
Hose menarik Manda dan memeluknya erat.
“Aku mau pulang Hose, lepaskan aku!” ucap Manda sedikit membentak. Ia sangat tak nyaman dengan sikap Hose yang tiba – tiba memeluknya.
“Aku merindukanmu Manda,” ucap Hose. Tangannya masih melingkar erat pada tubuh Manda.
“Aku mau pulang Hose! Kamu jangan macam – macam!” sergah Manda berusaha memberontak namun apa daya badan Hose lebih kuat darinya. Manda begitu ketakutan ketika Hose menggendongnya paksa menuju kamar tamu.
“Kamu mau apa Hose? Ku mohon lepaskan aku. Aku mau pulang!” Manda kembali meronta.
Hose membaringkan tubuh Manda diatas ranjang lalu melepas kaosnya dan melemparkannya sembarangan. Manda berusaha mendorong tubuh Hose yang kini telah menindihnya. Namun gagal usahanya. Kedua tangan Hose menahan kedua tangan Manda dengan kuat.
"Manda aku mencintaimu! Aku mohon batalkan pernikahanmu!" pinta Hose menatap Manda yang mulai ketakutan.
“Tidak! Aku tidak mau!" Sergah Manda berteriak. "Lepasin aku Hose! Ku mohon!"
"Atau aku akan teriak jika kamu tidak melepaskanku!" Manda mencoba mengancam.
"Teriak saja, tidak akan ada yang mendengarkan!
Hose membungkam Manda dengan bibirnya. Manda memejamkan matanya erat. Hatinya teriris. Ia berusaha menggoncangkan tubuhnya untuk dapat terlepas dari Hose. Namun hasilnya nihil. Tubuhnya yg mungil tidak mampu melawannya. Tubuhnya kini lemas lemas dan gemetar. Ia tak menyangka Hose melakukan hal ini padanya.
Tuhan, tolong aku!
Perlahan Hose melepaskan kancing blouse yang Manda kenakan. Isak tangis Manda mulai terdengar ketika bibir Hose mulai menyusuri bagian leher hingga dadanya. Bagaimana tidak, selama hidupnya belum pernah disentuh apalagi dicium oleh seorang laki - laki.
Mendengar isakan yang disertai sesenggukan dari Manda, Hose tidak tega lalu mengurungkan niatnya. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Manda. Manda berusaha duduk memasang kembali kancingnya. Ia masih lemas dan ketakutan. Tubuhnya gemetar. Air mata mengucur deras dari pelupuk matanya.
Hose duduk lalu meraih kaos yang tadinya ia lempar dan kembali mengenakannya. Seketika wajahnya menjadi iba
melihat wajah Manda yang basah akan air mata.
"Aku minta maaf," ucap Hose penuh penyesalan. "Aku hanya tidak sanggup melihatmu menikah dengan orang lain."
“Kamu tega merenggut kesucianku Hos!” teriak Manda sedikit terbata – bata karena isak tangisnya.
“Aku minta maaf Manda. Namun aku hanya menciummu Manda. Kamu masih perawan,” jelas Hose penuh iba.
Hose berusaha menggenggam tangan Manda namun lebih dulu ditepis oleh Manda.
__ADS_1
“Manda, aku minta maaf!” ucap Hose lagi – lagi meminta maaf namun Manda tidak menjawab. Manda menutup
wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hatinya terasa sakit. Merasa dirinya sudah tidak suci walau Hose belum sampai merenggut kesuciannya.
Manda berusaha menghentikan tangisnya. Mengusap wajahnya lalu merapikan pakaian dan rambutnya. Ia bergegas berlari meninggalkan kamar itu lalu pergi. Hose berusaha mengejar Manda. Terlebih dulu ia menuju ruang tengah untuk mencari kunci mobilnya. Dilihatnya tas dan ponsel Manda masih tergeletak di sofa.
“Arrrkkh! Apa yang sudah ku lakukan!” Hose mengacak rambutnya dengan kasar. Ingin menangis menyesali
perbuatannya.
***
Hose mengendarai mobilnya perlahan sambil mengamati setiap jalan mencari Manda. Kini hatinya dipenuhi
rasa khawatir dan sangar merasa bersalah. Besok adalah hari bahagia Manda malah kini ia mengacaukannya.
Setiap jalan menuju rumah Manda ia lewati dan tak kunjung menemukan Manda. Hose memberanikan diri menuju rumah Manda kali – kali Manda telah sampai. Pintu rumahnya tertutup rapat. Ia
mengetuk dan memanggil Manda maupun Mia namun tidak ada suara.
“Manda kamu dimana?” Hose membuang nafas berat. Lalu kembali kedalam mobil melanjutkan mencari mantan
kekasihya yang baru saja terluka karenanya.
mengecek ponsel Manda. Terlihat dilayar ponsel Manda tertulis nama kontak Mas Niko sedang memanggil. Hose mulai cemas. Bingung harus mengangkat atau mengabaikan panggilan itu. Hose tidak mengindahkan panggilan Niko. Ia memutar balik mobilnya menuju rumah Niko. Untung saja ia ingat bahwa Niko adalah kakak almarhum Noval. Ketika masih kuliah ia sempat berkunjung kerumah Noval sekali saat mengerjakan tugas kelompok.
Beruntung ia masih ingat betul dimana rumah mereka.
Dihalaman rumah Niko telah siap mobil putih yang berhiaskan bunga segar. Hatinya makin sakit melihat
pemandangan itu. Bukan lagi rasa cemburu namun rasa bersalah yang amat sangat dalam. Sedikit ragu – ragu Hose membunyikan lonceng yang ada didepan pintu masuk rumah Niko. Tak lama kemudian Bu Ina membukakan pintu.
“Mencari siapa Mas?” tanya Bu Imah.
“Mas Niko Bu, sa” ucapan Hose terpotong karena Bu Ina telah paham maksudnya.
“Oh Mas Niko. Sebentar saya panggilkan. Mari duduk dulu!” Bu Ina mempersilahkan Hose masuk kedalam ruang
tamu lalu masuk ke dalam rumah memanggil Niko.
__ADS_1
“Eh Hose,” sapa Niko dengan ramah lalu duduk setelah bersalaman dengan Hose.
“Ada apa Hose?” tanya Niko yang heran dengan kedatangan Hose tiba – tiba. “Oh iya apakah kamu sudah menerima undangan pernikahan kami?”
Deg. jantung Hose semakin berdetak tak karuan. Wajahnya makin pias.
“Loh kenapa tas Manda ada disini? Mana dia?” Niko celingak celinguk mencari calon istrinya.
Bugh! Tamparan keras dari tangan Niko mendarat pada pipi Hose setelah Hose menceritakan apa yang terjadi. Menceritakan semua tanpa berusaha menutupinya. Hose tersungkur lalu bangkit bersimpuh di bawah kaki Niko. Berusaha menggenggam tangan Niko yang telah dingin seperti halnya tangan Hose.
“Pukul sepuasmu Mas. Ini salahku. Namun percayalah aku tidak merenggut keperawanannya. Aku khilaf Mas karena kaget dan terbawa emosi,” ucap Hose tertunduk. Suaranya gemetar, matanya memerah dan mengalir air mata yang sudah tak tertahankan.
“Aku menyesal Mas, sungguh. Aku tidak akan mengulanginya,” ucap Hose lagi.
“Bangkitlah! Duduklah!” amarah Niko mereda. Ia menarik nafas dan membuangnya kasar. Bagaimana pun juga Hose telah mengakui kesalahannya. Mereka sama – sama terdiam dan berpikir mencari Manda. Karena percuma jika dengan emosi tidak akan menemukan titik terang.
Tiba – tiba ponsel Niko berdering.
“Halo, iya ada apa Pak?”
“…”
“Iya jadi Pak besok pemberkatan jam sembilan pagi,”
“…”
“Wah sungguh? Puji Tuhan saya kesana sekarang.”
Niko mematikan sambungan teleponnya.
“Hose, pulanglah!” perintah Niko. Raut wajahnya sudah kembali melunak. “Aku mengapresiasi kejujuranmu. Aku yakin Manda tidak akan menyimpan amarah maupun dendam padamu.”
“Lalu bagaimana dengan Manda Mas? Kalian besok akan menikah,” ucap Hose masih panik dan khawatir.
“Aku sudah tahu dimana dia sekarang. Pihak keamanan Gereja melihat Manda ada disana. Sebaiknya kamu
pulang!” Niko menepuk lutut Hose.
Hose berpamitan pulang dan memeluk Niko. Perasaannya sedikit lega meski masih ada rasa kecewa karena telah
__ADS_1
menyakiti seseorang yang masih dikasihinya.
Hose meninggalkan rumah Niko dan kembali pulang. Sebenarnya ia ingin bertemu Manda dan minta maaf. Namun saat ini belum waktunya. Bertemu dengannya hanya akan menambah trauma bagi Manda.