Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 16


__ADS_3

Sampailah Manda didepan rumah Hose. Turun dari ojek online yang ia pesan dari rumah Sekar. Sekar sebenarnya


sudah menawarkan untuk mengantar namun Manda tak mau merepotkan sahabatnya yang sebenarnya tidak merasa direpotkan sama sekali. Manda memberi kabar pada Hose jika telah sampai didepan rumahnya. Tak menunggu beberapa lama Hose membukakan gerbang dan mengajaknya masuk. Hose tinggal sendiri dirumah itu. Orang tua Hose sebenarnya juga tinggal di kota yang sama tinggak di rumah warisan kakek Hose. Jadi kini Hose yang menempati rumah milik orang tuanya. Orang tuanya meminta Hose untuk menempati rumah itu supaya tidak kosong dan bisa terurus. Ada dua pekerja dirumah itu yang tugasnya membantu memasak dan membersihkan serta menjaga rumah yang Hose tinggali. Mereka adaha Bu Menik dan Pak Sugeng yang juga sepasang suami istri.


"Pak Sugeng sama istrinya sama pak mana yang kok nggak kelihatan?” tanya Manda ketika mereka mulai memasuki rumah. Manda pernah bertemu mereka sekali beberapa minggu lalu ketika Hose mengajaknya mengambil berkas pekerjaan yang hampir saja tertinggal.


“Hari ini mereka pulang sebentar, rumahnya nggak jauh kok dari sini. Ada nikahan dikampungnya jadi mereka bantu – bantu juga,” jawab Hose menggandeng Manda masuk rumah.


Hose mengajaknya ke ruang tengah yang menjadi ruang santai dirumah ini. Cukup luas. Ada karpet halus dan tebal


yang ada didepan sofa untuk menonton televise. Hose duduk di karpet tersebut. Marsya ikut duduk disebelahnya. Membuka beberapa kotak makan berisi bubur ayam lezat buatan Bu Romlah. Toping dan kerupuk berada kotak terpisah. Benar – benar totalias banget Bu Romlah, pikir Manda.


“Waw kamu masak sayang?” ucap Hose melihat Manda membuka mengeluarkan beberapa kotak makan dari tas bekal yang Manda bawa. Manda menggeleng.

__ADS_1


“Ini buatan Bu Romlah, yang bantu – bantu dirumah Sekar, semalam aku menginap disana," jawab Manda yang masih fokus menyiapkan sarapan untuk kekasihnya.


“Oh Gitu, kapan – kapan nginep sini juga dong!" goda Hose mencubit dagu Manda.


“Gak mau!" jawab Manda singkat. “Masih demam?” Manda menempelkan punggung tangannya ke dahi Hose yang kini suhunya normal.


“Udah nggak panas?” Manda mengerutkan dahinya.


“Semalaman aku deman Sayang sampai tadi pagi yang aku berusaha nelfon kamu, tp ini udah enakan sih tp masih


“Makan sendiri bisa ya!” ucap Manda memberikan kotak makan yang sudag dibukanya. Sudah lengkap dengan


beberapa toping dan kuah yang baru saja Manda siapkan.

__ADS_1


“Kan aku sakit sayang, suapin lah,” bujuk Hose manja. Meletakkan dagunya dipundak kanan Manda. Sontak Manda


reflek menaikkan pundaknya karena rishi dan geli.


Manja!


“Yaudah kusuapin, hak,” Manda menyuapi Hose. “Televisinya bisa dinyalain nggak?”


Tanpa menjawab Hose menyalakan televisi menggunakan remot yang saat itu tepat ada disebelahnya. Kembali


meletakkan remotnya setelah televise berhasil dinyalakan. Karena acaranya tidak ada yang menarik hati keduanya, Hose kembali mematikan televisi lalu memutar musik – musik indie kesukaannya yang juga menjadi kesukaan Manda sejak mulai mengenal musik – musik itu dibangku perkuliahan.


“Sayang!” Hose melingkarkan kedua tangannya pada kekasih yang ada didekatnya.

__ADS_1


“Apaan sih yang, lepasin kamu makan dulu ini kudu habis biar kamu cepet sembuh!" ucap Manda berusaha melepas pelukan Hose. Hose mencebikkan bibirnya setelah mendapat penolakan dari Manda.


“Hak..” Manda kembali menyuapi Hose dengan lembutnya. Bergantian menyuapi Hose, Manda menghabiskan bubur ayam miliknya. Manda bahkan heran dengan porsi makannya pada hari ini. Berhasil menghabiskan dua porsi bubur ayam yang porsinya jauh lebih banyak dari bubur ayam yang biasa ia beli. Nafsu makannya pada hari ini benar – benar luar biasa. Hose juga terlihat lahap menikmati bubur ayam disetiap suapan Manda dan habislah bubur ayam beserta toping – topingnya.


__ADS_2