Teman Hidup

Teman Hidup
Episode 38


__ADS_3

Niko telah sampai di halaman Gereja. Setelah memarkirkan mobil ia segera turun dan mencari Manda. Pak Margo yang merupakan salah satu tim keamanan Gereja yang sudah mengenal Niko menunjuk kearah Gereja memberi isyarat dari kejauhan bahwa Manda ada didalam.


Niko mengangguk dan mengacungkan jempolnya lalu berjalan dengan sedikit berlari menemu calon istrinya. Pintu


gereja sudah rapi berhiaskan bunga segar. Sepertinya sudah selesai didekor untuk pemberkatan pernikahannya esok. Ia memasuki pintu utama gereja. Terdengar isakan lirih menyebar keseluruh ruangan itu. Ia berjalan perlahan menghampiri gadis yang sedang duduk menangis di deretan kursi paling depan. Gadis itu terkejut dan membuka matanya ketika menyadari seseorang duduk disebelahnya.


“Mas Niko maafkan aku…” Manda tertunduk. Wajahnya begitu pucat. Matanya sembab dan air mata tak henti – hentinya mengucur.


“Mas Niko sudah mengetahui semuanya,” ucap Niko memotong perkataan Manda. “Ayo pulang sayang ini sudah


sore!” ajak Niko dengan lembut. Manda menggeleng dengan cepat.


“Mas tolong batalkan pernikahan ini! Aku sudah tidak suci, tolong batalkan pernikahan kita Mas!” pinta Manda


yang suaranya kini semakin berat. Tangisnya semakin pecah. Bibirnya gemetar. Wajahnya memerah dan basah akan air mata.


“Bagaimana bisa kamu menghakimi dirimu seperti itu sayang? Tidak ada satupun manusia yang dapat mengukur


kesuciannya,” jelas Niko membelai rambut Manda. Manda semakin terisak.


“Tubuhku telah ternoda Mas. Aku tidak layak menikah dengan Mas Niko,” ucap Manda terbata – bata. Niko


menggeleng dan tersenyum. Sorot matanya begitu menenangkan.


“Tuhan saja mampu menerimamu dengan layak. Bagaimana bisa Mas yang hanya manusia biasa menganggapmu tidak layak?”


Manda terdiam dan tertunduk. Mencoba mencerna pertanyaan yang berisi pernyataan yang terlontar pada bibir


Niko. Niko menarik Manda dalam pelukannya. Tidak ada penolakan. Ini adalah pertama kali Niko memeluknya. Sesuatu yang berbeda Manda rasakan. Hangat dan penuh akan kenyamanan.


Tangis Manda makin mereda. Masih membenamkan wajahnya didada calon suaminya. Merasakan kehangatan didalamnya. Manda melepaskan pelukan lalu mengusap pipinya. Niko tersenyum lega


melihatnya.


“Tas sama ponselku?” Manda baru tersadar dan mencari barangnya yang tak sengaja ia tinggalkan dirumah Hose.


Niko semakin gemas melihatnya.

__ADS_1


“Ada di mobil,” ucap Niko dan Manda mendesah lega.


“Bagaimana, masih mau membatalkan pernikahan kita?” goda Niko. Manda menunduk dan menggeleng. Niko menahan tawanya.


“Sayang,” Niko menggenggam salah satu tangan Manda. “Lihatlah!” Niko menunjuk altar gereja. Manda mendongak dan melihat altar yang ada didepannya.


“Maafkan aku Mas!” air mata kembali menetes. “Aku hanya takut Mas marah dan menolakku.”


“Tidak akan. Mas telah memilihmu, walaupun Mas belum berjanji didepan pendeta dan seluruh jemaat, Mas sudah


berjanji pada diri mas sendiri untuk mengasihi dan menemanimu sepanjang hidup,” ucap Niko dengan yakin. Ia mengusap air mata Manda dengan jemarinya.


Kemudian mereka berdua berdoa. Meminta ampun pada sang Pencipta dan menyerahkan semua yang terjadi pada hari ini. Manda sudah kembali tenang dan berhenti menangis.


“Ayo pulang, besok kita akan menikah. Lupakan apa yang terjadi pada hari ini,” ucap Niko membelai lembut


rambut calon istrinya. Keduanya melangkah perlahan meninggalkan gereja dan memasuki mobil untuk kembali pulang.


“Ini mobil siapa Mas?” tanya Manda setelah memasuki mobil.


“Mobil Papa, kan mobil kita sudah penuh hiasan bunga. Tidak mungkin Mas membawanya,” ucap Niko memulai


Niko membuka kaca mobil diujung gerbang gereja lalu berpamitan pada Pak Margo yang tadi memberitahu keberadaan Manda.


“Saya pulang dulu Pak, terima kasih!”


“Nggih Mas, hati – hati!”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Menerjang jalanan kota yang masih saja tidak ada sepinya. Manda mengelap wajahnya menggunakan tisu lalu mengoleskan bedak menutupi bekas tangisnya. Berusaha supaya keluarganya tidak menyadari jika ia usai menangis hari ini.


Sampailah mereka dirumah Manda. Janur kuning telah terpasang gagah didepan rumah meskipun besok pernikahan diadakan di gedung yang telah mereka sewa. Rumah sudah ramai. Orang tua Manda dan juga Mia sudah berada didalam rumah. Beberapa keluarga yang tinggal diluar kota juga sudah sampai dikediaman Manda.


“Wah, Manda dari mana Budhe datang kok calon pengantin tidak ada dirumah? Eh ini ya calon suami Manda,” sapa seorang wanita paruh baya yang merupakan kakak dari Bu Tere. Budhe Tari, begitu Manda biasa memanggilnya.


“Nggih Budhe, ini Mas Niko calon suami Manda, maaf Budhe tadi ada urusan sebentar,” jawab Manda usai bersalaman.


"Wah wah wah, padahal ya besok ketemu lho," Budhe Tari menggoda kedua calon pengantin itu. Niko tertawa sedangkan Manda menahan senyumnya karena tersipu malu.

__ADS_1


“Baiklah saya langsung pamit pulang dulu Budhe, Supaya Manda bisa beristirahat,” Niko kambali bersalaman untuk pamit.


“Ya wis, sing ati – ati (ya sudah, yang hati – hati)” pesan Budhe Tari. Niko mengangguk,


“Mas pulang dulu ya, kamu istirahat!” Niko mengusap kepala Manda lalu pulang.


***


Manda mandi setelah menemui keluarganya. Sebagian sudah kembali ke penginapan untuk istirahat. Setelah membersihkan diri, ia ke dapur untuk mengambil dua kantong teh celup kemudian ia rendam sebentar dengan air hangat dan dibawanya kedalam kamar.


Ia merebahkan tubuhnya lalu memasang masker instan pada wajahnya. Kemudian baru mengompres kedua matanya dengan kantong teh celup yang sudah ia peras. Sekar pernah bilang jika teh celup mampu menghilangkan kantung mata yang sembab usai menangis.


“Boleh masuk Mbak?” Mia mengetuk pintu kamar Manda.


“Masuk dek!” jawab Manda. Mia membuka pintu dan memasuki kamar Manda yang tak terkunci.


“Cie.. mentang – mentang besok menikah sekarang perawatan,” ledek Mia menghampiri kakaknya yang masih terlentang dengan masker menempel diwajahnya.


“Hmmmm,”


“Aneh – aneh aja teh celup ditaruh mata,” celetuk Mia. Manda tetap diam tidak menanggapi. Bukan karena


malas. Namun masker yang menempel diwajahnya semakin kuat dan mencengkeram wajahnya.


“Ini Mbak jamu dari bikinan Mama, biar Mbak gak mudah capek besok. Acaranya padat soalnya.” Mia meletakkan


segelas jamu diatas meja rias Manda.


“Hmmmm.. terima kasih Dek!” ucap Manda.


“Yasudah aku ke kamar dulu Mbak.”


“Hmmmm.”


Manda kembali merenung. Ia merasa beruntung mengenal Niko. Sosok laki -laki yang lembut dan dewasa.


Hatinya kini mulai lega. Berusaha melupakan apapun yang telah terjadi pada hari ini. Semua yang terjadi pada hari ini biarlah terjadi sebagai pembelajaran. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

__ADS_1


***


__ADS_2