
Dua bulan usai pertunangan berjalan dengan semestinya. Manda tidak menyangka jika secepat ini ia sudah
menjadi tunangan Niko. Tidak menyangka pula jika bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan. Rencana Sang Pencipta memang tidak bisa ditebak. Dulu ia berencana tidak ingin menikah muda. Berencana menikah diatas umur 26 tahun. Tapi kenyataanya dia akan menikah diumur 24 tahun.
Persiapan menuju pernikahan sudah mulai dilakukan. Pemesanan undangan, catering, rias, busana hingga gedung
pernikahan sudah di pesan. Selama dua bulan Manda dan Niko juga telah mengikuti katekisasi pra nikah di Gereja. Hanya kurang beberapa pertemuan lagi.
Hari ini hari Sabtu. Manda sangat menyukai hari ini karena pulang lebih awal. Pukul 14:00 WIB.
“Aku duluan ya Sekar. Sudah dijemput Mas Niko didepan,” pamit Manda pada Sekar yang akan menuju parkiran.
Rizky tidak bisa menjemput Sekar karena hari ini ia mendapat jadwal jaga sift malam di Rumah Sakit.
“Oke salam buat Mas Niko ya Manda, hati – hati dijalan!” ucap Sekar lalu mereka melambaikan tangan dan berpisah. Manda menuju depan kantor sedangkan Sekar menuju ke parkiran mobil.
Manda berjalan keluar dari kantor dan menemukan mobil Niko yang terparkir dipinggir jalan. Niko membuka jendela
mobil ketika Manda sudah mendekati mobilnya. Manda membuka pintu dan masuk kedalam mobil Niko.
“Selamat siang Mbak. Dengan Mbak Manda ya? Sesuai aplikasi ya Mbak,” goda Niko meniru driver taksi online.
“Iya Bapak. Nanti saya beri bintang lima deh,” ucap Manda mengerlingkan sebelah matanya tidak mau kalah
__ADS_1
menanggapi candaan Niko.
“Siap Mbak Cantik!”
Niko mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarainya.
“Mas Niko, kita ke tempat sewa busana pengantin sebentar ya,” ucap Manda ketika memasang sabuk pengaman.
“Siap tuan putri,” jawab Niko yang sedang asik mengendalikan setir mobilnya. Ia sudah mengerti dimana lokasi
penyewaan busana pengantin yang Manda maksud. Manda sudah menemukan busana yang ia inginkan untuk pernikahannya nanti. Memakai kebaya putih untuk pemberkatan dan kebaya beludru berwarna hitam khas pengantin Solo untuk resepsi. Sedangkan busana untuk Niko menyesuaikan. Manda lebih memilih untuk sewa. Lebih efektif dan tidak mubazir. Tentunya juga lebih hemat.
Sore itu jalanan cukup padat dihiasi kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua. Pantas saja ini
Sampailah mereka disalah satu tempat penyewaan busana pengantin. Disana sangat lengkap dari busana tradisional hingga modern.
“Mbak Manda tidak ingin mencobanya?” tanya Bu Watik pemilik persewaan tersebut. Ia juga yang akan menangani rias pengantin pada pernikahan Manda mendatang.
“Tidak Bu, saya malu,” bisik Manda.
“Dicoba dulu aja Nik, Mas ingin coba lihat!” pinta Niko.
“Tidak, aku malu Mas,” jawab Manda dengan nada memohon.
__ADS_1
“Haha kenapa harus malu, nanti pada akhirnya juga Masnya akan melihat Mbak Manda memakai busana ini.,” ucap Bu Watik. “Ya sudah, Mbak Manda mencoba didalam saja ya, biar nanti saat harinya menjadi kejutan untuk Mas Niko,” ucap Bu Watik menggoda calon pengantin yang sekarang tersipu malu.
Manda masuk kedalam bersama Bu Watik. Sedangkan Niko sudah mencoba busananya terlebih dulu. Tidak membutuhkan waktu lama Manda sudah keluar dari fitting room. Ia tercengang melihat calon suaminya tertidur dengan posisi duduk. Manda tersenyum begitu pun dengan Bu Watik.
“Biarin dulu Nduk, jangan dibangunkan. Kasihan,” ucap Bu Wati yang kali ini memanggil Manda dengan panggilan Nduk. Sebuah panggilan sayang untuk gadis Jawa.
Manda mendekati Niko. Duduk disampingnya sambil memandangi calon suami yang telah tertidur pulas. Mendengarkan setiap hembusan nafasnya. Sepertinya sangat kecapaian beberapa hari sibuk mengurus persiapan pernikahan juga pekerjaan di kantornya. Manda mengambil tisu dari dalam tas lalu mengusap lembut dahi Niko yang basah akan bulir keringat.
Bulan depan aku akan resmi menjadi istrinya Mas Niko. Tidurnya pulas sekali, pasti sangat lelah.
“Manda mengasihi Mas Niko,” ucap Manda begitu lirih dan masih memandangi wajah Niko.
Beberapa menit kemudian Niko membuka mata dan mengusap wajah dan matanya.
“Eh sayang. Maaf Mas ketiduran,” ucap Niko mengusap dahi hingga rambutnya kearah belakang menggunakan tangan kanannya.
“Tidak mengapa Mas, Mas pasti lelah. Ini diminum Mas,” Manda menyodorkan botol minumnya dan langsung diteguk habis oleh Niko. Sepertinya ia tak hanya lelah. Namun juga haus.
“Huf!” Niko membuang nafas dan kantuknya.
Setelah melunasi biaya sewa busana, Niko membawa Manda pulang kerumah karena nanti sore pihak wedding
organizer akan mengantar semua undangan yang telah dipesan.
__ADS_1