
Setelah turun dari mobil Manda dan Niko memasuki rumah dan dikagetkan dengan tumpukan undangan yang ada di ruang tamu. Undangan telah sampai terlebih dulu dari mereka. Untung saja sudah dibayar lunas. Kalau tidak mereka akan merasa sungkan sekali.
Mereka tidak menyangka jika undangan akan sebanyak itu. Ternyata setelah dicek yang paling banyak adalah
undangan untuk tamu – tamu kedua orang tua mereka, baik orang tua Niko maupun Manda. Sisanya adalah undangan untuk teman kantor, kampus dan teman – teman gereja baik Manda maupun Niko.
Semua undangan sudah lengkap dengan nama – nama tamu yang akan diundang. Manda melihat tumpukan undangan yang telah siap disebar. Ia tak menyangka pernikahan mereka sudah didepan mata.
“Eh ada calon Kakak Ipar,” sapa Mia datang dari dalam rumah.
“Besok ku bantu edarin undangan saja Mbak,” ucap Mia menawarkan diri. Disambut dengan anggukan kedua calon
pengantin.
“Hmmm, mentang – mentang pasangan. Menganggukpun harus bersamaan,” ledek Mia. Manda tidak menjawab hanya memancungkan bibir menanggapi ledekan Mia.
“Kok sepi? Papa dan Mama kemana Dek?” tanya Manda. Ia juga tidak melihat mobil Pak Rendra di garasi rumah.
“Oh tadi mereka ke rumah Budhe antar beberapa undangan Mbak. Baru aja sih mereka pergi. Eh Mbak aku mau masak mie instan nih, Mbak Manda sama Mas Niko mau?”
“Wah, boleh. Mbak lapar banget ini,” jawab Manda pada Mia lalu menoleh pada kekasihnya dan bertanya,”Mas Niko
mau sekalian dimasakin?”
“Hmm boleh deh,” jawab Niko. “Tidak apa nih Dek Mia masak untuk kami?”
“Ah tidak masalah kali Mas. Hal yang mudah,” Manda meninggalkan ruang tamu lalu tak lama kembali lagi.
__ADS_1
“Hampir lupa. Mau pakai telur? Cabai? Sawi? Rabus atau goreng?” tanyanya mengikuti gaya bicara pelayan yang judes.
“Samakan saja. Paket komplit ya Mbak!” jawab Manda tanpa melihat adiknya. Ia bersimpuh dilantai, sibuk merapikan dan memilah undangan supaya besok tinggal disebar.
“Oke deh. Siap laksanakan!” Mia meninggalkan mereka menuju ruang dapur.
Fokus Manda tertuju pada salah satu bendel undangan yang baginya sangat menarik.
“Ini untuk teman – teman komunitas pendaki?” tanya Manda penasaran lalu menatap Niko. Niko mengangguk.
“Mas sejak kapan ikut komunitas ini?” tanya Manda meletakkan dagunya diatas tumpukan undangan dengan pandangan tertuju pada Niko yang duduk diatas sofa.
“Sejak Mas kuliah, dulu sering mendaki sama mereka. Namun ketika Mas sudah bekerja, sudah jarang lagi sama
mereka. Bahkan tidak sama sekali,” jawab Niko penuh antusias karena memang mendaki adalah salah satu hobinya.
“Sama teman kantor, seringnya sama Beni,” jawab Niko mengangguk. Ia juga tahu siapa Beni karena pernah ketemu sekali beberapa minggu yang lalu,
“Oh, aku pikir sama pacar Mas,”
“Pacar Mas satu – satunya hanya Amanda Priska Narendra!” jawab Nimo begitu lugas sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Benarkah Mas? Mas kan ganteng masa tidak pernah sekalipun pacaran?”
“Apa kamu bilang? Mas ganteng? Makasih ya sayang!” sawab Niko yang berhasil mengerjai calon istrinya. Ia
tertawa puas melihat pipi Manda merona kemerahan.
__ADS_1
Ah! Sepertinya aku salah ucap!
“Taraaa! This is it, mie godhog buatan Mia!” Mia tiba datang membawa dua mangkok yang masih mengepul asap
diatasnya. Manda memindahkan beberapa tumpuk undangan ke atas sofa supaya Mia dapat meletakkan dua mangkok mie panas itu.
“Selamat menikmati. Supaya tidak mengganggu Tuan dan Nyonya, saya masuk kedalam dulu,” ucap Mia mengedipkan sebelah matanya lalu masuk lagi kedalam rumah. Tepatnya menuju ruang makan untuk menyantap mie instan rebus.
“Dasar adik yang aneh!” celetuk Manda menggelengkan kepalanya. “Untung aku sayang.”
“Kalau sama Mas?” goda Niko.
“Jawab sendiri!” tukas Manda. Gelak tawa keduanya memenuhi ruangan lalu hening ketika mereka sama – sama
menaikkan doa sebelum makan.
“Eh Mas, Hose juga diundang kah?” tanya Manda ditengah – tengah menyantap mie.
“Hmmm,” Niko mengangguk dengan mantab. “Bagaimana pun dia kan teman kuliah kamu dulu.”
Manda mengangguk mengerti. Setelah putus dengan Hose hubungan mereka juga semakin membaik. Walaupun
sebenarnya Hose masih ingin kembali pada Manda namun sudah tidak sanggup lagi Manda membuka hatinya. Manda sama sekali tidak menyimpan sakit hati. Ia selalu begitu. Menyelesaikan emosi, marah, kecewa pada hari itu juga. Harus selesai sebelum matahari terbit dan terbenam.
Sluuurrpp! Keduanya tuntas menghabiskan mie dan semua kuah tanpa tersisa. Sudah lama juga mereka tidak
menyantap mie instan. Rasanya jadi nikmat sekali.
__ADS_1