Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 11


__ADS_3

Di kelas tampak begitu


ramai banyak siswa yang duduk sambil bercanda ria, mengobrol bersama teman


sebangkunya atau ada juga yang sibuk bermain game diponselnya. Dan Kennie


sedang duduk melamun memikirkan tentang siapa cowok yang dimaksud oleh sahabatnya


itu. sepertinya Kennie harus memecahkan teka-taki. Dan ini sangat menyebalkan.


Nova yang menoleh


mendapati Kennie sedang melamun entah apa yang ia pikirkan ia tidak tahu. “Woi,


kesambet lo. Melamun” Nova menyenggol lengan hingga Kennie terlonjak kaget.


“Apaan sih?” Ketus


Kennie


“Mikirin Ben, ya?”


tebak Nova, Kennie berdecih “Ngacooo”


Tiba-tiba ada salah


satu siswa yang baru saja datang bersama kedua temannya itu langsung


menghampiri Kennie dan Nova, “Ken, lo dipanggil tuh sama Ben. ada perlu katanya


sama lo” Kennie menautkan alisnya bingung “Ngapain tuh bocah cari gue?”


Tanyanya dalam hati


“What?”sementara Nova membulatkan matanya kaget


“Udah sana samperin


jodoh, lo.” Sahut Keyla yang mendapatkan pelototan dari Kennie karena selalu


menyebukan kata ‘JODOH’ dan itu membuat Kennie merasa kesal terhadap sahabatnya


yang satu itu.


Kennie beranjak dari


bangku lalu pergi keluar dari kelas untuk menemui Ben yang katanya ingin


bertemu dengannya. Entah motif apa yang membuat Ben memanggilnya.


Dari arah jauh Ben


sudah berdiri dilapangan basket sambil menyandarkan badannya pada tembok.


Kennie langsung menghampirinya “Ada apa lo manggil gue?” Tanya Kennie dingin


seperti es dikutub utara.


“Santai dong, Manusia


es batu”


“Gue panggil lo kesini


buat belajar, untuk kompotisi olimpiade. Dan barusan Pak Rony memberitahu gue.


dalam waktu dekat ini kita akan bertanding” jelas Ben memberitahukan. Kennie


sejenak berpikir karena dalam waktu dekat ini juga ia harus bertanding di


kompotisi Club Mua Thainya.


“Gue, Enggak mau


belajar dan enggak mau ikut kompotisi yang melelahkan otak itu” Tukas Kennie


sama sekali tidak tertarik untuk belajar.


Ben mengacak rambutnya


frustasi, menghadapi Kennie harus butuh ekstra kesabaran tinggi. “Kalau begitu


kita taruhan?” Kennie menoleh bingung.


“Taruhan? Buat apa


taruhan? Apa hubungannya dengan kompotisi? Toh tidak ada gunanya” mendengar


jawaban Kennie Ben semakin yakin. Bahwa makhluk satu ini akan takluk padanya.


“Taruhannya lo harus


jadi pacar gue, jika lo kalah. Jika lo menang gue akan menuruti segala


permintaan lo. Dan gue akan melakukan itu”


Kennie menampakkan

__ADS_1


senyum tipisnya, lalu mengangguk “OKE, Deal” mereka saling membalas jabat


tangan, Ben masih menatap manik mata itu.


“Kapan mulai?” Tanya


Kennie masih dengan wajah datarnya


“Ya, sekarang. Masa


tahun depan”


Mereka berjalan menuju


Perpustakaan karena disanalah tempat yang paling hening dan tidak ada keributan


sama sekali. Ben dan Kennie masuk dan mencari buku-buku referensi untuk


dipelajari. Sorot mata Kennie masih menelusuri rak-rak yang dipenuhi buku-buku


tentang sejarah alam dan lainnya.


Menemukan buku yang


dicarinya, ia langsung saja mengambilnya. Sudah lima buku cetak ditangan


Kennie. ia mencari tempat lalu membacanya. Ben yang sedari tadi menyusuri


jejeran rak buku. Masih belum menemukan buku juga. langkah Ben terhenti saat


melihat Kennie sudah asik berkutik dengan bukunya. Ada senyum mengembang lalu


kembali berjalan.


Kennie menopang kedua


dagunya, “Kenapa juga harus gue yang ikut. Kompetisi? Gue itu harus latihan untuk


pertandingan minggu depan” keluhnya sambil menghela nafas. Ben yang


mendengarkan menyerngit dahinya bingung “Pertandingan? Lo ikut pertandingan


apaan?” tanyanya, Kennie mendongak menatap kaget.


“Bukan urusan lo” ketus


Kennie


Ben kembali terdiam dan


bertanya-tanya dalam hati “Sebenarnya ini anak ikut pertandingan apaan sih? dan


hati masih menatap Kennie lekat.


“Ngapain lo liatin


gue?” Tanya Kennie, membuat Ben gegalapan


“Siapa yang liatin lo?


Ge-er banget lo” balas Ben membuka buku bacaannya. Keheningan mereka sibuk


dengan buku masing-masing. sesekali Ben melirik Kennie yang tengah serius. “Kenapa lo mirip banget dengan, Nina.” Ucap Ben dalam hati, ia menghembuskan nafas panjangnya.


Kennie melirik Ben, “Kenapa jug ague harus satu Team dengan


cowok Tengil. Seperti dia, Pak Rony ada-ada aja” Ujar Kennie dalam hati.


Hanya ada gelengan kepala. Lalu melanjutkan kembali.



Nova dan Keyla berjalan


mencari Kennie, begitu juga dengan Gerry dan Jovan mencari Ben. semuanya


mencari mereka. tiada yang tahu sama sekali. Mereka bertemu di koridor tepatnya


dekat lapangan basket. “Hei, cewek cantik” sapa Gerry genit, Nova menatap


jijik. Keyla melirik Jovan yang tengah celingak-celinguk “ada Jovano” sapa


Keyla dengan senyum lebarnya. Tetapi Jovan mengacuhkannya.


“kalian melihat Kennie,


nggak?” Tanya Nova


“Justru gue yang nanya,


kalian melihat Ben?” Tanya balik, membuat ketiganya menautkan alisnya.


“Yaelah kompak banget,


mencari Ben dan Kennie” Ujar Jovan terkekeh


Salah satu siswa yang

__ADS_1


mendatangi mereka “Orang yang lo cari ada diperpus” sahutnya membuat keempatnya


melongo.


“Yang bener aja, lo”


Ucap Gerry memastikan


“Kalau tidak percaya,


Cek aja”


Jovan, Gerry, Nova, dan


Keyla pergi kearah perpustakaan setelah mengetahui orang yang dicarinya berada


disana. Mereka berjalan secara beriringan. Berpasang-pasangan. Banyak pasang


mata yang melihat mereka. memasuki ruangan yang penuh dengan keheningan sorot


mata Jovan tertujuh pada dua orang yang tengah serius belajar. Ada tatapan


tidak suka melihat keduanya.


Jovan menghampirinya


yang diikuti dengan yang lainnya. “Ternyata lo ada disini” sahutnya membuat


keduanya menoleh, Ben tersenyum sedangkan Kennie menampakkan senyum tipisnya


saat melihat Jovan duduk disampingnya.


“Lagi ngapain?” Tanya


Jovan pada Kennie


“Lagi belajar, lo


ngapain kesini?” Tanya balik Kennie


“Lagi liatin lo


belajar, memangnya tumben mau belajar. Biasanya lo paling susah diajak buat


belajar” Ucapnya,


“Sebenarnya gue males


banget belajar, mending gue pukulin samsak seribu kali. Dari harus mengerjakan


soal tidak penting ini” kata Kennie, yang mendapat kekehan dari Jovan.


“Tunggu dulu, gue ada


sesuatu. Pasti lo suka deh” seketika Jovan mengeluarkan sebuah kertas brosur


yang berisikan sebuah turnamen tinju. Kennie yang melihat ini langsung


tersenyum lebar dan memeluk Jovan.


“Makasih, Jojo. Tahu


aja. Gue butuh ini” Ucapnya dengan senyum lebar


Ben yang melihat


interaksi keduanya sangat dekat menatap dengan tidak percaya, bahwa sahabatnya


Jovan bisa seakrab itu dengan manusia datar dan es seperti Kennie. bahkan


ketiga temannya yang tengah berdiri hanya bisa melongo. Ia tidak pernah melihat


Kennie tersenyum lebar.


“Kalian saling kenal?”


Tanya Ben


“Iya, Gue dan


Kennie---“


“Abang gue” jawab


Kennie datar namun sedikit ketus


“Abang rasa pacar”


sahutnya, membuat Kennie memutar bola mataya malas.


Ben yang melihat mereka


menjadi risih, “Ini perpu. Bukan tempat buat pacaran” sahut Ben, sehingga


Kennie menatap tajam. “Siapa yang pacaran sih?” Kennie menghembuskan nafas berat


lalu beranjak pergi. Jovan juga yang ikut menyusul

__ADS_1


“Dasar, pacaran kok di


perpus” Ucap Ben tidak suka


__ADS_2