
Manda memasuki kamarnya usai menyelesaikan makan siangnya. Hari ini ia sudah cuti bekerja hingga tiga hari
kedepan. Besok adalah hari pernikahannya. Persiapan menuju pernikahan sudah sepenuhnya siap. Hari ini Bu Tere meminta Manda untuk tidak banyak beraktifitas.
Ia membaringkan tubuhnya dan mengamati langit – langit kamarnya. Besok ia akan menjadi istri Niko secara resmi baik secara agama maupun Negara. Bibirnya bergumam menghafalkan janji nikah yang akan ia ucapkan saat pemberkatan didepan altar. Hatinya berdegup tak beraturan. Matanya kini terpejam. Memfokuskan pikirannya untuk dapat menghafalkan rangkaian kata janji nikah. Tidak hanya sekedar menghafalkan. Ia sudah mulai berjanji pada
dirinya untuk setiap janji itu sebelum orang lain mendengarkannya.
Selama beberapa hari ini juga ia hanya berkomunikasi lewat media sosial saja dengan kekasihnya. Kini ia sangat
merindukan kekekasinya yang besok akan resmi menjadi suaminya. Manda menghela nafasnya. Ia berhenti berguman setelah dirasa lancar dalam menghafalkan rangkaian kata janji pernikahan. Ia membayangkan besok akan mendapat ciuman kening pertama kalinya oleh seorang laki – laki selain Pak Rendra. Ia bahkan
lupa kapan terakhir sang ayah menciumnya. Sepertinya ketika lulusan SMA. Setelah itu ia selalu menolak untuk dicium sang ayah karena merasa sudah dewasa.
Manda terkekeh geli. Masih dengan posisi tubuh terbaring diatas ranjang. Menikmati hari terakhir di kamar
kesayangannya yang hampir 24 tahun bersamanya. Besok ia harus tinggal bersama Niko dirumahnya setelah resmi menjadi sepasang suami istri.
Manda terperanjat dari ranjangnya ketika merasa hasus di tenggorokannya. Sorot matanya tertuju pada selembar
undangan yang tergeletak diatas meja riasnya. Ia meraih kaca mata lalu memakainya dan mengambil selembar undangan yang menarik perhatiannya.
Loh, undangan ini belum sampai pada Hose ternyata. Aku harus mengantarnya hari ini juga.
Manda berganti pakaian lalu memasukkan undangan tersebut kedalam tas. Ia keluar kamar dan mencari Bu Tere
__ADS_1
untuk pamit keluar rumah sebentar namun tidak menemukannya. Pak Rendra pasti sudah berangkat di kantor sedangkan Mia masih di kampus mengerjakan skripsinya yang sudah telat satu semester.
Manda mencari kontak dengan nama Hose di ponselnya. Lalu menekan tombol telepon.
"Halo, Shalom Hose!" sapa Manda pada Hose.
"Halo Manda, ada apakah?" jawab Hose. Terdengar begitu senang dari nada bicaranya.
"Kamu dimana sekarang? Aku ingin menemuimu sekarang," ucap Manda
"Baru saja sampai rumah, perlu aku menjemputmu?" tanya Hose menawarkan diri.
"Ah tidak perlu, aku berangkat kerumahmu sekarang ya!"
"Siap cantikku, aku tunggu ya!"
Manda memilih memesan taksi online karena ia tidak mau tubuhnya tersengat ramahnya sang mentari. Mentang –
mentang besok adalah hari pernikahannya. Ia sudah hafal dengan cuaca di kotanya yang sangat hangat dan cenderung panas. Pasti akan membakar kulitnya apalagi akhir – akhir ini jalanan sangat padat.
Sampailah Manda dikediaman Hose. Setelah membayar taksi online, ia bergegas turun dan berjalan menuju pintu utama rumah Hose, mantan kekasihnya. Terdengar dari depan suara televisi dan suara Hose yang tertawa menikmati suatu acara dari televisi itu. Manda masuk ketika mengetahui pintu tidak terkunci.
“Heii Manda, duduk Man!” Hose mempersilahkan Manda di sofa yang ada di ruang tengah. Hose mengecilkan volume televisi.
“Mau minum apa?” tanya Hose sangat antusias. Ia sangat senang Manda mau datang berkunjung kerumahnya
__ADS_1
setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Terakhir sebulan yang lalu ketia bertemu di kantin kantor Manda.
“Umh, bebas deh yang penting jangan kopi,” jawab Manda tersenyum ramah. Perasaan hatinya sedang sangat bagus mendekati hari spesialnya. Manda menelusur ke sekitar.
Tumben sepi, Bu Menik maupun Pak Sugeng tidak terlihat. Oh iya ,mungkin Pak Sugeng sedang shalat Jumat.
Tidak lama kemudian Hose datang membawa dua jus stroberi. Hose memberikan gelas milik Manda dan satu gelas untuknya.
“Hmm enak sekali, ini pasti kamu campur susu murni ya,” ucap Manda memuji jus buatan Hose dan menghabiskannya seketika seperti kebiasaanya setiap kali minum jus. Ia lebih suka menghabiskannya
sekali waktu. Baginya akan tidak enak jika terlalu lama dibiarkan terkena angin. Pun juga Manda tidak ingin berlama – lama. Tujuannya hanya memberikan undangan lalu kembali pulang.
“Aku tidak akan melupakan apa yang jadi kesukaanmu, Manda.”
Manda tersenyum. Ia meletakkan gelasnya diatas meja yang ada disamping sofa tempat ia duduk. Lalu mengambil
selembar undangan untuk Hose.
“Hose, besok hadir ya!” pinta Manda begitu lembut dengan senyuman hangat tersungging disetiap sudut bibirnya. Wajah Hose seketika sedikit muram dan dingin. Ia meletakkan gelasnya lalu membuka undangan itu. Hose tersenyum namun terdapat guratan kecewa diraut wajahnya.
“Selamat ya Manda,” ucap Hose lirih, tangannya menjadi dingin. Seakan tidak percaya gadis yang pernah hadir dalam hidupnya akan menikah bersama orang lain.
“Yasudah aku pamit dulu ya Hose,” pamit Manda. ia bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hose sebelum ia meninggalkan rumah itu.
“Hose! Apa yang kamu lakukan!!!”
__ADS_1
***