Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 28


__ADS_3

Lampu kamar Manda telah padam. Lengkap dengan daster lembut bercorak beruang ia bersiap untuk tidurnya. Malam semakin larut namun kantuk tak kunjung datang. Didalam pikirannya terdapat sesuatu yang menari – nari dan sangat mengusik. Masih tak bisa melupakan bila baru saja ia di mungkin ditembak oleh seorang laki – laki yang entah sejak kapan Manda mendambakannya.


“Arrrkkkkkh!” Mada mengerang gemas dan menutup wajahnya dengan bantal. Sangat tidak sabar menanti hari esok. Menceritakan semuanya pada sahabat terkasihnya, Sekar.


Sesuatu yang sangat berbeda. Ini bukan kali pertamanya laki – laki yang menyampaikan perasaan dan meminta


jawaban Manda. Satupun tidak ada yang bisa membuat Manda merasa gila dan tak sabar untuk menjawab “iya”. Biasanya dengan terang – terangan ia menjawab tidak. Hose pun pernah ditolak namun akhirnya Manda terima karena Hose tidak pernah mundur dan terus mendekatinya. Berbeda dengan kali ini. Debar dalam


hatinya tidak kunjung hilang sekalipun ia telah sendiri di kamar.


Awalnya memang Manda bakal mengira bahwa dia akan menikah dengan Niko sesuai permintaan Noval. Saat itu


tidak ada perasaan apapun. Manda hanya ingin menikah bersama dengan laki – laki yang ia cintai. Begitupun sebaliknya. Sangat tidak menyukai perjodohan dalam bentuk apapun. Hanya tidak ingin seperti kisah – kisah novel yang biasa ia baca.


Bahkan ia tak pernah mengira bahwa perasaan aneh akan muncul dalam hatinya.


Apakah memang dia jodohku? Ih aku kenapa sih jadi aneh begini. Tau apa aku soal jodoh. Aku juga tidak tahu bagaimana mencintai.


Manda terperanjat dan duduk. Masih diatas ranjangnya. Ia memeluk bantalnya lalu menaikkan doa. Ia


mencurahkan semua rasa syukur dan isi hatinya. Perlahan air matanya menetes. Bukan air mata kesedihan. Air mata ketulusan yang penuh dengan pinta, harapan dan penyerahan diri. Manda mencurahkan semua yang ada dalam hatinya, mencurahkan segala hal yang telah ia hadapi meskipun ia juga tahu bahwa Sang Pencipta telah


mengetahui semuanya. Mengetahui semua tanpa ia mengatakannya. Kali ini ia membawa nama Niko dalam doanya. Satu – satunya dan perdana ia mendoakan seorang laki – laki. Bukan untuk meminta Niko menjadi kekasih ataupun teman hidup. Namun mendoakan kesungguhan hatinya untuk menjawa iya atau tidak. Manda ingin


semua terjadi berdasarkan hikmat dari Sang Pencipta. Belajar dari masa lalu yang membawanya dalam penyesalan.


Manda mengakhiri doanya. Kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Matanya terpejam. Pikirannya membawanya terbang kedalam ingatan masa ia duduk di bangku SMA. Masa dimana ia tidak mau pacaran


karena tidak ada satupun teman laki – lakinya yang sesuai dengan kriterianya. Selain itu ia ingin fokus belajar. Pacaran hanya membuatnya tidak fokus, pikirnya. Setiap ada teman laki – laki yang mendekati, ia selalu membuka tulisan yang berisi kriteria teman hidup. Jika tidak sesuai dengan satu kriteriapun dia tidak akan menerimanya. Manda juga paham bahwa setiap teman laki – laki yang mengajaknya pacaran adalah jauh dari kata serius. Meskipun diusia belia ia tidak mau main – main. Jadi ia cukup selektif. Sampai – sampai tidak ada satupun yang lolos.

__ADS_1


Julukan jones alias jomblo ngenes ia dapat semasa sekolah. Sebagian besar teman – teman dikelasnya pasti telah memiliki pacar. Berbeda dengannya. Namun baginya yang penting adalah pilihan hidupnya adalah memilih


bahagianya sendiri. Bukan orang lain.


Kriteria teman hidup? Manda kembali mengingat dimana tulisan kriteria itu. Ia turun dari ranjang dan menyalakan


lampu kamarnya. Melihat kea rah jam dinding ternyata sudah pukul 12 malam. Manda membuka kotak berisi buku harian semasa ia sekolah. Masa dimana ia rajin menulis buku harian. Sekarang bahkan sebulan sekali ia tidak pernah menulisnya.


Nah ini dia!


Sebuah buku kecil berwarna merah muda. Manda terkekeh melihat setiap halaman yang penuh tengan curahan hati yang ia tulis dengan tinta bolpen warna ungu. Terlihat sedikit mulai using namun masih jelas setiap kata – kata yang ia tulis.


Haha. Jelek sekali tulisan ini. Nah ini dia! Haha bucin sekali aku saat itu.


Manda berhasil menemukan tulisan kriteria teman hidupnya yang ia tulis bertahun – tahun silam. Tertulis ada


sepuluh kriteria. Tertera juga tanggal ketika ia menulisnya. 1 Juli 2008. Ia kembali mencari buku catatan dan menulisnya ulang. Menulis sesuai tanpa menambah ataupun menguranginya.


1. Seiman


2. Rajin ibadah


3. Tidak merokok


4. Bisa main gitar


5. Sudah bekerja


6. Rajin olah raga

__ADS_1


7. Satu kota


8. Bisa masak


9. Traveller / suka naik gunung


10. Jujur


Manda membaca ulang sepuluh kriteria yang selesai ia salin. Sembari mengingat hal – hal yang ada pada Niko.


1. Seiman. Ah jelas ini dia seiman sama aku.


2. Rajin ibadah. Aku percaya dia rajin ibadah, hanya jam ibadah aja yang sering gak bareng. 


3. Tidak merokok. Iya dia tidak merokok, puji Tuhan. Papa saja tidak merokok, masa kekasihku merokok. Apa kekasih? Hah! kenapa aku jadi percaya diri seperti ini!


4. Bisa main gitar. Dia keren sekali dalam hal ini. Apalagi ketika jadi pengiring musik di Gereja.


5. Sudah bekerja. Sudah jelas ini, kalau tidak bekerja gimana bisa menafkahin aku dan anak – anakku. Manda menepuk dahinya, merasa terlalu percaya diri dengan ucapannya.


6. Rajin olah raga. Ah aku belum tahu ini. Harusnya sih iya, tubuhnya bagus.


7. Satu kota. Nah kalau ini sudah jelas. 


8. Bisa masak. Oke kalau ini akan kucari tahu.


9. Traveller / suka naik gunung. haha kenapa aku menulis ini? naik gunung saja aku tidak pernah, kemah pramuka saat sekolah saja aku paling tidak suka. Tapi ini tidak boleh diingkari. Tapi? Kalau dia tidak suka naik gunung bagaimana? Jika tidak sesuai salah satu nomor apakah aku masih bisa menerimanya? Hms. Lanjut.


10. Jujur. Ya ini aku yakin sekali dia laki – laki paling jujur. Selalu mengatakan apa yang sebenarnya. Tidak seperti Hose yang suka menutupi kalau ada sesuatu.

__ADS_1


Menulis dan membaca tulisannya sendiri seakan menjadi obat tidur baginya. Kantuk mulai menghadirinya. Menutup buku catatan dan memasukkannya kedalam tas. Sedangkan buku harian kembali ia simpan kedalam kotak.


Saatnya tidur! Ngantuk.


__ADS_2