
Di kelas tampak begitu
ramai banyak siswa yang duduk sambil bercanda ria, mengobrol bersama teman
sebangkunya atau ada juga yang sibuk bermain game diponselnya. Dan Kennie
sedang duduk melamun memikirkan tentang siapa cowok yang dimaksud oleh sahabatnya
itu. sepertinya Kennie harus memecahkan teka-taki. Dan ini sangat menyebalkan.
Nova yang menoleh
mendapati Kennie sedang melamun entah apa yang ia pikirkan ia tidak tahu. “Woi,
kesambet lo. Melamun” Nova menyenggol lengan hingga Kennie terlonjak kaget.
“Apaan sih?” Ketus
Kennie
“Mikirin Ben, ya?”
tebak Nova, Kennie berdecih “Ngacooo”
Tiba-tiba ada salah
satu siswa yang baru saja datang bersama kedua temannya itu langsung
menghampiri Kennie dan Nova, “Ken, lo dipanggil tuh sama Ben. ada perlu katanya
sama lo” Kennie menautkan alisnya bingung “Ngapain tuh bocah cari gue?”
Tanyanya dalam hati
“What?”sementara Nova membulatkan matanya kaget
“Udah sana samperin
jodoh, lo.” Sahut Keyla yang mendapatkan pelototan dari Kennie karena selalu
menyebukan kata ‘JODOH’ dan itu membuat Kennie merasa kesal terhadap sahabatnya
yang satu itu.
Kennie beranjak dari
bangku lalu pergi keluar dari kelas untuk menemui Ben yang katanya ingin
bertemu dengannya. Entah motif apa yang membuat Ben memanggilnya.
Dari arah jauh Ben
sudah berdiri dilapangan basket sambil menyandarkan badannya pada tembok.
Kennie langsung menghampirinya “Ada apa lo manggil gue?” Tanya Kennie dingin
seperti es dikutub utara.
“Santai dong, Manusia
es batu”
“Gue panggil lo kesini
buat belajar, untuk kompotisi olimpiade. Dan barusan Pak Rony memberitahu gue.
dalam waktu dekat ini kita akan bertanding” jelas Ben memberitahukan. Kennie
sejenak berpikir karena dalam waktu dekat ini juga ia harus bertanding di
kompotisi Club Mua Thainya.
“Gue, Enggak mau
belajar dan enggak mau ikut kompotisi yang melelahkan otak itu” Tukas Kennie
sama sekali tidak tertarik untuk belajar.
Ben mengacak rambutnya
frustasi, menghadapi Kennie harus butuh ekstra kesabaran tinggi. “Kalau begitu
kita taruhan?” Kennie menoleh bingung.
“Taruhan? Buat apa
taruhan? Apa hubungannya dengan kompotisi? Toh tidak ada gunanya” mendengar
jawaban Kennie Ben semakin yakin. Bahwa makhluk satu ini akan takluk padanya.
“Taruhannya lo harus
jadi pacar gue, jika lo kalah. Jika lo menang gue akan menuruti segala
permintaan lo. Dan gue akan melakukan itu”
Kennie menampakkan
__ADS_1
senyum tipisnya, lalu mengangguk “OKE, Deal” mereka saling membalas jabat
tangan, Ben masih menatap manik mata itu.
“Kapan mulai?” Tanya
Kennie masih dengan wajah datarnya
“Ya, sekarang. Masa
tahun depan”
Mereka berjalan menuju
Perpustakaan karena disanalah tempat yang paling hening dan tidak ada keributan
sama sekali. Ben dan Kennie masuk dan mencari buku-buku referensi untuk
dipelajari. Sorot mata Kennie masih menelusuri rak-rak yang dipenuhi buku-buku
tentang sejarah alam dan lainnya.
Menemukan buku yang
dicarinya, ia langsung saja mengambilnya. Sudah lima buku cetak ditangan
Kennie. ia mencari tempat lalu membacanya. Ben yang sedari tadi menyusuri
jejeran rak buku. Masih belum menemukan buku juga. langkah Ben terhenti saat
melihat Kennie sudah asik berkutik dengan bukunya. Ada senyum mengembang lalu
kembali berjalan.
Kennie menopang kedua
dagunya, “Kenapa juga harus gue yang ikut. Kompetisi? Gue itu harus latihan untuk
pertandingan minggu depan” keluhnya sambil menghela nafas. Ben yang
mendengarkan menyerngit dahinya bingung “Pertandingan? Lo ikut pertandingan
apaan?” tanyanya, Kennie mendongak menatap kaget.
“Bukan urusan lo” ketus
Kennie
Ben kembali terdiam dan
bertanya-tanya dalam hati “Sebenarnya ini anak ikut pertandingan apaan sih? dan
hati masih menatap Kennie lekat.
“Ngapain lo liatin
gue?” Tanya Kennie, membuat Ben gegalapan
“Siapa yang liatin lo?
Ge-er banget lo” balas Ben membuka buku bacaannya. Keheningan mereka sibuk
dengan buku masing-masing. sesekali Ben melirik Kennie yang tengah serius. “Kenapa lo mirip banget dengan, Nina.” Ucap Ben dalam hati, ia menghembuskan nafas panjangnya.
Kennie melirik Ben, “Kenapa jug ague harus satu Team dengan
cowok Tengil. Seperti dia, Pak Rony ada-ada aja” Ujar Kennie dalam hati.
Hanya ada gelengan kepala. Lalu melanjutkan kembali.
Nova dan Keyla berjalan
mencari Kennie, begitu juga dengan Gerry dan Jovan mencari Ben. semuanya
mencari mereka. tiada yang tahu sama sekali. Mereka bertemu di koridor tepatnya
dekat lapangan basket. “Hei, cewek cantik” sapa Gerry genit, Nova menatap
jijik. Keyla melirik Jovan yang tengah celingak-celinguk “ada Jovano” sapa
Keyla dengan senyum lebarnya. Tetapi Jovan mengacuhkannya.
“kalian melihat Kennie,
nggak?” Tanya Nova
“Justru gue yang nanya,
kalian melihat Ben?” Tanya balik, membuat ketiganya menautkan alisnya.
“Yaelah kompak banget,
mencari Ben dan Kennie” Ujar Jovan terkekeh
Salah satu siswa yang
__ADS_1
mendatangi mereka “Orang yang lo cari ada diperpus” sahutnya membuat keempatnya
melongo.
“Yang bener aja, lo”
Ucap Gerry memastikan
“Kalau tidak percaya,
Cek aja”
Jovan, Gerry, Nova, dan
Keyla pergi kearah perpustakaan setelah mengetahui orang yang dicarinya berada
disana. Mereka berjalan secara beriringan. Berpasang-pasangan. Banyak pasang
mata yang melihat mereka. memasuki ruangan yang penuh dengan keheningan sorot
mata Jovan tertujuh pada dua orang yang tengah serius belajar. Ada tatapan
tidak suka melihat keduanya.
Jovan menghampirinya
yang diikuti dengan yang lainnya. “Ternyata lo ada disini” sahutnya membuat
keduanya menoleh, Ben tersenyum sedangkan Kennie menampakkan senyum tipisnya
saat melihat Jovan duduk disampingnya.
“Lagi ngapain?” Tanya
Jovan pada Kennie
“Lagi belajar, lo
ngapain kesini?” Tanya balik Kennie
“Lagi liatin lo
belajar, memangnya tumben mau belajar. Biasanya lo paling susah diajak buat
belajar” Ucapnya,
“Sebenarnya gue males
banget belajar, mending gue pukulin samsak seribu kali. Dari harus mengerjakan
soal tidak penting ini” kata Kennie, yang mendapat kekehan dari Jovan.
“Tunggu dulu, gue ada
sesuatu. Pasti lo suka deh” seketika Jovan mengeluarkan sebuah kertas brosur
yang berisikan sebuah turnamen tinju. Kennie yang melihat ini langsung
tersenyum lebar dan memeluk Jovan.
“Makasih, Jojo. Tahu
aja. Gue butuh ini” Ucapnya dengan senyum lebar
Ben yang melihat
interaksi keduanya sangat dekat menatap dengan tidak percaya, bahwa sahabatnya
Jovan bisa seakrab itu dengan manusia datar dan es seperti Kennie. bahkan
ketiga temannya yang tengah berdiri hanya bisa melongo. Ia tidak pernah melihat
Kennie tersenyum lebar.
“Kalian saling kenal?”
Tanya Ben
“Iya, Gue dan
Kennie---“
“Abang gue” jawab
Kennie datar namun sedikit ketus
“Abang rasa pacar”
sahutnya, membuat Kennie memutar bola mataya malas.
Ben yang melihat mereka
menjadi risih, “Ini perpu. Bukan tempat buat pacaran” sahut Ben, sehingga
Kennie menatap tajam. “Siapa yang pacaran sih?” Kennie menghembuskan nafas berat
lalu beranjak pergi. Jovan juga yang ikut menyusul
__ADS_1
“Dasar, pacaran kok di
perpus” Ucap Ben tidak suka