
“Emm kamu sama Rizky ketemunya hanya sebulan sekali ya Kar? Emang nggak kangen?”, tanya Manda. Mereka berdua kini berada ditaman belakang rumah Sekar. Duduk di gazebo kecil yang merupakan buatan Rizky, kekasih Sekar.
“Kangen jelas iya toh Manda, kamu aja yang sama Hose seminggu nggak ketemu bakal kangen ya kan”
Kangen? Aku baru sadar. Kapan aku pernah kangen sama Hose ya?
“Biasa aja sih,” jawab Manda santai.
“Bohong!” cubit Sekar pada punggung kiri Manda.
Taman itu tidak terlalu luas namun banyak tanaman obat dan sayur yang juga sedikit banyak adalah hasil dari
kreatifitas tangan Rizky. Kini sedang menyelesaikan studi spesialis jantung di luar kota. Setelah sumpah profesi dia akan melamar kerja di kota tempat Sekar tinggal dan akan melamar Sekar.
Mereka terdiam ketika sekar selesai menceritakan soal kekasihnya. Dalam hati Manda juga ingin dilamar oleh
__ADS_1
seorang laki – laki yang dicintainya. Tidak hanya dicintai, namun benar – benar sesuai dengan doa – doa yang Manda panjatkan.
“Kriteria pasangan hidupmu kayak gimana sih Manda? Pastinya ada pada Hose semua kan?” sebuah pertanyaan dari Sekar yang menjadi pertanyaan sulit untuk dijawab Manda.
“Yah aku jalani dulu aja sih Kar, siapa tau nanti lama – lama aku benar – benar jatuh cinta sama Hose,” jawab
Manda dengan jujur.
“Semangat Manda.” Sekar menepuk pundak Manda. “Tapi pertanyaanku belum kamu jawab tadi tentang kriteria
Manda teridam sejenak.
“Emb iya kriteria. Simple sih yang penting dia seiman, bisa alat musik minilmal gitar, udah kerja, setia, bisa masak sama cuci baju. Tapi yang penting adalah dia mampu menerima kekuaranganku Kar begitupun sebaliknya," jawab Manda diakhiri dengan menghela nafas.
Kriteria itu memang ada pada Hose, namun entah aku dan dia bisa saling menerima atau engga.
__ADS_1
Tidak terasa hari semakin terang. Bu romlah sudah mengajak mereka untuk sarapan pagi. Mereka bertiga menikmati bubur ayam buatan Bu Romlah yang rasanya super enak. Kacang kedelai dan bawang goreng merupakan toping favorit Sekar dan juga Manda. Bu Romlah senang sekali melihat pemandangan yang ada didepannya. Melihat kedua gadis yang sedang sarapan bersamanya begitu lahap menikmati bubur ayam buatannya.
Suara ponsel Manda yang ada di kamar Sekar berdering terdengar hingga ruang makan. Sengaja tidak dibisukan supaya alarm terdengar lebih jelas ketika membangunkan Manda setiap harinya. Manda sedikit berlari mengambil ponselnya. Manda tak sempat mengangkat ponselnya dab terdapat satu panggilan tak terjawab dari Hose.
Dibacanya pesan bahwa Hose telah sampai dirumah tengah malam dan kini sedang demam. Hose meminta Manda untuk kerumahnya pagi ini untuk membantunya menyiapkan sarapan.
Manda kembali ke ruang makan menyelesaikan bubur dimangkuknya. Sayang untuk ditinggalkan begitu saja. Enak banget, gumam Manda.
“Setelah sarapan aku ke rumah Hose ya Kar, dia demam. Kayaknya kecapekan deh dia," ucap Manda sambil menyuapkan bubur pada mulutnya.
“Dibawain bubur ini sekalian aja Manda, masih banyak juga,” jawaban Sekar yang disetujui Manda, terlihat dari
anggukan kepalangya yang masih fokus menikmati bubur pada suapan terakhirnya.
Bungkus dua aku pun tak menolak, hehe.
__ADS_1
“Nambah nduk, masih banyak loh, nanti bawa porsi lebih aja kalau mau ibu bungkuskan”, tawaran Bu Romlah yang lagi – lagi tidak ada penolakan dari Manda. Manda memang tidak suka basa basi. Mengingat suatu kalimat yang mengatakan jika ya katakana iya, jika tidak katakana tidak. Manda mengangguk sambil menyantap kerupuk bawang. Sepertinya Manda belum kenyang. Antara doyan dan lapar tidak bisa dibedakan.