
Manda duduk berjajar bersama Bu Tere, Pak Rendra dan Mia adiknya. Duduk di deret kursi paling depan dekat dengan altar. Memang begitu kebiasaan mereka. Memilih berangkat lebih awal untuk menyiapkan hati sebelum beribadah. Disaat seperti ini Manda rindu sekali mengajak Hose untuk beribadah, namun Hose terlalu sibuk sehingga dia sering menolak ajakannya untuk ibadah Minggu di Gereja. Manda berusaha memahami kesibukan kekasihnya.
Manda membuka matanya perlahan ditengah – tengah ibadah yang saat itu worship leader mengajak semua jemaat untuk berdiri menyanyikan salah satu pujian dengan bertepuk tangan setelah sesi penyembahan cukup. Manda terkejut melihat sosok gitaris yang ada diantara pemain musik yang mengiringi pujian ibadah saat itu.
Mas Niko! Sejak kapan dia pelayanan musik di Gereja ini?
Konsentrasi Manda terusik. Manda tidak bisa beribadah dengan khusyuk. Pikirannya berkecamuk. Jantungnya berdegub kencang. Terselip rasa takjub melihat sosok laki – laki yang dikenalnya ada dihadapannya memainkan musik gitar dengan lincah dan tenang. Senyum juga tidak ketinggalan menghiasi wajah tenang Niko. Manda jadi teringat dengan kriteria calon suami yang akan menjadi teman hidupnya kelak. Salah satunya pandai bermain musik apalagi seorang pelayan gereja.
Tuhan ampuni aku, hatiku gusar ya Tuhan. Mohon jagai hatiku, saat ini aku sudah memiliki Hose.
Huh, manda menghela nafasnya.
Rangkaian ibadah berakhir. Seluruh jemaat saling berjabat tangan, tak terkecuali Manda dan keluarganya. Mia sudah menghilang. Menemui kekasihnya yang juga satu Gereja. Manda iri dibuatnya. Ditengah kerumunan jemaat yang antri untuk keluar dari Gereja, manda celingak – celinguk mencari sosok pemain gitar yang tak lain adalah Niko. Sudah tidak terlihat.
“Manda mencari siapa?" tanya Pak Rendra. “Cari Niko kah?”
Manda mengerutkan alisnya. “Enggak pah!” tukasnya.
“Papa lihat sepertinya ke samping Gereja tadi berfoto dengan tim musik" jawab Pak Rendra menunjuk ke pintu
__ADS_1
samping gereja diikuti pandangam mata Manda. Pak Rendra menahan senyumnya melihat tingkah anak pertamanya.
“Eum. Oke Pa,” Manda mengangguk. Pa, Ma, tunggu didepan ya, Manda mau ke toilet sebentar."
“Okay, semoga bertemu dengan doi ya!” ledek Pak Rendra mengedipkan sebelah matanya. Manda mendengus kesal karena niatnya ketahuan sang Ayahanda. Bu Tere hanya tertawa melihat Pak Rendra dan Manda.
“Bye bye anak cantik, kami kedepan dulu. Semoga niatmu diizinkan Tuhan." Pak Rendra dan Bu Tere
meninggalkan Manda. Manda tidak menghiraukannya lalu menuju ke samping Gereja mencari keberadaan Niko. Entah hal apa yang mendasari Manda ingin sekali bertemu dengan Niko.
Manda menuju ke area samping Gereja. Lahan yang tidak terlalu luas. Rapi beralaskan rumput hias yang terawat. Sekeliling ditanami bunga kerokot yang sedang bermekaran berwarna kuning. Sangan kontras dan begitu indah berpadu dengan warna hijau rumput hias. Manda melihat sekeliling. Tidak banyak orang. Jemaat sudah tersisa tidak banyak. Masih saling bertukar sapa sebelum meninggalkan Gereja. Pandangan Manda menelusuri setiap celah diantara kerumunan warga jemaat yang tidak terlalu banyak. Mencari laki laki memakai kemeja putih dengan sweater merah jambu. Terlihat sangat keren dengan kerah baju yang dikeluarkan dari lubang leher sweaternya.
“Manda!” Niko mengagetkan Manda yang sedari tadi mencari keberadaannya. Niko mengulurkan tangan kanannya dan disambut ramah oleh Manda.
“Kamu mencari siapa Manda? Orang tuamu mana tadi?” sekarang ganti Niko yang menoleh kekanan dan kekiri mencari Pak Rendra dan Bu Tere.
“Em, aku mau," Manda gugub menjawabnya. “Mau ke toilet, papa dan mama masih didepan.” Manda menunjuk toilet yang ada di ujung.
“Ohh, yaudah kamu ke toilet dulu, mas mau nemuin papa dan mama kamu dulu." Niko mengusap lembut kepala Manda dan pergi menunu kedepan halaman Gereja mencari Pak Rendra dan Bu Tere.
__ADS_1
Manda berlari menuju ke toilet dan menghela nafas leganya. Lega setelah lama tidak bertemu dengan laki – laki yang sempat datang dihidupnya beberapa waktu lalu. Ia membuka kran air wastafel. Membasahi tangannya lalu menatap cermin. Manda menyebulkan nafasnya. Mengambil lipcream merah muda tipis dan menorehkan ke bibirnya. Terlihat sangat manis. Berpadu dengan dress batiknya yang sangat simple dan anggun dikenakan Manda.
Ada apa dengan diriku ini sih!
Setelah dirasa siap Manda sedikit berlari menuju halaman depan Gereja. Mendapati orang tuanya sedang berbicara asik dengan Niko. Mia juga telah ada disitu bersama kekasihnya, Andre. Obrolan mereka terhenti ketika Manda datang menghampiri.
“Yasudah kami pulang dulu ya Niko," pamit Bu Tere. Mereka saling berjabat tangan. Niko menundukkan badannya melepas kepergian mereka. Manda pulang bertiga bersama Pak Rendra dan Bu Tere, sedangkan Mia memilih diantar Andre.
“Niko pemuda yang baik ya mam." ucap Pak Rendra sembari menyetir mobilnya. Manda duduk di bagian tengah mobil pura – pura tidak mendengarkan dan menyalakan ponselnya.
“Betul, anaknya ramah, nggak neko – neko dan rajin lagi ya," ucap Bu Tere seiringan menoleh ke arah Manda berada. Lalu melirik kea rah pak Rendra, saling memberi syarat diantara senyum mereka berdua.
Manda hanya terdiam mencerna obrolan papa dan mamanya yang membahas Niko. Manda membenarkan setiap kata pujian yang terucap dari mulut orang tuanya. Niko memang laki – laki yang sangat baik.
“Manda?" panggil Pak Rendra yang pandangannya masih tertuju kearah depan.
“Ya pah!”
“Sebaiknya kamu doakan lagi, pikirkan lagi ya. Kamu sudah dewasa pasti sudah bisa menentukan orang yang
__ADS_1
tepat untuk kamu jadikan sebagai pasangan hidupmu." Pak Rendra berucap dengan nada penuh wibawa.
Manda tidak menjawab, hanya mendengus tanpa suara. Pikirannya kembali berkecamuk. Saat ini ia masih ada Hose yang juga tidak kalah baik. Manda juga bingung dengan perasaan yang kini ia rasakan. Manda memejamkan matanya membiarkan pikirannya berputar – putar diotaknya.