Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 27


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Manda terdiam. Keduanya terlihat canggung. Padahal minggu sebelumnya nampak biasa


saja. Manda bingung kali ini Niko terlihat lebih tenang tidak banyak bicara. Jadi bingung harus memulai percakapan dari mana. Keduanya saling menatap ke kaca depan mobil yang melaju sedang


“Manda, batas malam kamu jam berapa dirumah?” tanya Niko memecah keheningan didalam mobil itu.


“Nggak ada Mas, meskipun aku nggak pernah pulang malam sih, paling ya jam 11 masih dimaklumi.”


“Mas ajak ke kafe sebentar ya, ada yang mau Mas bicarakan” pinta Niko.”Masih jam sembilan sekarang.”


“I..Iya Mas.” Jawab Manda sedikit gugup.


Mobil diparkirkan parkiran sebuah kafe yang cukup nyaman. Manda sudah lama ingin mampir ke kafe itu namun belum saja ada waktu lebih. Lebih tepatnya belum ada yang mengajaknya. Kafe ini sangat terasa hangat dan romantis. Tidak terdapat orang merokok juga jadi sangatlah nyaman untuk sekedar bersantai sambil menikmati kopi hangat.


Niko mengajak Manda ke balkon yang ada di lantai dua. Temaram dan hangat. Tempatnya lebih terlihat asik dengan duduk menghadap pemandangan gemerlap kota pada malam itu. Suasananya sangat nyaman, namun tidak dengan Manda yang belum berhasil menepis rasa gugupnya. Ia melipat tangannya diatas meja. Berbeda dengan Niko yang sekarang jauh terlihat lebih tenang dan santai.


“Manda mau pesan apa?” tanya Niko memberikan beberapa pilihan menu. Manda membacanya.


“Eum, aku mau matcha latte panas sama mendoan Mas," jawab Manda yang sebenarnya tidak lapar. Di acara tunangan Sekar tadi ia sudah banyak menghabiskan banyak makanan sehingga kali ini hanya memesan makanan ringan dan minuman.


“Ini saja?” Manda mengangguk. Niko lalu menuju lantai satu untuk memesan beberapa menu untuk Manda dan juga untuknya. Lalu kembali duduk bersama Manda. Mereka berhadapan dan dipisahkan dengan meja yang lebarnya tidak sampai satu meter lebarnya.


“Oh Tuhan gadis ini makin hari makin cantik sekali,” gumam Niko dalam hati lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan tipis berwarna abu tua. Manda mencuri pandang penuh takjub.


“Bagaimana pekerjaanmu Manda?” tanya Niko sambil menggulung lengan kemeja batiknya. Laki – laki yang kini


berusia 28 tahun ini begitu terlihat sangat tampan dengan kemeja batik biru tua dan celana jeans warna krem.

__ADS_1


“Puji Tuhan lancar Mas. Mas Niko sendiri?”


“Yah, sama denganmu. Puji Tuhan lancar juga.”


Kenapa aura Mas Niko hari ini begitu beda? Terlihat begitu lebih hangat dari biasanya. Ya Tuhan, Manda gugup


sekali.


Tanpa menunggu lama pesanan mereka diantar oleh seorang pelayan laki – laki.


“Terima kasih Mas.” Ucap manda dan Niko bersamaan. Pelayan itu tersenyum dan mengangguk lalu pergi


meninggalkan mereka.


“Manda, ada yang perlu Mas sampaikan ke kamu.”


“Iya mas?” jawab Manda usai menyeruput matcha latte kesukaannya.


Bagaimana bisa ia tahu tentang ini? Ah pasti dari Mia kalau tidak ya Sekar. Ah itu tidak penting, nyatanya memang benar begitu.


“Manda, bisakah Manda membuka hati untuk Mas?” tanpa basa – basi Niko mulai mengatakan apa yang telah


terpendam dihatinya. Suatu perasaan yang sudah lama ia pendam. Manda masih diam membisu. Bahkan ia meletakkan kembali mendoan yang akan ia makan karena terkejut dengan pertanyaan Niko.


Bukannya Mas Niko sudah mencintai orang lain ya? Kenapa dia bertanya seperti itu ke aku? Apakah baru saja Mas


Niko menembakku?

__ADS_1


“Maaf jika ini terlalu cepat buat kamu. Tenang tak perlu dijawab sekarang. Mas beri kesempatan kamu untuk


berpikir dan berdoa, setelah itu baru kamu menjawab. Tidak harus menjawab iya, jawablah sesuai keputusan kamu. Mas tidak ingin memaksamu. Kamu perlu tahu, ini benar – benar diluar dari permintaan Noval. Mas juga ingin kamu menerima karena benar – benar kamu ikhlas menerima Mas, bukan karena Noval, bukan juga karena terpaksa,” ucap Niko menjelaskan lalu menyeruput macchiato yang mulai perlahan menghangat. Manda jadi teringat pesan Noval sebelum meninggal. Pesan yang mungkin mengandung suatu amanah yang sudah dilupakan Manda.


“Eh, Mas Niko bukannya sudah mencintai orang lain?”


“Suatu saat kamu akan tahu siapa dia, harusnya kamu sudah bisa menemukan jawabannya setelah Mas menyampaikan ini semua kepadamu,” jawab Niko memastikan.


Prakmatik sekali sih Mas Niko. Apakah yang gadis itu adalah aku? ah tidak. Jangan terlalu berharap kamu Manda!


“Mas tahu kamu sudah berdamai dengan perasaanmu, sudah selesai dengan masa lalumu. Tapi Mas ingin kamu benar – benar memikirkan dan mendoakannya, Mas tidak memintamu untuk menjadi pacar, namun menjadi pasangan hidup mas, teman hidup Mas. Mas beri kamu waktu tiga bulan, cukup?” ucap Niko.


Hah tiga bulan? Lama sekali.


“Kalau kamu kurang bisa kamu tambah waktunya Manda.”


“Ah, cukup mas cukup sekali. Aku akan berdoa. Terima kasih Mas,” jawab Manda lugas. Dalam hatinya ingin sekali


menjawab iya, tanpa harus menunggu tiga bulan. Baginya, Niko hampir 80% sesuai dengan kriteria untuk dijadikan sebagai teman hidupnya.


*Jawab sekarang pun sebenarnya aku*bisa mas. Baiklah jika Mas kasih waktu tiga bulan yang penting kita sering


bertemu.


“Tiga bulan mulai sekarang kita jangan bertemu ya Manda, Mas tak ingin Manda menerima Mas hanya karena Manda hanya terbawa perasaan ataupun hanya sekedar kasihan.”


"Ha? Oke Mas baiklah,” Manda mengangguk. Mas Niko tersenyum penuh kehangatan. Tidak pernah sekalipun Manda temukan itu pada Hose. Sorot mata Niko juga sangat menenangkan, perawakannya juga tegas penuh wibawa. Entah sejak kapan Manda mulai mengagumi sosok laki – laki yang ada didepannya.

__ADS_1


Baru kali ini aku bertemu laki – laki sebaik dan sebijak ini. Tidak memaksa untuk segera menjawab. Semoga waktu


berlari lebih cepat. 


__ADS_2