
FlashBack
Saat
ini Ben tengah berada di sebuah taman bersama dengan Nina, sebuah camera yang
mengantung dilehernya. Nina yang sedang memotret mengambil objek gambar menarik
baginya. Ben yang sedari tadi hanya berdiri sambil menatap Nina. Ben tersenyum
lebar.
“Ben,
lo lihat dong hasilnya, keren tidak?” Tanya Nina meminta pendapat
“Wow,
lo cocok banget jadi fhotoGrafer,” puji, memuji sambil melihat hasil fhoto
Nina.
Ben
menoleh menatap Nina lekat, rasanya dirinya tidak ingin jauh darinya. Nina yang
sosok lembutnya, cerewet, dan selalu penuh kejutan dengan apa yang dilakukannya.
Ben
sangat berterima kasih pada Tuhan, telah mempertemukan dirinya disebuah pameran
fhotografi, dan disitulah Ben bertemu Nina untuk yang pertama kalinya. Nina
yang sedang berjalan melihat berbagai objek foto unik yang diambil dari sang
fhotografer handal. Ada seulas senyum lebar. Tanpa disadari Nina ada seseorang
datang menghampirinya. Berdiri tepat disampingnya.
Ben,
sangat bersyukur mengenal Nina karena perempuan itulah yang membuatnya jatuh
cinta.
Nina
tersenyum, “Masa sih, padahal gue masih belajar lho” jawab Nina, karena dirinya
masih belum terlalu handal dalam mengambil gambar.
“Dan
ini hanya hobiku” lanjutnya
“Tetapi
lo sangat berbakat, Nin” tukas Ben, membuat Nina tersenyum lagi karena
pujiannya
Mereka
tetap berjalan sepanjang taman kota, Ben tetap menemani Nina, yang sedari tadi
terus memnotret mengambil objeck.
Tanpa
sengaja Nina mendengar suara perut dari Ben membuatnya tertawa, Ben memegang
perutnya dengan wajah cengengesan, menampakkan deretan gigi putihnya. “Lo
lapar, kenapa enggak bilang dari tadi?” sahut Nina menghampiri Ben yang
terdiam. Nina menyeret Ben, dan mereka pergi disebuah Restorant favorite Nina.
Tepatnya Restorant jepang, Ben tersadar karena melihat restorant dengan
ornament khas jepang.
“Lo
mau pesan apa?” Tanya Nina
Ben
menunjukkan pada pramusaji “Gue yang ini”
“Pesanan
di tunggu ya” ucap pramusaji lalu pergi meninggalkan mereka
“Gue
baru tau, kalau lo suka makanan jepang selain es cream,” kata Ben
“Terkadang
gue sering kesini, bersama sahabat gue” ucap Nina, Ben hanya mengangguk paham.
Beberapa menit kemudian makanan datang hingga Nina menatap binary. Sedangkan
Ben hanya terkekeh,
__ADS_1
“Lo
suka sushie?” Tanya Ben yang diangguki oleh Nina
Mereka
makan dengan nikmat, Ben melihat Nina seperti anak kecil ia begitu melahap
sushie, Cheese Tuna sushie adalah makanan favoritenya.
“Next
time kita jalan lagi ya, ke tempat fhotografi” ucap Ben
Nina
mengangguk antusias, ia sangat suka dengan pameran, apalagi menyangkut dengan
fhotografi.
Ben duduk terdiam
memandangi foto dirinya dengan Nina, serta Camera yang masih berada didalam
kotak tersebut. Ben memegang Camera milik Nina, seseorang yang sangat ia
rindukan selama ini.
Ia masih bingung, karena
Kennie memberikan kotak itu padanya yang berisikan foto serta Camera.
“Nina itu adalah
sahabat gue sejak kecil, kami sering bersama-sama” ucap Kennie lirih merindukan
sahabatnya.
Bagi Ben ini masih
menjadi misterius, kemana Nina sebenarnya, mengapa foto serta Camera ada pada
Kennie. “Gue baru tahu itu lo, setelah melihat foto lo. Satu hal juga ternyata
lo adalah cowok yang sering Nina ceritakan pada gue” jelas Kennie.
Ben hanya diam, masih
memandangi, ia menghembuskan nafas panjang. Saat ini mereka berada ditaman
sekolah, Kennie mengangkat pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul
empat sore. Semua siswa sudah pulang. hanya mereka berada disekolah. “Gue
menatap punggung Kennie yang sudah menjauh.
Sepanjang koridor
sekolah yang tampak sepi, dari jauh ia melihat kedua sahabatnya sedang duduk.
“Astaga Ken, lo dari
mana aja. Sudah tiga jam kita tunggu lo disini” keluh Keyla menja
Sedangkan Nova menatap
curiga, “Lo dari mana aja sih? kita sudah lumutan tungguin lo” tambahnya
menatap Kennie dengan kesal
“Sudah ngomongnya, gue
ada urusan” jawab Kennie
“Nih, tas lo” Nova
menyodorkan tasnya, lalu mereka berjalan keluar menuju parkiran. Dan ternyata
Ben juga berada disana. Ia menoleh menatap Kennie dengan senyum lebar. Tetapi
Kennie hanya menampakkan waja biasa saja.
Nova dan Keyla saling
pandang lalu kembali menatap Kennie dengan berbagai pertanyaan.
“Entar dulu tidak
biasanya Ben senyum sama lo, hayo kalian habis ngapain?” Tanya Nova curiga
“Apaan sih, enggak”
jawab Kennie dingin. Sedangkan masih sibuk mencari makanan didalam dasbor
Kennie.
###
Kennie sudah mengganti
baju dengan pakaian olahraganya, ia sudah siap untuk latihan, ada senyum
terukir diwajahnya saat mengingat ia berhasil mengalahkan rivalnya. Tetapi ia
juga merasa iba, karena Rose selalu mengajaknya untuk bertarung. Ia merindukan
__ADS_1
sosok Rose yang dulu.
Tetapi ternyata dibalik
itu Rose ternyata menyimpan rasa dendam padanya, entah itu apa? Mungkin ia
masih mencari tahu.
Didalam loker Kennie
ada sebuah foto mereka, Nina, Rose, dan dirinya, Kennie mengusap lembut, semua
sudah berakhir. Hanya ada kenangan yang tersisa didalam benaknya. “Nin, gue
sudah berhasil temuin cowok itu, ternyata dia adalah rival gue disekolah”
gumamnya. Lalu kembali menutup loker.
“Sudah siap latihan?”
Tanya Baim, karena kali ini dialah yang akan melatihnya.
“Siap,” jawab Kennie
Baim mengintrupsi
Kennie mengikuti segala arahan yang diberikannya, “Abang libur berapa lama?” Tanya
Kennie karena ia tahu kakak angkatnya sedang menjalani studynya di Jerman.
“Masih lama” jawabnya
“Pacar lo gimana? LDR
dong” Tanya Kennie,
“Ya begitulah, mau
gimana lagi. Abang kangen sama adeknya” jawabnya, membuat Kennie tersenyum.
“Btw, Abang lihat
kemarin ada cowok memerhatikan lo disekolah, sapa dia?” tanyanya membuat Kennie
menghentikan aksinya.
“Pacar lo ya” tambahnya
membuat Kennie tidak mengeti
“Cowok? Pacar? Ngacoo,
Abang ihh. Kennie kan tidak punya pacar” jawabnya
Kennie memilih
melanjutkan, mungkin nanti ia akan mencari tahu siapa cowok yang di maksud oleh
Baim.
Keringat sudah
bercucuran dibadan, membuat Kennie beristirahat duduk sambil menegukan sebotol
mineral hingga mencapai setengah.
Baim mengusap pucuk kepala
Kennie hingga ia mendongak “Ihh, Abang kagetin aja” kesal Kennie, Baim duduk
didekatnya.
“Ken, Apa Mama lo tidak
marah jika ikut turnamen kemarin. Pasti lo diocehin panjang lebar” ucap Baim
memberi saran
Selama ini Kennie
menyembunyikannya, Dona-Mamanya tidak pernah mengetahui apapun tentang apa yang
dilakukan Kennie diluar sana. Ia hanya tau Kennie sangat suka dengan Boxing.
Tidak dengan ikut turnamen.
“Sebaiknya lo kasih
tau” saran Baim, membuat Kennie menghela nafas gusar,
“Gue belum bisa
memberitahukannya sekarang” jawabnya
“Kenapa? Lo takut
dimarahin, atau bagaimana?” Tanya Baim penasaran, tetapi Kennie hanya diam.
“Gue mau lanjut latihan
lagi Bang,” ucap Kennie beranjak lalu berdiri dihadapan samsak yang siap ia
pukulinya. Kennie melayangkan tiga pukulan sebagai awal. Lalu melanjutkan
pukulan selanjutnya.
__ADS_1