Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 20


__ADS_3

Hari ini Kennie, Nova,


dan Keyla berkumpul di café BGJ, café tempat mereka hangout. Seperti biasa


Kennie memesan makanan kesukaannya. Keyla masih sibuk melahap nasi goring keju


sedangkan Nova menyeruput jus avocado.


Keyla sedari tadi hanya


sibuk mengoceh sambil makan, Nova selalu menimpali setiap kata yang tidak masuk


diakalnya. Nova yang mengetahui Ben sedang mendekatinya mendadak ingin tahu.


“Btw ada yang lagi


dekat nih, dengan si pemilik café” sindir Nova membuat Keyla dan Kennie


menyerngit dahinya bingung.


“Siapa?” Tanya Keyla


menaikkan kedua alisnya


“Tuhh” tunjuk Nova


karena sedari tadi memperhatikan Ben sedang menatap Kennie. Keyla dan Kennie


serempak menoleh seketika Ben gelapan lalu kembali dengan aktifitas di dekat


meja bar.


Tidak lama kemudian Ben


menghampiri Kennie tepat pada meja no. 07 yang tempatinya.


“Nahh ada yang


disamperin doi” ledek Keyla cengengesan


“Ada apa?” Tanya Kennie


dingin


“Hey, Manusia triplek


bin Es batu. Gue mau bicara empat mata sama lo” balas Ben langsung menyeret


Kennie begitu saja, Keyla dan Nova hanya menyeringai menatap kepergian


sahabatnya itu.


Ben membawa Kennie


keluar dari Café lalu menghempaskan lengannya begitu saja. Dasar cowok tengil


tega.


“Apa-apaan lo” ucap


Kennie ketus


“Antar gue ketemu Nina,


besok. Tidak ada penolakan” ucap Ben penuh penekanan. Membuat Kennie jengah


melihatnya.


Kennie menganga, “What, Gue tidak bisalah” balasnya


“Kenapa tidak bisa?”


Tanya Ben


“Ya, Karena gue ada


urusan lebih penting dari pada temanin lo” jawab Kennie, karena ia harus


latihan lebih giat lagi untuk menghadapi para petarung lainnya.


Ben mendengus sebal


“Oke, lusa” ucapnya lalu masuk lagi kedalam café membuat Kennie sangat merasa


kesal menghamdapi manusia seperti Ben. Menyebalkan


“Ih, Dasar cowok


menyebalkan” ucapnya lalu kembali berjalan masuk

__ADS_1


Kedua sahabatnya


menatap heran melihat Kennie datang langsung duduk lalu menopang dua tangannya


dibawah dagu.


“Abis ngapain sama doi,


kok mukanya lecek begitu?” Tanya nova yang diangguki Keyla


“Enak aja, Ngaco.”


Jawabnya sambil mengaduk jusnya


Terdengar suara


deringan ponsel membuat Kennie tersadar dari lamunannya. Memagang ponselnya,


ternyata Jovan yang menelponnya. Ia mengangkat dengan malas,


“Hallo,” sapanya


“Katanya mau ditemenin


ke toko buku, sekarang lo ada dimana sih?” dumel Jovan diseberang sana.


Kennie menepuk jidatnya


“Gue lupa,”


“Emang dasar ya lu,


tukang lupa. Gue tunggu ditempat biasa” ucap Jovan, yang langsung dimatikan


secara sepihak. Membuat Kennie berdecak sebal.


“Gue duluan” ucap


Kennie tiba-tiba membuat kedua sahabatnya heran.


“Lo mau kemana?,


emangnya buru-buru banget” cibir Nova, menatap Kennie yang sudah siap menenteng


tas sampirnya


ada janji” jawabnya sambil cengengesan,



Kennie baru saja


sampai, ia memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia berjalan masuk kedalam sebuah


café. Dari arah jauh Kennie sudah melihat Jovan tengah duduk di meja pojokan.


Tepatnya dekat jendela.


“Lama banget sih?” ucap


Jovan sebal karena ia sedari tadi menunggu lama


“Biasa aja kali, maaf


ya” ucap Kennie menampakkan pupi eyesnya membuat Jovan tersenyum tipis sambil


menyeruput kopinya.


“Lo yang janji, malah


elo yang lupa. Dasar pikun” ucap Jovan meledek membuat Kennie memanyunkan


bibirnya.


“Ya maaf” katanya


“Tapi, kita ke makam


Nina dulu ya. Baru ke toko buku. Soalnya gue kangen sama dia” pinta Kennie yang


diangguki oleh Jovan


Jovan tahu Kennie


sangat dekat dengan Nina, hingga sampai saat ini, Kennie sangat merindukan


sahabatnya itu. mereka bergegas keluar dari café lalu. Jovan yang duduk di Jok


kemudi sedangkan Kennie duduk disampingnya.

__ADS_1


Jovan melajukan


mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga Kennie bisa melihat jalan yang begitu


ramai.


Hingga setengah jam


kemudian mereka sampai di sebuah TPU. Mereka memasuki berjalan menuju


pemakaman.


Kennie duduk tepat disamping


pusaran Nina, ada senyum lebar saat menatap pusaran tersebut. “Hey, kita datang


jenguk lo, Nin” ucap Kennie kembut


Sedangkan Jovan ia ikut


duduk tepat dihadapan Kennie, “Hey kamu, Gue datang lagi” sapa Jovan


menampakkan senyum manisnya.


Kennie bercerita


kembali tentang perihal lelaki yang dimaksud oleh Nina dalam buku Diarynya. Ia


sudah bertemu dam memberikan buku Diary dan kotak yang berisikan sebuah Camera


serta foto.


Dan Jovan baru


mengetahui itu setelah mendegar cerita dari Kennie, “Jadi cewek yang di maksud Ben, ternyata Nina. Adek gue” ucap Jovan


dalam hati


Nina tidak pernah


bercerita tentang lelaki yang dekat padanya. Jovan hanya tahu tentang penyakit


yang diderita oleh Nina. Jovan menghembus nafas panjang, tidak lupa mengusap


nisan adiknya itu. betapa merindukan sosok ceria, bawel, serta keusilan Nina.


Semua tidak ada lagi.


“Abang kangen kamu,


Nin” ucapnya lirih


Kennie menatap Jovan


dengan sendu, ia juga merindukan sahabatnya. “Gue dan Babang Jovan selalu


berdoa, agar lo tetap bahagia disana” tambahnya


Setelah beberap detik


keheningan, “Abang pamit, mau pergi bareng Si Nona bawel ini” ucap Jovan pamit


lalu menatap Kennie


“Gue pulang dulu, Nin.


Nanti gue datang lagi jenguk lo, Oke” tambah Kennie lalu berdiri


Setelah dari pemakaman


Kennie dan Jovan berada disebuah toko buku, Kennie terus menyusuri rak-rak buku


yang dipenuhi buku novel sastra terbaru. Untuk menambah koleksi bukunya.


Sementara Jovan hanya


berdiri dibelakang Kennie seperti Bodyguardnya, hingga Kennie menoleh “Lo tidak


cari buku? Apa keenakan nemenin gue seperti Bodyguard” ledek Kennie sambil


memegang buku.


“Lagi males cari buku,


lagian buku gue sudah banyak.” Jawabnya


“Oke” ucapnya lalu


pergi meninggalkan Jovan, selalu saja seperti ini, main pergi begitu saja

__ADS_1


__ADS_2