
Manda memasuki rumah yang ditinggali Hose. Sebelum menemui Hose ia menuju ke dapur untuk menyiapkan
pudding. Harapannya nanti sedikit memberikan kejutan pada Hose yang hampir satu minggu tak bertemu dengannya. Manda mengambil piring dan sendok lalu menatanyadi meja makan.
Aku yakin nanti Hose bakal senang sekali lihat aku datang bawa kejutan. Apalagi ini puddingnya enak. Hmm.
“Eh ada Nak Manda," tegur Bu Menik yang sedikit kaget melihat kedatangan Manda yang kini ia ada didapur. Bu Menik menggulung rambut panjangnya dan mendekati Manda.
“Hehe iya Buk, saya pinjam piring ya bu?” jawab Manda dengan sangat ceria lalu kembali memotong dan menata
pudding keatas piring saji. Menata serapi dan semenarik mungkin.
“Ini bikin sendiri Nak?” ucap Bu Menik kagum menunjuk kearah puding diatas piring.
“Ehe endak lah Buk, beli ini," bisiknya dan Bu Menik terkikik.
“Yasudah Buk saya ke kamar Hose dulu ya, beberapa potong pudiing saya masukkan kulkas, nanti dimakan saja ya Bu!" Manda keluar dari dapur lalu menaiki tangga menuju lantai dua ke kamar Hose.
Manda berjalan hati – hati membawa piring berisi pudding yang sedari tadi ia tahan untuk menghabiskannya. Manda ingin sekali menikmati dua rasa pudding bersama kekasihnya. Dalam benaknya ia ingin sekali menyuapi Hose, mungkin ada sedikit rindu yang tidak disadarinya. Masih pukul lima sore, Manda melihat jam yang ada dilayar ponselnya lalu kembali memasukkannya kedalam tas.
Manda berjalan perlahan. Dengan sedikit mengendap berusaha tidak menimbulkan suara ia menuju pintu kamar Hose. Manda memang belum pernah ke kamarnya. Bu Menik sudah memberitahunya ketika di dapur tadi.
__ADS_1
Ruangan dilantai dua ini sangat temaram, sepi dan sunyi. Jelas saja hanya di huni tiga orang saja didalam rumah besar ini. Apalagi dilantai dua ini hanya ditinggali Hose seorang diri. Manda berpikir bahwa Hose masih belum
terbangun dari tidur siangnya. Manda berjalan perlahan karena takut membangunkan kekasihnya. Pintunya sedikit terbuka dan sepertinya Hose mematikan lampu kamarnya. Hanya menyalakan lampu tidur. Samar samar Manda mendengarkan suara yang sangat asing baginya. Terdengar sesuatu seperti suara desahan dan sedikit erangan.
Rasa penasaran yang memuncak mendorong Manda berjalan perlahan menuju kamar Hose. Berjalan dengan langkah yang lebih pelan dan suara itu makin terdengar jelas. Erangan dan leguhan semakin tedengar beriringan dengan decapan memenuhi ruang. Raut wajahnya mulai masam ketika ia mengenali suara yang ia kenal. Pintu kamar sedikit terbuka dan betapa kagetnya Manda melihat Hose sedang bercumbu dengan wanita lain. Matanya
terbelalak, ia begitu marah dan kecewa.
Manda merasa dibohongi oleh kekasihnya yang selama ini ia kenal sangat baik. Sangat diluar dugaan jika Hose
tega melakukan hal ini kepadanya. Manda tak dapat menahan rasa kecewanya. Manda berdiri mematung diambang pintu melihat pemandangan jijik tepat didepan matanya. Tenggorokannya terasa sesak. Badannya sedikit gemetar dan kedua tangannya berusaha membawa piring berisi pudding yang awalnya ia siapkan untuk dimakan bersama Hose.
“Manda!” betapa terkejutnya Hose langsung meraih celana tipisnya dan memakainya dengan cepat.
Manda meletakkan piring pudding diatas meja yang ada didekatnya lalu mendekat ke arah Hose yang duduk dipinggir ranjang. Dengan penuh kemarahan Manda memandangi Hose dan wanita itu bergantian. Wanita yang merupakan selingkuhan Hose itu membalut tubuh telanjangnya dengan selimut dan tertunduk, mungkin karena malu.
Bulir air mata Manda perlahan terjatuh.
“Ah, ini ya yang kamu bilang sibuk bekerja? Bertemu klien? Ternyata sibuk bercinta!” Manda tersenyum masam
dengan guyuran air mata dipipinya.
__ADS_1
“Tenang Hose aku sangat tahu diri, sebagai kekasihmu aku tidak bisa memuaskan nafsu kamu sebagai laki – laki
normal. Saat ini aku memang sedih dan sungguh kecewa. Namun aku bersyukur. Tuhan sangat baik menunjukkan jawabanNya diwaktu yang sangat cepat. Dengan begini aku sadar bahwa kamu bukan laki – laki yang baik buat aku!" entah keberanian dari mana Manda bisa berbicara dengan lantang ditengah tangisnya.
“Bodoh ya aku, kupikir kamu mencintaiku, ternyata aku salah. Baik, mulai detik ini hubungan kita cukup, selesai. Kamu bisa bebas bercinta dengan wanita manapun!” kata Manda penuh dengan amarah.
Tubuhnya gemetar karena ini kali pertamanya Manda marah hebat. Manda keluar kamar sambil menangis. Hose berusaha mengejar dan berhasil menarik tangan Manda.
“Tunggu, tunggu sayang!”, panggil Hose. “Aku mau jelasin semuanya, kumohon jangan pergi."
“Nggak perlu!” Manda menatap tajam dan melempar genggaman tangan Hose. “Kita putus!” Manda berlari dan
menutup pintu kamar Hose dengan keras.
Hose kembali duduk diranjang lalu memukuli ranjangnya karena merasa bodoh membiarkan Manda melihatnya sedang bercinta dengan wanita lain. Hose mengerang keras. Menyesali perbuatannya.
Manda menyeka sisa air matanya kemudian membuang nafasnya berat, kemudian menuruni anak tangga dan keluar dari rumah Hose. Berusaha mengembangkan senyumnya ketika bertemu dengan Bu Menik maupun Pak Sugeng. Usai berpamitan ia langsung pulang menstater motornya melanjutkan perjalanan pulang. Manda benar – benar kecewa atas pemandangan apa yang dilihatnya baru saja. Namun disisi lain ia sangat bersyukur dan sangat
lega dalam hatinya. Tuhan memberikan suatu pertanda tepat setelah ia memintanya. Tidak hanya sekedar pertanda, namun suatu jawaban yang begitu gamblang.
Tuhan itu baik. Sangat baik.
__ADS_1