
Manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan. Segalanya sudah disiapkan. Kesuksesan, masa depan, jodoh, kematian sudah menjadi hak prerogatif Tuhan. Tidak ada yang mampu mendahuluinya. Hanya sebatas berharap dan menerima segala sesuatu dengan syukur dan lapang.
Begitupun dengan Manda. Ia memilih untuk mempercayakan semuanya pada sang Pencipta. Ia memilih untuk
menerima dan berdamai dengan kekecewaannya. Memilih untuk tidak larut didalamnya. Bahkan ia sudah memaafkan seseorang yang telah membuat kecewa. Baginya akan menjadi sia dan akar pahit jika harus menyimpan marah dan kekecewaan. Tidak ada untungnya.
Sudah satu minggu berlalu. Manda semakin terbiasa dengan status sendirinya. Baginya sendiri bukan perkara yang
sulit. Ada orang tua, ada adik, teman – teman dan yang terutama adalah ada Tuhan yang selalu menyertainya.
Hari ini Manda merasa malas membawa kendaraan pribadi ke kantor. Terlebih Manda juga lupa belum mengisi
bensin pada motornya. Memanfaatkan jasa ojek online menjadi pilihan yang tepat disaat genting seperti ini. Setelah memoles lipstick dan pemerah pipi ia berangkat bersama driver ojek online menuju kantornya.
Dengan semangat Manda memasuki ruang kantor. Wajahnya terlihat lebih ceria ditambah polesan make up tipis
diwajahnya. Terlihat sangat cantik dan manis dengan berbalut dress hitam yang ia padukan dengan cardigan batik warna merah. Terlihat begitu anggun. Tangan kirinya menenteng tas hitam dan tangan kanannya menenteng botol minum yang tidak pernah ketinggalan.
Hari ini Manda dan Sekar izin untuk pulang lebih awal karena mereka akan mempersiapkan acara pertunangan
Sekar dan Rizky nanti malam. Sudah seperti saudara sendiri, Sekar bahkan menganggap Manda seperti adiknya sendiri. Malam nanti Manda diminta untuk mendampingi Sekar.
Tak terasa hari sudah siang. Manda dan Sekar berpamitan pada kepala kantor yang sudah mereka beri tahu
sebelumnya. Setelah mendapat izin mereka bergegas meninggalkan kantor dan langsung menuju rumah Sekar.
Acara pertunangan akan digelar dikediaman Sekar. Memang tidak menggelar acara yang mewah dan besar. Namun tetaplah semuanya harus dipersiapkan dengan maksimal. Sekar dan Manda memasuki rumah usai memasukkan mobil kedalam garasi.
__ADS_1
“Manda kita makan dulu ya, kamu simpan tasmu di kamarku. Nitip punyaku juga, aku mau Shalat dulu.”
“Oke.” Manda mengangguk dan menerima tas milik Sekar lalu masuk kedalam kamar sekar. Ia merebahkan tubuhnya dan menatap langit – langit kamar yang kini ada beberapa tempelan bintang – bintang yang akan menyala ketika lampu dipadamkan pada malam hari. Haha aneh – aneh aja, gumam Manda mengamati bintang – bintang yang tertempel rapi dilangit – langit kamar Sekar. Sepertinya tidak lama sekar memasangnya, terakhir Manda menginap langit – langit kamar masih polos. Ah, itu tidak penting.
Sekar sudah mau dilamar. Berarti mungkin tak lama lagi dia menikah. Aku? Malah baru saja putus. Huft.
Lamunan Manda terhenti ketika suara Sekar memanggilnya untuk makan siang. Manda bergegas keluar kamar menuju sumber suara Sekar yang ternyata ada diruang makan. Disana sudah ada orang tua Sekar. Manda bersalaman lalu duduk disamping Sekar.
“Tante dan Om tiba jam berapa?” tanya Manda.
“Jam berapa ya Yah?” Ibu Sekar melirik Ayah Sekar. “Ah, jam 4 dini hari nak sampai sini.”
“Ayo nak makanlah, ini tadi Tante loh yang masak. Mumpung Tante disini kamu harus coba masakan tante.”
Sama seperti Sekar, orang tua Sekar juga sangat baik dan ramah. Perbincangan ditengah makan siang begitu
“Manda kapan ini nyusul Sekar?” goda Ayah Sekar.
“Manda baru putus Yah.” Jawab Sekar memberi lirikan yang berisi ledekan pada Manda. Sekar mengerucutkan
bibirnya ke arah Sekar.
“Hehe doakan saja ya Om.”
“Pasti nak, orang baik akan bertemu dengan orang yang baik pula,” Jawab Ayah Sekar. “Kamu harus sabar dan
berusaha.”
__ADS_1
“Betul itu.” Ibu sekar menimpali.
Ritual makan siang usai. Sekar mencegah Manda yang berniat mencuci piring. Dengan berat hati Manda
meninggalkan piring kotor tempat cuci piring yang ada didekat dapur. Menuruti Sekar yang kini membawa dirinya ke halaman rumah. Sudah berdiri kokoh tenda yang tidak terlalu luas. Sekar mengajak Manda untuk menghias dekorasi untuk acara tunangan malam nanti. Sekar sangat tahu bahwa Manda handal dalam hal ini.
Dekorasi selesai hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Terlihat begitu mewah dan anggun walau tidak banyak pernak – pernik. Sekar berdecak kagum. Memeluk Manda dengan erat karena begitu terbantu dengan tangan kreatif Manda.
…
Hari mulai petang. Sekar sudah siap dengan kebaya warna coklat muda yang sangat terlihat elok dipadukan dengan jarik bermotif parang rusak. Wajahnya sudah terpoles dengan sangat cantik berpadu dengan hijab yang senada dengan warna kebayanya. Manda tak henti – hentinya memuji Sekar yang begitu lebih terlihat berbeda dari sebelumnya. Terbersit rasa iri bahagia melihat sahabatnya akan dipinang laki – laki.
Sekar kamu cantik sekali.
Undangan mulai berdatangan memenuhi kursi yang telah tertata rapi. Alangkah bersyukurnya hari ini cerah
sehingga acara terlaksana begitu lancar. Kini Sekar telah resmi menjadi tunangan Rizky. Yang artinya tidak lama lagi mereka akan segera menikah. Ada sedikit rasa khawatir yang ada dibenak Manda, namun tertepis dengan rasa syukur dan ia turut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
“Manda, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Sekar pada Manda. Semua tamu undangan sudah kembali ke kediaman masing – masing termasuk keluarga Rizky.
“It’s OK sayangku. Kan aku bisa naik ojek online.”
“Eh jangan, kan ada Mas Niko." Manda menurunkan alisnya.
“Mas Niko tadi datang loh, diabaru ke toilet.” Manda lagi – lagi tercengang dengan jawaban Sekar. Betapa
terkejutnya Manda ketika melihat sosok Niko menghampirinya. Ia benar – benar tak mengetahui kalau Niko juga hadir pada acara tunangan Sekar. Rasa kaget dan senang membaur menjadi satu. Sedikit ia tepis mengingat Niko telah mencintai gadis lain. Manda hanya tidak mau terlalu berharap yang pada akhirnya membawa dia kedalam luka.
__ADS_1