Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 25


__ADS_3

Manda berlari menuju kamar setibanya dirumah. Meletakkan tas diatas meja riasnya lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Begitu lelah sekali baik tubuh maupun hatinya. Masih mengenakan pakaian kerja ia berbaring dan memeluk bantal dan membenamkan wajahnya dibawah bantal yang dipeluk erat. Walaupun lega, hatinya terasa sakit atas apa yang telah ia jumpai dikamar Hose yang baru saja resmi menjadi mantan kekasih.


Manda menahan sesaknya dan perlahan air mata mulai mengucur deras diwajahnya. Bantal dan spreinya menjadi


basah karena aliran air mata. Mau tidak mau ia harus menerima kenyataan kecewanya. Manda terisak sesenggukan. Langkah kaki terdengar samar usai pintu kamar Manda tertutup. Manda menoleh dan mendapati seseorang duduk diujung kamarnya. Wajahnya begitu hangat dan lembut. Dengan sigap ia duduk lalu memeluk Bu Tere.


Bu Tere sangat hafal dengan kebiasaan anak pertamanya ini. Kalau tidak sedang sedih mungkinterluka hati, tebak Bu Tere. Bu Tere menepuk halus punggung Manda yang sedang terisak. Membiarkan Manda mengeluarkan seluruh kekecewaan juga kesedihannya dengan tangisnya. Bu Tere merasakan tubuh Manda sedikit gemetar, kembali ia menepuk punggung Manda untuk menenangkannya.


Tangis Manda mereda. Melepas pelukan dan mengusap air matanya.


“Apa yang terjadi Mbak Manda?” tanya Bu Tere pada Manda. Bu Tere mengusap lembut sisa air mata Manda. Manda hanya terdunduk. Bingung harus bagaimana menceritakan pada mamanya. Tidak pernah sekalipun ia membahas hal – hal seperti itu pada orang tuanya. Manda menganggap hal itu adalah tabu dan malu jika harus menceritakan pada Bu Tere secara gambling. Sangat tidak mungkin Manda bilang ke Bu Tere jika ia baru saja melihat Hose bercinta dengan wanita lain.

__ADS_1


“Hose selingkuh Ma, Manda lihat sendiri tadi dirumahnya," Manda mulai mendapat pilihan kata yang tepat jadi tidak perlu menceritakan secar detil. Bu Tere menghela nafasnya.


“Lebih baik begitu, kamu bisa mengetahui dia sejak awal jadi kamu tidak akan menyesal diakhir nantinya. Mama bahkan sejak awal pernah bilang ke kamu untuk berpikir dan berdoa lagi, karena mama sedikit kurang percaya dengan Hose. Namun karena kamu selalu bilang jika Hose adalah laki – laki yang baik, mama berusaha percaya," ucap Bu Tere begitu lembut. Manda kembali terisak. Menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Tidak masalah sayang, sekarang kamu sudah berhasil keluar dari rasa khawatir mama. Mama lega," Bu Tere mengusap dan mengelus lembut rambut Manda.


Tangis Manda sudah mulai mereda. Bu Tere sudah meninggalkan kamarnya untuk menyiapkan makan malam. Manda bergegas mandi karena perutnya sudah merasa lapar. Aroma masakan Bu Tere tidak pernah gagal menggoda selera setiap orang yang menghirupnya, tak terkecuali Manda. Manda mempercepat mandinya. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit ia telah selesai mandi lengkap dengan keramas. Rambutnya masih terbungkus dengan handuk bermotif pikacu. Manda menuju ruang makan yang telah tersedia masakan lezatbsudah tertata rapi diatas meja.


“Handuknya dilepas dulu baru makan!" perintah Bu Tere menuangkan wedang jahe jeruk di empat gelas yang adabdiatas meja. Dengan gontai Manda berjalan menunggalkan ruang makan untuk mengeringkan rambutnya. Sama seperti ketika mandi, ia telah kembali sudah dengan rambut yang tersisir walaupun masih setengah basah. Bu Tere menggeleng namun memahami Manda saat ini sedang sangat lapar.


Lapar. Kecewa ternyata menguras tenaga juga ya, huf.

__ADS_1


Manda duduk dan meletakkan kedua tangannya diatas meja. Tidak sabar ingin menyantap ayam kecap dan tempe goreng yang ada dihadapannya. Sayur kangkung orientalnya juga terlihat sangat menggoda. Pak Rendra dan Manda sudah bergabung untuk mulai makan.


“Mbak Manda pimpin doa makan ya!” pinta Bu Tere. Manda mengangguk menyetujui perintah sang Ibunda tercinta. Semua yang ada ruang makan terpejam dan Manda memimpin doa.


Setelah doa diakhiri mereka mulai makan malam. Manda sudah tidak bersedih, buktinya ia bisa melahap habis makanan yang ada dipiringnya. Pak Rendra yang mengetahui tentang Manda hari ini tersenyum melihatnya. Iya, Pak Rendra tahu. Siapa lagi kalau bukan Bu Tere yang memberitahunya.



Manda menghempaskan tubuh diatas kasurnya. Menutup matanya dengan sapu tangan handuk dengan harapan bisa lebih nyaman. Meregangkan kaki nya yang cukup pegal. Dengan tidur terlentang ia memeluk gulingnya. Rasa kecewanya kini menjadi rasa syukur. Manda heran sendiri dibuatnya. Manda merasa bahwa Tuhan sangat baik dalam hidupnya. Manda merubah posisinya menjadi duduk. Melipat tangannya dan matanya terpejam. Manda sangat bersyukur dalam doanya.


Kini ia paham bahwa selama ini Tuhan biarkan Manda berlari sekencang mungkin. Hingga pada akhirnya ada dinding didepan dan Manda menabraknya lalu terjatuh dibuatnya. Sakit. Sakit sekali. Namun disitu Tuhan tidak hanya diam melihat, tanganNya menolong dan memulihkan luka Manda. Manda sangat bersyukur ia sekejap bisa sembuh dari rasa kecewanya. Manda meraih selimutnya lalu tertidur dengan rasa lega dan damai dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2