Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 20


__ADS_3

Manda memasukkan ponselnya kedalam tas lalu mengajak Sekar pergi dari foodcourt. Sekar mengikutinya setelah


kembali menengok sudut yang baru saja membuat pandangan Manda fokus kearah tersebut. Manda tidak menyadari bahwa Sekar mencurigainya melihat hal – hal  yang tidak kelihatan dengan mata manusia normal. Manda menggandeng Sekar dengan sedikit mempercepat langkah kakinya. Membuat Sekar semakin bergidik. Sekar memilih tidak menanyai karena juga tidak siap menengarkan jawaban terburuk dari Manda. Sekar tidak mau jika harus merepotkan Bu Romlah menemani tidur malamnya karena ketakutan. Memilih diam adalah pilihan terbaik.


Semoga mereka tidak melihatku.


Manda dan sekar menuju kelantai paling bawah. Puas melihat – lihat baju di butik, namun tidak membeli. Hanya cuci mata. Uangpun mereka ada. Namun meskipun begitu mereka tidak menyukai terlalu menghambur – hamburkan uang, baju mereka juga sudah menumpuk banyak dilemari. Saat seperti ini mereka hanya memanjakan lidah dan perut mereka dan terakhir adalah memanjakan matanya melihat baju – baju cantik di beberapa butik di mall yang sama dengan foodcourt yang mereka kunjungi.


Setelah puas memutari butik baju, pandangan sekar tertuju pada toko aksesoris dengan nuansa merah muda yang


sangat menggoda kaum hawa seperti mereka. Manda menyetujuinya karena ia juga suka sekali mengunjungi toko aksesoris. Mata Manda berbinar melihat pulpen gel yang ada hiasan boneka beruang coklat diujungnya. Satu barang masuk dalam tas belanja. Sekar tertarik untuk membeli jilbab berupa kain segi empat yang begitu halus dan lembut. Sekar memilih membeli yang warna salem dengan sedikit guratan merah jambu namun samar. Masing – masing hanya membeli satu barang namun memerlukan waktu hampir setengah jam ada di toko aksesoris.


Mereka duduk di bangku – bangku panjang yang tersedia di mall setelah merasa sedikit lelah. Sangat ramai. bertepatan awal bulan sehingga banyak orang keluar untuk memanjakan diri mereka. Terlihat pasangan muda yang bergandengan tangan menaiki dan menuruni escalator. Para orang tua yang sedikit berlari mengejar anak mereka yang berlari – larian diantara kerumunan. Para baby sitter yang tengah sibuk mendorong kereta bayi. Ramai sekali.


Mereka hanya duduk meluruskan kedua kaki. Tanggannya memainkan ponsel masing – masing. Membaca beberapa pesan yang masuk. Juga media social yang menampilkan foto. Sesekali mereka membahas akun gossip yang sedang membicarakan artis aplikasi joged yang merupakan anak SMP namun bajunya begitu seksi berdada besar dan berjoged seperti layaknya penari erotis. Mereka berdua geleng – geleng geli melihatnya.


Amit – amit kalau anakku nanti seperti itu.


“Heii!" Manda menepuk paha Sekar sedikit keras karena Manda juga terkejut kare merasa melupakan sesuatu. Sekar terperanjak terkejut ketika Manda mepuk pahanya.

__ADS_1


“Kamu kog nggak Shalat Kar?” Manda membelalakkan matanya menatap Sekar dengan sedikit rasa bersalah karena tadi ia tak sengaja merebut waktunya untuk menjawab pertanyaannya.


Sekar terkekeh. Sedangkan Manda hanya mengerutkan hidungnya karena ekspresi Sekar tidak sesuai dengan


ekspektasi awalnya. Malah tertawa bukannya panik karena lupa belum sholat Ashar hingga Isya’.


“Manda kamu pelupa banget sih, aku kan tadi waktu dikantor bilang ke kamu kalo lagi menstruasi hari ini."


Manda mendengus lega.


“Eh Kar, waktu dulu kamu berciuman sama Reza, apa yang kamu rasain?” tanya Manda tiba – tiba dengan


“Nggak usah bahas lagi Manda!” tukas Sekar mencubit pipi Manda.


“Siap laksanakan!” Manda memberi sikap hormat ala – ala pemimpin pleton yang memberi hormat pada pemimpin


upacara usai memberikan laporan.


“Nak Manda?” Manda mendongak kearah seseorang yang memanggilnya. Matanya terbelalak. Orang itu tidak

__ADS_1


sendiri. Melainkan bertiga. Mereka yang tadinya Manda hindari sejak berada di foodcourt. Jadi bukan sesuatu aneh yang Manda lihat, namun Niko dan kedua orang tuanya. Bu Ratri dan Pak Yakub. Sekar ikut menyalami mereka mengikuti Manda. Sekar tidak kikuk dan melempar senyuman ramah pada mereka. Tidak dengan Manda yang wajahnya semakin pias namun berusaha menutupi dengan senyumnya. Niko hanya diam dengan senyumnya yang selalu menawan. Sekar tidak merasa asing dengan wajah Niko karena sempat Manda kasih tunjuk beberapa waktu lalu.


Ketika di foodcourt Sekar terbawa paranoidnya sehingga tidak mengenali Niko. Pun Niko duduk membelakangi mereka, hanya melihat Bu Ratri dan Pak Yakub yang tidak dikenalinya. Mereka bertiga berpamitan setelah pertemuan singkat tanpa sengaja. Manda kembali duduk dan terdiam. Kini Sekar lega bahwa kecurigaannya salah. Sekar mengambil nafas dan mengeluarkan dengan lega. Berbeda dengan sagabatnya kini yang sedikit salting


usai bertemu dengan Niko dan orang tuanya.


Mas Niko tadi hanya diam, hanya Tante Ratri dan Om Yakub aja yang nanyain kabar Manda. Mungkin Mas Niko memang sudah masa bodoh denganku. Aduh buat apa aku memikirkan itu.


Sekar melirik kearah Manda. Wajahnya pias. Ia sedikit menangkap sikap diam sahabat yang ada disampingnya kini.


“Manda, are you okay?” Sekar mengusap halus punggung Manda yang sedikit tertunduk menatap kosong ponsel yang ada digenggamannya. Manda menghela nafasnya dan mengangguk dalam diamnya.


“Kamu memikirkan Mas NIko Manda?” Manda menggeleng cepat. Namun tetap pada diamnya. Sekar tersenyum, membelai lembut rambut sahabatnya.


“Mas Niko ternyata lebih tampan ya dari fotonya," Manda sedikit mendongak sedikit memicingkan matanya.


Iya sih makin tampan, tapi percuma kalau sekarang sudah cuek.


“Auranya orang baik ya dia," Sekar masih dengan pujiannya pada Niko. Manda tetap diam pura – pura tidak mengindahkan pernyataan Sekar.

__ADS_1


“Huf, ayo pulang yuk Kar!" ajak Manda mulai berdiri membenarkan kacamatanya lalu merapikan bajunya yang sedikit tersingkap setelah berlama – lama duduk. Sekar tersenyum mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Manda. Sekar sangat memahami kebiasaan Manda jika hatinya sedang kurang baik. Berpura - pura baik - baik saja namun diamnya cukup memperlihatkan jika hatinya sedang kacau.


__ADS_2