Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 31


__ADS_3

Hari – hari Manda sejak resmi menjadi kekasih Niko terasa lebih ringan dan berwarna. Kedua pihak keluarga


mengenai hubungan mereka berdua. Tentunya menabung kebahagiaan diantara mereka tertama orang tua baik Manda maupun Niko. Sebenarnya orang tua Niko sudah mengerti perihal pesan Noval sebelum meninggal. Mereka mendengarkan sendiri dari bibir Noval ketika menyampaikan pesan. Mereka sangat ingat sekali kata – demi kata yang Noval ucapkan. Namun mereka memilih tidak mau ikut campur. Tidak ingin mengambil tindakan memaksa ataupun menjodohkan Niko dan Manda. Mereka hanya ingin hubungan mereka dilandasi kasih yang nyata tanpa paksaan. Kini harapan mereka terwujud. Niko dan Manda telah resmi menjadi sepasang kekasih meskipun belum ada tanda pengikat.


Meski Manda telah memiliki kekasih, ia tidak mau terlalu bergantung. Lebih milih berangkat dan pulang bekerja mengendarai kendaraan sendiri. Seperti halnya sore ini. Lagi – lagi ia lupa mengisi bensin pada motornya. Untung saja sudah hampir dekat dengan rumah sehingga tidak terlalu lama menuntun motornya menuju rumah.


Usai memarkir motor dihalaman rumah. Manda langsung menuju kamar dan berganti pakaian. Daster midi menjadi


favoritnya untuk dikenakan didalam rumah. Terasa nyaman. Segera ia mengambil sapu dan membersihkan rumah. Hal yang ia lakukan selain membantu Bu Tere memasak untuk makan malam.


“Itu motor Mbak Manda kehabisan bensin lagi?” tanya Mia yang baru saja sepulang dari kampus.


“Hmm,” Manda mengangguk. “Mbak lupa isi bensin tadi pagi,” jawab Manda masih fokus merogoh debu dibawah kolong meja ruang tamu dengan sapu.


“Hmmm kebiasaan. Yaudah aku bantu Mama masak dulu,” Mia menggeleng kepalanya heran lalu berganti baju sebelum menuju dapur membantu Bu Tere menyiapkan makan malam.


Bersih – bersih rumah selesai usai Manda mengepel bersih semua sudut rumah. Termasuk kamar orang tua dan


kamar Mia. Usai mencuci tangan dan kakinya ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya setelah meutup pintu kamar. Hanya berdiam diri memeluk bantal dan memejamkan mata. Hari ini dikantor cukup melelahkan baik tubuh dan pikirannya. Apalagi harus menuntun motor karena kehabisan bensin.


Ting!

__ADS_1


Ponsel Manda bordering disertai getaran kecil. Deringan yang berasal dari kantong jaket Manda yang tergantung


digantungan baju membangunkan Manda yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Sebuah pesan dari Niko yang merupakan notifikasi favorit Manda. Segera ia buka pesan dari Niko yang mengatakan bahwa laki – laki itu akan datang kerumahnya besok malam bersama dengan orang tuanya. Tanpa berpikir panjang Manda langsun


membalas dan menyetujui kedatangan sang kekasih bersama Bu Ratri dan juga Pak Yakub yang merupakan orang tua Niko.


Tanpa Niko memberitahukan maksudnya, Manda sudah mengetahuinya. Desiran bahagia menyeruak dalam benaknya. Senyumnya mengembang sempurna disertai pipinya yang merona. Lelah yang menumpuk pada hari ini seakan sirna. Sebelumnya ia tak pernah menyangka untuk memiliki hubungan seserius ini. Bahkan rencana menikah saja tidak masuk dalam rencana Manda baik itu rencana jangka panjang. Ia hanya berusaha mengalir saja saat itu. Berbeda dengan kini. Seiring dengan kedewasaannya, rasa siap semakin terpupuk untuk menuju ke jenjang pernikahan. Manda hanya bermodalkan rasa percaya dan komitmennya menjalani hubungan bersama Niko, kekasihnya.


Rasa kantuk hilang seketika. Usai mandi membuat tubuhnya lebih terasa segar. Ia menuju dapur yang sudah dan tidak mendapati Mia ataupun Bu Tere. Pantas saja sudah hampir pukul delapan malam. Suara Bu Tere dan Mia riuh diruang tengah. Lea menghampiri keduanya yang sedang asik mengomentari sinetron yang ditampilkan dilayar televisi.


“Papa mana Ma?” tanya Manda yang kemudian duduk disofa dekat Bu Tere.


“Eh sudah sudah bangun dan mandi rupanya ini anak gadis,” goda Bu Tere.


“Papa di kamar lagi ngecek beberapa berkas pekerjaannya,” jawab Bu Tere. “Segera makan Manda, kami sudah


makan. Tadi kamu tidur pulas sekali. Mama gak tega bangunin jadinya.”


“Iya nih Mbak Manda boboknya kayak abis wayangan semalam,” ledek Mia. Manda senyum sekilas.


“Eh Ma, besok Mas Niko dan orang tuanya masu kesini,” ucap Manda.

__ADS_1


“Sudah tahu.” Jawab Mia dan Bu Tere bersamaan. Dahi Manda berkerut heran.


Seperti paduan suara saja harus barengan gitu jawabnya.


“Coba itu dibuka Mbak!” Bu Tere menunjuk dan meminta Manda membuka paperbag yang ada meja dekat televisi. Paperbag berwarna coklat dengan desain klasik dan unik.


Apa itu? Aku sepertinya tidak ulang tahun hari ini.


Lea mengambil paperbag itu dan kembali duduk disamping Bu Tere. Dibukanya paperbag yang isinya adalah dress


midi berbahan broklat yang sangat lembut. Modelnya sangat sederhana dan mewah ketika dikenakan. Terlihat apik dengan warna seperti buah blewah.


“Wah bagus sekali ini. Ini buat Manda?” tanya Manda memeluk dress itu.


“Ya jelas masa buat Mas Niko!” celetuk Mia disertai senyuman yang menyungging dibibirnya.


“Itu tadi dari Niko, dia mengantar kesini saat kamu tertidur,” ucap Bu Tere. Manda mendengus sedikit kecewa karena ia sebenarnya ingin sekali bertemunya. Terakhir bertemu saat ibadah Minggu di gereja beberapa hari yang lalu.


“Besok sore dipakai ya Mbak, nanti aku dandanin deh biar makin syantik ketemu calon mertua,” celetuk Mia yang kini mendapat lemparan bantal sofa dari Manda.


“Ampun Mbak ampun,” Mia terkekeh. Bu Tere hanya menggeleng melihat kedua anaknya yang tidak berubah dari sejak kecil. Namun itu menjadi sumber kesukaan bagi Bu Tere dan suaminya. Melihat anak – anak yang rukun dan berada didalam rumah sudah cukup membuat mereka bahagia.

__ADS_1


.


__ADS_2