
Hari ini Kennie, Nova,
dan Keyla berkumpul di café BGJ, café tempat mereka hangout. Seperti biasa
Kennie memesan makanan kesukaannya. Keyla masih sibuk melahap nasi goring keju
sedangkan Nova menyeruput jus avocado.
Keyla sedari tadi hanya
sibuk mengoceh sambil makan, Nova selalu menimpali setiap kata yang tidak masuk
diakalnya. Nova yang mengetahui Ben sedang mendekatinya mendadak ingin tahu.
“Btw ada yang lagi
dekat nih, dengan si pemilik café” sindir Nova membuat Keyla dan Kennie
menyerngit dahinya bingung.
“Siapa?” Tanya Keyla
menaikkan kedua alisnya
“Tuhh” tunjuk Nova
karena sedari tadi memperhatikan Ben sedang menatap Kennie. Keyla dan Kennie
serempak menoleh seketika Ben gelapan lalu kembali dengan aktifitas di dekat
meja bar.
Tidak lama kemudian Ben
menghampiri Kennie tepat pada meja no. 07 yang tempatinya.
“Nahh ada yang
disamperin doi” ledek Keyla cengengesan
“Ada apa?” Tanya Kennie
dingin
“Hey, Manusia triplek
bin Es batu. Gue mau bicara empat mata sama lo” balas Ben langsung menyeret
Kennie begitu saja, Keyla dan Nova hanya menyeringai menatap kepergian
sahabatnya itu.
Ben membawa Kennie
keluar dari Café lalu menghempaskan lengannya begitu saja. Dasar cowok tengil
tega.
“Apa-apaan lo” ucap
Kennie ketus
“Antar gue ketemu Nina,
besok. Tidak ada penolakan” ucap Ben penuh penekanan. Membuat Kennie jengah
melihatnya.
Kennie menganga, “What, Gue tidak bisalah” balasnya
“Kenapa tidak bisa?”
Tanya Ben
“Ya, Karena gue ada
urusan lebih penting dari pada temanin lo” jawab Kennie, karena ia harus
latihan lebih giat lagi untuk menghadapi para petarung lainnya.
Ben mendengus sebal
“Oke, lusa” ucapnya lalu masuk lagi kedalam café membuat Kennie sangat merasa
kesal menghamdapi manusia seperti Ben. Menyebalkan
“Ih, Dasar cowok
menyebalkan” ucapnya lalu kembali berjalan masuk
__ADS_1
Kedua sahabatnya
menatap heran melihat Kennie datang langsung duduk lalu menopang dua tangannya
dibawah dagu.
“Abis ngapain sama doi,
kok mukanya lecek begitu?” Tanya nova yang diangguki Keyla
“Enak aja, Ngaco.”
Jawabnya sambil mengaduk jusnya
Terdengar suara
deringan ponsel membuat Kennie tersadar dari lamunannya. Memagang ponselnya,
ternyata Jovan yang menelponnya. Ia mengangkat dengan malas,
“Hallo,” sapanya
“Katanya mau ditemenin
ke toko buku, sekarang lo ada dimana sih?” dumel Jovan diseberang sana.
Kennie menepuk jidatnya
“Gue lupa,”
“Emang dasar ya lu,
tukang lupa. Gue tunggu ditempat biasa” ucap Jovan, yang langsung dimatikan
secara sepihak. Membuat Kennie berdecak sebal.
“Gue duluan” ucap
Kennie tiba-tiba membuat kedua sahabatnya heran.
“Lo mau kemana?,
emangnya buru-buru banget” cibir Nova, menatap Kennie yang sudah siap menenteng
tas sampirnya
ada janji” jawabnya sambil cengengesan,
Kennie baru saja
sampai, ia memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia berjalan masuk kedalam sebuah
café. Dari arah jauh Kennie sudah melihat Jovan tengah duduk di meja pojokan.
Tepatnya dekat jendela.
“Lama banget sih?” ucap
Jovan sebal karena ia sedari tadi menunggu lama
“Biasa aja kali, maaf
ya” ucap Kennie menampakkan pupi eyesnya membuat Jovan tersenyum tipis sambil
menyeruput kopinya.
“Lo yang janji, malah
elo yang lupa. Dasar pikun” ucap Jovan meledek membuat Kennie memanyunkan
bibirnya.
“Ya maaf” katanya
“Tapi, kita ke makam
Nina dulu ya. Baru ke toko buku. Soalnya gue kangen sama dia” pinta Kennie yang
diangguki oleh Jovan
Jovan tahu Kennie
sangat dekat dengan Nina, hingga sampai saat ini, Kennie sangat merindukan
sahabatnya itu. mereka bergegas keluar dari café lalu. Jovan yang duduk di Jok
kemudi sedangkan Kennie duduk disampingnya.
__ADS_1
Jovan melajukan
mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga Kennie bisa melihat jalan yang begitu
ramai.
Hingga setengah jam
kemudian mereka sampai di sebuah TPU. Mereka memasuki berjalan menuju
pemakaman.
Kennie duduk tepat disamping
pusaran Nina, ada senyum lebar saat menatap pusaran tersebut. “Hey, kita datang
jenguk lo, Nin” ucap Kennie kembut
Sedangkan Jovan ia ikut
duduk tepat dihadapan Kennie, “Hey kamu, Gue datang lagi” sapa Jovan
menampakkan senyum manisnya.
Kennie bercerita
kembali tentang perihal lelaki yang dimaksud oleh Nina dalam buku Diarynya. Ia
sudah bertemu dam memberikan buku Diary dan kotak yang berisikan sebuah Camera
serta foto.
Dan Jovan baru
mengetahui itu setelah mendegar cerita dari Kennie, “Jadi cewek yang di maksud Ben, ternyata Nina. Adek gue” ucap Jovan
dalam hati
Nina tidak pernah
bercerita tentang lelaki yang dekat padanya. Jovan hanya tahu tentang penyakit
yang diderita oleh Nina. Jovan menghembus nafas panjang, tidak lupa mengusap
nisan adiknya itu. betapa merindukan sosok ceria, bawel, serta keusilan Nina.
Semua tidak ada lagi.
“Abang kangen kamu,
Nin” ucapnya lirih
Kennie menatap Jovan
dengan sendu, ia juga merindukan sahabatnya. “Gue dan Babang Jovan selalu
berdoa, agar lo tetap bahagia disana” tambahnya
Setelah beberap detik
keheningan, “Abang pamit, mau pergi bareng Si Nona bawel ini” ucap Jovan pamit
lalu menatap Kennie
“Gue pulang dulu, Nin.
Nanti gue datang lagi jenguk lo, Oke” tambah Kennie lalu berdiri
Setelah dari pemakaman
Kennie dan Jovan berada disebuah toko buku, Kennie terus menyusuri rak-rak buku
yang dipenuhi buku novel sastra terbaru. Untuk menambah koleksi bukunya.
Sementara Jovan hanya
berdiri dibelakang Kennie seperti Bodyguardnya, hingga Kennie menoleh “Lo tidak
cari buku? Apa keenakan nemenin gue seperti Bodyguard” ledek Kennie sambil
memegang buku.
“Lagi males cari buku,
lagian buku gue sudah banyak.” Jawabnya
“Oke” ucapnya lalu
pergi meninggalkan Jovan, selalu saja seperti ini, main pergi begitu saja
__ADS_1