
Menunggu bukanlah hal yang mudah dilakukan. Perlu kesabaran untuk dapat melewatinya. Itu adalah hal yang
manusiawi. Ada saat – saat manusia harus memahami makna dari menunggu dan memahami suatu keabaran. Lalu menyadari betapa nikmatnya arti menunggu setelah menikmati buah manis yang jatuh dipenghujungnya.
Memang benar, ketika menunggu sesuatu membuat detik waktu seakan membeku. Seakan waktu tidak mau berkompromi. Hal inilah yang sedang dialami oleh Manda. Tiga bulan terlewati dan terasa sangat lama. Ia berusaha dengan sabar dan sepenuh hati melewati hari – hari yang terasa begitu lama dari biasanya. Makin tidak sabar menunggu hari dimana dia bertemu dengan Niko sesuai kesepakatan. Manda sedikit merindukannya.
Doa membuatnya semakin teguh untuk menjawab “ya” meskipun satu poin dalam kriteria teman hidupnya belum
terpenuhi. Soal kriteria pendaki gunung. Saat ini yang Manda tahu bahwa Niko adalah pemilik salah satu perusahaan yang jelas sibuk dibidangnya.
Hari ini tiba saatnya Manda dan Niko akan bertemu di kafe yang sama. Kafe dimana mereka membuat kesepakatan sebelum tiga bulan berdoa dan tidak bertemu. Ini adalah yang ditunggu – tunggu Manda. Namun ia sangat gugup.
“Mau kemana Mbak kok udah cantik gini?” tanya Mia diambang pintu mengamati Manda yang sedang berdandan. Tubuhnya sudah terbalut dress casual berwarna biru tua. Terlihat sederhana dan pantas sekali dikenakan Manda.
“Mau ketemu seseorang,” jawab Manda mengoleskan lipstick tipis dibibirnya. Mia terdiam. Tidak biasanya yang
dilakukan kakak perempuannya. Bahkan bersama Hose saja dia tidak pernah mempersiapkan diri seperti itu.
“Haha Mas Niko?” Manda reflek memalingkan wajah dari cermin kearah Mia.
“Kamu tau dari mana?” tanya Manda menyelidik.
“Cuma nebak aja sih,” Mia melangkah menghampiri kakaknya. “Kubantu rapihin rambutnya Mbak.”
Mia menyisir dan merapikan rambut Manda ala – ala hair stylist salon. Dalam hal ini memang Mia jagonya. Ia jauh lebih luwes dan terampil dari pada Manda.
“Nanti ketemu dimana?” tanya Mia masih berkutat dengan rambit ikal Manda.”Kuantar aja nanti pakai mobil papa.”
“Di kafe dekat kampus dek, baiklah lebih hemat haha, tadinya aku rencana mau naik ojek sih,” jawab Manda masih
menghadap cermin.
“Aku antar aja nanti biar Mas Niko antar Mbak pulang,” jawab Mia disambut dengan anggukan persetujuan dari Manda.
Cerdas juga adikku ini. Tidak salah aku waktu balita minta adek ke Mama dan Papa.
Manda telah siap. Terlihat sangat cantik dan segar. Tidak lupa ia membawa buku catatan yang terdapat tulisan
kriteria teman hidup. Kali – kali dibutuhkan.
“Jam berapa Dek?” tanya Manda pada Manda yang mulai mengendarai mobilnya.
“jam tujuh lebih lima belas menit Mbak. Cukup lah nanti sampai sana gak bakal terlambat,” jawab Mia setelah
__ADS_1
melirik jam tangannya.
“Baiklah,”
Mia telah pergi setelah menurunkan Manda dihalaman kafe. Dengan langkah pasti Manda memasuki kafe dan naik ke lantai dua dimana ia akan bertemu dengan Niko. Rasanya seperti akan pendadaran skripsi bagi Manda. Menunggu hari itu datang namun rasa gugup melanda ketika tiba saatnya.
Niko sudah berada disana. Manda tersenyum melihatnya. Jarang sekali baginya laki – laki yang tepat waktu. Ia menghela nafas. Membuang rasa gugupnya. Sebelum Manda menyapa Niko terlebih dulu Niko menoleh kebelakang.
“Eh Manda, silahkan duduk Manda,” Manda mengangguk dan duduk dihadapan Niko.
“Bagaimana kabarmu Manda?” tanya Niko.
“Puji Tuhan Mas beginilah, sehat. Mas Niko sendiri sehat juga kan?”
“Puji Tuhan Manda,” jawab Niko.
Mereka tidak ada janjian dalam hal berpakaian. Sangat kebetulan baju yang mereka kenakan sangat senada. Jika orang lain tidak mengetahuinya akan mengira mereka sengaja memakai baju yang senada. Niko mengenakan kemeja biru tua lengan panjang namun sangat terlihat tampan.
Pembawaan Niko membuat rasa gugup Manda hilang. Pembicaraan mereka santai dan nyambung satu sama lain. Makanan ringan seperti kentang goreng dan roti bakar lengkap dengan matcha latte kesukaan Manda sudah tersedia di meja.
“Manda,” ucap Niko memulai pembicaraan inti. Manda mengangguk sekali.
“Manda bagaimana dengan pertanyaan Mas waktu itu? Apakah Manda sudah mendapat jawaban?” tanya Niko
Manda tersenyum lalu menjawab,”Puji Tuhan aku sudah memiliki jawaban Mas.”
“Terima kasih Manda. Mas sendiri tiga bulan ini sangat membantu Mas melatih kesabaran Mas. Menunggu ternyata
tidak mudah ya Manda,” ucap Niko. Wajahnya begitu hangat dan menenangkan. Sorot matanya penuh kasih sayang. Manda merasakan perasaan yang baru. Kini waktu berbeda dari sebelumnya yang terasa lama. Manda berharap kali ini waktu membeku dan dia bisa lebih lama bersama laki – laki yang ada dihadapannya.
“Wajah Mas merah, Mas sakit?” tanya Manda sedikit cemas. Dari sejak bertemu wajah Niko terlihat merah
meskipun tak mengurangi ketampanannya.
“Tidak, Mas hanya kecapekan. Mas baru sampai dirumah tadi malam,” jawab Niko memijat punggungnya.
“Dari Mana?” tanya Manda penasaran.
“Dari turun gunung, pegel rasanya badan. Tapi Mas bersyukur bisa melihatmu hari ini,” jawab Niko masih memijat
punggungnya. Ransel dengan kapasitas 60 liter cukup menciptakan rasa pegal di punggungnya.
“Mas Niko berarti pulang dari naik Gunung Mas?” tanya Manda lagi meminta penegasan. Dalam hatinya perlahan
__ADS_1
mendapat suatu jawaban dari segala doanya. Manda begitu terharu atas apa yang ia dengar dari bibir Niko.
“Iya Manda, kembali ke topik awal ya. Bagaimana denganmu? Sudah ada jawaban untuk Mas?” Niko bertanya penuh
kehati – hatian. Menyiapkan dirinya seandainya jawaban Manda adalah tidak.
“Mas, aku sudah lama menulis kriteria teman hidup yang itu adalah kriteria calon suami. Aku hanya takut
menerima orang yang salah. Dan puji Tuhan, semua terjawab. Semua terpenuhi. Tuhan sangat baik. Bolehkah aku menerima Mas?” jawab Manda begitu lirih namun masih terdengar jelas oleh Niko.
“Terima kasih Manda,” Niko melipat kedua tangannya dan mencium tangannya sendiri. Betapa ia sangat bersyukur. Senyum merekah terlukis pada wajah Niko. Gadis yang ia tunggu sejak lama kini telah menerima dan menyetujui untuk menjadi kekasihnya.
“Awalnya aku ragu Mas karena ada satu poin kriteria yang belum terpenuhi. Aku sudah mencari media social Mas
tapi ternyata di gembok. Tapi puji Tuhan hari ini aku mendapat jawaban langsung dari Mas kalau Mas Niko adalah pendaki,” ucap Manda disertai tatapan penuh syukur. Sorot matanya berbinar penuh kebahagiaan dan ketulusan.
“Kalau Mas sudah mengerti kamu sejak dulu, Noval sering menceritakanmu pada Mas,” Manda tersenyum mendengar penjelasan dari Manda.
“Manda, kamu tahu kan kalau Mas tidak hanya sekedar menjadikanmu sebagai kekasih saja?” tanya Niko, Manda
sedikit mengerutkan dahinya meminta penjelasan.
“Mungkin ini terkesan buru – buru. Namun Mas sudah memikirkannya. Seandainya dalam bulan ini orang tua Mas
kerumahmu, apakah kamu siap?”
“Mak..sud Mas? Melamar?” Niko langsung mengangguk membenarkan.
“Mas, aku juga menerima Mas dengan pemikiran yang matang. Jadi aku percaya Tuhan pasti akan menyertai step
kita selanjutnya,” jawab Manda yang sangat – sangat memberi artian memberi persetujuan atas pertanyaan Niko.
Gayung bersambut. Peribahasa yang cocok untuk Manda dan Niko. Penantian yang berujung pada buah yang manis. Walaupun ini bukanlah akhir, namun merupakan langkah awal yang baik untuk mereka melangkah ke jenjang selanjutnya.
Semoga alam semesta merestui.
.
.
.
Termasuk para pembaca …
__ADS_1
Happy reading and stay healthy !