
Hari itu langit di kota Manda begitu kelabu. Rintik – rintik hujan perlahan mulai turun. Para pengendara motor bergegas menuju pinggiran – pinggiran toko yang belum buka untuk berteduh sesaat memakai mantel hujan lalu bergegas melanjutkan tujuannya. Tidak sedikit anak – anak sekolah yang membawa kendaraan tampak terburu – buru mengenakan mantel hujannya. Warna – warni payung pejalan kaki menghiasi jalan kota yang sengaja dibangun dan dipersiapkan bagi pejalan kaki.
Beruntung pagi itu Manda telah sampai kantornya sehingga terhindar dari hujan. Cukup deras tanpa disertai petir maupun kilatan yang mungkin menambah kepanikan setiap orang yang akan memulai aktifitas pagi itu.
Diseduhnya kopi susu hangat yang telah disediakan office boy di kantornya. Memang begitu. Self service. Tidak seprti kantor pada umumnya yang bisa seenaknya meminta office boy untuk membuatkannya kopi. Dengan begitu Manda lebih senang. Membuat kopi susu dengan takaran sesuai seleranya. Tidak hanya kopi susu yang disediakan di pojok ruangan kantornya. Ada teh melati, teh tarik, aneka kopi, dan jahe yang semuanya siap seduh lengkap dengan gula dan air panas otomatis yang pastinya akan sangat membantu para pekerja kantor untuk membuat minuman hangat sesuai seleranya.
Terasa pas. Diluar hujan dan dingin. Kopi susu cukup menghangatkan perutnya. Menyeruput kopi susu perlahan
dengan sedikit memberi tiupan kecil supaya panas tidak menyikasa bibir manisnya. Hangat dan segar. Perut juga sudah anteng setelah diisi nasi goreng sebelum berangkat.
Manda meletakkan botol minumnya di atas meja kerjanya. Lalu menyalakan computer dan memulai mengerjakan setiap list yang telah ia catat di kertas kecil berwarna. Tertempel rapi dipojok bawah komputernya. Sedikit menghela nafas melihat list yang harus ia selesaikan hari ini. Dengan bersuka cita Manda mengerjakan pelan – pelan. Ia merasa kantor tempatnya bekerja sangat nyaman dan transparan.
Hubungan Manda dengan Hose sudah membaik sejak peristiwa di rumah Hose yang membuat Manda merasa tidak nyaman. Perlakuan lembut Hose membuat Manda bisa luluh dan memakluminya. Hose juga tidak pernah memaksanya lagi.
“Rajinnya gadis cantik," sapa Sekar yang baru saja duduk di meja sebelah Manda. Mereka sekarang satu ruangan
dan berdekatan. Jadi disela – sela pekerjaan mereka bisa mengobrol.
“Heemm” Manda mengangguk masih menapat layar komputernya. Sekar mengangkat kedua pundaknya lalu menyalakan komputernya.
__ADS_1
Akhir bulan yang begitu sangat menyibukkan. Seluruh pegawai kantor nampak sibuk menyelesaikan laporan masing – masing. Makan siang saja mereka memilih tidak ke kantin ataupun bersantai di kafe – kafe terdekat. Kepala kantor mengizinkan mereka menghabiskan bekal di masing – masing meja kantor. Bahkan sampai lembur larut malam. Hal yang melelahkan namun akan sangat menyukakan di esok harinya. Gaji dan bonus yang tidak pernah mengecewakan. Terutama bagi Manda dan sahabatnya, Sekar.
***
Hari ini Manda meminta Hose tidak menjemputnya selepas kerja. Manda akan pergi bersama Sekar. Hose memahami kebiasaan kekasihnya tiap usai mendapat gaji bulanan. Hose juga bukan tipe laki – laki posesif. Karena ia sadar bahwa itu tidak akan membuat nyaman kekasihnya.
“Aduh sekar aku pengen beli kebab yang ekstra keju dan selada," ucap Manda ketika berjalan beriringan dengan
Sekar menuju parkiran kantor.
“Haha kamu kayaknya udah ngidam dari minggu lalu deh.. aku nanti pengen beli seblak pedes pokoknya, ekstra sawi putih, hmmm.” Sekar bergidik dengan memejamkan mata sekejap membayangkan makanan yang diinginkannya.
Keduanya asik menyantab makanan yang mereka pesan. Obrolan terhenti seketika. Mereka diam kalau sudah ada
makanan dihadapan mereka. Menghabiskan makanan yang tidak perlu waktu selama mereka menunggu makanan itu siap. Terkadang mereka bingung melihat orang – orang yang begitu lama menghabiskan makanannya yang terkadang tidak dihabiskan. Sayang sekali.
“Sekar kamu pernah dicium kekasihmu?” Sekar tergelak mendengar pertanyaan Manda yang keluar dari topik. topik awalnya hanya memperbincangkan pekerjaan dan beberapa teman kantor yang konyol dan menghibur hari – hari melelahkan mereka.
“Kenapa Manda?” Sekar mencebikkan bibirnya dengan sedikit tersenyum menggoda sahabatnya yang ia tau begitu ingin mendengarkan jawabannya. “Kenapa, kamu abis dicium ya sama Hose?” Sekar mencoba meraih dagu Manda untuk mencubitnya namun telat, Manda memundurkan wajahnya.
__ADS_1
“Engga, jawab dulu pertanyaanku!" Manda cemberut namun masih memasang raut muka ingin tahu.
“Pernah." jawab Sekar singkat lalu meraih sedotan dan menyeruput jus belimbingyang ada didepannya.
“Hah! Serius Rizky pernah menciummu?” Manda membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan jawaban
sahabatnya. Ia menyingkirkan piring kepinggir meja supaya tangannya bisa bersandar dimeja yang telah ia lap dengan tisu kering.
“Bukanlah, jadi aku cerita ke kamu karena kamu bertanya dan yang terpenting kamu adalah sahabatku." Sekar
sedikit memajukan badannya dan melirihkan suaranya.
“Dicium apanya Kar? Kening, pipi atau?” Manda menyentuh bibirnya dengan telunjuk tangan kanannya. Sekar
terkekeh melihat polos sahabatnya yang begitu ingin tahu. Kembali lagi Sekar menyeruput jus belimbingnya yang ternyata sudah habis.
“Nggak ah, besok – besok aja ceritanya!" sekar menyibakkan kain jilbabnya kebelakang.
Menyebalkan!
__ADS_1
Manda mendesah kesal. Melipat kedua lengannya dan memasang muka cemberut yang malah membuat Sekar gemas dengan tingkahnya. Manda menyeruput Es Tehnya yang masih utuh. Sedari tadi hanya sempat diseruput sedikit.