
Hujan mengguyur tepat ketika jam pulang bekerja. Hal yang paling tidak disukai sebagian orang. Menantika jam
pulang berharap akan segera anak – anak dirumah bagi yang telah berkeluarga, berharap akan segera bertemu dengan sang kekasih, berharap akan segera bertemu dengan ranjang tercinta lalu memanjakan tubuh lelahnya dan banyak hal lainnya yang membuat orang – orang menantikan jam pulang. Hujan deras memaksa mereka untuk masih berada didalam kantor, apalagi mereka yang hanya membawa kendaraan roda dua seperti Manda.
“Muka jangan ditekuk gitulah,” ucap Sekar melihat Manda yang mulai cemberut karena hujan begitu deras. Langit
juga tampak putih. Banyak orang bilang jika langit seperti itu pertanda hujan akan awet dan tak kunjung reda.
“Eh katamu tadi mau cerita Man? Cerita apa?” tanya Sekar lagi. Kali ini Manda seperti telah memusnahkan rasa
suntuk karena datangnya hujan yang tak kunjung reda. Wajahnya kini memerah penuh rona walaupun ia berusaha menutupinya.
“Semalam Mas Niko nembak,”
“Apa? Kalian sudah jadian?” Sekar memeluk Manda namun Manda berusaha melepasnya.
“Belum.”
“Loh, kenapa? Kamu menolaknya?” Sekar menaikkan kedua alisnya. Sedangkan Manda memancungkan bibirnya dan terlihat tenang diwajahnya.
“Aku nggak menolaknya kok,” ucap Manda disertai gelengan kepala.
“Lalu?”
“Dia ngasih aku waktu tiga bulan buat memikirkannya,” Manda menegaskan maksudnya.
“What?” Sekar mulai heboh. “Kenapa? Bukannya kalian udah cocok ya. Kayaknya dia juga tulus sama kamu Man.
__ADS_1
Apa kamu yang ragu?”
“Emh, bukan gitu. Tiga bulan ini supaya aku benar – benar memikirkan dengan matang Kar. Sama menyesuaikan
kriteria yang aku tulis. Sesuai engga.”
“Kalau nggak sesuai kriteria kamu apa kamu akan menolaknya? Kalau dia benar – benar jodoh kamu gimana? Kamu jangan mendahului Tuhan loh Manda,” ucap Lea disertai penuh pertanyaan dan penekanan.
Manda menghela nafasnya mendengar serentetan pertanyaan Sekar. Disisi lain, kriteria yang ia tulis adalah sebagai tameng dia. Supaya tidak gampangan menerima laki – laki. Selain itu juga sebagai penguatnya dalam berkomitmen. Menurut Manda itu adalah salah satu doanya. Dan ia yakin Tuhan akan menyetujui keinginannya. Ia juga yakin bahwa Tuhan akan memberi yang terbaik untuknya.
“Boleh tau apa saja kriterianya?”
“Boleh, bentar aku ambilkan catatanku.”
Manda menyodorkan catatan yang ia tulis semalam. Sekar mulai mencermatinya satu persatu.
“Wait, ini poin ke sembilan?” Sekar mengernyitkan dahinya. “Naik gunung? ah kalau ini nggak harus Man, dia
nggak ada tanda – tanda suka naik gunung juga kayaknya.”
Wajah Manda menjadi datar. Manda membenarkan perkataan Sekar. Naik gunung bukan keharusan juga. Ia pun juga tidak pernah naik gunung. Namun Manda lupa mengapa dia menuliskan itu pada list kriteria teman hidupnya.
“Ah iya, dulu kayaknya aku pernah baca novel tentang perjalanan pendakian. Tapi entahlah judulnya apa. Itu yang
bikin aku kagum sama pendaki gunung.”
Sekar mengangguk mengerti. “Oke baiklah, tapi ku rasa kalaupun Mas Niko bukan mendaki, saranku kamu tetep bisa memikirkannya lagi untuk menerimanya.”
__ADS_1
Manda masih terdiam memegangi buku catatan diatas pangkuannya.
“Coba nanti kalau ketemu kamu tanyain aja dia Man soal ini.”
“Kan tiga bulan ini aku puasa ketemu dia Sekar, ketemu nanti saat aku akan menyampaikan jawabanku,” Manda
menyibakkan poni rambutnya.
“Pasangan yang aneh,” Sekar membuang nafasnya.
“Belum jadi pasangan!” bantah Manda masih dengan wajah datarnya.
“Kan On the way? Week!” Sekar lagi – lagi berhasil mencubit gemas pipi sahabatnya. Manda mengusap pipinya
kesal.
“Yah semoga tiga bulan ini nggak ada gangguan diantara kalian hahaha,” ledek Sekar. Ia sangat senang menggoda
sahabatnya. Manda jika sedang kesal pipinya terlihat begitu merona dan menggemaskan. Tidak pernah berubah sejak dulu.
“Maksudnya gangguan?” tanya Manda mengerutkan dahi meminta penjelasan dari Sekar.
“Tiga bulan bukan waktu yang sebentar Manda. Bisa saja dia atau kamu merubah keputusan. Bisa saja muncul
orang ketiga, macam – macam sih. Tapi kamu jangan khawatir. Berdoalah Manda supaya Tuhan memberi yang terbaik,” ujar Sekar membelai lembut rambut Manda. Sedangkan Manda hanya terdiam mencoba menyerap pernyataan Sekar.
__ADS_1