Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 35


__ADS_3

“Iya, Coach. Ada apa?”


jawab Kennie pada seseorang diseberang sana


“Maybe, persiapkan dirimu minggu depan akan bertanding dengan Rose. Coach harap kamu bisa mengalahkan


dirinya lagi.” Ucap Coach Raka memberitahunya


“Iya, Coach. Aku sudah


mengetahui kabar itu. barusan saja Rose datang kesekolah dan menantangku” ucap


Kennie menjelaskan


Coach Raka menghela


nafas berat, ia juga sudah mengetahui keadaan Kennie yang sebenarnya. Sudah


lama Coach Raka menyelidiki kebenaran itu. karena Coach Raka sudah menganggap


Kennie seperti anaknya sendiri.


“Harapan Coach hanya


sama kamu,” ucap Coach Raka penuh harap


Kennie menghela nafas


sejenak, “Sepulang sekolah, aku langsung kesana” ucapnya dan menutup telepon


bersamaan.


Nova yang mendengar


percakapan Kennie dengan seseorang yang tidak diketahuinya, terkejut. Nova baru


mengetahui bahwa Kennie seorang petinju. Kennie mengerjap saat Nova berjalan


menghampirinya dengan tatapn mengintimidasi.


“Jadi lo seorang


petinju?” Tanya Nova


“Ahh, mungkin lo salah


dengar kali” ucap Kennie gegalapan


“Jawab Ken, Apakah


selama ini gue tidak anggap sama lo. Hingga lo rahasiain ini dari gue. Apakah


selama ini lo tidak percaya sama gue?” Tanya Nova


Kennie hanya terdiam,


ia bingung harus menjawab apa?


Bukannya Kennie tidak


percaya padanya, tetapi ada satu hal membuat Kennie harus merahasiakan semua


masalahnya dari sahabatnya. “Bukannya gitu, gue akan jelasin semuanya sama lo”


ujarnya


“Terserah lo, Gue


kecewa” ucap Nova lalu pergi begitu saja meninggalkan Kennie.


Yap, tepat saat ini


Kennie berada didepan toilet menunggu Nova, namun saat Nova keluar dari toilet


ia tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang. Dan disitulah Nova


merasa bahwa dirinya tidak berguna baginya. Kennie hanya bisa menghela nafas


panjang, dan ia akan menjelaskan pada Nova yang sebenarnya.


“Nov, Gue akan jelasin


semuanya pada lo” ucap Kennie pasrah, tetapi Nova malah pergi meninggalkannya.


Kennie mendengus sebal, lalu berjalan menyusul Nova yang sudah menjauh darinya.



Tiada waktu bagi Kennie


untuk berada dikelas, kali ini guru sedang tidak ada karena ada urusan mendadak


membuat kelas menjadi kegaduhan.  Kennie


beranjak dari bangkunya lalu menenteng tasnya, kedua sahabatnya menatap bingung


“Mau kemana, lo?” Tanya Keyla


“Ada urusan, dari pad


ague berada disini tidak ada yang mau dengar penjelasan dari gue. dan tidak mau


mendengar isi hati dari gue” ucap Kennie begitu dingin, telak membuat Nova


bungkam.

__ADS_1


Kennie menghembuskan


nafas panjang lalu berjalan keluar dari kelas, sementara Nova menatap punggung


sahabatnya yang sudah mulai menghilang.


Lorong koridor terlihat


sepi karena semua sibuk belajar dikelas masing-masing, senyum terbit diwajahnya


lalu melangkah cepat menuju parkiran.


Kali ini Kennie


membolos untuk menemui Coach Raka, sebenarnya Kennie sudah janjian pukul tiga


sore nanti saat pulang sekolah tiba.


Mobil Jazz sedan merah


melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri kota, tepat setengah jam  perjalanan Kennie memasuki area parkiran.


Dengan langakah gontai ia memasuki ruangan, disana Coach Raka sedang melatih


seseorang.


Kennie terlonjak kaget


saat melihat Ben sedang berlatih memukul samsak, dengan cengiran diwajahnya


serta keringat yang sedari tadi sudah membasahi seluruh tubuhnya.


“Ken,” sapa Ben dengan


senyum lebar,


“Coach, Ada hal penting


yang harus dibicarakan?” Tanya Kennie mengacuhkan sapaan dari Ben.


“Coach tinggal


sebentar” ucap Coach Raka menepuk pundak Ben pelan.


Didalam ruangan


tersebut Kennie termangu mendengar penjelasan dari Pelatihnya, sudah diduga,


Rose akan melakukan apapun yang diinginkannya. Pikirnya


“Aku akan melakukan


apapun demi Club ini Coach, walaupun Rose mengajak Kennie taruhan. Aku tidak


Coach” ucap Kennie tulus, membuat Coach Raka merasa bangga memiliki  murid seperti Kennie.


“Makasih Coach” ucap


Kennie tersenyum lebar


“Mengingat minggu depan


kalian akan bertarung, Coach harap kamu bisa menjaga stamina serta tenaga.


Coach harap kamu bisa menang” ucapnya penuh harapan.


Kennie mengangguk


mengerti, ia berharap bisa mengalahkan Rose, meskipun Rose adalah kakak


kandungnya. Tetapi Kennie tidak bisa menerimanya dengan begitu saja. Apalagi


mengingat taruhan yang membuatnya merasa muak.


Kennie kembali berlatih


setelah berganti pakaian, dari jauh ia sudah melihat Ben berlatih memukul


samsak namun tidak sesuai aturan, ia bingung , sejak kapan Ben ingin berlatih


Boxing, setahu Kennie Ben tidak suka berolahraga,


“gimana Ken, otot gue


sudah terbentuk tidak?” Tanya Ben yang sudah mengangkat kedua kedua tanganya


dan memperlihatkan otot kecilnya,


“Belom ada sama sekali”


jawab Kennie


Seketika Ben merosot,


tetapi senyum itu kembali membuat Kennie tersentak “Gue bisa kok, karena gue


ingin lo yang ajarin gue” pinta Ben menaikkan kedua alisnya bersamaan.


Sejenak Kennie berpikir


dengan menopang dagunya “Oke,” jawabnya lalu Ben memeluknya.


Kennie terkejut


seketika, sekujur tubuhnya menjadi menegang, sedangkan Ben tersenyum sumringah.

__ADS_1


Dengan tingkah konyolnya, semua para member klub tertawa akibat ulah Ben.


“Ihh, biasa aja kali,” Kennie


mendengus


“Hehehe, biar semua


member disini tahu bahwa, lo milik gue” jawab cengengesan


“Sekarang lanjutin


latihannya,” perintah Kennie


Ben mengangguk, sejenak


Kennie terkekeh mengapa ada cowok sekonyol dan tingkat kepercayaan diri yang


akut, semenjak Kennie mengenal cowok itu, hidupnya sudah mulai berwarna. Ia


terus memandangi Ben. raut wajah tampan, sikap yang aneh, ditambah


kekonyolannya. Sedikit demi sedikit Kennie membuka hati, membuka diri.


“Sudah puas lihatnya,


emang gantengnya pake banget plus ketulungan” ucap Ben kepercayaan tingkat


tinggi.


Kennie terkekeh, “Pede


amat,”


“Astaga, pacaran apa


latihan?” intrupsi seseorang membuat keduanya menoleh, “Jojo” sambut Kennie


terkejut dengan kehadiran dua sahabat Ben.


Yap, Gerry dan Jovan,


Gerry berdiri dengan kedua tangan dilipat, sedangkan Jovan tersenyum tipis


sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


“Gue dengar lo ada


taruhan sama nenek gombrang itu?” Tanya Gerry


Kennie menautkan


alisnya bingung, “Maksud lo, Rose Andala” jawabnya yang diangguki Gerry.


“Iya, mantan gue dan


mantan Ben juga” jawab Gerry santai


“HAH! Mantan lo” ucap


Jovan dan Kennie bersamaan


“Untung udah putus,


abisnya Rose itu orangnya licik dan harus dimusnahkan.” Lanjutnya dengan


dramatis


“Dendam amat dengan


kakak gue” ucap Kennie tanpa sadar membuat Jovan dan Gerry membulatkan matanya


bingung. sedangkan Ben hanya terlihat biasa saja saat membahas wanita itu.


“Maaf, Jo belum sempat


beritahui karena saat ini gue tampak nyok banget. waktu mereka datang kerumah”


jelas Kennie,


Jovan dapat mengerti


perasaan adik kesayangannya itu “Enggak apa, asal lo baik-baik aja. Dan jangan


buat gue kwatir lagi” ucap Jovan dengan penuh kasih sayang. Sambil mengacak


rambut Kennie dengan gemas.


“Aduhhh, cayangnya sama


adik ya, mau dong dicayang juga” ucap Ben dengan wajah sok diimutkan.


“Heh, somplak biasa aja


kali. Biar gue aja” ucap Gerry menampakkan deretan gigi putihnya.


“Gila, Pacar gue


diembat juga” Oceh Ben sambil menjitak kepala Gerry, membuat empunya mengusap


kepala kerena kesakitan.


“Belum jadian” sahut


Kennie, membuat Ben mengatup rahangnya

__ADS_1


__ADS_2