
Kennie berada di taman
duduk sendirian sambil menundukkan kepalanya. Mengepalkan kedua tangannya.
Kennie menutup matanya kesal, “Ini saja lo sudah mengibarkan bendera perang,
awas aja gue akan balas” Ucapnya semakin geram. Kennie meluapkan kekesalnya
sambil berteriak di taman sendirian.
“Astaga, Adek kecil
gue. cepet tua lo. Marah-marah mulu” Ucap seseorang membuat Kennie menoleh
mendapati Jovan berdiri sambil tersenyum lebar.
“Ganggu aja lo” ketus
Kennie, Jovan tertawa lebar lalu duduk disampingnya
Kennie masih geram
karena kejadian tadi. ia masih mengeluarkan kekesalan sambil berteriak tidak
jelas. Jovan hanya diam memperhatikannya. “Kalau udah marah, singa sudah
keluar” Ucap Jovan, menatap Kennie.
“Gue lagi kesel, Jojo.
Kok lo malah senyam-senyum. Aneh lo” ketus Kennie, Jovan masih terkekeh.
Hingga Kennie
terpikirkan “Lo temenan sama cowok tengil itu?” Tanya Kennie karena ia tadi
sempat melihat Jovan bersama dengan Ben.
“Iya, Kenapa emang?”
tanyanya balik
Kennie hanya mendengus
sebal “Iya, Ben temen sekelas gue. senior lo juga. kenapa emang lo naksir sama
dia?” dengan rasa tidak bersalah Jovan menanyakan, Kennie menoleh terkejut.
“Gue naksir sama dia, itu tidak akan terjadi? Jo, dia itu rival gue” jelas
Kennie, Jovan hanya mengangguk meng’iya’kan.
“Gue minta maaf ya”
Kennie menyerngitkan dahinya bingung “minta maaf, emang lo ada salah sama gue?”
tanyanya heran. “Gue minta maaf karena ulah Ben” jawab Jovan lalu menatap
kedepan.
“Kenapa jadi lo yang minta
maaf, harusnya si cowok tengil itu. yang minta maaf. Bukannya lo Jojo” jelas
Kennie bingung pada sahabatnya satu ini. Jovan hanya mendengus. Lalu mengacak
rambutnya gemas.
Bel bordering keras,
membuat Kennie semakin malas untuk masuk ke kelas. “Udah Bell, masuk gih” ucap
Jovan, Kennie beranjak dari bangku dan pergi begitu saja. Tetapi Kennie tidak
menuju kelas, melainkan menuju tangga. Kali ini tujuannya ke rooftop.
Kennie menjatuhkan
bokongnya di sofa kumuh. Ia masih memikirkan kejadian tadi. ia tidak habis
fikir dari mana cowok tengil itu mendapatkan fotonya. Seperti biasa Kennie
tidak masuk kelas. Ia memilih berada di rooftop dan membolos. Moodnya kini
sudah tidak bisa di control lagi.
Ia meluapkan pada
__ADS_1
samsak yang tergantung disana, entah sejak kapan samsak itu ada disana.
Kennie mengeluarkan
semua amarahnya, hingga keringatnya keluar bercururan di pelipisnya. Kennie
merasa hari ini adalah hari yang paling menyebalkan baginya. Cowok tengil itu
telah merusak moodnya.
Ia terus memukul samsak
itu, nafasnya tersengal-sengal. Dan setelah itu Kennie menjatuhkan bokongnya di
sofa lalu mendongak menatap langit biru, yang menyilaukan dengan sinar matahari
yang menyengat di kulitnya. Kennie mengerang kesal.
“Lo itu kenapa sih,
Ben? lo itu tega banget tahu jadi orang” Kesal Jovan menatap sahabatnya.
Ben masih terdiam duduk
sambil minum minuman kaleng bersoda. Mengacuhkan ocehan Jovan sedari tadi.
Gerry yang duduk di hadapan Ben, menatapnya heran. Ia masih memikirkan manik
mata yang sangat familiar itu.
“Kenapa mata itu
mengingat gue sama Nina? Nina lo berada dimana, gue kangen sama lo” pikir Ben.
Jovan yang sedari tadi
mengoceh langsung berhenti menggemplak kepala Ben. “Lo itu dari tadi dengarin
gue sih?” Tanya Jovan, yang mendapat dengusan dari Ben. lalu beranjak pergi
begitu saja.Jovan melipat kedua tangannya depan dada, sementara Gerry menatap
cengo.
Ben terus berjalan
mendapati Kennie sedang duduk, ia melihat perempuan itu duduk dengan wajah
penuh dengan keringat. Serta nafas yang naik turun. Ini pertama kalinya Ben
naik di rooftop selama ini Ben hanya nongkrong dikantin bersama kedua
sahabatnya. Jovan dan Gerry.
“Cewek itu, ngapain dia
disini? Bukannya belajar dikelas malah duduk sendirian” Gumam Ben masih menatap
Kennie dari kejauhan. Ben Menghela nafas panjang lalu berjalan menghampirinya.
Kennie menoleh saat
melihat Ben yang datang langsung duduk didekatnya tanpa permisi. Kennie masih
tetap diam. dengan nafas yang masih memburu karena sudah memukul samsak yang
bergantung disampingnya. Entah sejak kapan samsak berada di situ , Ben tidak
tahu?
Mereka masih tetap
dalam keheningan, Ben menatap kedepan begitu juga dengan Kennie.
“Sejak kapan lo berada
disini?” Tanya Ben tanpa menoleh
“Bukan urusan lo” jawab
Kennie ketus
“Bisa tidak jawabnya
tidak ketus begitu. Seharusnya lo itu senang bisa duduk sama cowok ganteng
__ADS_1
seperti gue.” ucap Ben dengan tingkat kepedean akut.
Kennie berdiri lalu
menarik kedua kera baju Ben, dan langsung mendaratkan tinjuan yang begitu keras
hingga membuat Ben tersungkur kelantai. Ben yang terkejut karena baru saja
dapat bogeman dari Kennie.
Ben berdiri lalu
mengusap bibir kirinya karena keluar darah segar. “Ini cewek apa singa, Sih.
sudah dua kali gue dapat bogeman darinya” gumam Ben. berdiri menatap Kennie
yang diam.
“Sakit tau, main pukul
saja. Kegantengan gue hilang tiga puluh persen nih. Gara-gara lo” Oceh Ben,
yang sama sekali tidak perdulikan oleh Kennie.
Kennie pergi begitu
saja, tanpa memperdulikan Ben yang menoleh melihat kepergiannya. Ben semakin
bingung, kenapa ada makhluk seperti Kennie. “Cewek aneh, Awh.” Sambil mengusap
mukanya yang lebam.
Sedari tadi Gerry terus
ketawa karena mendengar cerita Ben yang dapat bogeman dari Kennie. sementara
Jovan hanya terkekeh, Ben yang mengusap wajahanya dengan air dingin. Ben selalu
saja dihantui rasa penasaran didalam benaknya. Setiap kali melihat manik mata
itu. ia kembali mengenang seseorang yang ia rindukan hingga sekarang. Ben
menghembuskan nafas perlahan, dan menghentikan aktivitasnya.
Ben beranjak dari sofa
lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Ben menghempaskan badannya pada bad king sizenya. Menatap langit kamar
yang sama sekali tidak ada hiasannya. Ia masih terpikirkan mengapa ia bisa
bertemu dengan cewek aneh seperti Kennie. dan kali ini ia masih penasaran,
siapa Kennie?. saat pertama kali melihat manik mata itu, dan rasanya semua itu
tidak asing baginya.
Bangun dan menuju
tempat meja belajarnya. Membuka laci dan mendapati sebuah bingkai foto. Ben
menatap lekat foto itu, lalu tersenyum tipis. Foto dua orang remaja. Yang
menampakkan senyum cerianya.
Ada rasa bahagia saat
melihat bingkai foto itu. “Aku kangen sama kamu, kamu dimana sekarang. Apa kamu
tidak kangen juga.” ada kekehan saat lengkungan bibirnya membentuk senyum.
Ben mendongak menatap
langit biru lewat jendela kamarnya. Lalu menyimpan bingkai foto itu kedalam
laci kembali. Lalu beranjak mendekati kearah jendela. Ia berdiri sambil menatap
luar.
Semua terasa hampa,
semuanya terasa kosong. Hari-harinya sepi. Entah apa itu karena ia merindukan
seseorang yang tidak pernah Ben temui selama ini. harapan ingin bertemu.
Harapan dan harapan, Cuma itu.
Huftt
__ADS_1
Hanya itu Ben bisa
lalukan hanya berharap