Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 07


__ADS_3

Kennie berada di taman


duduk sendirian sambil menundukkan kepalanya. Mengepalkan kedua tangannya.


Kennie menutup matanya kesal, “Ini saja lo sudah mengibarkan bendera perang,


awas aja gue akan balas” Ucapnya semakin geram. Kennie meluapkan kekesalnya


sambil berteriak di taman sendirian.


“Astaga, Adek kecil


gue. cepet tua lo. Marah-marah mulu” Ucap seseorang membuat Kennie menoleh


mendapati Jovan berdiri sambil tersenyum lebar.


“Ganggu aja lo” ketus


Kennie, Jovan tertawa lebar lalu duduk disampingnya


Kennie masih geram


karena kejadian tadi. ia masih mengeluarkan kekesalan sambil berteriak tidak


jelas. Jovan hanya diam memperhatikannya. “Kalau udah marah, singa sudah


keluar” Ucap Jovan, menatap Kennie.


“Gue lagi kesel, Jojo.


Kok lo malah senyam-senyum. Aneh lo” ketus Kennie, Jovan masih terkekeh.


Hingga Kennie


terpikirkan “Lo temenan sama cowok tengil itu?” Tanya Kennie karena ia tadi


sempat melihat Jovan bersama dengan Ben.


“Iya, Kenapa emang?”


tanyanya balik


Kennie hanya mendengus


sebal “Iya, Ben temen sekelas gue. senior lo juga. kenapa emang lo naksir sama


dia?” dengan rasa tidak bersalah Jovan menanyakan, Kennie menoleh terkejut.


“Gue naksir sama dia, itu tidak akan terjadi? Jo, dia itu rival gue” jelas


Kennie, Jovan hanya mengangguk meng’iya’kan.


“Gue minta maaf ya”


Kennie menyerngitkan dahinya bingung “minta maaf, emang lo ada salah sama gue?”


tanyanya heran. “Gue minta maaf karena ulah Ben” jawab Jovan lalu menatap


kedepan.


“Kenapa jadi lo yang minta


maaf, harusnya si cowok tengil itu. yang minta maaf. Bukannya lo Jojo” jelas


Kennie bingung pada sahabatnya satu ini. Jovan hanya mendengus. Lalu mengacak


rambutnya gemas.


Bel bordering keras,


membuat Kennie semakin malas untuk masuk ke kelas. “Udah Bell, masuk gih” ucap


Jovan, Kennie beranjak dari bangku dan pergi begitu saja. Tetapi Kennie tidak


menuju kelas, melainkan menuju tangga. Kali ini tujuannya ke rooftop.


Kennie menjatuhkan


bokongnya di sofa kumuh. Ia masih memikirkan kejadian tadi. ia tidak habis


fikir dari mana cowok tengil itu mendapatkan fotonya. Seperti biasa Kennie


tidak masuk kelas. Ia memilih berada di rooftop dan membolos. Moodnya kini


sudah tidak bisa di control lagi.


Ia meluapkan pada

__ADS_1


samsak yang tergantung disana, entah sejak kapan samsak itu ada disana.


Kennie mengeluarkan


semua amarahnya, hingga keringatnya keluar bercururan di pelipisnya. Kennie


merasa hari ini adalah hari yang paling menyebalkan baginya. Cowok tengil itu


telah merusak moodnya.


Ia terus memukul samsak


itu, nafasnya tersengal-sengal. Dan setelah itu Kennie menjatuhkan bokongnya di


sofa lalu mendongak menatap langit biru, yang menyilaukan dengan sinar matahari


yang menyengat di kulitnya. Kennie mengerang kesal.



“Lo itu kenapa sih,


Ben? lo itu tega banget tahu jadi orang” Kesal Jovan menatap sahabatnya.


Ben masih terdiam duduk


sambil minum minuman kaleng bersoda. Mengacuhkan ocehan Jovan sedari tadi.


Gerry yang duduk di hadapan Ben, menatapnya heran. Ia masih memikirkan manik


mata yang sangat familiar itu.


“Kenapa mata itu


mengingat gue sama Nina? Nina lo berada dimana, gue kangen sama lo” pikir Ben.


Jovan yang sedari tadi


mengoceh langsung berhenti menggemplak kepala Ben. “Lo itu dari tadi dengarin


gue sih?” Tanya Jovan, yang mendapat dengusan dari Ben. lalu beranjak pergi


begitu saja.Jovan melipat kedua tangannya depan dada, sementara Gerry menatap


cengo.


Ben terus berjalan


mendapati Kennie sedang duduk, ia melihat perempuan itu duduk dengan wajah


penuh dengan keringat. Serta nafas yang naik turun. Ini pertama kalinya Ben


naik di rooftop selama ini Ben hanya nongkrong dikantin bersama kedua


sahabatnya. Jovan dan Gerry.


“Cewek itu, ngapain dia


disini? Bukannya belajar dikelas malah duduk sendirian” Gumam Ben masih menatap


Kennie dari kejauhan. Ben Menghela nafas panjang lalu berjalan menghampirinya.


Kennie menoleh saat


melihat Ben yang datang langsung duduk didekatnya tanpa permisi. Kennie masih


tetap diam. dengan nafas yang masih memburu karena sudah memukul samsak yang


bergantung disampingnya. Entah sejak kapan samsak berada di situ , Ben tidak


tahu?


Mereka masih tetap


dalam keheningan, Ben menatap kedepan begitu juga dengan Kennie.


“Sejak kapan lo berada


disini?” Tanya Ben tanpa menoleh


“Bukan urusan lo” jawab


Kennie ketus


“Bisa tidak jawabnya


tidak ketus begitu. Seharusnya lo itu senang bisa duduk sama cowok ganteng

__ADS_1


seperti gue.” ucap Ben dengan tingkat kepedean akut.


Kennie berdiri lalu


menarik kedua kera baju Ben, dan langsung mendaratkan tinjuan yang begitu keras


hingga membuat Ben tersungkur kelantai. Ben yang terkejut karena baru saja


dapat bogeman dari Kennie.


Ben berdiri lalu


mengusap bibir kirinya karena keluar darah segar. “Ini cewek apa singa, Sih.


sudah dua kali gue dapat bogeman darinya” gumam Ben. berdiri menatap Kennie


yang diam.


“Sakit tau, main pukul


saja. Kegantengan gue hilang tiga puluh persen nih. Gara-gara lo” Oceh Ben,


yang sama sekali tidak perdulikan oleh Kennie.


Kennie pergi begitu


saja, tanpa memperdulikan Ben yang menoleh melihat kepergiannya. Ben semakin


bingung, kenapa ada makhluk seperti Kennie. “Cewek aneh, Awh.” Sambil mengusap


mukanya yang lebam.


Sedari tadi Gerry terus


ketawa karena mendengar cerita Ben yang dapat bogeman dari Kennie. sementara


Jovan hanya terkekeh, Ben yang mengusap wajahanya dengan air dingin. Ben selalu


saja dihantui rasa penasaran didalam benaknya. Setiap kali melihat manik mata


itu. ia kembali mengenang seseorang yang ia rindukan hingga sekarang. Ben


menghembuskan nafas perlahan, dan menghentikan aktivitasnya.


Ben beranjak dari sofa


lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Ben menghempaskan badannya pada bad king sizenya. Menatap langit kamar


yang sama sekali tidak ada hiasannya. Ia masih terpikirkan mengapa ia bisa


bertemu dengan cewek aneh seperti Kennie. dan kali ini ia masih penasaran,


siapa Kennie?. saat pertama kali melihat manik mata itu, dan rasanya semua itu


tidak asing baginya.


Bangun dan menuju


tempat meja belajarnya. Membuka laci dan mendapati sebuah bingkai foto. Ben


menatap lekat foto itu, lalu tersenyum tipis. Foto dua orang remaja. Yang


menampakkan senyum cerianya.


Ada rasa bahagia saat


melihat bingkai foto itu. “Aku kangen sama kamu, kamu dimana sekarang. Apa kamu


tidak kangen juga.” ada kekehan saat lengkungan bibirnya membentuk senyum.


Ben mendongak menatap


langit biru lewat jendela kamarnya. Lalu menyimpan bingkai foto itu kedalam


laci kembali. Lalu beranjak mendekati kearah jendela. Ia berdiri sambil menatap


luar.


Semua terasa hampa,


semuanya terasa kosong. Hari-harinya sepi. Entah apa itu karena ia merindukan


seseorang yang tidak pernah Ben temui selama ini. harapan ingin bertemu.


Harapan dan harapan, Cuma itu.


Huftt

__ADS_1


Hanya itu Ben bisa


lalukan hanya berharap


__ADS_2