain jodoh, orang tua, kesehatan, jangan kerjaan mulu!” ledek Sekar.
“Ih pastilah, jodoh, pasangan hidup itu nomor satu wakwakakak. Kamu tuh jomblo kudu kuat juga doanya.” jawab
Manda mengibaskan guling kearah Sekar.
“Eh aku udah punya pacar ya, cuma sekarang LDR!” Sekar yang tak mau kala langsung berusaha membalas membekap Manda dengan bantal yang ada didekatnya. Manda berusaha lari menuju keluar kamar dan terjadilah kejar – kejaran didalam rumah sekar.
“Eh eh eh, jangan lari – lari nanti jatuh terpeleset gimana?” Bu Romlah menghampiri kedua gadis yang mulai
beranjak dewasa itu. Keduanya terhenti kejar - kejarannya namun tidak dengan gelak tawa yang seakan.
“Dia yang mulai tuh Bu," tunjuk Manda pada Sekar.
__ADS_1
“Eh enak aja” Sekar tak mau disalahkan langsung menghujani pukulan kecil yang tidak sakit pada Manda.
Bu Romlah geleng – geleng menahan tawa melihat tingkah kedua gadis dirumah itu.