Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 23


__ADS_3

Hampir setiap hari Manda lebih memilih makan di kafe itu bersama dengan Niko. Terkadang Sekar juga ikut bersamanya makan siang bertiga. Setelah pertemuan itu Manda seperti terkena candu ingin selalu bertemu dengan Niko. Hose juga sulit untuk diajaknya bertemu saking sibuknya di kantor dan bertemu dengan kliennya. Pertemuan Manda dengan Niko ketika makan siang juga dengan sepengetahuan Hose. Manda selalu memberitahu dan Hose pun tidak mempermasalahkan karena mereka saling percaya.


“Manda, Mas Niko lebih adem ya orangnya," ucap Sekar pada Manda ketika berjalan kembali menuju kantor usai makan siang.


“Adem gimana Sekar?” raut muka Manda kini bersemu merah dan menahan senyumnya.


“Ya adem aja dilihatnya. Bukan maksud aku beda – bedain Mas Niko dan Hose sih Man, tapi aku melihat Mas Niko dia sepertinya laki – laki penyayang." jawab Sekar lugas.


“Kenapa kamu nggak mencoba membuka hati untuknya? Kulihat dari tatapannya ke kamu dia ada perasaan lebih loh Manda,” ucap sekar lagi.


“Haha, mana mungkin, dia sudah mencintai gadis lain. Akupun sudah memiliki Hose," awab Manda pasrah. “huft!"


“Emang Mas Niko sudah punya kekasih, kayaknya belum deh. Semoga perasaanku nggak salah menilai dia masih menunggumu," ucap sekar menggandeng tangan Sekar memasuki lift menuju kantor mereka.


“Nggak tau, dia bilang belum ada pasangan sih. Cuma bilang kalau dia mencintai seorang gadis," jawab Manda menutul tombol lantai 3 dimana kantor mereka berada.


Andai saja gadis itu aku. Arkh, aku sudah ada Hose!


“Mungkin itu ka," ucap Sekar terpotong ketika pintu lift terbuka. Mereka telah sampai lalu berjalan menuju ruang yang berada dipojok. Sebelum menuju ke meja kerja Manda terlebih dahulu mengisi ulang botol minumnya dari air galon yang disediakan kantor.


Manda mulai duduk menyalakan kembali komputer yang ada dihadapannya. Huf, Manda mendesah. Mengusap rambutnya dengan kasar.


Kenapa aku sering merindukan Mas Niko? Menjadi kekasih Hose hampir satu tahun saja aku tidak pernah merindukannya seperti ketika aku merindukan Mas Niko. Huf.

__ADS_1


Glek .. glek .. glek ..


Manda meneguk air minum dari botolnya sudah kesekian kalinya. Sekar bahkan terheran melihatnya. Memang Manda sering dijuluki sebagai tendon air karena paling banyak menghabiskan air mineral. Botol minumnya pun paling besar diantara teman – teman di kantornya.


“Manda?” tanya Sekar penasaran. “Kamu nggak kenapa – kenapa kan?”, Manda menggeleng.


“Sekar!" panggil Manda setelah meneguk air mineral.


“Iya cintaku, sayangku?”


“Semasa kamu bersama Rizky, apa kamu pernah memikirkan laki – laki lain?” Sekar menghela nafas dan tersenyum. Ternyata benar Manda sedang memikirkan sesuatu.


“Manda, jika memang kita sudah memegang komitmen, maka kita tidak akan memikirkan laki – laki selain pasangan kita. Maka”, Sekar terhenti sejenak. Manda mengerutkan alisnya menunggu sahabatnya meneruskan jawaban.


“Jadi, kamu mau berkomitmen dengan siapa Manda. Jika aku mencintai Rizky, kenapa aku harus memikirkan orang lain?” Manda terkejut mendengar pertanyaan Sekar. Manda merasa bahwa ia telah memiliki kekasih yang bernama Hose.


“Aku tau perasaanmu sedang dilema. Karena Hose maupun Mas Niko sama – sama orang baik dan yang pasti seiman dengan kamu. Tapi Man, kamu harus bisa menentukan. Kita tidak boleh mendua hati, meskipun bibir kamu bilang kamu menyayangi Hose," papar Sekar menepuk halus pundak Manda.


“Sudah stop minumnya, nanti kembung perutnya!" Sekar menahan Manda yang akan meneguk air mineral. Sekar paham, sahabatnya berusaha mengusir rasa cemasnya dengan meneguk air mineral. Entah berapa liter yang telah dihabiskannya. Entah berapa kali juga Manda ke toilet untuk buang air kecil.


“Kamu pikirkan Man, yang paling tahu adalah kamu sendiri, segera pilih supaya kamu bisa lebih damai hatimu," tambah Sekar. Manda mengangguk mengerti. Tetap diam dengan pikiran yang riuh.


Sekar kembali pada layar monitor komputernya. Mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk dimejanya. Berharap hari ini semuanya selesai karena besok Sekar terpaksa harus izin tidak bekerja untuk mendatangi sumpah pofesi kekasihnya, Rizky.

__ADS_1


Dengan kedua telapak tangan, Manda menutup wajahnya. Matanya terpejam. Tidak ada yang tahu bahwa ini Manda sedang berdoa didalam hatinya. Memohon kepada Sang Pencipta untuk memberikan tanda untuk ia dapat memilih dengan seizing Tuhan. Bukan memilih berdasar perasaan pribadinya.


Tolong aku ya Tuhan.


***


Sore ini cukup cerah. Hanya genangan sisa dari hujan membasahi pinggiran jalan. Sepulang dari kantor tempatnya


bekerja ia tidak langsung pulang ke rumah.  Manda mampir untuk membeli pudding disalah satu toko roti yang sejalan dengan rumah Hose. Segar sekali, gumamnya ketika mencicip pudding buah yang diberikan pelayan toko.


“Yasudah Mbak bungkus pudding buahnya satu dan pudding coklatnya satu, medium semua ya mbak," ucapnya kepada salah satu pelayan toko yang tadi memberikan tester kepadanya.


“Baik Kak, ini notanya, nanti diambil sekalian dikasir, terima kasih,"  pelayan itu tersenyum memberikan notanya pada Manda.


Manda menstater motornya usai menebus kedua pudding dan menggantungkannya di gantungan dekat stang. Motor manda melaju pelan menuju ke kediaman Hose. Manda yakin Hose sedang dirumah. Pak Sugeng membukakan pintu gerbang ketika dilihatnya seseorang ada didepan gerbang. Kebetulan Pak Sugeng sedang menyiram bunga dihalaman rumah Hose yang cukup luas.


“Eh ada Nak Manda," sapa Pak Sugeng.


“Saya masuk ya Pak." Manda menuntun motornya kedalam. Memarkirkan didepan garasi mobil milik Hose. Ada mobilnya berarti Hose sedang ada didalam rumah.


“Hose didalam kan Pak?” tanpa menunggu jawaban Pak Sugeng, Manda langsung berlari membawa 2 kantong berisi pudding yang ia beli untuk dimakan berdua bersama sang kekasih.


“Eh Nak!" Pak Sugeng berusaha mencegah mencegah namun Manda terlanjur sudah masuk kedalam rumah. Pak Sugeng mengusap kepalanya kasar lalu melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


__ADS_2