
Sore ini Bu Tere menyiapkan makan malam lebih banyak untuk menyambut kedatangan Niko dan keluarganya. Dibantu Manda dan Mia sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Masakan sudah tersaji diatas meja makan beserta buah – buahan siap makan.
Kini Bu Tere dan Pak Rendra sudah siap dengan memakai atasan batik sarimbit. Terlihat sangat serasi pasangan
parubaya ini. Mia pun akhirnya mengganti pakaian yang senada dengan orang tuanya. Manda sudah selesai memoles tipis wajah Mia. Riasan tipis dan natural namun membuat Manda terlihat segar.
Lancarkanlah hari ini ya Tuhan. Manda gugup sekali rasanya.
Seperti yang diucapkan Niko lewat pesan singkat kemarin, saat ini tepat pukul tujuh Niko telah sampai dirumah
Manda. Ia tidak hanya datang bersama kedua orang tuanya. Erga dan Nana yang sedang menggendong seorang bayi juga ikut datang bersama mereka.
“Mangga – manga pinarak (Mari – mari silahkan duduk),” Pak Rendra mempersiapkan masuk kedalam ruang tamu.
“Inggih (iya) terima kasih Pak,” jawab Pak Yakub. Mereka semua bersalaman lalu duduk di ruang tamu.
Pandangan Manda langsung tertuju pada bayi yang ada pada gendongan Nana. Ingin sekali menggendongnya tapi tidak ada keberanian karena Manda belum pernah menggendong bayi.
“Wah lucu sekali, umur berapa ini Mbak Nana?” Manda membelai lembut rambut tipis bayi itu.
“14 bulan Tante,” jawab Nana tersenyum.
“Hai dek, namanya siapa sayang?” ucap gemas Manda pada bayi yang kini tersenyum seakan mengerti pertanyaan
Manda.
“Nama saya Daniel Tante,” jawab Nana mewakili anaknya.
“Mari kita makan dulu, keburu masakannya dingin. Nanti setelah makan kita lanjutkan lagi ngobrolnya, mangga (mari)!” ajak Bu Tere.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruang tamu satu persatu berdiri lalu mengikuti Bu Tere menuju ruang makan. Manda dan Niko berjalan beriringan paling belakang.
“Cantik sekali kamu,” bisik Niko pada kekasihnya. Manda tersenyum sekilas.
“Aku deg degan Mas,” bisik Manda dengan telapak kanannya memegang dadanya.
“Sudah ayo makan dulu, nanti kangennya dilanjutkan lagi,” goda Erga.
Usai acara makan malam, kedua keluarga kembali keruang tamu. Manda duduk diapit kedua orang tuanya. Begitupun dengan Niko. Sedangkan Mia duduk disamping Nana dan suaminya.
“Baik sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Rendra dan keluarga yang sudah kersa (berkenan) menyambut keluarga kami dengan sangat hangat. Langsung saja saya sampaikan bahwa anak kami, Niko ingin menyampaikan maksud baiknya untuk meminang Manda pada Mala mini,” ucap Pak Yakub membuka pembicaraan.
“Inggih (baik) Pak Yakub, saya juga sangat berterima kasih kepada Pak Yakub dan keluarga yang juga sudah kersa
(berkenan) untuk berkunjung ke gubuk kami ini. Tentunya kami juga sudah mengetahui dan sangat mendukung hubungan putri kami, Manda dengan Nak Niko. Tentunya juga kami sebagai orang tua akan merestui dan mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keputusan mereka berdua,” ucap Pak Rendra sangat halus dengan logat Jawanya dan penuh wibawa.
“Terima kasih Bapak atas restunya. Begitupun dengan saya, dengan kerendahan dan kesungguhan hati pada
Manda menelan ludahnya sekaligus berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
“Terima kasih Pak Rendra dan keluarga dan terutama Mas Niko,” Manda mengangguk. “Saya mengucapkan banyak terima kasih atas maksud baiknya. Dengan sepenuh hati, saya menerima pinangan Mas Niko.”
Semua yang mendengar dan melihatnya tersenyum lega penuh dengan ucapan syukur.
Erga membantu Niko untuk membuka kotak kecil terbuat dari kayu. Terlihat begitu klasik dan unik. Dua buah cincin
terlihat indah ketika kotak kayu itu terbuka. Dua buah cincin berwarna perak dengan berhiaskan permata kecil ditengahnya. Bentuknya ramping namun sangat indah. Niko menyematkan cincin berdiameter kecil pada jari manis Manda. Niko merasakan dingin pada tangan Manda yang sedang gugup. Niko tersenyum pada gadis yang ia pinang. Gadis itu hanya sedikit menunduk dan tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya.
Kemudian Mia membantu menyerahkan kotak cincin pada Manda. Manda mengambil cincin yang berdiameter lebih besar untuk ia sematkan pada jari manis Niko.
__ADS_1
“Puji Tuhan.” Seruan syukur bersahutan diruangan itu yang disertai dengan tepukan tangan. Kini Manda dan
Niko resmi bertunangan. Semua telah duduk kembali termasuk erga yang sejak tadi menyibukkan diri mengabadikan setiap momen Niko dan Manda.
“Sungguh momen yang mengharukan nggih (ya)? Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk kelancaran
pernikahan kalian nanti,” ucap Bu Ratri sedikit berkaca – kaca pada pelupuk matanya. Dalam hatinya merasa lega melihat Niko yang telah meminang Manda yang dulu pernah dicintai oleh anak keduanya yang telah tiada. Terlebih lagi keduanya kini saling mencintai dengan alami tanpa paksaan sedikit pun.
“Ya, kita langsung saja memutuskan hari baik untuk pernikahan anak kita, bukan begitu Pak Rendra dan Bu
Tere,” ucap Pak Yakub pada orang tua Manda. “Piye Ma (bagaimana Ma)?” menoleh pada Bu Ratri.
Semuanya mengangguk dan menyepakati. Rona bahagia terpancar pada semua yang ada diruangan kecil itu. Tak
terkecuali dua sejoli yang baru saja resmi bertunangan.
_____________
_____________
Haiii ♥
Terima kasih sudah setia membaca.
Ikuti terus kisah mereka ya 🙏
Klik favorit kalau suka 💖
Vote, komentar dan like akan
__ADS_1
menambah rasa syukurku dan semangat dalam menulis.
Terima kasih, Salam Sehat❤