
“Iya, Coach. Ada apa?”
jawab Kennie pada seseorang diseberang sana
“Maybe, persiapkan dirimu minggu depan akan bertanding dengan Rose. Coach harap kamu bisa mengalahkan
dirinya lagi.” Ucap Coach Raka memberitahunya
“Iya, Coach. Aku sudah
mengetahui kabar itu. barusan saja Rose datang kesekolah dan menantangku” ucap
Kennie menjelaskan
Coach Raka menghela
nafas berat, ia juga sudah mengetahui keadaan Kennie yang sebenarnya. Sudah
lama Coach Raka menyelidiki kebenaran itu. karena Coach Raka sudah menganggap
Kennie seperti anaknya sendiri.
“Harapan Coach hanya
sama kamu,” ucap Coach Raka penuh harap
Kennie menghela nafas
sejenak, “Sepulang sekolah, aku langsung kesana” ucapnya dan menutup telepon
bersamaan.
Nova yang mendengar
percakapan Kennie dengan seseorang yang tidak diketahuinya, terkejut. Nova baru
mengetahui bahwa Kennie seorang petinju. Kennie mengerjap saat Nova berjalan
menghampirinya dengan tatapn mengintimidasi.
“Jadi lo seorang
petinju?” Tanya Nova
“Ahh, mungkin lo salah
dengar kali” ucap Kennie gegalapan
“Jawab Ken, Apakah
selama ini gue tidak anggap sama lo. Hingga lo rahasiain ini dari gue. Apakah
selama ini lo tidak percaya sama gue?” Tanya Nova
Kennie hanya terdiam,
ia bingung harus menjawab apa?
Bukannya Kennie tidak
percaya padanya, tetapi ada satu hal membuat Kennie harus merahasiakan semua
masalahnya dari sahabatnya. “Bukannya gitu, gue akan jelasin semuanya sama lo”
ujarnya
“Terserah lo, Gue
kecewa” ucap Nova lalu pergi begitu saja meninggalkan Kennie.
Yap, tepat saat ini
Kennie berada didepan toilet menunggu Nova, namun saat Nova keluar dari toilet
ia tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang. Dan disitulah Nova
merasa bahwa dirinya tidak berguna baginya. Kennie hanya bisa menghela nafas
panjang, dan ia akan menjelaskan pada Nova yang sebenarnya.
“Nov, Gue akan jelasin
semuanya pada lo” ucap Kennie pasrah, tetapi Nova malah pergi meninggalkannya.
Kennie mendengus sebal, lalu berjalan menyusul Nova yang sudah menjauh darinya.
Tiada waktu bagi Kennie
untuk berada dikelas, kali ini guru sedang tidak ada karena ada urusan mendadak
membuat kelas menjadi kegaduhan. Kennie
beranjak dari bangkunya lalu menenteng tasnya, kedua sahabatnya menatap bingung
“Mau kemana, lo?” Tanya Keyla
“Ada urusan, dari pad
ague berada disini tidak ada yang mau dengar penjelasan dari gue. dan tidak mau
mendengar isi hati dari gue” ucap Kennie begitu dingin, telak membuat Nova
bungkam.
__ADS_1
Kennie menghembuskan
nafas panjang lalu berjalan keluar dari kelas, sementara Nova menatap punggung
sahabatnya yang sudah mulai menghilang.
Lorong koridor terlihat
sepi karena semua sibuk belajar dikelas masing-masing, senyum terbit diwajahnya
lalu melangkah cepat menuju parkiran.
Kali ini Kennie
membolos untuk menemui Coach Raka, sebenarnya Kennie sudah janjian pukul tiga
sore nanti saat pulang sekolah tiba.
Mobil Jazz sedan merah
melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri kota, tepat setengah jam perjalanan Kennie memasuki area parkiran.
Dengan langakah gontai ia memasuki ruangan, disana Coach Raka sedang melatih
seseorang.
Kennie terlonjak kaget
saat melihat Ben sedang berlatih memukul samsak, dengan cengiran diwajahnya
serta keringat yang sedari tadi sudah membasahi seluruh tubuhnya.
“Ken,” sapa Ben dengan
senyum lebar,
“Coach, Ada hal penting
yang harus dibicarakan?” Tanya Kennie mengacuhkan sapaan dari Ben.
“Coach tinggal
sebentar” ucap Coach Raka menepuk pundak Ben pelan.
Didalam ruangan
tersebut Kennie termangu mendengar penjelasan dari Pelatihnya, sudah diduga,
Rose akan melakukan apapun yang diinginkannya. Pikirnya
“Aku akan melakukan
apapun demi Club ini Coach, walaupun Rose mengajak Kennie taruhan. Aku tidak
Coach” ucap Kennie tulus, membuat Coach Raka merasa bangga memiliki murid seperti Kennie.
“Makasih Coach” ucap
Kennie tersenyum lebar
“Mengingat minggu depan
kalian akan bertarung, Coach harap kamu bisa menjaga stamina serta tenaga.
Coach harap kamu bisa menang” ucapnya penuh harapan.
Kennie mengangguk
mengerti, ia berharap bisa mengalahkan Rose, meskipun Rose adalah kakak
kandungnya. Tetapi Kennie tidak bisa menerimanya dengan begitu saja. Apalagi
mengingat taruhan yang membuatnya merasa muak.
Kennie kembali berlatih
setelah berganti pakaian, dari jauh ia sudah melihat Ben berlatih memukul
samsak namun tidak sesuai aturan, ia bingung , sejak kapan Ben ingin berlatih
Boxing, setahu Kennie Ben tidak suka berolahraga,
“gimana Ken, otot gue
sudah terbentuk tidak?” Tanya Ben yang sudah mengangkat kedua kedua tanganya
dan memperlihatkan otot kecilnya,
“Belom ada sama sekali”
jawab Kennie
Seketika Ben merosot,
tetapi senyum itu kembali membuat Kennie tersentak “Gue bisa kok, karena gue
ingin lo yang ajarin gue” pinta Ben menaikkan kedua alisnya bersamaan.
Sejenak Kennie berpikir
dengan menopang dagunya “Oke,” jawabnya lalu Ben memeluknya.
Kennie terkejut
seketika, sekujur tubuhnya menjadi menegang, sedangkan Ben tersenyum sumringah.
__ADS_1
Dengan tingkah konyolnya, semua para member klub tertawa akibat ulah Ben.
“Ihh, biasa aja kali,” Kennie
mendengus
“Hehehe, biar semua
member disini tahu bahwa, lo milik gue” jawab cengengesan
“Sekarang lanjutin
latihannya,” perintah Kennie
Ben mengangguk, sejenak
Kennie terkekeh mengapa ada cowok sekonyol dan tingkat kepercayaan diri yang
akut, semenjak Kennie mengenal cowok itu, hidupnya sudah mulai berwarna. Ia
terus memandangi Ben. raut wajah tampan, sikap yang aneh, ditambah
kekonyolannya. Sedikit demi sedikit Kennie membuka hati, membuka diri.
“Sudah puas lihatnya,
emang gantengnya pake banget plus ketulungan” ucap Ben kepercayaan tingkat
tinggi.
Kennie terkekeh, “Pede
amat,”
“Astaga, pacaran apa
latihan?” intrupsi seseorang membuat keduanya menoleh, “Jojo” sambut Kennie
terkejut dengan kehadiran dua sahabat Ben.
Yap, Gerry dan Jovan,
Gerry berdiri dengan kedua tangan dilipat, sedangkan Jovan tersenyum tipis
sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
“Gue dengar lo ada
taruhan sama nenek gombrang itu?” Tanya Gerry
Kennie menautkan
alisnya bingung, “Maksud lo, Rose Andala” jawabnya yang diangguki Gerry.
“Iya, mantan gue dan
mantan Ben juga” jawab Gerry santai
“HAH! Mantan lo” ucap
Jovan dan Kennie bersamaan
“Untung udah putus,
abisnya Rose itu orangnya licik dan harus dimusnahkan.” Lanjutnya dengan
dramatis
“Dendam amat dengan
kakak gue” ucap Kennie tanpa sadar membuat Jovan dan Gerry membulatkan matanya
bingung. sedangkan Ben hanya terlihat biasa saja saat membahas wanita itu.
“Maaf, Jo belum sempat
beritahui karena saat ini gue tampak nyok banget. waktu mereka datang kerumah”
jelas Kennie,
Jovan dapat mengerti
perasaan adik kesayangannya itu “Enggak apa, asal lo baik-baik aja. Dan jangan
buat gue kwatir lagi” ucap Jovan dengan penuh kasih sayang. Sambil mengacak
rambut Kennie dengan gemas.
“Aduhhh, cayangnya sama
adik ya, mau dong dicayang juga” ucap Ben dengan wajah sok diimutkan.
“Heh, somplak biasa aja
kali. Biar gue aja” ucap Gerry menampakkan deretan gigi putihnya.
“Gila, Pacar gue
diembat juga” Oceh Ben sambil menjitak kepala Gerry, membuat empunya mengusap
kepala kerena kesakitan.
“Belum jadian” sahut
Kennie, membuat Ben mengatup rahangnya
__ADS_1