Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 18


__ADS_3

FlashBack


Saat


ini Ben tengah berada di sebuah taman bersama dengan Nina, sebuah camera yang


mengantung dilehernya. Nina yang sedang memotret mengambil objek gambar menarik


baginya. Ben yang sedari tadi hanya berdiri sambil menatap Nina. Ben tersenyum


lebar.


“Ben,


lo lihat dong hasilnya, keren tidak?” Tanya Nina meminta pendapat


“Wow,


lo cocok banget jadi fhotoGrafer,” puji, memuji sambil melihat hasil fhoto


Nina.


Ben


menoleh menatap Nina lekat, rasanya dirinya tidak ingin jauh darinya. Nina yang


sosok lembutnya, cerewet, dan selalu penuh kejutan dengan apa yang dilakukannya.


Ben


sangat berterima kasih pada Tuhan, telah mempertemukan dirinya disebuah pameran


fhotografi, dan disitulah Ben bertemu Nina untuk yang pertama kalinya. Nina


yang sedang berjalan melihat berbagai objek foto unik yang diambil dari sang


fhotografer handal. Ada seulas senyum lebar. Tanpa disadari Nina ada seseorang


datang menghampirinya. Berdiri tepat disampingnya.


Ben,


sangat bersyukur mengenal Nina karena perempuan itulah yang membuatnya jatuh


cinta.


Nina


tersenyum, “Masa sih, padahal gue masih belajar lho” jawab Nina, karena dirinya


masih belum terlalu handal dalam mengambil gambar.


“Dan


ini hanya hobiku” lanjutnya


“Tetapi


lo sangat berbakat, Nin” tukas Ben, membuat Nina tersenyum lagi karena


pujiannya


Mereka


tetap berjalan sepanjang taman kota, Ben tetap menemani Nina, yang sedari tadi


terus memnotret mengambil objeck.


Tanpa


sengaja Nina mendengar suara perut dari Ben membuatnya tertawa, Ben memegang


perutnya dengan wajah cengengesan, menampakkan deretan gigi putihnya. “Lo


lapar, kenapa enggak bilang dari tadi?” sahut Nina menghampiri Ben yang


terdiam. Nina menyeret Ben, dan mereka pergi disebuah Restorant favorite Nina.


Tepatnya Restorant jepang, Ben tersadar karena melihat restorant dengan


ornament khas jepang.


“Lo


mau pesan apa?” Tanya Nina


Ben


menunjukkan pada pramusaji “Gue yang ini”


“Pesanan


di tunggu ya” ucap pramusaji lalu pergi meninggalkan mereka


“Gue


baru tau, kalau lo suka makanan jepang selain es cream,” kata Ben


“Terkadang


gue sering kesini, bersama sahabat gue” ucap Nina, Ben hanya mengangguk paham.


Beberapa menit kemudian makanan datang hingga Nina menatap binary. Sedangkan


Ben hanya terkekeh,

__ADS_1


“Lo


suka sushie?” Tanya Ben yang diangguki oleh Nina


Mereka


makan dengan nikmat, Ben melihat Nina seperti anak kecil ia begitu melahap


sushie, Cheese Tuna sushie adalah makanan favoritenya.


“Next


time kita jalan lagi ya, ke tempat fhotografi” ucap Ben


Nina


mengangguk antusias, ia sangat suka dengan pameran, apalagi menyangkut dengan


fhotografi.


Ben duduk terdiam


memandangi foto dirinya dengan Nina, serta Camera yang masih berada didalam


kotak tersebut. Ben memegang Camera milik Nina, seseorang yang sangat ia


rindukan selama ini.


Ia masih bingung, karena


Kennie memberikan kotak itu padanya yang berisikan foto serta Camera.


“Nina itu adalah


sahabat gue sejak kecil, kami sering bersama-sama” ucap Kennie lirih merindukan


sahabatnya.


Bagi Ben ini masih


menjadi misterius, kemana Nina sebenarnya, mengapa foto serta Camera ada pada


Kennie. “Gue baru tahu itu lo, setelah melihat foto lo. Satu hal juga ternyata


lo adalah cowok yang sering Nina ceritakan pada gue” jelas Kennie.


Ben hanya diam, masih


memandangi, ia menghembuskan nafas panjang. Saat ini mereka berada ditaman


sekolah, Kennie mengangkat pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul


empat sore. Semua siswa sudah pulang. hanya mereka berada disekolah. “Gue


menatap punggung Kennie yang sudah menjauh.


Sepanjang koridor


sekolah yang tampak sepi, dari jauh ia melihat kedua sahabatnya sedang duduk.


“Astaga Ken, lo dari


mana aja. Sudah tiga jam kita tunggu lo disini” keluh Keyla menja


Sedangkan Nova menatap


curiga, “Lo dari mana aja sih? kita sudah lumutan tungguin lo” tambahnya


menatap Kennie dengan kesal


“Sudah ngomongnya, gue


ada urusan” jawab Kennie


“Nih, tas lo” Nova


menyodorkan tasnya, lalu mereka berjalan keluar menuju parkiran. Dan ternyata


Ben juga berada disana. Ia menoleh menatap Kennie dengan senyum lebar. Tetapi


Kennie hanya menampakkan waja biasa saja.


Nova dan Keyla saling


pandang lalu kembali menatap Kennie dengan berbagai pertanyaan.


“Entar dulu tidak


biasanya Ben senyum sama lo, hayo kalian habis ngapain?” Tanya Nova curiga


“Apaan sih, enggak”


jawab Kennie dingin. Sedangkan masih sibuk mencari makanan didalam dasbor


Kennie.


###


Kennie sudah mengganti


baju dengan pakaian olahraganya, ia sudah siap untuk latihan, ada senyum


terukir diwajahnya saat mengingat ia berhasil mengalahkan rivalnya. Tetapi ia


juga merasa iba, karena Rose selalu mengajaknya untuk bertarung. Ia merindukan

__ADS_1


sosok Rose yang dulu.


Tetapi ternyata dibalik


itu Rose ternyata menyimpan rasa dendam padanya, entah itu apa? Mungkin ia


masih mencari tahu.


Didalam loker Kennie


ada sebuah foto mereka, Nina, Rose, dan dirinya, Kennie mengusap lembut, semua


sudah berakhir. Hanya ada kenangan yang tersisa didalam benaknya. “Nin, gue


sudah berhasil temuin cowok itu, ternyata dia adalah rival gue disekolah”


gumamnya. Lalu kembali menutup loker.


“Sudah siap latihan?”


Tanya Baim, karena kali ini dialah yang akan melatihnya.


“Siap,” jawab Kennie


Baim mengintrupsi


Kennie mengikuti segala arahan yang diberikannya, “Abang libur berapa lama?” Tanya


Kennie karena ia tahu kakak angkatnya sedang menjalani studynya di Jerman.


“Masih lama” jawabnya


“Pacar lo gimana? LDR


dong” Tanya Kennie,


“Ya begitulah, mau


gimana lagi. Abang kangen sama adeknya” jawabnya, membuat Kennie tersenyum.


“Btw, Abang lihat


kemarin ada cowok memerhatikan lo disekolah, sapa dia?” tanyanya membuat Kennie


menghentikan aksinya.


“Pacar lo ya” tambahnya


membuat Kennie tidak mengeti


“Cowok? Pacar? Ngacoo,


Abang ihh. Kennie kan tidak punya pacar” jawabnya


Kennie memilih


melanjutkan, mungkin nanti ia akan mencari tahu siapa cowok yang di maksud oleh


Baim.


Keringat sudah


bercucuran dibadan, membuat Kennie beristirahat duduk sambil menegukan sebotol


mineral hingga mencapai setengah.


Baim mengusap pucuk kepala


Kennie hingga ia mendongak “Ihh, Abang kagetin aja” kesal Kennie, Baim duduk


didekatnya.


“Ken, Apa Mama lo tidak


marah jika ikut turnamen kemarin. Pasti lo diocehin panjang lebar” ucap Baim


memberi saran


Selama ini Kennie


menyembunyikannya, Dona-Mamanya tidak pernah mengetahui apapun tentang apa yang


dilakukan Kennie diluar sana. Ia hanya tau Kennie sangat suka dengan Boxing.


Tidak dengan ikut turnamen.


“Sebaiknya lo kasih


tau” saran Baim, membuat Kennie menghela nafas gusar,


“Gue belum bisa


memberitahukannya sekarang” jawabnya


“Kenapa? Lo takut


dimarahin, atau bagaimana?” Tanya Baim penasaran, tetapi Kennie hanya diam.


“Gue mau lanjut latihan


lagi Bang,” ucap Kennie beranjak lalu berdiri dihadapan samsak yang siap ia


pukulinya. Kennie melayangkan tiga pukulan sebagai awal. Lalu melanjutkan


pukulan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2