Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 38 END


__ADS_3

“Elo beneran mau nikah,


kapan? Acaranya seru enggak” teriak Ben heboh, sementara Kennie berdecak sebal


menatap cowok tengil dihadapannya itu.


Pletak


Satu tinjuan mendarat


dikepala Ben, hingga meringis kesakitan “Woi, Gue bukan samsak, ****. Ini kepala


bukan bola, main tabok aja” kesal Ben dramatis


“Yang nikah itu nyokap


gue, bukan gue. lagian gue dengan Rose sudah akur”


“Hah,” ucap Ben lagi


dengan keterkejutannya,


“Biasa aja dong” ucap


Kennie menatap sebal


Dan tidak lama Jovan


datang dengan menggandeng Nova disebelahnya, sementara Gerry menggadeng Keyla


dengan senyum lebarnya.


“Wadidowww, gercep amat


lo berdua” ucap Ben saat mereka berempat duduk berpasang-pasangan.


“Heh, dari pada jadi


obat nyamuk kalian, mending gue sama yang cantik ini” ujar Gerry mulai


menggombal sedangkan Keyla hanya termangu.


“Gantengan juga Kak


Jovan dari pada elo, yang jagonya tebar pesona sana-sini” ucap Keyla dengan


polosnya membuat kelimanya tertawa mendengarnya.


“Betul itu” jawab Jovan


menaikkan kedua alisnya, Gerry hanya bisa diam tidak berkutik.


“Elo bukannya belain,


malah ngejatohin” kesal Gerry menatap kedua sahabatnya itu


Ben melemparkan tiga


undangan membuat keempatnya terkejut, Jovan mengambil undangan itu lalu ia


terkejut saat menatap nama yang tidak asing baginya. “Ini beneran, Ken?”


tanyanya yang diangguki Kennie


“Om Hendra—dan Rose


juga” Kennie mengangguk mengiyakan ucapan Jovan,


“Gue sebenarnya belum


bisa menerima Papa sepenuhnya, tetapi gue tidak boleh egois. Dan maafkan


kesalahan Papa” ucap Kennie memohon,


Jovan terdiam, “Gue


akan berusaha adik kecil” ucapnya lalu mengacak puncak kepala Kennie gemas.


Ben melotot geram, lalu


menepis tangan Jovan “dia milik gue. jangan sentuh”


“Yaelah cemburuan amat,


diakan adik kecil gue. iya enggak Ken” ucap Jovan menatapnya lekat


Nova bersedekap dada,


seketika menarik telinga Jovan hingga ia meringis kesakitan “Itu akibatnya


kalau terlalu centil”


“Nahh lo, dimarahin

__ADS_1


sama Nova, rasain lo” ucap Ben dengan senyum kemenangan.



Kennie dan Ben berada


di tempat favorite mereka, yaitu menatap sebuah pemandangan gunung, serta


menikmati hembusan angina yang menerpa. Mereka berdiri sambil memejamkan


menikmati indahnya alam.


“Apakah lo sudah


mengikhlaskan tentang semua yang terjadi?” Tanya Ben seketika


“Iya, Gue mencoba


menerima semua apa yang terjadi. Termasuk menerima kembali Papa.” Ucap Kennie


Seketika Ben tersenyum


lebar menatap Kennie lekat begitu juga sebaliknya. “Iya, karena gue percaya


kebahagiaan buat gue itu pasti ada” ucapnya tulus


“Gue yakin lo pasti


dapat merima semuanya dengan ikhlas pula, Nina pasti bahagia jika melihat lo


bahagia pula” ucap lagi menyakinkan Ben


“Pantes aja Jovan


sangat menyangimu, karena sikap dan sifat lo ini. membuatnya merasa nyaman


begitu juga degan gue” ucap Ben


“Makasih” balasnya


“Woi, kalian berdua.


Tidak ngajak kita kesini lagi.” Ucap seseorang mengintrupsi keduanya.


Ben dan Kennie heran


sejak kapan keempat sahabatnya berada disana. Ben tidak pernah memberitahu


tempat favoritenya ini.


teriaknya lagi


Ben hanya bisa menggeleng


kepala melihat kelakuan Gerry yang semakin menjadi. Mereka berjalan beriringan


layak dua pasangan sejoli dimabuk asmara. “Bang Jojo, Kennie kangen” ucap


Kennie langsung menghampiri Jovan lalu memeluknya.


Sikap manja Kennie


membuat Jovan tersenyum tipis, membalas pelukannya “Jangan cemburu, dia ini


adik kesayangan gue” ucapnya sambil melirik Ben dengan tatapan mengejeknya.


Ben hanya bisa


mendengus sebal, sedangkan Nova memutar bola matanya malas, “Apakah adik kecil


gue ini, merestui Abang dengan sahabat lo” ujar Jovan, sejenak Kennie


mengerutkan Keningnya tidak mengerti.


“Beneran Bang Jojo,


sudah membuka hati untuk Nova?” ucap Kennie sambil melirik Nova yang berada


disampingnya menunggu jawaban.


“Iya, karena adik kecil


gue sudah ada yang jaga jadi Abang alih pindahkan padanya. Woi, kalau lo


macem-macem sama adik gue. lo berhadapan langsung gue” ucapnya dengan tatapan


mengancam pada Ben.


Ben menyengir kuda,


menampakkan deretan gigi putihnya “Siap Pak Boss” jawab lantang memberi hormat


“Bagus”

__ADS_1


Setelah itu mereka


berjalan membentuk jejeran di masing-masing pasangan. “Teman-teman gue mohon


doa, agar semua yang kita lalui ini, bisa menjadi hikmah dibalik semua yang


terjadi” ucap Kennie lalu mereka menunduk berdoa.


“Ken, jangan pernah


merasa sendiri, karena kita akan selalu ada menemanimu disetiap kesulitanmu”


ucap Nova tulus dari lubuk hatinya.


Kennie mengangguk


“Makasih ya” balasnya



Malam ini mereka berada


di rumah Kennie, tepat malam ini mereka membuat party. Disana terdapat Dona dan


Mahendra yang sibuk. Sedangkan lainnya ikut berpartisipasi. Apalagi kalau bukan


makan gratis. Membuat Gerry dengan sigap.


Kennie menghela nafas


berat “Jadi ini rasanya bahagia, terima kasih Tuhan.” Ucap Kennie dalam hati


Malam Barbeque, sangat menyenangkan. “Ken kok


malah bengong bantuin” ucap Rose memelas, lalu menariknya.


“Ini buat lo,” Ben


memberikan sosis bakar pada Kennie, “Makasih” ucapnya mengambil mereka berjalan


lalu duduk diatas Rooftop.


Yap, tepat mereka


membuat acara di rooftop. Ben dan Kennie menggantungkan kaki mereka. lalu


menatap langit malam.


Disana terdapat ada


salah satu bintang paling terang Kennie yakin Nina yang tengah tersenyum


menatap keduanya. Bahagia


Kennie merogoh kantung


celana memberi sebuah surat, Ben menyerngit bingung “Amplop biru, buat gue?” tanyanya,


Kennie mengangguk


Ben mengambil, dengan


rasa penasaran Ben membuka lalu membaca isi amplop biru itu.


Ada senyum diwajah Ben


saat membacanya, sedangkan Kennie menatap langit biru, menikmati hembusan


angina menerpa wajahnya.


“Sahabat lo ini sungguh


ajaib ya. Gue akan menjaga lo sepenuh hati.” Ucap Ben tulus


“Lo menyayangi gue


bukan karena pinta Nina kan?” tanyanya Kennie


“Bukan ini tulus dari


dalam hati gue. walaupun pertemuan kita tidak secara baik” ucap Ben


Kennie mencari


kebohongan di balik mata Ben namun nihil tetapi ia hanya melihat kesungguhan


Ben.


Kennie tersenyum senang


lalu Kennie kembali menyandarkan badannya pada bahu Ben. sambil menatap langit.


Ben merangkul Kennie

__ADS_1


END


__ADS_2